Saat mereka baru selesai makan, ada seseorang yang menghampiri meja mereka berdua. "Sheryn, ternyata benar itu kau," ucap seorang pria yang sudah berdiri di samping meja mereka sambil tersenyum senang ke arah Sheryn.
"Manager Zahn," ucap Sheryn dengan wajah terkejut. Pria itu adalah atasannya di kantor yang beberapa kali mengantarkan Sheryn pulang jika dia sedang lembur di kantor.
"Apa aku boleh duduk di sini?" Manager Zahn menunjuk salah satu kursi yang ada di dekatnya.
Dengan senyum canggung, Sheryn mengangguk. Setelah duduk, tatapan Manager Zahn jatuh pada Melvin. "Siapa dia?" Melihat wajah bodohnya, ada sedikit keheranan dalam wajah atasan Sheryn.
Sheryn menoleh pada Melvin sejenak lalu memegang lengan Melvin sambil tersenyum. "Dia adalah Kakakku." Sheryn memperkenalkan Melvin degan sopan pada atasannya.
"Begiru rupanya." Manager Zahn tersenyum.
Dari kejauhan tadi, dia kira kalau pria di depan Sheryn adalah kekasihnya, tetapi ketika melihat dari dekat, seketika Manager Zahn mulai ragu setelah melihat wajah Melvin yang nampak tidak seperti orang normal pada umumnya.
Sheryn dan Manager Zahn nampak mengobrol dengan santai, mengabaikan Melvin yang sedari tadi hanya diam . Di bawah meja, tanpa sadar tangan Melvin mengepal.
Karena merasa bosan, Melvin mengangkat kepalanya dan memegang lengan Sheryn. "Pulang."
Sheryn menoleh pada Melvin lalu tersenyum. "Baiklah." Kemudian Sheryn berpamitan pada Manager Zahn.
"Biarkan aku mengantarmu. Sudah malam." Manager Zahn berjalan mendahului Sheryn menuju kasir lalu membayar tagihannya.
"Manager, kau tidak perlu membayarnya. Aku bisa membayarnya sendiri," ucap Sheryn ketika melihat Manager Zahn membayar tagihannya.
"Tidak apa-apa. Jangan terlalu sopan padaku, Sheryn. Kita sedang berada di luar. Aku bukan atasanmu lagi jika di luar jam kantor. Cukup panggil namaku saja."
Sheryn yang sedari tadi memegang tangan Melvin seketika merasa kalau pegangan tangan Melvin menguat. Dia menoleh pada Melvin untuk melihat ekspresi wajahnya. Sepasang mata terlihat datar dan dingin.
Karena Manager Zahn memaksa untuk mengantar Sheryn pulang, mau tidak mau, dia menyetujuinya. Dia tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran atasannya karena merasa tidak enak pada atasannya.
Tiba di rumah, Melvin langsung masuk ke dalam rumah dan membanting pintunya dengan keras. Sheryn dan Manager Zhan yang masih berada di luar seketika dibuat terkejut dengan tingkah Melvin.
"Maafkan sikap kakakku, Manager Zahn. Dia sepertinya sedang lelah." Tentu saja Sheryn merasa tidak enak hati karena sikap Melvin yang terlihat sangat kekanak-kanakan.
Setelah atasan Sheryn pergi. Sheyn langsung berjalan menuju kamar Melvin. Dia melihat Melvin nampak duduk diam dalam kamarnya. Dia bahkan tidak menyalakan lampu kamarnya. Sheryn mendekati Melvin setelah menghidupkan lampu kamar.
"Melvin, kenapa kau membanting pintu?" tanya Sheryn dengan hati-hati.
"Kau tidak boleh bersikap seperti itu di depan orang lain. Tidak sopan Melvin," lanjut Sheryn ketika melihat Melvin masih bungkam.
"Aku tidak suka dengannya."
Sheryn terperangah saat melihat tatapan Melvin yang nampal berkilat. Apa dia sedang marah? Tapi apa yang membuatnya marah?
"Kenapa?" tanya Sheryn hati-hati.
Melvin kembali diam dan tidak menjawab pertanyaan Sheryn. "Dia baik Melvin. Kenapa kau tidak suka dengannya?"
Setelah mengatakan itu tatapan Melvin menjadi dingin. Melihat suasana hari Melvin sedang buruk. Sheryn memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi. "Istirahatlah. Kau pasti lelah." Dia akhirnya kembali ke kamarnya untuk istirahat karena besok dia harus kembali bekerja.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Edah J
🌹🌹🌹🌹🌹Bunga dulu ka othor yaa😉
2022-12-07
0