Hari ini, Sheryn akan berangkat ke bandara untuk pulang ke negaranya. Dia hanya membawa satu koper kecil yang memuat barang yang penting saja. Di rumahnya semua sudah tersedia, jadi dia tidak perlu lagi membawa barang terlalu banyak.
Selesai bersiap, Sheryn dan Melvin duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Zahn. Hari ini rencananya dia akan mengantar mereka ke bandara. Padahal, Sheryn sudah mengatakan untuk tidak perlu mengantarnya karena takut akan merepotkannya, tetapi dia tetap memaksa untuk mengantarkan mereka berdua.
Setelah menunggu selama 5 menit, pintu rumah Sheryn diketuk oleh seseorang. Dia kemudian berjalan ke arah pintu. "Apa kalian sudah siap?" Zahn bertanya ketika pintu sudah terbuka.
Sheryn tersenyum manis pada Zahn. "Sudah."
Zahn membantu Sheryn untuk mengangkat koper ke mobilnya, setelah itu mobil melaju dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan, Sheryn banyak mengobrol dengan Zahn. Semuanya mengenai negara dan kehidupan Sheryn selama tinggal di negara kelahirannya.
Setibanya di bandara, Zahn mengantarkan Sheryn hingga pintu masuk ke berangkatan. "Jaga dirimu, kabari aku kalau kau sudah sampai di negaramu," ucap Zahn sebelum Sheryn dan Melvin masuk ke dalam bandara.
"Iyaa, terima kasih, Zahn. Maaf kalau selama ini aku sudah sering merepotkanmu."
Sheryn mengulurkan tangan padanya, tapi disambut Zahn dengan pelukan. Dia merasa berat untuk melepas kepergian Sheryn. Bagaimana pun, Sheryn ada wanita yang mampu membuat hatinya bergetar.
Sheryn yang tidak siap dengan pelukan tiba-tiba dari Zahn hanya bisa diam dengan wajah terkejut. Di sisi kiri Sheryn, Melvin berdiri dengan tatapan dingin dan tubuhnya memancarkan aura suram yang tidak disadari keduanya.
"Maaf Sheryn. Maafkan aku." Tidak ada penjelasan apapun dari Zahn atas tindakannya yang tiba-tiba itu.
Sheryn tersenyum canggung setelah Zahn melepaskan pelukannya. "Iyaa, tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi. Selama tinggal Zahn."
Sheryn melambaikan tangan ke arah Zahn, setelah itu membalikkan badan lalu berjalan masuk ke dalam bandara bersama Melvin. Setelah memasuki pintu keberangkatan, Melvin menoleh sejenak pada Zahn. Sorot mata dingin dan menusuk dia tujukan pada Zahn sebentar, kemudian dia berbalik, memegang lengan Sheryn dan berjalan bersama.
Setelah berada di dalam pesawat, Sheryn baru menyadari kalau ternyata, Zahn memesan first class untuknya dan Melvin. Dia memang tidak mengecek tiket yang ada di tangannya dengan teliti, selain jadwal keberangkatan dan negara yang dia tuju.
Sheryn sedikit terkejut sekaligus tidak enak hati karena uang dikeluarkan oleh Zahn pastilah sangat banyak. Kursi yang berada di kabin fisrt class hanya terdiri dari 6. Tidak banyak orang yang mampu membeli tiket first class karena harganya yang sangat mahal.
Setelah melakukan perjalan udara yang cukup lama. Mereka akhirnya mendarat di bandara tujuan.
"Melvin, selamat datang di negaraku. Mulai sekarang kau kita akan tinggal di sini."
Melvin hanya menampilkan wajah datar, tanpa ekspresi, sementara Sheryn tersenyum lebar ketika dia sudah berada di depan pintu keluar bandara. Dia menghirup dalam-dalam udara di sekitar sambil memejamkan matanya lalu menghembuskan secara perlahan dan terlihat asap putih keluar dari mulut Sheryn.
Saat ini, di negaranya sedang musim dingin. Angin yang berhembus terasa sangat dingin hingga menusuk sampai ke tulang. Sebelum keluar bandara, Sheryn dan Melvin memang sengaja memakai pakaian hangat dan jaket musim dingin.
"Apa kau merasa dingin?" Sheryn meletakkan kedua tangannya di wajah Melvin saat melihat wajahnya memerah. Mungkin karena kulitnya seputih susu sehingga membuat wajahnya lebih mudah memerah.
Melvin mengangguk. Sheryn kemudian membenahi jaket Melvin lalu melilitkan syal ke lehernya dan memasang sarung tangan untuk Melvin. "Sudah selesai." Sheryn tersenyum pada Melvin, "ayo, kita pulang."
