Bang Panji menghubungi bagian unit kesehatan dan mengendorkan pakaian bagian dalam Nasha.
"Tolong petugas wanita saja yang periksa ya..!!" Perintah Bang Panji.
"Baik Let.."
Nasha sudah pasrah dengan perlakuan Bang Panji. Tangan Nasha sangat dingin.
"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Bang Panji menggenggam tangan Nasha.
"Hanya sedikit pusing Bang" Jawab Nasha.
Bang Panji mengusap kening Nasha agar istrinya lebih tenang
:
"Sudah telat haid Bu Panji?" Dokter memastikan kondisi Nasha.
"Sepertinya ini bulan kedua belum haid dok" Bang Panji mencoba mengingat tanggal haid istrinya
"Waahh..Pak Panji hapal sekali, terlalu sering ya pak?" Ledek dokter wanita.
"Dokter bisa saja" Bang Panji sedikit malu, karena memang benar sejak malam pertama mereka, Bang Panji hampir selalu kejar setoran setiap bertemu Nasha dan tidak pernah melewatkan nya hingga terlupa waktu telah berjalan dua bulan.
"Coba di cek di dokter kandungan ya pak, Bu Nasha kemungkinan sedang mengandung 8 minggu"
Betapa terkejutnya Bang Panji mendengar berita kehamilan Nasha hingga ia mematung menatap istrinya yang lemah. Setelah menyelesaikan urusan dengan dokter, Bang Panji kembali menemani Nasha di dalam kamar.
"Bang, Nasha nggak apa-apa. Jangan berlebihan" lirih Nasha sambil memejamkan mata dengan wajah pucatnya.
"Tidak..lihat saja dirimu, membuka mata saja sulit. Kamu buat Abang cemas dek"
"Ya khan bisa menunggu pusingnya hilang sedikit Bang" Jawab Nasha.
...
Bang Panji merebahkan Nasha pada posisi yang nyaman dan menyelimuti istrinya hingga ke batas dada
"Abang akan mengambil ART untuk membantu dan menemanimu" Bang Panji naik ke tempat tidur dan membuka jilbab Nasha, disentuhnya pipi mulus lembut itu.
Rasanya aku mau mati memikirkan ini semua, Diani hamil Nasha juga hamil. Aku tidak bisa menolak anak yang di kandung Diani, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Nasha yang kesulitan saat ini.
***
Pagi hari seorang ART datang ke rumah, wanita di atas usia 40 tahun itu mengetuk rumah dinas Bang Panji. Bang Panji bergegas membukakan pintu.
"Saya Minah pak, saya di kirim dari agen penyalur ART" kata Bi Minah memperkenalkan diri
"Iya bi, silahkan masuk. Tolong bantu istri saya ya, dia sedang mabuk mabuknya awal kehamilan. Saya tidak bisa setiap hari ada di rumah" Bang Panji memberi penjelasan.
"Baik pak, saya mengerti" jawab Bi Minah
Bang Panji menerangkan tugas tugas untuk Bi minah dan memberi tau nomer mana saja yang bisa di hubungi dalam keadaan darurat.
...
"Bang, kamu tidak senang ya sama kehamilanku ini?" tanya Diani yang lagi-lagi menemui Yuda di kantornya meskipun sebenarnya Bang Panji sudah melarangnya, apalagi ia cemas Abang-abang nya akan tau hal ini.
"Bukan tidak senang Di.. tapi kondisimu tidak memungkinkan, dan lagi caramu ini sangat mengecewakanku. Sekarang Abang tanya padamu, jika Nasha pun ikut hamil terus bagaimana?"
Diani terduduk lemas, sedikit rasa cemburu menyelimuti hatinya. Bang Panji mendekati Diani dan mengusap lembut punggungnya.
"Kalau kamu mau hamil seperti ini, saat itu kamu jangan memintaku untuk menikahi Nasha, Abang akan membawamu ke luar negeri untuk menjalani keinginanmu, Sekarang Abang sudah menikah dengan Nasha, kenapa kamu jadi egois seperti ini?" Tegur Bang Panji.
Diani berdiri dan memeluk Bang Panji, kemarin dia tidak berpikir panjang saat melakukan hal ini. Yang ia tau hanya ingin membahagiakan suaminya. Diani masuk ke ruangan dokter dan menyuapnya untuk menyuntikan benih Bang Panji pada dirinya.
Bang Panji menghubungi ajudannya untuk membawakan makanan dan minuman untuk Diani.
"Beno.. tolong bawakan makanan dan minuman untuk tamu saya...!!"
...
"Bagaimana keadaan Nasha Bang?" Tanya Diani sambil menyantap makanan di hadapannya.
