Suasana kembali hening. Tidak ada suara apapun dari kamar Melvin. "Melvin, tolong buka pintunya," mohon Sheryn, "kalau kau tidak mau membuka pintunya, aku sungguh akan pergi sekarang." Bukannya membuka pintu, suara dari dalam semakin gaduh.
Sheryn menghela napas panjang. Dia pikir kalau dia mengatakan hal itu, Melvin akan membuka pintunya, tetapi dia justru semakin marah. "Baiklah, aku akan mengajakmu. Kita akan pulang bersama ke negaraku," ucap Sheryn dengan wajah pasrah, "keluarlah agar kita bisa bicara."
Setelah menunggu beberapa detik, pintu kamar Melvin akhirnya terbuka. Sheryn segera masuk ke dalam kamar Melvin dan dia sangat terkejut ketika melihat kamar Melvin sudah berantakan.
"Melvin, ayo keluar." Dia harus menjauhkan Melvin dulu dari kamarnya agar tidak terkena pecahan kaca.
Melvin menurut dan berjalan mengikuti Sheryn menuju ruang makan. Setelah mereka duduk, Sheryn melihat punggung tangan Melvin memerah. "Melvin maafkan aku." Sheryn meraih tangan Melvin lalu meniupnya dengan lembut selama beberapa menit.
Sheryn menatap serius wajah Melvin. Karena Melvin memalingkan wajahnya, sulit bagi Sheryn untuk menebak ekspresinya dari samping.
"Melvin, apa kau yakin ingin ikut denganku?"
Dia harus bertanya dengan hati-hati agar Melvin tidak salah paham terhadap pertanyaannya. Dia takut kalau Melvin akan kembali marah jika dia salah dalam memilih kata.
Melvin segera mengangguk, tetapi dia belum juga menatap ke arah Sheryn. "Kau tidak akan bisa bertemu dengan keluargamu lagi jika kau ikut denganku. Apa itu tidak jadi masalah bagimu?" tanya Sheryn dengan lembut.
Kali ini Melvin beralih menatap Sheryn. "Iyaa."
"Baiklah. Aku akan mengajakmu pulang bersamaku, tetapi karena kau akan ikut denganku, kita harus membuat identitas baru untukmu."
Melvin tidak memiliki identitas diri sebelumnya, jadi Sheryn akan mencari orang untuk bisa membantunya membuatkan indentitas baru dan paspor untuk dirinya dan Melvin. Mereka juga harus mengurus visa.
Sheryn mukai berpikir, untuk pulang ke negaranya, dia membutuhkan uang yang cukup besar. Uang yang dia miliki saat ini hanya sedikit, bahkan tidak cukup untuk membuat indentitas baru untuk Melvin, apalagi tiket untuk pulang.
Seketika Sheryn memiliki ide. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Selesai menelpon dia masuk ke kamar Melvin untuk merapihkan dan membersihkan kamarnya. Sementara itu, dia menyuruh untuk Melvin duduk di ruang televisi. Satu jam kemudian, ada suara ketukan pintu di rumah Sheryn. Dia baru saja selesai mandi setelah membersihkan kamar Melvin.
"Maaf Zahn sudah menelponmu malam-malam. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu." Orang yang datang adalah atasan Sheryn. Dia satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini.
"Tidak apa-apa." Sebenarnya waktu masih menunjukkan pukul 8 malam ketika Zahn tiba di rumah Sheryn. Hanya saja dia merasa tidak enak hati karena mungkin dia sudah mengganggu waktu istirahatnya.
Sheryn kemudian mempersilahkan atasannya masuk lalu membawakan minum untuknya, sementara Melvin masih setia duduk di ruang televisi.
"Memangnya ada apa?" tanya Zahn ketika melihat Sheryn nampak diam setelah mereka duduk di ruang tamu.
Sheryn terlihat ragu. "Kau pasti sudah tahu kalau aku bukan warga negara asli di sini. Aku warga negara asing," ucap Sheryn hati-hati.
"Iyaaa, aku tahu. Lalu?"
"Begini... ayahku sedang sakit. Aku berencana untuk pulang ke negaraku bersama kakakku, tetapi masalahnya, pasporku ditahan oleh ayahku karena masalah keluargaku. Bisakah kau membantuku untuk membuatkan indentitas baru untuk kakakku dan untuk diriku?"
Kalau dia pulang dengan identitas aslinya. Dia takut kalau ibu tiri dan saudara tirinya mengetahuinya sehingga dia tidak akan bisa pulang ke negaranya, bahkan tidak akan bisa bertemu dengan ayahnya. Dia harus menggunakan identitas baru agar mereka mengira kalau Sheryn masih di luar negeri.
Ayahnya sedang sakit, Sheryn juga tidak tahu siapa yang mengirimkan pesan padanya yang memberitahukan mengenai kondisi ayahnya. Nomor itu sudah tidak aktif. Sheryn merasa heran, bagaimana bisa orang itu nahu momor ponselmlnya. Nomor Sheryn saat ini adalah nomor baru. Ponselnya sempat hilang ketika dia baru saja tiba di negara J, jadi bisa dipakstikan tidak ada yang tahu nomor ponsel barunya.
Dahi Zahn mengerut sesaat. Permintaan Sheryn sedikit aneh baginya, tetapi mekskipun begitu, Zahn tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasannya pembuatan indetitas baru untuknya dan Melvin karena dia yakin kalau Sheryn pasti memiliki alasan kuat dibalik itu.
"Tapi sebelum itu, aku akan memberitahumu sesuatu." Sheryn menjeda ucapannya sejenak kemudian berkata, "aku tidak memiliki uang. Aku berencana meminjam uangmu untuk tiket pulang ke negaraku dan untuk pembuatan identitas baru, paspor dan lainnya. Aku janji akan langsung menggantinya setelah aku tiba di negaraku."
Zahn tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Dia langsung menjawab dengan cepat. "Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Aku juga akan memberikanmu uang, tidak perlu kau kembalikan, tapi aku punya syarat," ucap Zahn dengan wajah serius.
"Apa?" tanya Sheryn dengan cepat.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Dyah Oktina
jadi istriku...pasti syaratnya ya zahn
2024-12-21
0
Qaisaa Nazarudin
Sebelum pulang menikah lah dgn ku..😅😅😅
2023-05-09
0
Qaisaa Nazarudin
Jgn2 itu cuman jebakan,,Kalo benar ayahnya sakit,Syukurin itu Karma utk nya,yg sudah menelantarkan anak kandung dan membela anak tiri,Bodoh banget..
2023-05-09
0