Di dalam kamar, Bang Panji merebahkan dirinya disamping Nasha. Istrinya masih tetap menggunakan jilbabnya seperti kemarin. Matanya di pejamkan hingga akhirnya dia pun terlelap melupakan sejenak kegundahan hatinya
...
Pendingin ruangan pada tengah malam ini membuat respon pada tubuh Bang Panji dan Nasha untuk saling mendekat. Tanpa sadar tangan Bang Panji mencari kehangatan hingga lenguhan kecil terlepas dari bibirnya. Nasha terbangun karena Bang Panji menyentuhnya. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Berbeda, saat ada tangan pria menyentuh tubuhnya.
"Bang.. bangun Bang..!!" Nasha menyingkirkan perlahan tangan Bang Panji dan Bang Panji pun terbangun. Matanya menyadari tangannya menyentuh sesuatu yang dia hindari akan tetapi kini perasaannya sudah sedikit berbeda.
Nasha tidak berkata apapun lagi, dia hanya tidur memunggungi Bang Panji dengan takut. Bang Panji pun menjadi gelisah.
"Maaf Sha.. apa kamu marah?" tanya Bang Panji yang kini juga memunggungi Nasha.
"Marah karena apa Bang, Nasha hanya kaget saja" jawab Nasha lirih tapi terdengar getar ketakutan.
Bang Panji membalikan badannya dan menarik tubuh Nasha serta menghadapkan wajah cantik Nasha ke arahnya.
"Kamu akan sakit mendengarnya. Abang belum bisa mencintaimu, hanya status kita yang bisa menyelamatkamu. Kita dalam kamar seperti ini berdua, tidak ada jaminan Abang kuat menahan diri. Abang tidak akan menjadikan masalah kita sebagai alasan. Kalau saat ini Abang memandangmu sebagai lelaki normal, apa kamu bisa menerimanya?" Bang Panji mulai tersadar jiwanya sebagai lelaki sudah terusik sejak kejadian tadi. Hal ini bisa di mengerti oleh Nasha, namun keluguannya tidak bisa menyelamatkan seluruh pola pikirnya.
"Jika status ini bisa menyelamatkan Nasha, maka Abang yang tidak bisa menahan diri tidak akan salah dalam status kita walau tidak ada cinta" jawab Nasha.
POV Panji.
Aku berdebar mendengar ucapan istriku. Aku merasa sangat bersalah karena mengingkari cintaku pada Diani. Tapi kini aku juga sudah menikah, logika dan perasaanku beradu menjadi satu. Di satu sisi yang kulakukan adalah sebagai bentuk tanggung jawab, di sisi lain aku hanya menyelamatkan harga diriku sebagai laki laki.
Aku kalah dan kini sungguh memulai dengan perasaanku. Kupejamkan mataku, namun terbayang wajah yang berbeda, masih ada wajah Diani yang selalu ada dalam pikiranku. Kukecup lembut kening Nasha lalu turun pada bibir merahnya. Aku melepas jilbab yang ia kenakan. Nasha menahan tanganku, Aku tau raut wajahnya menyiratkan perasaan takut.
"Jangan takut..!!" Ucapku membujuk istriku.
~
Aku menggenggam tangannya dan menguncinya. Samar ku mendengar isakan tertahan dari Nasha istriku saat aku menanamkan diriku pada tubuhnya. Aku membuka mataku.
"Nasha.. kalau kamu belum ikhlas kita sudahi saja ya" kataku lembut menghapus air mata Nasha, tapi tidak dengan wajahku yang mengungkapkan kekecewaan karena merasakan sesuatu yang tertahan dan aku bersiap akan mengangkat tubuhku. Aku belum selesai dengan hasratku yang menggebu. Sungguh aku ingin menyelesaikan nya bersama Nasha. Kulihat Nasha menggigit bibir bawahnya dengan gelisah dan cemas.
"Nasha ikhlas Bang" lirih Nasha di sela isak tangisnya.
