Saat terbangun di pagi hari, Sheryn mendapati Melvin sudah ada di depannya meringkuk dengan menekuk kedua lututnya yang terlihat menahan dingin. "Melvin, bangun. Kenapa kau tidur di bawah?"
Melvin membuka matanya, mengerjap beberapa kali hingga wajah Sheryn terlihat jelas. "Kenapa kau tidur di sini?" Sheryn kembali bertanya ketika melihat wajah linglung Melvin.
"Cepat bangun, kau bisa sakit kalau tidur di bawah seperti ini. Kau belum sembuh, cideramu bertambah parah jika begini. Jangan ulangi lagi atau aku akan marah padamu." Sheryn membantu Melvin untuk bangun sambil mengomel.
"Jangan menampilkan wajah seperti itu. Jangan pikir aku tidak bisa marah padamu. Kalau kau tidak menurut, aku akan memarahimu."
Sheryn berpura-pura marah untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah serta menetralisir debaran jantungnya setelah melihat senyum Melvin tadi. Tidak lama setelah itu, dia bangun dari tidurnya lalu membantu Melvin untuk bangun juga.
"Berbaringlah di atas. Aku akan memasak untukmu."
Sheryn berangkat kerja setelah memastikan Melvin sarapan dan berbaring di sofa panjang sambil menonton televisi.
Sore harinya, Sheryn pulang bersama dengan Zahn. Saat dia membuka pintu, dia melihat Melvin berdiri di dekat sofa. "Melvin, kenapa kau di sini?"
Melvin tidak menjawab, melainkan berjalan masuk ke dalam setelah melirik pada Zahn yang berdiri di belakang Sheryn. "Zahn, silahkan masuk." Setelah mempersilahkan Zahn masuk, Sheryn menyusul Melvin ke dalam.
"Melvin, ayo kita makan."
Melvin melangkah ke meja makan dengan wajah bodohnya. Sementara Sheryn pergi keluar dan kembali datang bersama dengan Zahn. Ternyata, Sheryn mengajak Zahn untuk makan bersama.
Sebelum pulang ke rumah, Sheryn mampir lebih dulu untuk membeli makanan dan tidak sengaja bertemu dengan atasannya. Pada akhirnya, Zahn yang membayar semua makan yang dia beli, bahkan Zahn menambahkan lagi beberapa makanan untuk dibawa pulang oleh Sheryn.
Ketika Zahn duduk, tatapannya bertemu dengan Melvin. Zahn tersenyum ramah pada Melvin sambil menyapanya dengan sopan. Melvin tidak merespon. Dia hanya duduk diam dengan wajah tenang, tapi ada tatapan berbeda dari mata Melvin. Zahn merasa kalau Melvin seperti tidak suka padanya. Meskipun hanya sekilas, tapi Zahn bisa menangkap tatapan permusuhan dari Melvin.
"Zahn, ada apa?" Sheryn merasa heran ketika melihat Zahn nampak diam seperti sedang berpikir keras.
Zahn tersadar dari lamunannya, kemudian menoleh pada Sheryn. "Tidak apa-apa."
"Kalau begitu mari makan."
Selama mereka makan, mereka lebih baik diam. Hanya Sheryn yang beberapa kali dengan ramah menyuruh Zahn untuk makan lebih banyak. Dia justru menyendokkan lauk ke piring Zahn karena melihat Zahn nampak sungkan dan hanya mengambil sedikit sekali makanan.
Malam itu justru Melvin makan lebih sedikit dari biasanya. Dia bahkan tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat Sheryn bertanya padanya kenapa dia makan hanya sedikit. Sheryn juga merasakan keanehan pada Melvin.
Selesai makan, mereka bertiga duduk di ruang tamu. Melvin dan Sheryn duduk di sofa panjang, sementara Zahn di sofa single. Saat Sheryn sedang mengobrol dengan Zahn, Melvin tiba-tiba berkata, "Sheryn, ngantuk"
"Lebih baik kau antar Kakakmu ke kamarnya. Kasihan kalau dia terlalu lama duduk." Zahn memberikan saran sebelum Sheryn membuka mulutnya.
"Ayo Melvin, kita ke kamar." Sheryn sudah berdiri dan berniat untuk membantu bangun, tetapi ditolak oleh Melvin.
"Tidak. Aku tidak mau."
Sheryn kembali duduk dengan dahi berkerut. "Kenapa?"
Bersambung .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Melvin bisa cemburu juga,Dia bisa tau sikap pria lain ke Sheryn itu seperti apa,
2023-05-09
0
Edah J
Cemburu kali yaa🤔
2022-12-07
0