4. Kerapuhan wanitaku.

"Semoga kalian bahagia dan cepat mendapat keturunan ya Bang" Ucap Diani tulus terbata bata sambil menahan rasa sakitnya.

"Jangan berpikir ke arah sana sayang, hatimu akan tersiksa" kecupan Bang Panji pada Diani. Sangat sulit untuk menghentikan tangisnya walau sudah di tahannya dengan kuat.

Bagai pisau menyayat hatinya, Bang Panji tak bisa menghentikan tangis kedua wanitanya. Psikis Diani yang down memperburuk kesehatannya. Bang Panji juga sudah tidak bisa mengabaikan perasaan istrinya karena semalam dia sudah membuka gembok Nasha, dia melihat hasil kesetiaan istrinya untuknya.

"Dek.. kuatkah kamu kalau Abang menikahi Diani. Dia tidak punya siapa siapa lagi, tidak ada yang merawatnya. Kamu tau khan kalau dia hanya punya Abang"

Nasha terduduk di bangku ruang tunggu dengan terkejut. Setelah malam tadi hatinya benar benar berubah, Raga suami yang bersamanya harus di bagi dengan sahabatnya. Rasa sakit menjalari perasaannya. Tapi bagaimanapun dialah penengah di antara hubungan Bang Panji dan Diani.

Bang Panji ikut duduk bersama istrinya. Terlihat jelas rasa sakit yang terpancar tapi Nasha berusaha tegar.

"Abang tau pasti sakit, jadi Abang tanya apa kamu akan kuat. Jika di tanya dari manapun Abang tetap akan terlihat egois. Abang bukannya tidak memikirkan hatimu. Abang sudah beristri dan Abang harus bertanya kesanggupanmu. Kalau istri Abang tidak kuat dan tidak sanggup. Abang tidak akan memaksakan"

"Menikahlah Bang, Nasha sanggup. Nasha ikhlas" jawab Nasha dengan tersenyum, karena Diani juga sahabat bagaikan jiwanya juga.

"Nasha ke toilet dulu ya Bang, jaga Diani dulu..!!" Nasha beranjak pergi dengan senyum. Senyum riang Nasha menimbulkan tanya pada hati Bang Panji. Bang Panji merasa senyum istrinya tidak sesuai dengan keterkejutannya tadi.

Bang Panji mengikuti Nasha pada toilet yang sepi pengunjung. Nasha masuk di dalamnya dan menumpahkan semua tangisnya, ia menangis sekuatnya mengeluarkan semua kesedihan hatinya.

Bang Panji menyandarkan kepala mendengarkan istrinya menangis. Hatinya begitu sakit menahan perasaanya hingga dadanya terasa sesak.

Kenapa kamu seperti ini dek.. kenapa kamu siksa batinmu sendiri. Kalau kamu tidak kuat.. Abang tidak akan melakukannya. Abang memang sangat mencintai Diani, Tapi Abang juga tidak pernah bilang kalau Abang tidak menyayangimu.

:

Nasha sudah ada dalam ruang rawat Diani. wajahnya sangat ceria. Bang Panji ingin berbicara pada Nasha.. tapi Nasha mendahuluinya.

"Di...kamu mau khan kalau Bang Panji menikahimu?" pertanyaan itu membulatkan mata Diani. Bang Panji memejamkan mata menyesali dirinya yang tidak menghentikan Nasya saat di toilet tadi.

"Tidak Bang, itu tidak baik. aku sudah sangat bahagia melihat kalian bahagia" Tolak tegas dari Diani.

"Dek........"

Nasha memotong pembicaraan suaminya karena suaminya terlihat sangat merasa bersalah.

"Jangan khawatir Di..kita akan bahagia bersama" Bujuk Nasha.

Tak lama penghulu yang menikahkan Bang Panji dan Nasha dulu sudah tiba disana. Ada beberapa orang datang sebagai saksi. Nasha sudah menceritakan masalahnya pada beberapa orang disana hingga mereka bisa mengerti.

"Ini pelanggaran berat dek..!!" Kata Bang Panji.

"Jika yang ada di ruangan ini tidak buka mulut, semua baik-baik saja Bang" jawab Nasha.

~

Bang Panji mengeluarkan uang dalam dompetnya yang hanya beberapa ratus ribu sebagai mas kawin. Setelah itu mereka di nikahkan dan Sah hanya dalam hukum agama. Nasha keluar perlahan dari ruangan itu. Diani yang melihatnya merasa hatinya tidak enak.

Bang Panji pamit menyusul Nasha keluar meninggalkan para saksi bersama Diani.

~

"Kenapa kamu lakukan ini kalau hatimu sesakit ini" tegur Bang Panji. Dengan cepat Nasha menghapus air matanya.

