Makan siang sudah selesai. Bang Panji juga sudah menyelesaikan makannya. Sekarang giliran Bang Panji membicarakan keputusan yang sudah ia buat
"Sha.. Di.. Abang ingin menyampaikan sesuatu" Bang Panji membuka suaranya. "Abang meminta kalian tinggal terpisah demi kebaikan kalian sendiri. Tapi melihat situasi sekarang, dalam kandungan yang sudah semakin besar.. kira kira apa kalian sanggup kita hidup satu atap?" tanya Bang Panji
Diani dan Nasha saling berpandangan. Hingga akhirnya Nasha yang membuka ucapannya lebih dulu.
"Sanggup Bang, ini adalah keputusan kita menjalani rumah tangga seperti ini. Nasha tau pasti hati Abang cemas memikirkan kami" Jawab Nasha mantap seperti biasanya membuat Bang Panji merasa sesak mendengarnya.
"Bagaimana denganmu Di..?" tanya Bang Panji pada Diani.
"Aku sanggup Bang, aku setuju dengan Nasha " jawab Diani dengan senyum tulus. "Tapi kita akan tinggal dimana? Tidak mungkin kami tinggal di asrama"
"Di sebuah rumah yang sudah Abang sewa, sedikit penduduk agar kalian tidak tersorot. Maafin Abang ya, harus memutuskan hal ini" kata Bang Panji.
"Nggak apa-apa Bang, kami setuju" jawab Nasha.
"Kalian sudah yakin?? Abang tidak akan memaksakan kalau kalian tidak sanggup" ucap Bang Panji menegaskan sekali lagi.
Kedua istri dari Bang Panji hanya tersenyum mengangguk. Beberapa saat kemudian Bang Panji menarik napas panjang.
"Di.. kamu akan tinggal bersamaku dan Nasha. Bibi akan ikut dan tinggal bersama kita. Kalian masing masing akan ada yang menjaga selama Abang sibuk kerja, hal ini mungkin sangat berat untuk kalian berdua tapi setidaknya Abang melihat dengan mata kepala sendiri keadaan kalian"
Nasha dan Diani mengerti kenapa Bang Panji melakukan hal ini. Nasha dan Diani tersenyum saling berpegangan tangan.
***
Prada Beno sudah mengangkat barang Diani dan bibi untuk pindah ke rumah kontrakan Bang Panji. Mereka pun segera pergi menuju rumah Bang Panji.
Sebenarnya rumah tersebut adalah rumah teduh milik Lettu R. Panji Upas Wilalung, hanya saja karena dirinya tengah memiliki dua istri, ia belum ingin membuka fakta tersebut.
...
Nasha yang sudah menunggu kehadiran Diani, ia sudah datang lebih dulu dan menyambutnya di depan pintu dengan sangat bahagia. Bibi dan Prada Beno yang tau fakta tentang hidup Lettu Panji mengira kedua istri pria berpangkat itu akan bersitegang ternyata malah sebaliknya.
...
Hingga sore itu ada saja kegiatan dua bumil. Nasha dan Diani kompak memasak, jika mual Nasha kambuh.. Diani yang akan membantunya jika Diani sudah merasa lelah maka Nasha yang akan menyelesaikannya sebisa mungkin.
...
Malam sudah tiba, deru mobil Bang Panji terdengar masuk ke dalam garasi rumah. Nasha yang sedang mual tidak jadi menyambutnya hanya Diani saja yang kedepan rumah.
Diani menyalami Bang Panji dan Bang Panji membalas mencium kening, kelopak mata serta bibir Diani seperti biasa.
"Mana Nasha?" tanya Bang Panji celingukan mencari istri pertamanya.
"Itu duduk di ruang tamu Bang, biasa mualnya kambuh lagi" jawab Diani sambil berjalan ke ruang tamu dan melingkarkan tangan di pinggang Bang Panji dengan begitu manja.
Bang Panji melepas tangan Diani lembut lalu beralih dan berjongkok di hadapan Nasha. Bang Panji melihat Nasha memejamkan mata dan mengusap perutnya. Nasha yang merasakan kehadiran Bang Panji seketika membuka mata dan menyalami Bang Panji seperti biasanya.
"Assalamu'alaikum" Bang Panji pun mengecup Nasha lalu pipi kiri dan kanan, terakhir ciuman hangat di bibir Nasha.
"Wa'alaikumsalam Abang" jawab Nasha lembut.
