Dokter menyerahkan bayi mungil padaku. Bayi laki laki. Tanganku gemetar saat kembali menggendongnya. Aku kembali tidak sanggup melihat bayi itu lagi. Tapi Bang Petir meyakinkan padaku untuk menyentuhnya
"Ini terakhir kalinya Panji. Anakmu bersama Nasha." Kata Bang Petir.
"Ya Allah, tolong aku Bang.. aku nggak kuat."
Seorang perawat tiba tiba menyadarkanku, Perawat itu mengatakan Nasha berteriak histeris. Aku segera menyerahkan jenazah anakku pada perawat dan berlari menemui Nasha. Bang Petir ikut menyusulku.
~
"Sayang.. Abang disini"
"Anakku mana Bang, Nasha mendengar dia tidak menangis tadi" Nasha mengguncangkan lenganku. Pikiranku hilang entah kemana, aku bingung.
"Baanngg.. ada apa dengan anak Nasha, jawab Bang??" Nasha yang semakin histeris membuatku panik.
"Tenang ya dek.. tenang dulu..!!" Jawabku dalam segala keresahan hati. Bagaimana aku harus menyampaikan bahwa anakku telah tiada.
Aku terdiam sejenak, mengerahkan segala kekuatan dalam hatiku. "Anak kita.. sudah nggak ada sayang" ucapku berhati-hati.
"Abang bohong??? Kenapa Abang tidak menyelamatkan dia??? Dia anakku Bang..!!!" Nasha berteriak histeris mencari bayinya. Aku memejamkan mata tak kuat melihatnya. Dadaku sakit sekali melihat pemandangan ini. Penyesalan terbesarku adalah membawa Diani masuk dalam kehidupanku dan Nasha.
Aku melihat tangan Nasha yang mulai gemetar.
"Cepat Abang tolong Diani" pinta Nasha membuyarkan hatiku. Bibirku sulit menjelaskannya. Bagaimana bisa istriku menanyakan madunya. Madu yang sudah merusak rumah tangga kami.
***
"Dianiiiii" tangis Kirani begitu pilu menyayat hati. Kirani menangis di antara makam Diani dan Anaknya, sengaja ku buat cerita bahwa Diani telah tiada. Harapku.. aku ingin Nasha segera melupakan Diani. Nasha mencium papan nisan Diani juga anaknya secara bergantian. Aku mengajak Nasha pulang karena kondisi Nasha masih lemah dan belum pulih sama sekali.
Aku sengaja menutupi pandangan Nasha dari gundukan makam basah tak jauh dari sana dengan tubuhku. Aku takut Nasha kembali histeris melihat makam bayiku.
Tapi percuma, batin seorang ibu pasti tersampaikan, Nasha meliriknya dan dia benar-benar histeris tak sanggup menerima kepergian putraku yang masih bayi.
Begitu sedih dan terpukulnya Nasha hingga dia pingsan dalam pelukanku. Aku pun menggendongnya dan mengajaknya pulang.
...
Nasha drop total dan masih belum bisa untuk di sadarkan.
Disana Bang Petir menyerahkan sepucuk surat yang ia temukan saat membereskan pakaian Diani di rumah sakit. "Ini surat dari Diani. Bacalah..!!"
Bang Panji membukanya dengan rasa malas.
Aku tau Bang, cintamu bukanlah untukku lagi. Aku menyadari sikapmu padaku hanyalah bentuk tanggung jawabmu sebagai seorang suami tidak lebih, ada ragamu tapi tidak jiwamu, jujur itu menyakiti aku. Tak ada kata sayang terucap, tapi begitu besar cintamu untuknya. Semua tentangku teralihkan pada Nasha dan aku ingin mengikhlaskan semua, namun aku belum bisa Bang.
Terima kasih atas kasih sayangmu untukku. Aku bangga pernah mencintai dan memilikimu di hatiku.
"Jujur dari hatiku. Aku tidak pernah melihatmu mencintai wanita sebesar cintamu pada Nasha. Ini terlepas dari Nasha adalah adik kandungku" kata Bang Petir padaku saat itu.
Aku membakar surat dari Diani. Sungguh malas Bang Panji memikirkan dia.
"Biar dia hanya ada sebagai kenanganku, dan tak akan ada dalam masa depanku. Aku sudah punya Nasha dan anakku dalam hidupku"
Api padam bersama asap yang menghilang tertiup angin sore itu.
Kupastikan lembaran baru akan aku buka denganmu dan hanya bersamamu Nasha Hanya kamu Nasha. Karena bagiku Jika itu tentang kamu, ribuan cinta tak terselesaikan
Jika itu tentang kamu, biar sayang mengungkap rasa.
POV Bang Panji end.
~
"Mana Nasha..!!!!!!!" Papa Cemar mencari putrinya.
"Istirahat Pa, Papa mau apa??" Tanya Bang Petir yang kini hatinya sudah mulai melunak karena melihat cinta Bang Panji untuk adiknya.
"Papa mau bawa Nasha pergi dari sini. Panji hanya bisa menyengsarakan putriku saja..!!!!!" Bentak Papa Cemar tak terima dan tidak tega melihat keadaan Nasha.
Seketika Bang Panji berlutut di kaki Papa Cemar. Ia benar-benar menyembah Papa mertuanya.
"Jangan bawa istriku pergi Pa. Aku sungguh mencintai Nasha."
"Kalau saja kau bukan putra dari sahabat yang paling ku segani.. kau akan mati di tanganku..!!" Ucap Papa Cemar.
"Aku tau aku salah Pa. Suami yang tidak bertanggung jawab atas kebahagian dan keselamatan anak istri. Aku mohon beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki diriku Pa..!!"
"Tidak..!!!!" Jawab Papa Cemar. "Jaang. bawa adikmu ke mobil Papa..!!" Perintah Papa pada putra keduanya.. yang juga adalah litting Bang Cemar.
Bang Bujang ( Jajang ) naik ke lantai atas diikuti ajudannya sembari melirik Bang Panji dengan jengkel.
Bang Panji berniat menyusul tapi tubuhnya di sergap beberapa orang ajudan Papa Cemar.
Bang Petir ikut berlutut. "Tolong jangan begini Pa. Jangan pisahkan cinta mereka..!!"
"Cinta t*i.." bentak Papa Cemar. "Saya tunggu surat cerai dari kamu Panji..!!"
"Nashaaaaa.." teriak Bang Panji saat Bang Jajang menggendong Nasha turun dari lantai atas.
Buugghh..
Papa Cemar menghantam sisi leher Bang Panji. Pandangan Bang Panji menghitam, gelap.. "Nasha.. Abang pasti akan menjemput mu kembali..!!" Pandangan Bang Panji hilang dan tubuhnya ambruk ke lantai dengan keras.
Bruuugghh..
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
kavena ayunda
makan itu si pelacurrrr mampuss jg akirnya kesel bgt liat diani menjijikan
2023-04-02
1
Novi Lyani
baru ini aku baca novel sakit hati bgt,,,astaghfirullah terlalu menghayati🥲
2022-11-11
1
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
lah lah piye iki... ngeleg aku
jadi diani ngk modar toh........
2022-11-07
1