Dengan langkah pasti, Sheryn berjalan mendekati kedua wanita itu. "Ini adalah rumahku, tentu saja aku harus kembali ke sini. Bibi Ruth, Laura, lama tidak berjumpa."
Senyum misterius terbit di wajah cantik Sheryn. Senyuman dan perkataan Sheryn seperti sedang mengatakan aku pulang untuk membalas kalian.
Setelah terdiam beberapa saat, Laura, saudara tiri Sheryn melangkah ke depan. "Sheryn, seharusnya kau mengabari kami jika kau ingin pulang agar kami bisa menjemputmu." Laura terlihat tersenyum sambil berkata lembut padanya.
Ibu tiri Sheryn ikut menimpali perkataan anaknya. "Benar yang dikatakan Laura. Seharusnya kau mengabari kami."
Sheryn menampilkan wajah datarnya lalu berkata, "Mengabari kalian agar kalian bisa mencegahku untuk pulang ke sini?"
"Bibi Ruth, Laura, kalian tidak perlu bersikap baik pada orang yang kalian benci. Bagaimana pun aku juga tidak menyukai kalian," ucap Sheryn dengan wajah sinis.
Saat mereka berdebat, Melvin hanya duduk diam sambil terus memperhatikan mereka bertiga. Bahkan Laura dan ibu tiri Sheryn tidak menyadari keberadaan Melvin di sana karena terlalu fokus pada kedatangan Sheryn.
Laura dan ibu tirinya diam-diam mengepalkan tangan dan meggertakkan giginya mendengar perkataan Sheryn. "Sheryn, apa kau masih marah pada ibu dan Laura karena masalah yang dulu? Itu memang salah ibu. Harusnya ibu bisa membujuk ayahmu untuk tidak mengirimmu ke luar negeri waktu itu."
Ibu tiri Sheryn masih mencoba berbicara lembut padanya, padahal dalam hatinya dia sedang menahan amarahnya karena melihat sikap Sheryn yang tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun padanya.
Ibu? Mendengar nama itu disebut oleh wanita berwujud manusia, tetapi berhati iblis, membuat Sheryn merasa muak. Selama ini dia tidak pernah memanggil ibu tirinya dengan sebutan Ibu. Tidak mau dan tidak akan pernah mau karena dia tidak pantas disebut dengan nama itu.
"Bibi Ruth, kau tidak perlu menutupi lagi wajah asli di hadapanku. Ayah sedang tidak ada di sini. Kau ingin tunjukkan pada siapa aktingmu itu?" Sheryn menyindir ibu tirinya tanpa ampun.
Ibu tiri Sheryn memang selalu bersikap pura-pura baik jika dihadapan ayahnya, tetapi jika di belakangnya dia selalu berusaha untuk mencari cara untuk menyingkirkan Sheryn. Salah satunya dengan cara memfitnah dan mengadu domba dirinya dan ayahnya.
Wajah ibu tiri Sheryn seketika menggelap. "Sheryn, tunjukkan sedikit rasa hormatmu pada Ibu. Bagaimana pun dia lebih tua darimu. Ibu juga sudah bersikap baik padamu. Tidak bisakah kau menghormatinya sedikit saja? Sikapmu sangat tidak sopan!"
Laura terlihat mulai kesal. Dia memang tipikal orang yang gampang meledak-ledak. Tidak seperti Sheryn. Meskipun terkadang lidahnya tajam, tapi dia masih bisa mengendalikan emosinya.
Sheryn menampilkan wajah acuh tak acuhnya pada Laura. "Menghormatinya? Aku tidak semurah hati itu pada orang yang sudah merusak keluargaku. Kalau kau tidak suka dengan sikapku, silahkan keluar dari sini."
Laura mengepalkan tangannya, tatapan penuh amarah dia layangkan pada Sheryn sambil menggetakkan giginya. Jika saja tidak mengingat ada CCTV di sana. Mungkin dia sudah menamparnya.
Selama ini, Sheryn memang terlalu banyak mengalah pada mereka berdua hingga membuat mereka semena-mena terhadapnya, tapi sekarang, tidak lagi. Shery berniat untuk mengusir mereka dari rumahnya dan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Sheryn, lapar."
