Sheryn kembali duduk dengan dahi berkerut. "Kenapa?"
Melvin tidak menjawab, melainkan meletakkan kepalanya di bahu Sheryn lalu memejamkan matanya.
Sheryn dan Zahn terlihat bingung. Meskipun begitu, Sheryn hanya diam. "Apa luka kakakmu belum sembuh?" tanya Zahn sambil mengamati wajah Melvin.
"Belum, tapi sudah lebih baik."
"Sheryn, kalau kau membutuhkan sesuatu atau bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungi aku. Sebisa mungkin aku akan membantumu."
Sheryn tersenyum canggung mendengar itu. Meskipun dia membutuhkan bantuan Zahn, dia terlalu malu untuk mengatakannya. Bagaimana pun dia sudah banyak dibantu olehnya. "Iyaaa. Untuk saat ini aku tidak membutuhkan sesuatu."
"Lebih baik lusa bawa lagi kakakmu ke dokter agar dia lebih cepat pulih. Aku akan mengantarmu," tawar Zahn.
Sheryn terdiam sesaat. Dia sebenarnya juga ingin membawa Melvin ke dokter lagi, hanya saja dia tidak memikiki uang untuk Melvin berobat. Uangnya hanya cukup untuk hidup sehari-hari.
"Sheryn, masalah biaya, kau bisa memakai uangku dulu. Jangan terlalu dipikirkan. Kau bisa mengembalikannya saat kau memiliki uang lebih. Yang terpenting adalah kesembuhan Kakakmu," lanjut Zahn lagi seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Sheryn.
Sebenarnya dia bisa saja memberikan uang itu secara cuma-cuma. Hanya saja dia takut Sheryn akan tersinggung dan berpikiran yang tidak-tidak padanya. Dia tahu bagaimana pribadi Sheryn, dia tidak suka diberikan sesuatu secara cuma-cuma, terlebih masalah sensitif seperti uang.
Sheryn terlihat masih diam, setelah berpikir beberapa saat, Sheryn kemudian berkata, "Baiklah, potong saja langsung dari gajiku nanti."
Demi kesembuhan Melvin, Sheryn rela menebalkan wajahnya untuk sekali lagi meminjam uang pada Zahn.
"Jangan terburu-buru. Kita bicarakan lagi nanti jika kau sudah memiliki uang."
Setelah mengobrol selama setengah jam, Zahn berpamitan pulang. "Sheryn, kalau begitu aku permisi pulang," ucap Zahn sambil berdiri. "Tak perlu mengantarku," lanjut Zahn lagi.
Karena kepala Melvin juga masih di bahunya, Sheryn tidak bisa bangun jadi dia hanya bisa mengangguk. "Baiklah. Hati-hati."
Setelah Zahn pergi, Sheryn menoleh ke kanan. "Melvin, apa kau tidur?" Sheryn bertanya dengan suara sangat pelan karena takut Melvin benar tertidur. Selama dia mengobrol dengan Zahn, Melvin tidak bergerak sama sekali. Mungkin benar kalau dia memang tertidur.
"Melvin." Tidak ada gerakan juga dari Melvin.
Sheryn menghela napas dan menyandarkan kepalanya juga. Dia mengira kalau Melvin benar tertidur jadi dia memilih untuk membiarkannya tidur beberapa saat.
Saat menyadari ada pergerakan di bahunya, dengan cepat Sheryn membuka mata lalu menoleh ke samping dan di saat yang bersamaan Melvin juga mendongak ke arah Sheryn dan bibir mereka tidak sengaja bertemu. Mata Sheryn mengerjap beberapa kali dengan wajah linglung merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Melvin.
Mereka terdiam selama 2 detik setelah itu Sheryn langsung menarik wajahnya dari Melvin. Dadanya berdebar kencang dan wajahnya merona merah, apalagi saat melihat tatapan lekat Melvin tadi, seketika membuat Sheryn salah tingkah.
"Melvin, lebih baik kau pindah ke kamarmu. Punggungmu bisa sakit kalau terlalu lama duduk." Kali ini Sheryn tidak berani menoleh lagi ke samping. Dia sedang berusaha menetralkan perasaannya yang tidak menentu.
Dengan geraka pelan, Melvin mengangkat kepalanya, menjauh dari bahu Sheryn. Dia terlihat tenang, tidak ada emosi apapun dari sorot matanya dan itu membuat Sheryn heran.
Apa di sini hanya dia yang merasa dadanya berdebar kencang?
Saat Sheryn sedang sibuk dengan pikirannya, Melvin meraih tangannya. "Tidur." Melvin kemudian menarik Sheryn masuk ke dalam.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Ku tabok juga nih kepala Sheryn biar otaknya encer dikit,biar peka dan bisa mikir..Hdeeuuh🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2023-05-09
0
Qaisaa Nazarudin
Hati nya yg sakit melihat mu dengan Zahn tadi Sheryn…😂😂😂😜😜
2023-05-09
0
Edah J
Terus baca g mau berenti uyyy 😉
2022-12-07
0