"Saya tidak mau punya dua menantu" teriakan mama Fia memekakkan telinga.
Mama Gina sudah nyaris pingsan hingga Papa Cemar mendudukkan istrinya di sofa lalu berdiri di hadapan Nasha.
"Kenapa kamu berbuat sejauh ini. Papa sakit hati sekali nak, sejak kecil Papa dan dua Abangmu memanjakanmu tapi kenapa sekarang kamu mengalami hal seperti ini?? Seumur hidup Papa tidak pernah mempermainkan wanita, karena Papa ingin kehadiaranmu.. putri kecil kesayangan Papa" kata Papa Cemar membuat batin Nasha semakin terpukul.
"Aku yang salah Mar, aku mohon maaf tidak bisa mendidik putraku" Papa Rakit juga tak kalah terpukul dengan kejadian ini.
Bang Panji yang baru saja tiba segera berlari mendengar suara keributan dari luar.
"Cukup.. jangan menekan mereka lagi. Tolong kasihani mereka. Mereka semua istriku"
"Anak kurang ajaaarrr..!!!!!!!" Papa Rakit menghajar Bang Panji habis-habisan.
~
"Mama hanya ingin satu menantu" ucap keras mama Fia sangat syok mendengar ucapan Bang Panji.
"Mereka sudah jadi istriku ma" jawab Bang Panji tegas sambil mengusap bibirnya yang terluka karena di hajar Papanya. Badannya pun terasa remuk.
"Baiklah.. Nasha tetap istrimu, dan anak Diani cucu mama. Atau Diani tetap jadi istrimu dan anak Nasha jadi cucu mama" Mama Fia balik menekan Bang Panji dengan pilihan yang sangat sulit.
"Apa apaan ini ma, tidak ada yang aku pilih, semua istriku dan itu anakku" Bang Panji sangat marah dengan ucapan mamanya.
"Ceraikan Nasha.. papa akan membawanya pergi dan kamu bisa mengurus Diani istrimu..!!" Kata Papa Cemar tak kalah tegas.
"Tolong jangan Pa, saya mohon...kita bicara dulu baik-baik" Bang Panji mencoba membujuk Papa mertua di balik frustasinya pikiran. Diani menangis, ia berjalan masuk ke kamarnya sedangkan Nasha memeluk erat suaminya tapi Bang Petir menarik lengan Nasha dan mengarahkan di belakang punggungnya.
"Kamu nggak punya harga diri dek?????" Bang Petir membentak Nasha dengan kuat. Mata Bang Petir sempat melihat Nasha yang menghapus air matanya.
"Jika Papa memintamu memilih salah satunya.. siapa yang akan kamu pilih?? Papa tidak pernah mengajarkanmu untuk menyakiti hati wanita seperti ini Panji..!!" Bentak Papa Rakit.
Ya Allah.. beratnya ujianMu ini.
Bang Panji menghapus setetes cairan bening di sudut matanya. Ia terduduk duduk di sofa dengan lemas, tak sanggup baginya memilih salah satu istrinya apalagi keduanya sedang mengandung buah hatinya.
"Kami memberimu waktu Pan.. pikirkan. Tak ada wanita yang kuat di madu. Seharusnya kau pahami itu."
"Aku paham Bang, aku salah langkah" ucap jujur Bang Panji mengakui kesalahannya di awal.
"B******n.. kau permainkan perasaan Nasha..!!!!!!" Bang Petir terlampau emosi hingga menghajar Bang Panji bertubi-tubi.
"Abaaaanngg.. jangan..!!" Nasha menghambur memeluk Bang Panji. "Ini suami Nasha. Nasha sayang Bang Panji meskipun hati Nasha tak sanggup" Nasha lemas memeluk Bang Panji.
Dengan penuh sesal Bang Panji memeluk Nasha dengan erat. "Lakukan apa saja padaku Bang, tapi tolong jangan di depan mata Nasha. Aku sangat mencemaskan istri dan anakku ini"
Keluarga sangat dilema melihat perlakuan posesif Bang Panji untuk Nasha.