Mendengar suara asing, Laura dan ibunya menyapu sekitar untuk mencari asal suara dan melihat ada sosok pria yang sedang duduk membelakangi mereka berdua. Saat melihat ada orang lain di ruangan tersebut, dahi Laura dan ibunya langsung mengerut.
Sheryn menoleh ke belakag ke arah sofa yang diduduki oleh Melvin. "Kalau begitu, ayo kita makan." Sheryn menghampiri Melvin lalu mengulurkan tangannya pada Melvin.
"Tunggu!" Ibu tiri Sheryn menghentikan Sheryn ketika dia akan melangkah masuk ke dalam, "siapa pria ini?" Ibu tiri Sheryn melemparkan tatapan curiga sekaligus mencemooh ke arah Melvin.
Tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Melvin, Sheryn menoleh dengan wajah malas pada ibunya tirinya. Sebenarnya dia malas untuk menjelaskan pada ibu tirinya itu, tapi bagaimana pun dia harus tahu agar kedepannya tidak ada yang mengganggu Melvin
"Perkenalkan, ini Melvin. Mulai sekarang dia akan tinggal di sini," ucap Sheryn sambil menoleh sejenak pada Melvin.
Bola mata Laura dan ibunya nampak sedikit membesar. Mereka terlihat terkejut saat mendengar ucapan Sheryn, terlebih lagi setelah melihat tingkah Melvin yang seperti orang idiot.
Meskipun pada awalnya Laura sempat tertegun saat pertama kali melihat ketampanan Melvin, tapi ketika melihat ekspresi bodohnya. Hilang sudah kekagumannya dalam sekejap dan ketika mendengar Sheryn begitu bangga saat memperkenalkan Melvin, Laura merasa tergelitik. Dia kemudian berjalan dan berhenti tepat di depan Sheryn dan Melvin.
"Tidak mungkin kalau dia kekasihmu, kan?"
Laura tidak bisa menahan senyum sinis di wajahnya saat bertanya pada Sheryn, "aku tidak menyangka, lepas dari Harry, seleramu menjadi sedikit aneh. Apa kau tidak salah mencari pengganti Harry? Aku lihat pria ini terlihat bodoh dan idiot." Laura memandang tatapan mengejek sekaligus jijik pada Melvin.
Harry adalah mantan kekasih Sheryn yang sekarang sudah menikah dengan Laura.
Ibu tiri Sheryn ikut menimpali ucapan anaknya. "Sheryn, bagaimana bisa kau membawa pria tidak jelas seperti ini masuk ke dalam keluarga kita? Jangan mempermalukan keluarga kita, Sheryn. Lebih baik segera usir dia dari sini."
Mendegar hinaan yang ditujukan untuk Melvin, amarah Sheryn langsung terpancing. Dia mengertakkan giginya sebelum berbicara. "Jangan pernah mengatakan kalau dia bodoh dan idiot! Aku akan merobek mulut kalian kalau berani menghina Melvin lagi."
Sheryn menatap nyalang pada Laura dan ibu tirinya. "Mengenai dia tinggal di sini. Aku sama sekali tidak butuh ijin darimu. Ini rumahku, aku berhak membawa siapapun ke dalam rumah ini."
Selesai bicara, Sheryn langsung menarik tangan Melvin untuk masuk ke dalam. Laura dan ibu tirinya hanya diam tanpa bisa mencegahnya. Sheryn kemudian memanggil pelayan setelah berada di dalam ruang makan.
"Tolong persiapakan makan siang untuk kami," ucap Sheryn setelah duduk di meja makan.
Beberapa pelayan langsung menuju dapur dan mempersiapkan makan siang untuk Sheryn dan Melvin. Sebelum makan, Sheryn meminta pelayan untuk membersihkan kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya untuk Melvin. Selesai makan, Sheryn meminta pelaan membawa kopernya ke kamar Melvin.
"Melvin, mulai sekarang ini akan menjadi kamarmu," ucap Sheryn setelah pintu kamar sudah di buka dan pelayan sudah pergi.
Sheryn mengajak Melvin untuk masuk ke dalam kamarnya. "Kamarku berada di sebelah kamarmu."
