"Apa?" tanya Sheryn dengan cepat.
"Setelah kau tiba di negaramu, jangan lupakan aku. Tetaplah jalin komunikasi denganku dan aku meminta alamat rumahmu yang di sana agar aku bisa mengunjungi jika aku memiliki waktu luang."
Zahn hanya takut setelah Sheryn pulang ke negaranya, mereka tidak akan bisa bertemu lagi. Apalagi, jika dia tidak tahu di mana Sheryn tinggal. "Baiklah aku setuju. Aku tidak mungkin melupakan semua bantuanmu selama ini. Suatu hari aku akan membalas semua kebaikanmu."
Zahn mengangguk. "Apa aku belum bisa masuk juga ke dalam hatimu?" Seketika Zahn merasa gusar ketika mengingat Sheryn akan kembali ke negaranya.
"Maaf Zahn. Aku....."
Sebelum Sheryn menyelesaikan ucapannya, Zahn lebih dulu memotong ucapannya. Dia seperti sudah tahu apa yang akan di katakan oleh Sheryn padanya. "Tidak masalah. Aku mengerti. Aku masih bisa menunggu lebih lama lagi." Zahn berdiri dengan wajah yang dipaksa tersenyum. "Aku pulang dulu," pamit Zahn.
*******
Malam ini Sheryn terlihat sedang memasak untuk makan malamnya bersama Melvin. Sheryn belum juga bisa pulang ke negaranya karena semua dokumennya belum siap. Selagi menunggu dokumen jadi, Sheryn masih tetap bekerja.
Saat dia akan makan malam. Pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. "Melvin, kau makan saja duluan. Aku buka pintu dulu."
"Zahn?"
Mekipun dia sudah menduga sebelumnya, tetapi dia masih saja terkejut dengan kedatangannya pada malam hari tanpa pemberitahuan lebih dulu. Sebenarnya Sheryn bisa menebak siapa yang datang. Selain atasannya, tidak ada lagi yang tahu di mana tempat tinggalnya. Hanya saja, Sheryn merasa tidak memiliki janji temu bersama dengan atasannya.
"Apa aku mengganggumu?"
Sheryn tersenyum lebar. "Tentu saja tidak. Silahkan masuk." Sheryn membuka pintu rumahnya dengan lebar setelah itu berjalan menuju sofa hitam yang diikuti oleh Zahn.
"Di mana kakakmu?" tanya Zahn basa-basi ketika melihat suasana rumah Sheryn sangat hening. Padahal biasanya memang hening karena Melvin tidak banyak bicara. Hanya Sheryn saja yang suka berbicara.
"Ada di dalam sedang makan," jawab Sheryn sambil menunjuk ke dalam rumahnya.
"Maaf mengganggumu malam-malam." Zahn mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Aku ke sini untuk memberikanmu ini." Zahn meletakkan map besar berwarna coklat di atas meja.
"Apa ini?" tanya Sheryn sambil menantap amplop coklat itu.
Zahn mengarahkan tangannya ke amplop itu seraya berkata, "Buka saja. Kau akan tahu apa isinya."
Sheryn tidak langsung mengambil amplop itu, tapi dia terdiam selama 2 detik kemudian meraih lalu membukannya. Wajah bahagia langsung terlihat di wajah cantiknya saat melihat semua dokumennya sudah jadi.
"Keberangkatanmu dua hari lagi. Masih ada waktu untuk berkemas. Aku akan mengantarmu ke bandara dihari keberangkatanmu," terang Zahn.
Setelah memeriksa semua, Sheryn kemudian meletakkannya di atas meja. "Terima kasih banyak Zahn. Aku berhutang budi banyak padamu."
"Iyaa, kau harus ingat janjimu. Saat kau tiba di sana, jangan lupa hubungi aku. Dan, jangan tiba-tiba menghilang. Aku akan mengunjungimu jika kau tidak keberatan."
Sheryn mengangguk. "Tentu saja tidak. Dengan senang hati aku akan menyambutmu jika kau berkunjung ke negaraku."
Zahn adalah penyelamatnya. Tanpa dia, mungkin sulit baginya untuk pulang ke negaranya. Bukan karena perihal uang, tetapi ibunya dan saudara tirinya mempunyai banyak cara untuk mencegahnya pulang. Termasuk mengawasi penerbangan atas nama dirinya.
Setelah Zahn pamit pulang, Sheryn kembali ke meja makan. Melvin sudah selesai dengan makan malamnya saat dia sudah duduk di hadapannya. "Melvin, aku punya berita baik." Sheryn terlihat sangat antusis dan bahagia sekaligus.
Melvin seperti biasa menampilkan wajah bingung dan bodohnya tanpa bertanya apapun pada Sheryn. "Kita akan pulang ke negaraku 2 hari lagi.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Emang Melvin tub Sheryn yg di panggil tuan muda..
2023-05-09
0
Edah J
Pa pengawal,,,Tuan mudanya masih hilang ingatan
2022-12-08
0