"assalammualaikum…” ucap nisa dengan hati yang berbinar-binar.
“wa’alaikum salam..” jawab ibu nita dan pak juna, yang ada di meja dapur sedang mengobrol ringan. Ibu nita melihat senyum mengambang di wajah putrinya.
“hmmm… lagi senang nampaknya, ada apa sepertinya wajah putri ibu ini sangat ceria.” Tanya ibu nita. Nisa pun bergabung di meja makan sederhana itu bersama ayah dan ibunya.
“iya bu, nisa sangat senang. Jualan nisa sangat laku buk dan habis semua. Terus uangnya bisa nisa tabung untuk memenuhi keperluan nisa nanti.” Ucap nisa girang. Padahal ya, di tubuh itu ada jiwa renata, kok ya bisa-bisanya ia bersikap manja seperti itu. ah sudahlah, lagian kan mereka sudah bersatu dalam satu jiwa. Lanjut.
“wah, bagus donk nak, kalau begitu, rajin-rajin berkebun…” ucap pak juna menimpali.
“iya yah, itu pasti..” jawab nisa sambil mengeluarkan jempolnya.
“dan jangan abaikan juga pelajaran mu, jangan karena berkebun kamu jadi lalai dalam pelajaran.” Ucap ibu nita mengingatkan putrinya.
“iya bu, pelajaran adalah yang utama. Nisa juga ingin mengangkat derajat keluarga kita dengan sekolah yang rajin. Hehe,,,” ucap nisa lagi. Setelah itu, nia pun masuk kedalam kamarnya dan menyimpan uangnya di dalam celengan. Wajar, disni belum ada bank untuk menyimpan uang, adanya di kota. Sementara jarak tempuh kekota sekitar 4 jam kalau menggunakan motor. Setelah itu, ia lanjut untuk membersihkan kebunnya. Apalagi sekarang adalah hari libur sekolah, jadi puas-puas nisa untuk membersihkan kebunnya.
***
Nisa pun mulai menjalani hari-harinya seperti biasa. Sekolah, di pagi hari dan siangnya berkebun di halaman rumahnya, pemandangan sekitar rumahnya pun sangat indah, di penuhi dengan berbagai tumbuhan sayuran dan buahan. Saat itu juga, nisa tidak lagi meminta uang saku dari kedua orang tuanya, namun karena tanggung jawab orang tua pada anaknya, mereka tetap memberinya uang saku, walau pun sudah agak berkurang.
Saat ini, nisa sedang berada di perpustakaan kembali. Namun kali ini, ia bersama dengan ke tiga teman sekelasnya. Mereka tidak belajar diruangan, karena guru mereka sedang tidak masuk, supaya waktu tidak mubazir, mereka berempat memilih untuk nongkrong di perpustakaan sambil menggoda petugas perpus yang ganteng menurut mereka.
Mereka pun duduk dengan tenang disalah satu meja di dalam ruangan itu, mereka membaca buku yang bersangkutan dengan pelajaran mereka hari ini, yaitu sosiologi. Tiba-tiba, rombongan ketua OSIS masuk keperpus bersama dengan beberapa teman sekelasnya. Sepertinya guru mereka juga tidak masuk.
“eh… ada cewek disini..”sapa hengki. Ia berjalan mendekat ke meja nisa dan kawan-kawannya.
“lagi pada ngapain ladies..?” Tanya hengki dengan sok akrabnya, namun taka da satu pun dari mereka yang menjawab sapaannya. Namun ia tidak menyerah, sementara yang lain duduk di sebelah meja mereka sambil membaca beberapa buku juga.
“lah… ditanya kok malah diam..” ujarnya lagi. Lisa pun mengangkat kepalanya dan melihat hengki.
“memangnya, kamu gak lihat kalau kita lagi membaca buku, pakek nanyak lagi..” ketus lisa. Yang ada di sana pun menyunggingkan senyum mengejek kearah hengki. Sementara hengki hanya menggaruk kepalnya yang tidak gatal.
Tapi tiba-tiba, siska dan kawan-kawannya pun masuk juga keperpustakaan, dan melihat nisa dan kawan-kawannya disana, dan juga di sebelahnya ada dedi dan kawan-kawannya, dalam hatinya timbul keinginan untuk mempermalukan nisa kembali.
“eh.. ada anak IPS disni, ngapain anak IPS disini..?” Tanya siska sinis, ia menekankan kata IPS, karena anak yang masuk di jurusan IPS itu rata-rata di bawah rengking sepuluh. Otomatis anak ipa lebih pintar dari anak IPS.
“aduh.. kuntilanak masuk ni..”sindir lilis. Sambil mengarahkan pandangannya kearah siska. Siska jadi tersindir dengan ucapan lilis.
“apa maksud kamu, bilang saya kuntilanak..?” Tanya siska dengan geram, ia sudah berdiri di depan lilis.