Sheryn menarik satu koper kecil dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Melvin. Mereka berjalan ke arah taksi yang sudah terparkir di depan pintu keluar bandara.
Selama di dalam taksi, Sheryn nampak memperhatikan setiap jalanan yang dia lewati. Tidak terlalu banyak yang berubah selama dia pergi. Hanya gedung-gedung menjulang tinggi nampak bertambah dan jalanan di pusat kota semakin ramai.
Ketika melewati pusat kota, tatapannya tertuju pada papan nama perusahaan yang menempel di gedung tertinggi di negaranya tersebut. Perusahaan itu adalah perusahaan terbesar di negaranya. Sheryn juga tidak tahu siapa pemilik dari dari perusahaan besar tersebut.
Menurut informasi yang beredar, pemilik perusahaan itu sengaja dirahasiakan. Tidak banyak yang tahu mengenai keluarga yang berada di urutan teratas di negaranya itu karena keluarga mereka memang tertutup dan tidak suka disorot oleh media manapun.
Saat sedang sibuk dengan pikirannya, Melvin tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Sheryn dengan mata terpejam. Selama di pesawat, Melvin memang lebih banyak menonton film kartun kesukaannya. Mungkin dia baru merasa lelah setelah berhasil mendarat di negara C.
Saat mobil taksi itu melewati kawasan perumahan elit yang ada di kota K, jantung Sheryn berdebar kencang. Dia harus mempersiapkan mentalnya sebelum menghadapi dua rubah betina yang ada di rumahnya saat ini. Mobil berhenti tepat di sebuah rumah yang memiliki ukuran besar dan megah. Rumah itu adalah rumah keluarga Sheryn.
"Melvin bangun, kita sudah sampai."
Melvin menjauhkan kepalanya dari bahu Sheryn, mengerjapkan matanya lalu melihat keselilingnya.
"Ini rumahku. Mulai sekarang kita akan tinggal di sini. Kita tidak akan menderita lagi seperti dulu."
Melihat wajah Melvin yang nampak linglung, Sheryn kemudian berkata lagi, "Ayo turun."
Sheryn menarik tangan Melvin dengan lembut keluar dari mobilnya setelah membayar taksi. Saat melihat Sheryn turun dari taksi penjaga yang mengenal Sheryn langsung menghampirinya.
"Nona Sheryn," sapa penjaga yang tadi berdiri di depan pintu rumahnya.
"Apakah ayah ada di dalam?"
"Tuan sedang berada di rumah sakit, Nona."
Ternyata informasi yang dia dapat dari seseorang misterius itu benar. Sheryn merasa geram, ibu tiri dan saudara tirinya berani sekali menyembunyikan hal penting tersebut darinya. Pasti mereka memiliki niat buruk terhadap ayahnya.
"Lalu siapa saja yang ada di dalam?"
"Nyonya dan Nona Laura."
"Baiklah. Tolong bawakan koperku."
Penjaga itu mengangguk dan menarik koper Sheryn menuju pintu. "Mari, Nona."
Sheryn mengangguk lalu meraih tangan Melvin dan mengajaknya masuk ke dalam. "Ayo Melvin."
Saat pintu terbuka, Sheryn berjalan masuk mengikuti perjaga yang ada di depannya dan berhenti tepat di ruang tamu. "Kau boleh pergi."
Penjaga itu mengangguk lalu berjalan keluar. Dari arah dalam terdengar suara sepatu heels yang beradu dengan lantai. Bunyi langkah itu, semakin lama semakin dekat. Senyum sinis terbit di wajah cantik Sheryn ketika melihat wajah terkejut 2 wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa kau bisa di sini?" Yang pertama kali membuka suaranya adalah ibu tirinya.
Dengan langkah pasti, Sheryn berjalan mendekati kedua wanita itu. "Ini adalah rumahku, tentu saja aku harus kembali ke sini. Bibi Ruth, Laura, lama tidak berjumpa."
Senyum misterius terbit di wajah cantik Sheryn. Senyuman dan perkataan Sheryn seperti sedang mengatakan aku pulang untuk membalas kalian.
Bersambung .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Semoga saja Sheryn mempunyai rencana yg matang dan Tegas utk menghadapi mereka..
2023-05-09
0
Qaisaa Nazarudin
Kanapa Sheryn harus pulang kesana sih Thor,Harusnya dia jgn tinggal disana dulu,utk sementara masalahnya selesai.. Astaga 🙇🏻♀️🙇🏻♀️🙆🏻♀️🙆🏻♀️
2023-05-09
0
Qaisaa Nazarudin
Noh pemiliknya di sebelah kamu..😅😅😜😜
2023-05-09
0