"iya buk, nisa berencana menanam cabe atau tanaman sayur lainnya. Dari pada nanti lahannya nganggur, mending nisa manfaatkan.” jawab nisa, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatannya. Ibu nita terkekeh mendengar penuturannya, ia tidak percaya, putri kecilnya akan memiliki inisiatif seperti itu.
“kenapa ibu tertawa, apakah ucapan nisa ada yang salah bu..?” Tanya nisa dengan penuh keheranan.
“tidak.. ibu tidak menyangka saja, kalau putri kecil ibu ini akan ber inisiatif seperti itu..” ucap buk nita. Nisa tersenyum.
“ya, ngak papa lah bu, hitung-hitung mengisi waktu luang. Oh ya bu, ibu ada bibit cabe tidak..?” Tanya nisa dengan antusias.
Ibu nita berpikir sejenak. Ibu nita sama sekali tidak tau, bahwa anaknya ini pernah mendapat perlakuan yang tidak baik dari teman sekolahnya sampai akhirnya ia pingsan.
“mm ibu ada, tapi itu bukan bibit unggul, melainkan biji cabe yang ibu beli di pasar saja nak. Ibu berpikir untuk menanam cabe juga di ladang, tapi belum sempat. Makanya ibu simpan. Kalau nisa mau pakai juga boleh..” ucap buk nita dengan penuh sayang.
sementara sang ayah, memilih untuk tidur terlebih dahulu karena lelah. Padahal ini masih menunjukan jam setengah 8 malam. Ibu nita pun masuk ke dapur dan mengambil bibit cabe yang ia simpan.
“ini, tanam saja….” Ucap buk nita pasrah. Walau pun ia tidak yakin pada penuturan putrinya, namun ia tetap memilih untuk mempercayainya, hitung-hitung, ia belajar bagaiman susahnya mengais tanah demi rupiah, dan berharap anaknya dapat sukses dengan lebih giat belajar.
“makasih buk..” ucap nisa.
“sama-sama..”
“oh ya buk, mmm besok nisa sudah tidak memiliki uang saku, apa ibu punya uang..?” Tanya nisa malu-malu.
Ia tidak habis pikir bahwa ia akan mengutarakan hal itu pada ibunya. Padahal ia adalah orang dewasa yang bisa menghidupi diri sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus lebih giat lagi, agar tidak meminta uang lagi pada bapak dan ibunya.
“tentu saja ibu punya. Tapi seperti biasa, mungkin tidak banyak nak..” ucap ibu nita. Ibu nita sebenarnya sedikit terkejut, mendengar nisa meminta uang dengan raut wajah malu-malu. Namun ia segera tepis pemikiran itu.
Ibu nita pun masuk kedalam kamar dan mengambil uang sebanyak 5 k. karena hanya itu yang ada. Setelah itu, ibu nita pun keluar.
“ ini jajan untuk besok. “ ucap ib nita sambil memberikannya pada nisa.
“makasih buk..” ucap nisa. sebenarnya ia ingin menangis melihat betapa mirisnya kehidupannya sekarang, tapi mau bagaimana lagi, terima saja apa yang ada. Nanti kalau sudah memiliki hp ataupun media elektroik, ia akan menarik uang nya kembali dari akunya.
tak lama, tugas nisa pun selesai. Ia dan ibunya pun memilih untuk langsung beristirahat, menyusul sang ayah yang sudah lebih dulu tenggelang di alam mimpi. Setelah ibunya masuk kamar. Nisa memilih untuk merendam bibit itu terlebih dahulu dengan air. Setelah itu, ia kembali kekamarnya dan tertidur.
***
Tak terasa, dua minggu sudah renata memerankan peran nisa. dan ia mulai terbiasa dengan kesehariannya. Siang ini selepas pulang sekola, ia kembali melihat tamananya, dan sangat mengesankan, tanaman cabenya tumbuh dengan baik, nisa memberikan pupuk kompos atau pupuk buatannya sendiri, untuk mendukung tumbuh dan kembangnya tanaman cabe itu.
ia memilih menanam 20 batang cabe merah dan cebe rawit 8 batang, ia membentuk susunannya sedemikian rupa, agar menarik di pandang mata. Sepertinya, ia juga menguasai cara bertani dengan baik.
Ia juga, tidak hanya merawat tanamannya, sambilan merawat ia juga kembali membersihkan pekarangan lain di samping rumahnya agar bisa di tanami dengan tumbuhan yang lain. Rencana nisa akan menanam berbagai jenis sayuran yang bisa tumbuh di iklim panas ini.
Selain bertani, nisa juga mulai mengasah kemampuan meraciknya agar tidak hilang dri ingatannya. Ia mulai kepikiran untuk merancik ramuan penangkp ikan, agar ia tidak selalu makan sayur dan gula. Ia mulai mengumpulkan bahan-bahan herbal yang ia temukan satu persatu.
***
Siang itu, banyak ibu-ibu yang lewat sehabis pulang dari ladangnya, kebetulan rumah nisa tidak berada di tengah-tengah desa, rumahnya letanya di pinggiran desa, walaupun di pinggiran, tapi tidak sepi, rumahnya masih berada di lingkungan desa itu. ibu-ibu itu, mulai menyauti nisa yang sedang membuat pola-pola untuk menanan tanamannya nanti. Ada yang memuji, ada juga yang mencibir.
