Dari kejauhan, Sheryn mengeryit saat melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Saat dia memperhatikan dengan seksama, ada seorang pria yang sedang berdiri menghadap belakang. Sheryn baru saja pulang dan diantar oleh Zahn. Setelah turun dari mobil Zahn, Sheryn segera mendekati orang tersebut.
"Tuan Pen, kenapa tidak memberitahuku kalau kau ingin ke sini?" Sheryn terlihat terkejut ketika melihat pemilik dari rumah yang di sewa sedang berdiri di depan rumahnya.
Tuan Pen menoleh lalu berbalik menghampiri Sheryn. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Kalau begitu mari masuk ke dalam," ajak Sheryn dengan sopan.
Zahn yang baru saja turun dari mobilnya, kemudian menghampiri Sheryn dengan tuan Pen.
Tuan pen melambaikan tangannya tanda menolak. "Tidak perlu. Aku hanya sebentar."
Sheryn mengangguk. "Begini, masa sewamu akan berakhir 3 bulan lagi. Kau harus segera pindah setelah itu."
"Memangnya kau tidak mau menyewakan padaku lagi?" tanya Sheryn dengan dahi berkerut.
"Maaf Sheryn. Aku tidak bisa menyewakan rumah ini lagi padamu. Rumah ini akan aku jual," terang Tuan Pen.
"Tapi tuan Pen, aku tidak tahu lagi akan pindah ke mana jika kau tidak menyewakan rumah ini. Bisakah kau menjualnya setahun lagi?"
Rumah yang di sewa Sheryn adalah rumah termurah yang ada lingkungan itu. Sangat sulit mencari harga semurah itu di kota tersebut. Apalagi, Tuan Pen memperbolehkan dia untuk membayar 2 kali dan itu meringankannya. Saat ini, Sheryn tidak memiliki uang. Gajinya setiap bulan selalu habis tak tersisa, bahkan mereka selalu kekurangan.
Semenjak tinggal bersama dengan Melvin, pengeluarannya meningkat. Meskipun masa sewanya masih 3 bulan lagi habis, tetapi tetap saja dia tidak mungkin memiliki waktu untuk mencari rumah sewa dengan harga yang rendah.
"Maaf Sheryn tidak bisa. Aku sedang membutuhkan uang, jadi aku harus menjual rumah ini." Tuan Pen menampilkan wajah tidak enak pada Sheryn.
"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan pindah setelah masa sewanya habis."
Zahn yang sedari tadi mendengar pembicaraan Tuan Pen dan Sheryn merasa iba terhadap Sheryn, tetapi dia tidak mau ikut campur dalam pembicaraan mereka.
"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa membantumu."
Setelah kepergian tuan Pen, Sheryn dan Zahn masuk dan duduk di ruang tamu. "Sheryn, bagaimana kalau aku membantu mencarikan rumah sewa untukmu? Aku memiliki beberapa teman yang memiliki bisnis properti. Mungkin saja mereka memiliki rumah yang bisa kau sewa," tawar Zahn.
Sheryn berpikir sejenak. "Tidak perlu, aku akan mencarinya sendiri. Lagi pula, kau sudah sering membantuku. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Aku tidak akan menawarkan bantuan kalau aku merasa direpotkan. Begini saja, aku akan tetap mencarikan rumah sewa untukmu, jika nanti tidak cocok denganmu, kau bisa menolaknya."
"Baiklah, tetapi seperti akan sulit karena aku mencari rumah yang harga sewanya sangat rendah seperti rumah ini. Aku tidak memiliki banyak uang saat ini, jadi aku hanya bisa mencari yang termurah, tidak peduli bagaimana bentuk dan jauhnya rumah itu."
Zahn tentu saja tahu maksud dari Sheryn. Awalnya, Zahn berniat mencarikan rumah sewa yang lebih baik dari yang saat ini Sheryn tempati, tapi karena Sheryn menolak, Zahn akhirnya berniat akan membeli rumah yang di sewa Sheryn saat ini diam-diam agar Sheryn tidak perlu pindah.
"Sheryn, apa kau tidak ada berpikir untuk mencari pasangan hidup agar hidupmu lebih baik?" Pertanyaan spontan dari Zahn membuat Sheryn terkejut.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Senopati Arya Mada
apa jangan2 makin dah sembuh ya thor?
2023-03-11
0
Edah J
Melvin bener dirimu adalah Mysterious Men😁
2022-12-07
1