"bapak sudah pulang..?” ucap nisa. nisa langsung masuk ke dapur dan membersihkan bahan-bahan yang ia dapat tadi.
Sementara, suara lirih ibu nita tidak berhenti, kerena sakit itu semakin menjadi. Tak lama, nisa datang dan membawa obat yang sudah ia racik dengan sederhana.
“buk.. minum dulu ya..” ucap nisa. pak juna dan menti pun membantu ibu nita untuk bisa duduk dan menjadikan pak juna sebagai tempat sandarannya. (UU sosweet….) setelah itu, ibu nita meminum obat yang di berikan nisa padanya dengan sekali teguk, obat itu habis. karena memang sudah tidak terlalu panas.
Setelah itu, nisa juga memberikan olesan pada perut ibunya. Obat yang di oles itu adalah obat untuk membantu mengurangi kadar racun dan cairan-cairan kimia yang masuk kedalam tubuh. Dan ajaibnya setelah ibu nita meminum obat itu, perutnya mulai membaik. Dan mulai tidak terdengar lagi suara lirih dari mulut ibunya.
“tambah lagi nak, biar cepat sembuh..” ucap ibu nita sambil menyodorkan gelas kearah nisa. pak juna pun terkejut.
“apakah sudah mendingan buk..?” Tanya pak juna, ia heran. Bagaimana mungkin hanya sekali teguk dapat mengurangi rasa sakitnya itu.
“sudah buk, nanti diminum lagi setelah tiga jam. Lagi pula, obat itu pahit loh buk, tapi ibuk meneguknya seperti meminum air putih saja…” canda nisa. mereka pun tertawa mendengar candaan nisa.
“eh.. obatnya pahit ? menti kira, obat itu ngak ada rasanya, soalnya bibi dengan santai meneguk obat itu.” ucap menti polos.
“obat itu pahit lah, mana ada obat yang tidak pahit. Hanya saja, sakit ibu itu sepertinya mampu membuat lidah ibu tidak merasakannya.” Canda mereka lagi.
Buk nita pun membetulkan posisi duduknya, ia tidak lagi bersandar pada pak juna. Pak juna pun kembali heran, ada ya obat yang di minum langsung sembuh dengan cepat. Seperti sihir saja. (ya taulah pak, namanya juga dunia tipu-tipu..hahaha…)
“bapak pakek ini juga, untuk melindungi kulit bapak. Bapak kan sering kerja di bawah sinar matahari. Ini juga di minum ya pak, untuk membasmi kuman di dalam perut.” Ucap nisa menyodorkan obat yang ia buat sekalian untuk ayahnya.
Pak juna pun mengambil dan meminumnya. Saat ia minum, rasa lelah seharian karena bekerja keras, seolah hilang terendam obat tersebut. Yang ada, hanya kesegaran jasmani.
“wahhh… benar-benar, nanti.. kalau sudah tamat nak, ambil jurusan kedokteran saja.” Ujar pak juna pada nisa.
“hehehe.. minum itu aja, bapak udah langsung menyimpulkan untuk ambil kedokteran. Ngak bisa nisa, kan jurusan nisa disini ips. Jadi ngak bisa ambil kedokteran pak,.” Jelas nisa. pak juna pun terkekeh.
Setelah memberikan obat untuk ayah dan ibunya, nisa pun memberekan kembali semua barang-barang yang digunakan tadi dan di bantu oleh menti.
Setelah itu, menti pamit pulang, namun sebelum ia pulang, terlebih dahulu meminta tolong pada nisa untuk membantunya mengerjakan tugas bahasa inggrisnya. Dan dengan senag hati nisa membantu saudara sepeupunya itu, setelah itu menanti pun pulang, kembali kerumahnya.
Selepas kepergian menti, nisa kembali berkutat dengan pekerjaan rumah lainnya. Sementara Kedua orang tua nisa pun beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka kembali.
Tak lama, pekerjaan nisa selesai. Setelah masak dan beres-beres. Setelah itu, nisa membersihkan dirinya. Setelah membersihkan diri, ia kembali mencek keadaan ibunya kembali dan memberikan minuman itu lagi kepada ibunya.
***
Hari demi hari, selain sekolah, bertani kecil-kecilan pun menjadi kesibukan nisa, sampai akhirnya. Kebunnya sudah waktunya panen, tanaman yang biasanya di panen dalam jagka watu tiga bulan, namun dapat nisa panen hanya dalam waktu 7 miggu. Ia menggunakan kemampuannya untuk membuat pupuk yang dapat mempercepat usia panen suatu tanaman.
Selain bertani juga, nisa tidak akan pernah lupa membuat skincare untuk mencegah penuaan dini pada kulitnya serta membantu aktivitasnya di bawa matahari, agar kulitnya tidak gosong. Skincare itu pun bukan untuk dirinya sendiri, namun juga untuk kedua orang tuanya.
Sekarang adalah hari minggu, dimana waktunya nisa libur dalam proses belajar mengajar. Pagi-pagi sekali, nisa bangun dan melaksanakan kewajibannya, serta membantu ibunya bekerja di rumah.
“bu.. sekarnga waktunya nisa panen buk. Nisa sangat senang sekali..” ucapnya dengan girang.