Melvin mengangguk dengan wajah bodohnya. "Jangan pernah dekat-dekat dengan dua wanita tadi. Mereka wanita jahat."
Wajah Melvin terlihat binngung, tetapi dia tetap mengangguk. "Setelah ini, kita akan ke rumah sakit untuk bertemu dengan ayahku. Kau harus bersikap baik, oke?"
Sekali lagi Melvin mengangguk. "Baiklah, kau istirahat saja dulu. Ada yang harus aku urus."
Setelah keluar dari kamar Melvin, dia berjalan ke arah kamarnya. kamar yang berada di lantai 2 tersebut terlihat sudah berubah. Dekorasi kamarnya dan letak furniturenya sudah diubah total. Sheryn kemudian memanggil salah satu pelayan yang sudah bekerja lama di kelurganya.
"Bibi Sha, siapa yang sudah berani merubah kamarku?"
Bibi Sha yang sudah berumur 55 tahun itu, menampilkan wajah takutnya. "Ini adalah permintaan nona Laura. Dia menempati kamar ini bersama dengan tuan Harry."
Sheryn mengepalkan tangannya. "Minta orang untuk merubah kembali kamarku seperti yang dulu. Lakukan dengan cepat," perintah Sheryn, "dan keluarkan semua barang-barang mereka dari kamarku. Bersihkan saja kamar di bawah untuk mereka berdua."
"Baik, Nona."
Karena kamarnya harus di rubah kembali, Sheryn memutuskan untuk tidur di kamar lain. Semua dekorasi rumahnya memang sudah dirubah dan itu membuat Sheryn marah. Itu adalah rumahnya, bagaimana bisa ibu tirinya dan Laura dengan seenaknya merubah rumah yang bukan miliknya.
Sore harinya, Sheryn dan Melvin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya sekaligus memperkenalkan Melvin pada ayahnya. Setibanya di rumah sakit, Sheryn terkejut saat melihat ayahnya berada di ruang ICU dengan bantuan alat pernapasan pernapasan alat pacu jantung untuk bertahan hidup.
Melihat ayahnya terbaring tidak berdaya membuat hatinya terasa nyeri. Dia tidak menyangka kalau kondisi ayahnya begitu buruk. Sheryn juga belum mengetahui jelas mengenai penyakit ayahnya karena dia belum bertemu dengan dokter yang menangani ayahnya.
Awalnya dia mengira kalau kondisi ayahnya tidak begitu buruk, tapi ternyata untuk bertahan hidup saja, ayahnya harus menggunakan bantuan alat-alat medis. Saat membayangkan kalau ibu tiri dan Laura menyembunyikan sakit ayahnya darinya, membuat Sheryn geram.
Sheryn hanya berdiri di depan ruangan ICU sambil menatap iba pada ayahnya. "Nona, kau sudah pulang?" Suara seorang pria dari belakang membuyarkan lamunan Sheryn.
Saat Sheryn menoleh, dia langsung mendekat ke arah pria paruh baya yang memanggilnya tadi. "Paman, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa ayahku bisa seperti ini?"
Pria paruh baya itu adalah asisten pribadi ayahnya yang bernama Henry. Orang kepercayaan ayahnya sejak dulu. "Aku juga sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi dengan ayahmu. Tiba-tiba saja aku mendapatkan telpon dari rumah sakit yang memberitahukan kalau ayahmu masuk rumah sakit."
"Saat ayahku masuh rumah sakit, di mana Laura dan Bibi Ruth?"
"Menurut informasi dari petugas rumah sakit, Nyonya Ruth yang mengantarkan ayahmu ke rumah sakit, sementara Nona Laura sedang pergi dengan Tuan muda Harry."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
rasakan Karma buat mu..
2023-05-09
0
Qaisaa Nazarudin
Wooowww penghianat dan pelakor ternyata,tapi tinggal seperti BENALU di rumah Sheryn,, Apa gak malu dan gak punya harga diri??🤦🏻♀️🤦🏻♀️😡😡
2023-05-09
0
Edah J
Jahat banget ya ibu tiri& kakak tirimu Sheryn🙁
2022-12-08
0