Raut wajah Zahn terlihat serius. "Sheryn, menikahlah denganku. Aku akan menjamin kehidupanmu akan lebih baik jika bersamaku."
Mata Sheryn membesar, alisnya terangkat dan mulutnya sedikit terbuka. Untuk sesaat dia tertegun. "Jangan bercanda Zahn." Tidak mungkin Sheryn menganggap serius ucapan Zahn. Bagaimana pun selama ini tidak pernah berpikir kalau Zahn menyukainya. Dia tidak berani berpikir terlalu jauh.
"Aku tidak sedang bercanda Sheryn. Aku serius dengan perkataanku. Aku sudah lama menyukaimu. Selama setahun ini aku diam-diam sering memperhatikanmu. Selama ini aku tidak berani mendekatimu karena kau selalu menjaga jarak denganku."
Zahn terhadap semua bawahannya sangat baik. Itulah sebabnya Sheryn tidak menduga kalau Zahn menyukainya. Jika bertemu dengan Sheryn, Zahn juga tidak menunjukkan ketertarikannya pada Sheryn. Baru 3 bulan terakhir ini Zahn terlihat lebih berani mendekati Sheryn dan tidak segan menunjukkan kepeduliannya pada Sheryn.
"Butuh keberanian besar untuk mengatakan perasaanku padamu. Sebenarnya aku ingin langsung melamarmu, tapi aku takut kau akan terkejut nanti," lanjut Zahn lagi.
Sheryn berpikir sejenak. "Apa ini yang ingin kau bicarakan padaku sehingga kau mengajakku ke sini?"
"Iyaaa," jawab Zahn cepat.
Sheryn baru mengerti. Awalnya dia memang sedikit heran. Kenapa Zahn mengajaknya ke tempat yang jauh dengan pemandangan indah jika hanya ingin berbicara padanya. "Zahn, aku hanyalah orang biasa. Kita sangat berbeda. Kau juga belum mengenalku dengan baik."
Karena dia lahir dari keluarga kaya, dia cukup tau bagaimana kisah percintaan orang yang memiliki banyak uang seperti Zahn. Meskipun Zahn benar menyukainya, belum tentu keluarganya bisa menerima. Apalagi Sheryn anak yang dibuang oleh keluarganya.
"Aku tidak keberatan dengan latar belakangmu. Yang aku sukai adalah dirimu, bukan latar belakangmu."
"Maaf Zahn. Aku tidak bisa menerimamu."
Raut wajah Zahn terlihat kecewa. "Kenapa? Apa yang tidak kau sukai dariku? Aku bisa memperbaikinya." Zahn belum juga menyerah. Bagaimana pun dia sudah memendam perasaanya dalam waktu yang lama.
"Tidak ada yang salah denganmu. Kau hampir sempurna. Hanya saja aku tidak memiliki perasaan lebih terhadapmu. Lagi pula, aku belum mau menikah. Masih ada hal yang ingin aku capai sebelum aku menikah."
"Aku bisa menunggu. Tidak peduli berapa lama, aku bisa menunggumu sampai kau siap."
Sheryn menghela napas halus. Zahn adalah pria yang baik, tetapi dia tidak memiliki rasa keterta5ikan padanya. Entahlah, setelah dihianati oleh kekasihnya, dia belum mau membuka hatinya untuk orang lain.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi akan lebih baik kalau mencari wanita lain. Jangan menungguku."
Raut wajah Zahn terlihat sangat kecewa, tapi dia masih tetap berusaha untuk tersenyum. "Aku tidak akan memaksamu lagi untuk menerimaku, tapi tolong ijinkan aku menunjukkan keseriusanku padamu. Jangan menjauhiku setelah ini." Biasanya, wanita akan menjauh ketika ada pria yang mengungkapkan perasaannya jika wanita itu tidak menyukainya.
Sheryn terdiam sebentar sambil berpikir, setelah itu mengangguk. "Baiklah."
Zahn tersenyum. Bagaimana pun selama ini Zahn sudah baik padanya. Tidak mungkin baginya untuk menjauhi apalagi mengabaikan atasannya tersebut.
Sheryn menoleh pada Melvin yang terlihat masih setia duduk di hamparan pasir sambil memandang ke arah tengah pantai. Ketika dia akan menarik pandangannya, dia melihat Melvin menunduk sambil memegang kepalanya.
"Zahn, tunggu sebentar. Aku akan menyusul Kakakku dulu."
Sheryn berlari kecil menghampiri Melvin. "Ada apa Melvin? Kau kenapa?" Sheryn nampak panik ketika melihat Melvin memegang kepalanya sambil merintih.
"Aku lelah," jawab Melvin.
"Ada apa dengan kakakmu?" tanya Zahn ketika dia sudah berada di dekat Melvin dan Sheryn.
"Dia bilang lelah,” jawab Sheryn.
"Baiklah. Lebih baik kita pulang sekarang,” Zahn berjalan mendahului Sheryn untuk membayar tagihannya, setelah itu berjalan menuju parkiran bersama-sama.
Selama dalam perjalanan, Melvin terlihat menyandarkan kepalanya di bahu Sheryn. Mereka tiba di rumah Sheryn setelah melakukan perjalanan selama satu jam lebih.
"Sheryn, aku pulang dulu.”
Sheryn mengangguk. “Terima kasih untuk hari ini.”
*******
Hari terus berjalan seperti biasanya. Hari-hari Sheryn lewati seperti biasa. Sudah 3 bulan berlalu setelah Zahn menyatakan perasaannya. Hubungan Sheryn dan Zahn semakin dekat layaknya teman. Dia sering kali membantu Sheryn saat dia kesulitan.
Sementara Melvin masih seperti dulu. Belum ada yang berubah darinya dan ingatannya belum kembali dan kondisinya masih seperti saat Sheryn menemukannya.
Saat Sheryn dalam perjalanan menuju rumahnya sepulang bekerja, dia mendapatkan telpon dari nomor tidak dikenal. Sheryn tidak mengangkatnya karena dia pikir itu adalah telp dari orang iseng. Sesampai di rumah, dia mencari keberadaan Melvin di kamar.
Setelah mengetuk pintu kamar Melvin, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Sheryn meraih ponselnya saat pintu kamar terbuka. Melvin muncul dengan wajah bingung dan polosnya ketika melihat Sheryn nampak terkejut setelah mendapatkan pesan dari seseorang.
"Sheryn." Melvin memanggil Sheryn yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Bersambung .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Tuh kan,Aku udah dpt baca pikiran Zahn,untung aja Melvin duduk sipantai,kalo dia dengar,bisa mengamuk dia..
2023-05-09
0
Qaisaa Nazarudin
Noh pasti Zahn akan melamar Sheryn,,Duh pasti Melvin akan lebih marah dan mengamuk..
2023-05-09
0
Qaisaa Nazarudin
OMG jgn tuan Pen tau Sheryn bawak masuk pria ke dlm rumahnya..😌
2023-05-09
0