Begitu juga ibunya, semua halaman rumah yang luas itu, sudah di penuhi dengan tanaman-tanaman yang berbagi macam jenis tanaman. Ada tanaman cebe, sayur kangkung, sawi, kacang panjang, buncis, kol, wortel, kentang, ada juga mentimun, semangka.
Semua tanaman itu tumbuh tentunya memiliki tingkat perawatan dan pemberian pupuk yang berbeda-beda. Dan tentunya hanya nisa yang tau.
Note: walaupun nisa dan keluarganya hidup berkecukupan, namun itu dalam sudut pandang uang atau harta secara materi. Namun kalau dilihat secara benda, mereka memeliki banyak lahan yang menjadi milik ayah dan ibunya sebagai harta warisan dan juga hasil usaha ayahnya. Di desa pada umumnya, pencarian warga untuk meningkatkan ekonomi sangat sulit. Namun bukan berarti mereka miskin.
Hari minggu ini tentunya adalah hari libur untuk semua orang, bukan hanya libur sekolah, bahkan orang juga berlibur pergi keladang mereka.
Melihat perkebunan nisa di samping rumahnya, banyak warga yang mulai berdatangan Untuk membeli hasil kebunnya. Ya tentunya, di desa itu hanya nisa yang menanam tanaman muda seperti sayur-mayur itu.
kebanyakan warga desa lebih berpatokan pada tanaman tua, seperti kelapa, pala dan juga cengkeh, dan tentunya waktu panen yang terbilang cukup lama untuk mendapatkan hasilnya.
“permisi…” ucap salah satu warga yang datang kerumah nisa itu. mendengar ada yang memanggil, ibu nita pun keluar melihat siapa yang datang.
“eh buk mumun.. ada apa buk..?” Tanya buk nita.
“maaf buk nita, saya kesini ingin membeli beberapa sayuran juga cabe, kira-kira itu di jual tidak yah..?” Tanya buk mumun.
“tentu saja buk, sebentar, saya panggilkan yang punya dulu ya buk.. silahkan duduk dulu..” ucap buk mumun.
“baiklah…” buk mumun pun mendudukan pantangnya di salah satu kursi di depan rumah, sementara buk nita memanggil nisa yang sedang menyuci pakaianny dan kedua orang tuanya.
“nak, diluar ada buk mumun yang ingin membeli sayur..” ucap buk nita.
“oh.. ibu ambilkan saja..” ucap nisa santai dan focus mencuci pakaian.
“sudah, pekerjaan mencuci biar ibu yang mengerjakannya, kamu cepat sana temui buk mumun.” Ucap ibu nita mengambil alih pekerjaan nisa. nisa pun akhirnya menurut dan menemui ibu mumun.
“maaf buk, jadi menunggu..” ucap nisa tidak enakan.
“ngak papa nak. Ibu ingin membeli beberapa sayur mu.” Ucap buk mumun langsung bangkit dari duduk nya. Tak lama, datang beberapa ibu-ibu juga, yang tetanggaan dengan mereka untuk membeli sayuran.
Renata bramasta yang dulunya seorang jenius ini, harus rela panas-panasan untuk mencari uang. Karena keterbatasan akses, mau tidak mau, ia harus melakukannya.
Ia harus bisa menabung untuk memenuhi keinginannya, ia pun memilih untuk bertani kecil-kecilan sepulang sekolah. Ia juga harus bisa mengandalkan kecerdasannya untuk hidup di desa ini dan memenuhi kebutuhannya. Namun sepertinya ia menikmatinya.
Hari ini, ia akan memanen dan menjual hasil kebunnya. Dan kebetulan ada banyak yang memesan, ya sekalian saja jualan. Pikir nisa. akhirnya ia pun mulai pergi untuk berjualan sayur keliling.
***
“ya udah. Nisa panen dulu ya buk, nanti nisa antar ke rumah.” Ucap nisa dengan sopan, dan di setujui oleh ibu-ibu itu.
ibu mumun memesan sayur buncis dan wortel masing- masing sepulu ribuh. Dan juga buah semangka satu buah dan mentimun serta cabe sebanyak 5 ribu. Begitu juga dengan ibu yang lain, mereka memesan cabe seperempat artinya 5 ribu, dan juga sayur serta buah.
Setelah itu mereka pun pergi. Setelah mereka pergi. Nisa pun mengambil keranjang dan pergi untuk memanen pesanan para ibu-ibu itu, setelah itu, nisa membungkus dan mengantarkannya ke alamat mereka.
“ibu, nisa berangkat anterin pesanan sayur orang dulu ya buk..” ucap nisa berpamitan pada ibu nita yang sedang menjemur kain di belakang rumah. Nisa pergi dengan menggunakan gerobak sorong.
“iya.. hati-hati nak..” seru ibu nita dari kejauhan. Nisa pun berangkat, ia juga melebihkan onggokan sayurnya, artinya sambilan mengantar pesanan, ia juga berjualan keliling.
Setelah, mengantar pesanan para ibu-ibu, nisa mulai menjajal kan dagangannya, tak menunggu waktu lama, dagangannya pun habis ludes di serbu para ibu-ibu. Setelah itu, nisa pulang kerumah dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya, dapat banyak ni..
**** bersambung***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
wah kerennn
2024-01-26
0
Asih Asih
wah nisa pinter banget thor...tk pernah putus asa
2022-12-16
0
Nurmiahana Nana
wow amazing semangat jualnnya ya nisa
2022-12-09
0