Nasha sudah bangun pagi hari dan menyiapkan sarapan untuk Bang Panji. Mama papa sudah pulang dari pagi sekali karena Papa harus segera berangkat berdinas.
"Kamu masak apa Sha" tanya Bang Panji.
"Hanya ayam goreng dan sup saja Bang. Abang mau makan sekarang?" Nasha menawari Bang Panji untuk sarapan.
"Iya.. Oya.. Abang mau pergi keluar kota, ada dinas dadakan sampai sore dan tidak bisa di tinggal"
"Iya Bang, hati hati di jalan ya" pesan Nasha sambil meletakan masakannya pagi ini di hadapan Bang Panji.
Bang Panji menatap setiap gerak Nasha, istrinya itu selalu menundukan wajah, tidak membuka jilbab sejak di hadapannya kemarin.
Kamu terlalu baik Nasha, membuat hatiku tidak tega dan mati kutu.
drrrttt...drrrttt..drrrtt
"Iya..saya akan segera kesana" Bang Panji menyelesaikan dengan cepat acara makannya lalu pergi dengan setengah berlari.
"Ada apa Bang" tanya Nasha merasa cemas.
"Diani masuk rumah sakit"
"Nasha ikut ya Bang?" Wajah Nasha nampak memelas.
"Ayo cepat..!!" Bang Panji tau Nasha pasti khawatir dengan keadaan Diani.
***
Diani sudah ada di ruang perawatan, wajahnya sangat sayu membuat Bang Panji dan Nasha menjadi sedih. Dokter menjelaskan bahwa sakit Diani kambuh karena lelah.
Nasha melihat tas milik Diani, di lihatnya isi tasnya berharap menemukan buku diary milik Diani, buku kesayangan sahabatnya. Akhirnya Nasha menemukannya. Saat membacanya Nasha terduduk lesu pada kursi di samping ranjang. Ekspresi Nasha membuat Bang Panji mendekat dan ikut membacanya.
Dear diaryku
Bang Panji sudah menikah dengan sahabat terbaikku, aku sangat bahagia saat tau sahabatku yang menjadi istri lelaki yang sangat kucintai. Ada sedikit rasa cemburu dalam hatiku saat membayangkan mereka sedang bersama. memadu kasih. Itu wajar khan diaryku?
Dulu..sebelum aku tau anugrah ini bersanding pada tubuhku, aku selalu membayangkan indahnya menikah dan bersama denganmu, setiap saat..setiap waktu..
Kini..biarkan setiap waktu yang berdetik menghapus bayangmu dalam hatiku..tersimpan erat cerita tentangmu dan aku.
Bang Panji juga terlihat sangat sedih, tapi dia mencegah Nasha untuk tidak menangis.
Diani membuka matanya dan tersenyum ceria melihat Nasha dan Bang Panji. Nasha sengaja menutupi perasaannya dengan bercanda seperti biasanya sampai mereka akan pulang.
...
"Panji.. Nasha.. ada apa kalian disini?" tegur Opa Danar yang kebetulan ada di rumah sakit untuk check up kesehatan rutin bersama Oma Nadine.
"Mama khan sudah bilang jangan melihat masa lalumu lagi. itu tidak akan baik untuk kelangsungan pernikahanmu. Diani bukan gadis yang baik" Oma Nadine ikut menasihati
"Oma.. jangan bicara masalah ini lagi. Beri aku waktu Oma. pernikahan bukan mainan. Aku juga yakin Diani itu gadis yang baik." Bang Panji tidak bisa menahan rasa sedihnya.
"Kalau bukan mainan ya lakukan tanggung jawabmu dengan benar, jangan melirik perempuan lain lagi..!!!!" Tegur Opa Danar yang juga sangat menyayangi Bang Panji.
Bang Panji meninggalkan Oma Nadine dan Opa Danar dengan hati yang amat resah. Nasha pun mengikuti langkah Bang Panji dari belakang.
"Menikah dan menikah lagi yang ada dalam pikiran mereka. Selalu menganggap Diani buruk." pikiran Bang Panji sangat kacau hingga melajukan mobil dengan kecepatan tinggi membuat Nasha sangat takut.
Sesampainya di rumah, Bang Panji langsung duduk di ruang tamu dan menyandarkan kepalanya. ia ingin menenangkan sejenak pikirannya yang sangat berantakan, tapi perasaannya yang selalu tertuju pada wanitanya tak lantas hilang begitu saja.
Sekarang kalau sudah begini kamu pun merasakan sakitnya Di.. tak hanya kamu. tapi aku pun sakit melihatmu terluka.
...
Nasha mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, handuk di tubuhnya hanya melilit tidak sempurna sampai terdengar bunyi pintu kamar terbuka. Nasha sangat terkejut dan berlari ke dalam kamar mandi, karena tidak hati-hati Nasha terpeleset dengan sangat keras.
bruuuugghh
"Ada apa Sha??" tanya Bang Panji sedikit cemas sambil menutup pintu kamar dan bergegas masuk ke kamar mandi.
"Tidak ada apa apa Bang" jawab Nasha dengan setenang mungkin, padahal ia sudah meringis kesakitan.
Bang Panji tidak lantas percaya, ia mencoba membuka pintu kamar mandi tapi pintu tersebut di halangi oleh Nasha dan Bang Panji pun semakin penasaran apa yang terjadi di dalam lantas mendorong pintu itu dengan kuat.
Nasha yang sudah bisa bangkit sambil menahan sakitnya kembali harus jatuh. Rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya.
Bang Panji terkejut sampai menelan salivanya melihat penampilan Nasha yang hanya menggunakan handuk setengah terlepas. Bang Panji menghampiri Nasha dan menyelipkan sedikit handuk tersebut pada dada Nasha kemudian Bang Panji mengangkat tubuh Nasha menuju ranjang mereka.
Nasha menutup wajahnya yang sudah sangat merah. Tapi Bang Panji bisa melihat wajah istrinya itu. Reaksi yang polos dan begitu alami. Tanpa sengaja jantung Bang Panji berdebar kencang desiran naluri manusiawi seorang pria timbul seketika, deru nafasnya tak beraturan. Gairahnya meronta naik turun.
Bang Panji mendudukan Nasha pada ranjang itu dan berjongkok di hadapannya lalu menarik kedua tangan Nasha yang menutupi wajah cantiknya
"Nggak apa-apa Sha, yang melihat Abang. bukan orang lain" kata Bang Panji terdengar tulus. Bang Panji memilih segera keluar dari kamar lagi untuk menepis rasa tidak tenangnya.
Aku tidak bisa mengkhianati Diani. Tapi aku juga sudah menikah. Suatu saat aku pasti akan membutuhkannya juga dan akan melakukannya. Kalau aku melakukannya pada Nasha tanpa cinta, kasihan Nasha.
...
Bang Panji kembali ke kamar.. di lihatnya wajah wanita yang kini menjadi istrinya.
"Abang sangat mencintai Diani, tapi aku juga tidak sanggup kalau ini akan menyakitimu Nasha. Kalian berdua sudah masuk dalam diri Abang" Gumam Bang Panji lirih, ia mengusap pipi Nasha yang kini tengah tertidur dengan rambut setengah basah.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
pasti harus move on ya bang panji semangat atuuuuhhh...😊😊😊
2023-09-23
0
Dwi Ara
ayo bang Panji segeralah move on...kan kasian nashanua
2023-05-04
1
🅶🆄🅲🅲🅸♌ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠
knp Oma Nadine blg kl Diani BKN wanita baik² ya
2022-10-15
1