"Abang antar ke kamar ya?" wajah cemas Bang Panji tampak jelas terlihat.
"Nanti ya Bang, Nasha naik ke lantai atas sama bibi aja. Abang sama Diani masuk saja ke kamar" tolak Nasha.
Sebenarnya dalam hati Bang Panji sudah mengerti maksud ucapan Nasha yang sengaja menghindarinya. Membawa Diani ke rumah adalah keputusan yang sulit juga bagi Bang Panji tapi jika tidak begini bagaimana Bang Panji bisa memantau keadaan istrinya setiap saat.
"Bi.. tolong bantu istri saya ya! Saya ke atas dulu" Bang Panji mengeraskan suaranya memanggil bibi untuk membantu Nasha. Tanpa sadar mengecup basah bibir Nasha penuh kasih. Diani merasakan hatinya tercubit tapi di tepisnya rasa itu.
"Ayo sayang kita ke atas..!!" Ajak Bang Panji pada Diani, namun ekor matanya masih melirik Nasha dengan tatapan tidak tega. Nasha mendengar kata 'sayang' itu sedikit terusik perasannya. Jarang sekali Bang Panji memanggilnya 'sayang', bahkan hampir tidak pernah.
***
Malam ini Bang Panji masuk dalam satu kamar dengan Diani, di kamar sebelah. Bang Panji tidak bisa tidur dan memikirkan bagaimana Nasha tanpanya. Samar terdengar dari luar suara Nasha yang sedang muntah dan suara bibi yang keluar masuk kamar. Bang Panji melihat Diani yang tidur pulas. Memang sejak Diani hamil, tidurnya sangat pulas. Bang Panji pun penasaran dan keluar dari kamar.
~
"Apa bibi panggil Pak Panji saja bu?" Tanya bibi iba melihat kondisi Nasha yang selalu begini jika tidak di temani Bang Panji.
"Jangan bi.. jangan. Biarkan Bang Panji menemani Diani. Bibi temani saya saja ya!" pinta Nasha sambil memeluk bibi.
"Tapi bu, demam ibu kali ini sangat tinggi" Ucap bibi. Nasha berdiri perlahan sekuat tenaga menopang badannya dan menuju toilet untuk muntah lagi.
Bang Panji sejak tadi mendengar di balik pintu kamar menjadi tidak tega.
Beginikah setiap Abang tidak menemanimu? Kamu begitu menderita dek.
Bang Panji masuk ke dalam kamar. Bibi melihatnya menjadi terkejut. Bang Panji mengisyaratkan bibi agar meninggalkan mereka berdua. Bibi mengerti dan segera keluar
Bang Panji memijat tengkuk Nasha dengan lembut. Nasha meremas perutnya dengan sebelah tangannya. Bang Panji pun ikut mengusap perut Nasha.
"Bi, saya nggak kuat lagi. tolong bantu saya bi..!!" lirih suara Nasha dengan napas yang berusaha di aturnya. Nasha tidak tau bahwa Bang Panji sudah di belakangnya.
Bang Panji pun mengangkat Nasha. Betapa terkejutnya Nasha melihat Bang Panji mengangkatnya. Bang Panji merebahkan Nasha di atas ranjang.
"Abang kenapa ada disini?"
"Beginikah setiap Abang tidak di rumah? Maaf dek.. Abang tidak tau kamu semenderita ini mengandung si kecil kita" Bang Panji menggenggam tangan Nasha.
"Nasha ikhlas Bang, Nasha sangat bahagia bisa mengandung anak Abang dan memberi Abang gelar seorang ayah" jawab Nasha.
"Abang temani kamu tidur ya, kasihan anak kita. Anak manjanya Papa Panji"
"Tapi Bang........" Nasha merasa tidak enak.
"Ini soal anak dek bukan soal lain, Abang yang akan menjelaskannya pada Diani" Bang Panji memeluk Nasha.
Malam itu akhirnya Bang Panji menemani Nasha. Demamnya berangsur turun dan mulai lelap dalam tidur. Bang Panji pun ikut tertidur pulas dengan memeluk Nasha yang tenang dalam dekapannya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
haaduuuhhh bingung daahh..😊😊😊
2023-09-23
0
Tha Ardiansyah
Itu mah sama aja membunuh nasha secara perlahan
2022-10-18
1
M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛⒋ⷨ͢⚤
semoga Nasha kuat
2022-10-17
2