Diani melihat reaksi Bang Panji. Kini ia sangat menyadari bahwa Bang Panji sangat mencintai Nasha jauh dari cara Bang Panji mencintainya. Diani tersenyum penuh ribuan makna.
"Nasha.. ikut sama Papa nak..!!" Papa Cemar begitu terpukul melihat keadaan Nasha.
"Tolong jangan bahas ini sekarang Pa, yang penting keadaan Nasha dulu..!!" Bang Panji menyetir dengan kecepatan tinggi di susul mobil yang di bawa Om Aris.
POV Bang Panji.
Nasha mulai sadar dan merintih kesakitan sedangkan Diani mulai melemah tanpa suara. Aku mengendarai mobilku dengan kencang. hanya kalut yang ada dalam benakku.
...
Kedua istriku sudah masuk IGD dan aku menemani mereka. Hatiku semakin di uji saat di sebelah kananku Nasha merintih kesakitan sedangkan Diani mulai melemah.
"Bapak suami dari ibu Diani?" tanya Dokter padaku setelah memeriksa Diani
"Iya dok"
"Pak, penyakit ibu Diani sudah sangat lanjut juga ketuban di kandungan ibu Diani sudah semakin menyusut, kita harus ambil tindakan operasi" Dokter menjelaskan padaku.
"Lakukan yang terbaik dok"
Belum selesai rasa gundahku, Nasha mengerang kesakitan. Napasnya tersengal. Hanya namaku saja yang panggilnya. Sungguh aku tak tega melihatnya.
"Bang Panji.. Baang Panjii" hatiku terpukul atas kejadian hari ini. Kugenggam tangan Nasha, ku kecup keningnya.
"Iya sayang.. aku disini" Aku tak sanggup lagi menahan air mataku.
"Pak Panji suami ibu Nasha juga?" tanya perawat padaku dengan wajah tidak percaya
"Iya.. bagaimana?"
"Pak.. Ibu Nasha sudah pembukaan 4. Jadi bayi bapak akan lahir hari ini" ucap perawat.
Bagai tersambar petir dadaku terasa sesak, pikiranku melayang. Kenapa ini yang terjadi padaku.
...
Aku berjalan di samping brankar Nasha sedangkan Diani masuk ke ruang operasi tanpaku dan aku masuk ruang persalinan di sebelah ruang operasi bersama Nasha.
Para bidan dan dokter sudah memberi obat perangsang agar persalinan Nasha lebih lancar. Tampak dokter sangat sibuk dan aku samar mendengar detak jantung bayiku melemah. Kulihat Nasha juga semakin melemah.
"Bang.. sakit sekali" Rintihan Nasha sungguh menyayat hatiku. "Nasha nggak kuat Bang..!!"
"Jangan bilang begitu sayang.. maafkan Abang sudah membuatmu seperti ini"
Nasha mulai mengejan sekuatnya. Dokter pun memberi aba aba. Dengan seluruh sisa tenaganya.. Nasha mengejan dengan kuat.
"Baang Panjiiiii" Suara Nasha membuatku goyah.. seketika Nasha kehilangan kesadarannya juga kehilangan banyak darah. Bayiku terlahir. Dokter menerimanya tapi.... bayiku tidak menangis. Ada apa dengan bayiku. Dokter berusaha mengusap lembut punggung bayiku, meniupkan udara lewat bibir mungil bayiku tapi bayi kecilku...
"Maaf Pak Panji.. bayinya...."
Bayi mungilku telah tiada. Bayi dari rahim istri tercintaku Nasha.
Aku merosot lemas tak bertenaga. Apa yang harus kukatakan pada Nasha nanti. Aku pun masih tidak kuat menahan sesaknya perasaanku.
Dokter menghampiriku untuk memperlihatkan bayi kecilku padaku, bayi laki lakiku. Aku menggendongnya, kutatap wajahnya. Jagoan kecil yang sangat kuinginkan dari Nasha. Kupanjatkan do'a kutatap kembali wajah mungilnya.
Saat ini papa menggendongmu sayang. Papa yang menantikan kehadiranmu. Papa yang merindukanmu setiap waktu. Suatu saat nanti kami pasti akan bertemu denganmu sayang.. tunggu papa dan mama disana..!!
Kucium penuh haru pipi lembutnya, senyum putih, bersih, mungil tanpa dosa. Wajahnya mirip denganku. Kusentuhkan jenazah anakku di wajah Nasha yang belum sadar, sebulir air mata menetes di pipi Nasha seakan ia merasakan perpisahan yang pahit ini. Kuserahkan lagi bayiku pada perawat, jujur hatiku masih tidak kuat menerima cobaan ini.
Aku duduk di kursi, di samping Nasha yang masih mendapat penanganan tim medis. Aku menunduk menangis dan meluapkan perasaanku sebelum Nasha bangun dan melihatku seperti ini, begitu lemah tak berdaya.
"Aku nggak kuat sayang, aku nggak sanggup melihatmu terluka saat tau anak kita sudah tidak ada lagi"
...
Nasha di pindahkan ke ruang rawat. Aku menunggu Diani di depan ruang operasi. Lampu darurat sudah mati, beberapa saat kemudian dokter keluar tapi dokter yang kulihat tadi bukanlah dokter yang menangani Diani.
"Dokter, dimana Diani??"
"Maaf Pak Panji, bukankah Pak Panji yang mengijinkan ibu pergi setelah persalinan????? kami sudah mendapatkan tanda tangan juga dari bapak" ucapan dokter bagai petir yang menghantam telak jantungku, baru saja aku kehilangan anakku, kini aku tak tau apa yang terjadi hingga Diani pergi meninggalkan ku. Aku juga belum sempat bertanya padanya perihal kemarahan keluarga ku padanya.
Bang Petir datang menenangkanku, tapi hatiku masih sangat terpukul. Aku terdiam, tak sanggup berkata-kata, seperti kerbau bodoh.
Kupejamkan mataku, Kusentuh dadaku.. Kupastikan apakah aku sesakit ini menerima segala cobaan dari Mu. Iya.. sangat sakit menerima kenyataan Diani yang kucintai telah membohongi ku, dia yang mengisi hidupku, Sungguh kamu wanita yang pernah memenuhi ruang hatiku.. tapi maafkan aku Diani.. biarlah lebih baik kamu pergi dari ku, hidup ku dan pernikahan ku.. Kini di hatiku kamu hanya bayangan indah yang cukup sampai disini.. Maafkan aku Diani karena aku yang sekarang teramat mencintai dan menyayangi sahabatmu Nasha. Sesungguhnya jiwa dan ragaku sulit untuk mengatakannya, tapi setelah kamu pergi, Aku yakin.. Nasha adalah nyawaku saat ini.
Aku menangis menyesali pernah mengenal Diani dalam hidupku.
Terima kasih atas cinta yang kamu beri dan juga terima kasih pernah mencintaiku begitu dalam yang entah selama ini nyata atau sebuah kepalsuan semata. Maaf aku tak bisa membalasnya, tapi dalam do'aku.. aku tidak ingin bertemu dengan mu lagi, di dunia maupun di akhirat nanti.
Kuhapus air mata dari sakit hatiku yang luar biasa. Air mata untuk perpisahan kita selamanya.. Diani mantan istriku.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Dwi Ara
ternyata oh ternyata....
2023-05-04
1
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
akhirrrrr yaaaaaa bisa molor juga gw........ kulepas kau dengan dengan senyuman terbaikuuuuuu diani
2022-11-07
1
Nabil abshor
😌😌😌😌
2022-10-20
1