"Tekan mentalku saja, aku mohon..!!" Pinta Bang Panji.
...
Makan malam mereka diiringi suasana yang dingin dan hening. Tidak ada suara dari Nasha maupun Diani.
"Setelah ini kita ke ruang keluarga saja ya!" ajak Bang Panji.
Mereka bertiga duduk di kasur lantai bermotif bunga tulip.
"Soal keluarga.. jangan kalian pikirkan, Abang janji tidak akan memilih salah satu di antara kalian dan Abang sangat menginginkan anak-anak Abang lahir dengan sehat. Diani menangis memeluk Bang Panji untuknya sendiri dengan erat sedangkan Nasha hanya melihat ke arah depan dengan tatapan kosong. Bang Panji pun menggenggam tangan Nasha.
...
Malam semakin larut. Diani sudah tidur di ruang tengah sedangkan Nasha masih belum bisa memejamkan matanya. Bang Panji melihat Nasha hanya diam membisu, di lepaskannya pelukan Diani yang tak memperbolehkan Bang Panji melepasnya sedikit pun dan mulai memeluk Nasha.
"Sini.. dada ini juga milikmu dek, bukalah hatimu dan tumpahkan bersama Abang!" Sontak tanpa menunggu lama Nasha memeluk Bang Panji dan terisak hingga puas. Bang Panji mengusap lembut punggung Nasha, tak lupa tangan itu juga mengusap perut Nasha yang terasa menegang. Mereka bertiga akhirnya tidur dalam satu kasur lipat dengan Bang Panji tidur di tengah kedua istrinya.
***
Pagi hari bibi melihat Pak Panji dan dua nyonya rumah yang tampak akur terlihat ikut bahagia. Pemandangan langka bagi mereka.
Kebersamaan Bang Panji, Nasha dan Diani telah sering mereka lihat tanpa pertengkaran dan selalu damai. Tidak saling cemburu dan saling mengerti. Apa yang tidak bisa di kerjakan Diani selalu di kerjakan Nasha.
\=\=\=
Hari berganti hari..bulan berganti bulan. Kandungan Nasha dan Diani semakin besar. Diani belakangan ini kurang sehat dan penyakitnya kambuh terkadang sampai mimisan dan tidak sadarkan diri.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Bang Panji yang melihat Diani meringis menahan sakit
"Perut bagian bawahku sakit sekali Bang" Jawab Diani.
"Abang ambilkan obat ya?"
"Nggak Bang, obat obatan itu tidak baik untuk anak kita" Diani menolak.
"Mau sampai kapan kamu tahan rasa sakitmu, Abang tau kamu sakit" ucap Bang Panji putus asa.
"Aku ingin anakmu tumbuh sehat Bang" jawab Diani.
"Cukup Di.. " Bang Panji memeluk Diani, rasa takut kehilangan terbersit melingkupi hatinya.
tok..tok..tok
"Siapa?" tanya Bang Panji.
"Ada Bapak sepuh pak" jawab bi Minah
Bang Panji segera keluar menemui Papa mertuanya. Bang Panji takut Papa Cemar datang untuk membawa Nasha sebab sampai saat ini dirinya belum memutuskan dan memastikan apapun tentang hubungan mereka.
"Silahkan duduk Pa..!!"
"Waktumu sudah habis Panji. Papa akan membawa Nasha." Kata Papa Cemar pada Bang Panji. "Petir.. kemasi barang adikmu..!!" Perintah Papa Cemar pada Bang Petir.
"Kalau Papa kesini hanya untuk menyakiti hati kedua istriku, maaf ma.. lebih baik Papa dan Bang Petir pulang. Istriku butuh ketenangan" Jawab Bang Panji dalam kecemasannya, ia sangat takut berpisah dengan Nasha.
"Lancang..!!"
Plaaakk
Papa Cemar menghajar Bang Panji hingga rasanya tulang Bang Panji terasa patah.
"Petir.. bawa Nasha..!!" Perintah Papa Cemar. Bang Petir pun segera mencari Nasha namun Bang Panji menghalangi langkah Bang Petir. Perkelahian pun tak terelakkan.