"Nasha bahagia Bang, Nasha menangis bahagia" jawab Nasha meyakinkan dengan senyum cantik yang ia uraikan.

"Sekarang Abang bukan milikmu sendiri. Kamu juga harus menguatkan hatimu melihat Abang bersama Diani" bentak Bang Panji juga akhirnya juga terjebak dan memendam rasa kecewa karena kecerobohan Nasha. Jika dirinya tiba-tiba menolak pernikahan, bisa saja Diani mati mendadak.

Nasha tidak sanggup berkata apapun lagi. Anggukan pelan sebagai jawaban dari Nasha yang tak bisa berkata kata.

"Ayo masuk, Diani butuh kamu" Ajak Bang Panji.

***

Malam ini Bang Panji tidak pulang bersamanya, hatinya terasa hampa dan sepi melihat ranjang yang begitu besar itu di tidurinya seorang diri. Air mata yang menggenang akhirnya tumpah juga. Bayangan tentang Bang Panji dan Diani terasa melayang begitu kuatnya hingga terbersit rasa cemburu yang ingin dihilangkannya.

//

Bang Panji duduk pada kursi di sebelah ranjang Diani. Kepalanya di sandarkan pada tembok, tangannya membelai lembut rambut istri sirinya hingga sekarang sudah tertidur.

Bang Panji tidak bisa mengantar Nasha pulang karena sekarang dia juga punya kewajiban untuk menjaga Diani. Bang Panji menumpahkan air matanya meratapi pernikahannya. Kini dia memiliki tanggung jawab menjaga raga dan hati dua wanitanya. Dua wanitanya yang sama sama rapuh menghadapi kenyataan ini.

Kalau Papa Mama sampai tau aku menikahi dua wanita. Papa bisa mencincangku sampai mati.

\=\=\=

Satu hari

Dua Hari

Tiga Hari

Empat Hari

Lima Hari

"Assalamu'alaikum" Bang Panji pulang ke rumahnya bersama Nasha. Ia masih tinggal di luar asrama.

"Wa'alaikumsalam Bang." Nasha menyambut suaminya dengan senyum.

Selama lima hari Bang Panji tidak pulang, hanya anak buahnya bernama Prada Beno yang datang mengambil seluruh keperluan Bang Panji selama tidak pulang.

"Diani tidak di bawa kesini Bang?" tanya Nasha membawa seluruh keluguannya.

"Abang tidak mungkin membawanya kesini, Abang juga tidak ingin merusak persahabatan kalian karena kalian saling cemburu" jawab Bang Panji sambil berjalan ke arah kamarnya, Nasha pun mengekorinya dari belakang.

"Nasha akan berusaha tidak begitu Bang" Nasha menundukan kepalanya. Bang Panji berhenti berjalan dan melirik Nasha, telunjuk Bang Panji mengangkat dagu Nasha agar menghadap ke arahnya.

"Hatimu terbuat dari apa dek? Apa kamu yakin akan kuat melihat Abang bermesraan dengan Diani"

Ekspresi Nasha berubah layu. Bang Panji merasakan aura kecemburuan dari Nasha. Tanpa di sadari Nasha, Bang Panji mengangkat tubuh Nasha dan membawanya ke kamar. Nasha terkejut mendapat perlakuan ini

Bang Panji memang merindukan kehangatan dari istrinya Nasha dan ingin mengulangnya lagi malam ini. Rindunga pada Nasha sulit untuk di lupakannya begitu saja hingga rasanya tidak ingin wanita lain menggantikannya.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Iis Cah Solo

Iis Cah Solo

😌😌😌....semangat mba nara...