"Dia baik baik saja" Jawab Bang Panji singkat sambil mengoreksi laporan yang di serahkan anggotanya.
Diani mendekati Bang Panji setelah menyeruput minumannya, Diani duduk meja dan meletakan tangannya pada bahu Bang Panji.
"Apa kamu jarang bersama Nasha Bang? kenapa dia belum hamil?" Tanya Diani.
"Habiskan makananmu sayang, jangan bahas masalah ini di kantor" ucap lembut Bang Panji sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kenapa kamu seperti menghindari pembicaraan kita?" Diani seakan merasakan perubahan suaminya.
Bang Panji menghentikan kegiatannya dan menatap wajah Diani.
"Abang hanya tidak ingin persahabatan kalian menjadi renggang. Saat Abang bersamamu itulah caraku mencintaimu, saat Abang bersama Nasha itulah caraku bersama Nasha."
Diani tersenyum, dia tidak ingin memperkeruh suasana dengan sedikit kecemburuannya itu.
drrttt..drrrrttt...drrrrt
"Maaf pak, saya menghubungi bapak. Ibu muntah muntah lagi sejak pagi, sekarang demam tinggi pak" panik bi Minah mengejutkan Bang Panji siang itu. tapi dia berusaha setenang mungkin di hadapan Diani.
"Iya, saya segera kesana" Jawab Bang Panji menoleh pada Diani sekilas sambil mematikan panggilan teleponnya.
"Kamu pulang di antar Beno ya sayang, Abang ada urusan di luar" Bang Panji mengecup lembut kening Diani.
"Iya Bang, ya sudah aku pulang sekarang, aku juga lelah" senyum cantik Diani menenangkan hati Bang Panji.
"Hati hati, jaga anak kita..perhatikan makanmu, jangan lupa minum susunya" pesan Bang Panji panjang lebar membuat Diani tersenyum geli.
"Iya Bang..." sambil mengecup pipi suaminya.
...
"Bi..bi... bagaimana istriku" Bang Panji berteriak dan setengah berlari masuk ke dalam rumah.
"Ibu lemas sekali pak, tidak mau makan sama sekali" Jawab bi Minah
"Apa tidak di bujuk Bi??????" tanpa sadar Bang Panji membentak Bi Minah dan berlari masuk ke kamar diikuti bi Minah.
"Sudah pak, tapi ibu memuntahkannya lagi" Bi Minah merasa takut dengan kemarahan Bang Panji.
Bang Panji membuka pintu kamarnya, di lihatnya Nasha sedang menahan mual. Bang Panji segera mendekati Nasha dan memeluknya, suhu tubuh Nasha yang meninggi bisa di rasakan oleh Bang Panji.
"Bibi bisa keluar, kalau ada yang di butuhkan saya akan memanggil Bibi" titah Bang Panji dan bibi segera keluar.
Bang Panji segera melepas jilbab Nasha yang membuatnya gerah tak lupa Bang Panji melepas seragam luarnya.
"Kamu mau apa dek?" tanya Bang Panji yang cemas melihat kondisi Nasha.
Nasha mengigau dalam tidurnya, dia hanya memanggil nama Bang Panji saja.
"Abang di sini dek, Abang sudah disini..kamu mau apa" Bang Panji menepuk lembut pipi Nasha yang terasa hangat.
"Bang Panjii... Bang Panjiiii..." Lirih suara Nasha membuat Bang Panji menjadi tidak tega. Seketika ia memeluk Nasha.
Kenapa hatiku sangat sakit melihatmu seperti ini dek. Kamu mengandung anak Abang dengan susah payah. Apakah kamu merindukan Abang saat ini.. Katakan kalau kamu rindu Abang.. Abang pasti akan datang.
Tak terasa sebulir air mata menetes menahan sakit melihat Nasha yang terus saja memanggil namanya.
...
"Sayang..maaf ya hari ini Abang tidak pulang, ada pekerjaan di luar kota. Kalau sudah selesai Abang akan pulang"
Bang Panji menutup panggilan teleponnya dan berjalan menuju kamar Nasha. Kondisi Nasha belum membaik, hal itu membuat Bang Panji begitu khawatir.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
kasian bang panji...😔😔😔 semangat atulah mba nara...🙏🙏💪💪💪😍😍
2023-09-23
0
Dwi Ara
capek kan bang Panji
punya isteri 1 aja puyeng lha koq ini neko2 punya isteri 2....🤪🤪
2023-05-04
1
Siti Suparti
mampus kau bang panji,2 istrimu hamil nyidam bareng2.diani egois wanita culas sakitnya buat kedok aja.
2023-02-03
1