“dih.. pede banget kamu, emangnya saya bilang kamu itu kuntilanak. Idih… ngerasa jadi kuntilanak ya, makanya tersungging alias tersinggung..” ucap lilis dengan sedikit lebay dan alay. Teman-teman lilis yang mendengar ucapannya pun tersenyum lucu.
“jangan pada senyum deh kalian. Kalian itu Cuma anak IPS yang punya otak di bawa rata-rata, alias bodoh.” Seru siska lagi. Mendengar itupun lisa jadi geram sendiri, namun sebisa mungkin ia tetap tenang.
“eh… kok dibilang bodoh sih. Situ kali yang bodoh dan ngak waras, datang-datang langsung ngatain orang, apakah itu ngak bodoh namannya. Cari masalah tanpa sebab. Ih.. lucu banget ni orang.” Ucap lisa bermonolog dan masih di dengar oleh mereka yang hadir disana.
“apa kamu bilang..” ucap siska makin naik darah.
“sudah. Kalau kalian kesini mau bikin rebut, mending kalian keluar saja. Kami disini sedang belajar.” Kali ini dedi yang bersuara. Mereka yang hadir disana pun cukup terkejut dengan apa yang mereka lihat, secara tidak langsung dedi sudah membantu nisa dan teman-temannya, dan anehnya dulu dia tidak seperti itu.
mendengar teguran dedi, siska hanya mampu mengedutkan mulutnya saja. Karena tidak ingin di usir oleh dedi disana, ia pun diam dan mengambil tempat duduk di meja dedi dan kawan-kawannya yang lain.
Seketika perpustakaan pun menjadi hening, begitu juga dengan hengki. Ia tidak menggangu mereka lagi, karena sepertinya mereka cukup serius membaca buku. Ia juga mengambil buku bacaan dan duduk di tempat semula yaitu di dekat nisa, dan nisa pun tidak mempermasalahkan hal itu.
dedi pun sedikit mencuri-curi pandang kearah mereka berdua. Nisa menyadarinya namun ia tak peduli. Tiba-tiba, di perpus ada yang rebut-ribut, ada seorang siswa perempuan tiba-tiba kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya.
“tolong-tolong..” ucap siswa perempuan itu. mereka yang ada disana terkejut dan berdiri menghampiri tempat yang berkerumun itu. begitu juga nisa dan teman-temannya. Melihat hal itu, nisa langsung bergegas kearah siswi yang kejang-kejang itu. ia sedikit melonggar kan pakaiannya dan mengatakan pada mereka untuk tidak berkerumun karena sangat sesak.
“teman-teman, tolong jangan berkerumun, biarkan udara masuk dan mendinginkannya. Tolong kerja samanya.” Ucap nisa. mereka pun menurut dan melonggarkan sedikit kerumunan itu. nisa menekan sedikit area perutnya, untuk membantunya merilekskan tubuhnya. Melihat itu, dedi mendekat kearah nisa.
“apa yang terjadi nis.?” Tanya dedi.
“tidak tau, sepertinya ia mengalami loncatan abnormal di otaknya sehingga menimbulkan kontraksi otot tubuh secara berlebihan dan tidak terkendali.” Jelas nisa. dedi tercengang mendengar penuturannya.
“lalu, apa yang harus kita lakukan..?” Tanya dedi lagi.
“tidak ada yang bisa dilakukan. Kecuali memeriksakannya ke dokter..” ucap nisa lagi. Namun tiba-tiba, badan siswi itu mulai sedikit normal dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Badannya sangat lemah dan tak bertenaga.
“dia di pijit aja sedikit di bagian ini..” tunjuk nisa di bagian tengkuknya. Temannya pun langsung melakukannya.
“biasanya, kejang-kejang ini terjadi karena apa ya..?” Tanya dedi lagi pada nisa. nisa melihat kearah dedi.
“kamu kok tanya aku, kamu kan anak ipa, pasti kamu sudah tau penyebabnya..!!” serunya.
sayangnya aku bukan dokter nisa..!!” seru dedi tidak mau kalah. Sementara yang lain hanya menyaksikan interaksi mereka dengan penuh tanda Tanya, apakah dedi sudah mulai menyukai nisa, sehingga ia berbicara banyak padanya, atau dedi terbentur tembok dan hilang ingatan.
“huh…” nisa melihat kearah gadis itu. “ setau aku, gejala kejang-kejang ini disebabkan oleh, peradangan otak atau selaput otak, kemudian stok, cendera kepala, gula darah terlalu rendah dan efek samping obat tidur.” Ungkapnya. “apa kamu sering menggunakan obat tidur, atau kepala kamu pernah cendera..?” Tanya nisa pada siswi itu. gadis itu meliihat nisa.
***bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
mentang2 anak ipa sok kepinteran padahal bodoh ..alahai siska..
2024-01-26
0
Bibirnya Kyung-soo🐧🍉
Siska berisik banget sihh
2023-08-08
0
Aisyah putri
mantap Nisa👍
2022-09-29
2