Aku pun melanjutkan kewajibanku, aku sempat frustasi karena wajah Diani kembali muncul memenuhi hasratku hingga hampir selesai aku mulai sadar dan membuka mata, ada bulir air mata yang kuhapus dari sudut wajahnya. Kulihat wajah Nasha dengan lekat yang menangis menahan sakit karena pelepasan pelampiasan hasratku. Kusadari Nasha yang akan mengisi hari hariku nanti. Dia yang kini melayaniku sepenuh hati, memuaskan hasrat lelakiku dengan ikhlas. Ada rasa bersalah tapi jujur aku sangat bahagia melebihi apapun malam ini. Tidak tau karena ikhlas, sayang atau mungkin keduanya.
"Abang hanya akan menyentuhmu dek.. Nasha istri Abang. Satu-satunya wanita yang akan Abang sentuh." ucapku dengan tulus dan sangat sadar membiarkan Nasha menerima haknya sebagai istriku. Aku ambruk dan bergeser dari tubuhnya. Tidak terasa aku terlelap karena sangat lelah.
***
Aku tersadar di tengah malam. Kepalaku bertumpu pada satu tangan, sedangkan Nasha tidur bertumpu pada lenganku yang lain dengan setengah memeluk tubuhnya. Aku mengingat apa yang semalam aku lakukan, secara sadar dan tanpa paksaan.
Awalnya wajahmu yang menghiasi malamku Di.. tapi setelah aku membuka mata aku tersadar bahwa aku telah memiliki Nasha dalam hidup dan sanubariku.
Aku mengecup lembut kening wanita yang sekarang tidur di lenganku dengan segenap rasa sayang dariku.
end POV Panji.
...
Siang hari Nasha menghubungi suaminya karena kondisi Diani sedang tidak stabil. Nasha sangat mencemaskan Diani karena sahabatnya itu tak lagi memiliki orang tua. Bang Panji segera berlari keluar dari kantor Batalyonnya dengan tergesa gesa. Banyak anggota memperhatikan Lettu Panji yang sangat cemas dan panik.
...
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Bang Panji pada Nasha yang lebih dulu datang di rumah sakit.
"Dia masih demam Bang, kata dokter ada tekanan psikis" jelas Nasha.
Bang Panji terduduk dengan lemas melihat Diani terpuruk melawan penyakitnya. Bang Panji menoleh pada Nasha yang berjalan sedikit berbeda menjauhinya dan Diani.
"Masih sakit dek?" Cemas Bang Panji tak lupa memberi perhatian pada Nasha namun tetap menggenggam erat tangan Diani.
"Tidak begitu Bang" Nasha sedikit menahan rasa nyerinya.
Tak lama Diani bangun, ada dua orang yang sangat di sayanginya. senyum mengembang di wajahnya yang pucat. Diani melihat Nasha berjalan dengan langkah yang berbeda, lalu Diani melihat ke arah Bang Panji.
"Kalian sudah melakukannya?" Tanya Diani lirih hingga berurai air mata. Nasha pun menangis menghampirinya dengan menundukan wajahnya. Nasha merasa sudah menusuk sahabatnya dari belakang.
"Maaf sayang..." Bang Panji memeluk mengungkapkan rasa bersalah pada Diani.
Nasha melihat suaminya memeluk sahabatnya, kali ini ia merasa ada tusukan kecil pada hatinya seakan tak rela. Tanpa terasa Nasha berbalik badan untuk pergi meninggalkan Bang Panji dan Diani.
Sambil terus memeluk tubuh Diani, Bang Panji meraih tangan Nasha dan menggenggamnya dengan erat. Perasaannya kini tak rela jika Nasha meninggalkannya hanya berdua bersama Diani. Hati Bang Panji pun sakit melihat istrinya menangis dalam diam. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Sejak semalam bayangan Diani teralihkan oleh Nasha. Wanita yang di minta Diani kekasihnya untuk menjadi istrinya.
Tiba tiba Diani mengejang hebat memegang perutnya. Sakitnya kambuh karena kondisinya tidak stabil.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Novi Lyani
panji agak kena sumpabnya oma nena ini kayanya ya...😅
2024-04-27
0
Lina RA
bukan laki2,,, sangat labil..
2023-12-05
1
Iis Cah Solo
diani sakit apa ya...semoga selalu baik..baik saja bang panji dng nasha...💪💪💪
2023-09-23
0