2023-09-23

0

widi

widi

Panji kok gak bisa tegas sih

2023-01-14

1

Sa_Ri

Sa_Ri

si Panji gak punya pendirian 😡

2022-11-24

1

lihat semua
Episodes
1 1. Pernikahan.
2 2. Rasa yang mengguncang.
3 Cek respon.
4 3. Istriku.
5 4. Kerapuhan wanitaku.
6 5. Mulai rumit di rasakan.
7 6. Prahara.
8 7. Hutang penjelasan.
9 8. Tragedi dua istri.
10 9. Cemburu.
11 10. Pertemuan.
12 11. Saat bersama.
13 12. Suara hati.
14 13. Ujianku.
15 14. Yang terdalam.
16 15. Dia pergi.
17 16. Hukuman.
18 17. Penjaganya pria berdarah dingin.
19 18. Tingkatan derajat.
20 19. Pertemuan kembali.
21 20. Dalamnya perasaan.
22 21. Ingatan tentangmu.
23 22. Sakit.
24 23. Butuh jawaban.
25 24. Keruh.
26 25. Jika ini yang terbaik.
27 26. Harapan tipis.
28 27. Antara ajudan dan penjaga hatimu.
29 28. Ajudan panikan.
30 29. Ada Wira untuk Nasha.
31 30. Lepas status.
32 31. Mencoba misi perdamaian.
33 32. Salah dan kecewa.
34 33. Dalam resepsi.
35 34. Ricuh.
36 35. Perang batin dan logika ( 1 ).
37 36. Pindah.
38 37. Dekapan mantan ajudan.
39 38. Sabuk hitam ilmu kebatinan.
40 39. Panik.
41 40. Ngidam pertamamu.
42 41. Lawan tanding ( 1 ).
43 42. Kuat iman.
44 43. Hasutan.
45 44. Perlindungan.
46 45. Tidak nyaman.
47 46. Takut masa lalu.
48 47. Belajar memahami.
49 48. Selalu salah.
50 49. Gara-gara ngidam.
51 50. Perjuangan bertahan.
52 51. Perasaan tak tertebak.
53 52. Cari mati.
54 53. Dendam tak berakal.
55 54. Kalah atau mengalah?.
56 55. Saling menguatkan.
57 56. Panji - Nisa.
58 57. Ingin bersamamu.
59 58. Apapun demi kamu.
60 59. Sebuah kehormatan.
61 60. Rasa di balik rasa.
62 61. Gagal jadi rahasia.
63 Curhat Nara.
64 62. Efek ngidam.
65 63. Gara-gara amphibi.
66 64. Gemas tapi sayang.
67 65. Rujak.
68 66. Sekelebat isi rumah tangga.
69 67. Debat.
70 68. Kesampaian.
71 69. Bapak-bapak yang panik.
72 70. Hari tegang.
73 71. Menerima kenyataan.
74 72. Dan pada akhirnya.
75 73. Sudah sehat
76 74. Fase bahagia.
77 75. Lahir.
78 76. -
79 77. Semakin tumbuh besar.
80 78. Ribut hari ini.
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Pernikahan.
2
2. Rasa yang mengguncang.
3
Cek respon.
4
3. Istriku.
5
4. Kerapuhan wanitaku.
6
5. Mulai rumit di rasakan.
7
6. Prahara.
8
7. Hutang penjelasan.
9
8. Tragedi dua istri.
10
9. Cemburu.
11
10. Pertemuan.
12
11. Saat bersama.
13
12. Suara hati.
14
13. Ujianku.
15
14. Yang terdalam.
16
15. Dia pergi.
17
16. Hukuman.
18
17. Penjaganya pria berdarah dingin.
19
18. Tingkatan derajat.
20
19. Pertemuan kembali.
21
20. Dalamnya perasaan.
22
21. Ingatan tentangmu.
23
22. Sakit.
24
23. Butuh jawaban.
25
24. Keruh.
26
25. Jika ini yang terbaik.
27
26. Harapan tipis.
28
27. Antara ajudan dan penjaga hatimu.
29
28. Ajudan panikan.
30
29. Ada Wira untuk Nasha.
31
30. Lepas status.
32
31. Mencoba misi perdamaian.
33
32. Salah dan kecewa.
34
33. Dalam resepsi.
35
34. Ricuh.
36
35. Perang batin dan logika ( 1 ).
37
36. Pindah.
38
37. Dekapan mantan ajudan.
39
38. Sabuk hitam ilmu kebatinan.
40
39. Panik.
41
40. Ngidam pertamamu.
42
41. Lawan tanding ( 1 ).
43
42. Kuat iman.
44
43. Hasutan.
45
44. Perlindungan.
46
45. Tidak nyaman.
47
46. Takut masa lalu.
48
47. Belajar memahami.
49
48. Selalu salah.
50
49. Gara-gara ngidam.
51
50. Perjuangan bertahan.
52
51. Perasaan tak tertebak.
53
52. Cari mati.
54
53. Dendam tak berakal.
55
54. Kalah atau mengalah?.
56
55. Saling menguatkan.
57
56. Panji - Nisa.
58
57. Ingin bersamamu.
59
58. Apapun demi kamu.
60
59. Sebuah kehormatan.
61
60. Rasa di balik rasa.
62
61. Gagal jadi rahasia.
63
Curhat Nara.
64
62. Efek ngidam.
65
63. Gara-gara amphibi.
66
64. Gemas tapi sayang.
67
65. Rujak.
68
66. Sekelebat isi rumah tangga.
69
67. Debat.
70
68. Kesampaian.
71
69. Bapak-bapak yang panik.
72
70. Hari tegang.
73
71. Menerima kenyataan.
74
72. Dan pada akhirnya.
75
73. Sudah sehat
76
74. Fase bahagia.
77
75. Lahir.
78
76. -
79
77. Semakin tumbuh besar.
80
78. Ribut hari ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!