Ketika rona warna pagi mulai perlahan mengusik Bara, laki-laki tersebut mencoba menarik selimutnya dan berencana kembali menenggelamkan dirinya dalam tidur lelapnya, tapi ada aroma wangi yang menggugah selera dengan nakal membuat dia terjaga.
Rasa kantuk yang biasanya tidak bisa di ajak berkompromi kali ini memaksa diri untuk bangun ditambah hidung jelas terasa lebih enggan di ajak berkompromi bersama perut yang tiba-tiba berbunyi nakal.
"Kau lapar? tumben!"
Bara mengeluh didalam hati.
Tapi tidak dipungkiri sebab sejak tadi aroma kuat menyeruak masuk ke dalam kamar tersebut, terlalu harum juga wangi dan menggugah selera, sudah lama dia tidak mencium aroma seperti itu di rumahnya, karena dia biasanya hanya menikmati makanan cepat saji di luar rumah.
laki-laki tersebut secara perlahan beranjak dari posisi tidurnya, entahlah sepertinya dia tidak bisa tidak mengikuti keinginan perut dan hatinya untuk segera bangun dan beranjak dari sana apa yang terjadi di dapur sana.
Apakah Embun dengan memasak sesuatu yang membuat perut nya tiba-tiba berselera untuk memakan sesuatu di pagi buta seperti hari ini.
begitu beranjak dari posisinya, Bara memilih untuk bergerak ke kamar mandi lebih dulu, dia pikir sedikit pergi untuk membersihkan diri lebih dulu terlihat lebih bijaksana kemudian dia berkeluarga untuk melihat apa yang terjadi.
setidaknya dia butuh untuk menyegarkan tubuhnya dan juga bola matanya dari sisa kantuk yang tersisa meskipun perut tidak bisa diajak berkompromi bersama.
cukup lama dia membersihkan diri hingga akhirnya dia mengganti pakaiannya dan merasa keluar dari kamarnya tersebut, aroma mewangi yang dia cium sejak tadi terus mengganggu dirinya, dan begitu dia berejak masuk menuju ke arah dapur, bisa dilihat sosok embun tampak berkutat memunggungi dirinya, sibuk dengan kegiatan memasak entah dia tidak tahu untuk siapa saja.
laki-laki itu memilih untuk duduk tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, menikmati apa yang dilakukan oleh embun dan memperhatikan tiap gerak tangan yang dilakukan oleh perempuan tersebut.
Bara membiarkan dirinya menikmati pemandangan yang terasa begitu asing untuk dirinya, karena baginya ini adalah kali pertama dia mendapat seorang perempuan membuatkan makanan di dapur selain pelayan di rumah.
Entahlah berapa lama waktu berlalu Bara enggan untuk menghitungnya, lagi pada akhirnya begitu Embun membalikan tubuhnya, perempuan tersebut tampak terkejut menatap kehadiran barang yang telah duduk manis di atas kursi di hadapan meja makan tersebut.
"Anda sudah bangun?"
perempuan itu bertanya sembari meletakkan satu mangkuk makanan di atas meja secara perlahan, memberikan nya tepat kehadapan Bara.
"Hmm"
Bara hanya menjawab seadanya, kemudian dia menatap mangkuk yang diberikan oleh embun untuk dirinya.
makanan sederhana tapi jelas sangat menggugah selera.
Hanya bubur ayam, tapi aroma nya mampu membuat perut Bara merontah-rontah.
"Aku tidak tahu apakah akan sesuai dengan selera tuan, tapi aku harap tuan menyukainya"
Embun bicara sambil melebarkan senyuman nya, menatap Bara sejenak dengan tatapan penuh kekhawatiran, takut jika apa yang dibuat nya mungkin tidak sesuai selera laki-laki tersebut mengingat Bara orang kaya yang pastinya biasa makan di tempat-tempat mewah dengan menu ke barat-barat'an.
mendengar ucapan Embun, Bara sama sekali tidak menjawab, tangan kanannya secara perlahan meraih sendok yang ada di dalam mangkuk tersebut dan dengan gerakan lamban dia mencoba untuk mengambil satu sendok bubur yang ada di sana.
Secara perlahan dia memasukkan suapan pertama di dalam mulutnya, laki-laki itu mengunyah pelan, begitu pulang seolah-olah mencoba meresapi bubur yang dia makan.
Bola mata Embun menatap ke arah Bara yang sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, dia duduk di kursi dihadapan Bara tanpa mengeluarkan suaranya, bisa dia lihat laki-laki itu tampak menikmati makanan pada suapan pertamanya.
Sejenak laki-laki tersebut memejamkan bola mata nya, entahlah tiba-tiba satu kerinduan datang menghantam, makanan tersebut tiba-tiba mengingatkan dirinya pada sesuatu.
Dia merindukan satu suasana yang lama tidak pernah dia dapatkan lagi hingga hari ini sejak belasan tahun yang lalu.
Begitu merindu, saking rindunya ingin sekali dia meneteskan air matanya, tapi Bara adalah api yang tidak mungkin mengeluarkan air matanya, dia menyala dan membara, menantang semua orang yang ada dihadapan nya.
"Tumbuhlah menjadi anak yang kuat, kamu pasti baik-baik saja"
Sebaris pesan tersebut tiba-tiba terngiang di balik telinga nya, satu senyuman cantik menghiasi pandangan nya.
"Apakah ini tidak enak?"
Embun bertanya pelan, menatap ekspresi wajah Bara penuh kekhawatiran.
Bara sama sekali tidak menjawab, kembali mengambil satu sendok bubur, menyuapkan nya lagi kedalam mulutnya hingga pada akhirnya dia mempercepat suapan nya dan tanpa terasa menghabiskan satu mangkuk bubur tersebut tanpa sisa.
Embun diam, membiarkan dirinya terus menatap Bara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
tegar chaliq
ada masa lalu apa dgn Bara dan siapa yg dimaksud Bara apakah itu Embun ?
2023-02-26
0
🌼 Pisces Boy's 🦋
ingatan Bara ditunjukan untuk siapa🤔
2023-02-21
1
Reader online👻
kadang ada satu masa dimana kita merindukan masa yg sudah berlalu, entah itu masa kecil, masa sekolah atau entahlah apa itu, yg pasti hal yg tidak mungkin terulang lagi
2022-12-02
0