"Saya tau Papa dan Abang sakit hati, tapi demi Allah saya mencintai Nasha lebih dari apapun. Saya sanggup kehilangan apapun tapi jangan Nasha" pinta Bang Panji memohon.
"Aahh persetan dengan kata-kata mu..!!" Bang Petir menepis tangan Bang Panji.
"Ada apa Bang???" Diani turun perlahan mendekati suara ribut itu.
"Kamu.. apa yang kamu beri pada Panji sampai Panji tak mau melepas mu wanita j****g" Bang Petir hampir tidak bisa menahan ucapannya.
Diani cukup ketakutan dan Bang Panji semakin bingung dengan kata-kata yang setengah jalan ia dengar. "Saya mohon jangan bicara lagi Bang..!!" Diani memegangi perutnya yang sakit sambil bersujud di kaki Bang Petir.
"Ada apa ini Bang????" Bang Panji menarik tangan Diani ke belakang tubuhnya.
"Bodoh.. kau pria paling bodoh. Diani menjual diri untuk mendapatkan obat-obatan terlarang, itulah pekerjaan wanita kesayangan mu. Nasha tetap melindungi Diani meskipun Diani akan menjualnya di tempat p*l****an" Bang Petir membentak Bang Panji yang di butakan oleh cintanya pada Diani. "Kau pikir darimana Diani dapatkan penyakitnya??? Jika saja aku tidak mengindahkan permohonan Nasha dan sayangnya Nasha mu yang polos ini untuk Diani.. aku.. Abangnya sudah membunuh Diani sejak lama"
Bagai terhantam batu besar dan panas, Bang Panji harus mendengar kenyataan pahit dan terpahit yang pernah ia rasakan. Hantaman keras memukul telak batinnya berkali kali.
Nasha keluar dari kamar atas dan melihat keributan antara Abang dan suaminya. "Abaang.. ada apa lagi?? jangan marah sama Bang Panji.. Bang"
Diani yang berlindung di belakang punggung Bang Panji tiba tiba merasakan sakit yang teramat sangat pada perutnya. Peluh memenuhi dahinya, tiba tiba cairan bening membasahi kakinya.
"Bang..ini" Diani duduk untuk mengurangi sesuatu yang meluncur itu. Bang Panji mulai panik. Bagaimana pun juga, yang di kandung Diani adalah darah dagingnya.
"Diiii...." Nasha berlari dari arah atas. Ia sangat mencemaskan sahabatnya.
Bang Panji melihat ke arah Nasha yang berlari tergesa gesa. Belum sampai mulutnya berbicara, Nasha terpeleset hingga jatuh ke bawah.
bruugghh..
Suara jatuh Nasha begitu keras.
"Ya Allah.. Nashaaa...!!!!!" Teriak Bang Panji. Para bibi datang menghampiri nyonya mereka
Darah ada di sela paha Nasha. Mata Bang Panji terbelalak kaget tidak tau harus mengatakan apa. Jantungnya berdegub kencang.
"Anakku Bang" Nasha pun menahan sakit dan meremas lengan pakaian Bang Panji. Seketika itu juga Nasha tak sadarkan diri. Air mata Bang Panji ikut mengalir, hatinya begitu sakit bagai terhujam ratusan belati.
"Astagfirullah hal adzim. Ya Allah.." teriak Bang Panji saat batinnya sungguh tak karuan.
"Tolong angkat Diani Bang..!!" pinta Bang Panji pada Bang Petir.
Bang Petir dan bibi mengangkat Diani, sedangkan Bang Panji menggendong Nasha.
"Bangun dek, bangun sayang.. Abang sangat mencintaimu". Suara serak Bang Panji terdengar begitu pilu
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
😌😌😌💪💪💪💪
2023-09-23
0
Dwi Ara
Thor....tlg jgn bikin nasha kehilangan anaknya y....aq ngga rela lho
2023-05-04
1
amalia gati subagio
nas yg gak punya harga diri, dijual temensetan, berlaki baperan serakah wk wk wk
2022-11-10
1