“aduh.. rajin sekali nak. Hari panas ini jangan dipaksakan untuk bekerja, nanti sakit.” Ucap salah satu ibu yang lewat dengan rombongannya. Nisa menaggapiny dengan senyuman.
“iya buk…” hanya itu responnya. Tak berselang lama, ibu nita pun pulang sehabis beladang. Namun herannya, ibu nita kembali lebih awal. Nisa cukup heran melihat hal itu, biasanya bapak dan ibunya akan pulang saat matahari sudah terbenam.
“ibu sudah pulang..?” ujar nisa yang sedang membersihkan pekarangan rumah dan juga merawat kebunnya. Ibu nita tidak menjawab, namun dapat nisa tangkap dari raut wajahnya seperti sedang menahan sakit. Nisa pun bangkit dan berjalan menyusul ibunya kedalam rumah.
Nisa melihat ibu nita sedang meringkuk menekan area perutnya. Sementara, buk nita belum melepas keranjang yang bergantung di atas punggungnya. Nisa berjalan, dan melepas keranjang itu kemudian ia berjonkok.
“ibu kenapa ? sakit perut. ?” Tanya nisa dan di balas anggukan kepala oleh ibunya. Sakit ibu nita ini sampai tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya. Ibu nita pun meminta tolong nisa untuk diantar kekamar mandi.
“nis.. tolong antar ibu kekamar mandi nak…” suara lirih ibu nita meminta tolong kepada nisa.
dengan sigap, nisa pun membantu ibunya kekamar mandi, sampai di kamar mandi pun nisa tidak meninggalkannya. Mulai terdengar dari mulut ibunya rintihan kesakitan akibat menahan rasa sakit yang luar biasa itu.
Sementara nisa, dari raut wajah ibunya, nisa sudah tau apa sakit yang di alami ibunya. Setelah itu, nisa membantu membersihkan tubuh ibunya dan mengganti pakaiannya, dan juga membentangkan karpet di ruang tamu untuk tempat istirahat ibunya.
Setelah membantu ibunya istirahat, nisa sedikit memegang pergelangan tangan ibunya memeriksa denyut nadinya. Dan benar sja, ibunya sakit disentri.
Disentri ini dalah sakit yang di sebabkan oleh bakteri ataupun parasite, sehingga menyebabkan peredangan dan infeksi pada usus, yang dapat menyebabkan diare yang mengandung darah atau lendir saat membuang air besar.
“buk, ibu tadi buang air besar ada darah atau lendir-lendir gitu ngak buk..?” Tanya nisa pada ibunya.
“iya nak…ada…” jawab ibu nita dengan lirih karena tidak memiliki tenaga, belum juga ia sedang menahan kesakitan di area perutnya.
“mmm… ibu sakit disentri. Sebentar ya bu nisa cari obat untuk ibu dulu. Ngak papa nisa tinggalkan buk..?” Tanya nisa.
ibunya pun menggeleng tanda ia tidak keberatan di tinggal sendirian. Namun tetap saja, hati seorang anak itu tidak rela meninggalkan ibunya sendirian, apa lagi dalam kondisi sakit seperti ini. Namun apa boleh buat, ia harus mencari obat di sekitar hutan yang tidak jauh dari pemukiman penduduk.
Nisa menyediakan minum dan lainnya di samping ibunya, supaya ibunya tidak harus berjalan jauh untuk mengambilnya. Sebelum ia berangkat, kebetulan ada saudara sepupunya datang kerumah, yaitu, menti.
“kebetulan men kamu kesini. Aku titip ibu sebentar ya, aku ingin pergi cari obat untuk ibu, ibu sedang sakit.” Ujar nisa. menti terkejut.
“apa..!! ibu sakit. Sakit apa kak..?” Tanya menti langsung masuk melihat bibinya.
“ibu sakit disentry, jadi harus mencari obat herbal di hutan. Kakak akan cari dulu, menti tolong jagain ibu sebentar ya..” ucapnya lagi.
“yaudah kak, kakak pergilah biar aku yang jaga bibi..” ucapnya. nisa pun langsung pergi kehutan. Ia mendapat beberapa bahan herbal yang ia cari. Setelah itu, ia langsung kembali kerumah. Sesampainya dirumah, menti sudah tidak sendirian. Sudah ada bapak yang menemaninya.
Flas back.
“assalammualaikum..” ucap pak juna.
“waalaikum salam pak” ucap menti dari dalam rumah, yang senantisa mengelus-ngelus perut bibinya untuk mengurangi rasa sakitnya.
“ibu kenapa nak..? mana kakak kamu…?”” Tanya pak juna cukup terkejut dan panic.
“bibi sakit pak, dan kakak sedang kehutan mencari obat untuk ibu. Katanya bibi sakit disentri.” Ucap menti dengan tangan yang masih setia mengelus perut bibinya.
“astagfirullah… ya sudah, jaga bibik sebentar ya nak. Bapak membersikan diri dulu..” ucap pak juna dan di angguki kepala oleh menti.
Flas of
***bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Shuhairi Nafsir
Thor ceritanya lebih seru kalau disertai dengan ruangan dimensi atau bersama sistem. kalau begini ceritanya jadi hambar kurang aksi nga adventures.
2024-12-25
0
𝓐𝓻𝓮𝓷𝓼𝓬𝓪 𝓡𝓪𝓮𝓷𝓲
bagus
2024-06-28
0
Frando Kanan
apakh novel ini agama Islam?
2023-06-06
0