Count Ava yang terburu-buru pulang karena mendapat pesan dari kepala pelayan, berteriak marah ketika melihat countess dan anak-anaknya sudah kabur. "KENAPA KALIAN BIARKAN DIA PERGI BEGITU SAJA?!"
"Count, maafkan kami. Countess pergi dengan bantuan kuil dan pengawal permaisuri."
"A- apa? Bagaimana bisa permaisuri datang dan ikut campur?"
"Saya sendiri juga tidak tahu."
"Mungkin selama ini countess diam-diam minta bantuan ke pihak kuil," Evelyn memanasi count. "Bukankah countess selalu rutin pergi ke kuil untuk donasi dan berdoa? Mungkin saja itu hanya dalih untuk minta bantuan kuil."
Count semakin membenci countess. "Wanita itu- aku akan membuat perhitungan padanya."
Kepala pelayan melirik kesal dengan ulah Evelyn. "Nona, saya rasa anda tidak perlu memanasi count. Saat ini countess kabur sudah membuat nama count jelek dan count, sebaiknya anda menahan emosi. Gosip jelek akan berpengaruh pada bisnis anda."
"Kamu benar!" Count lari menuju kantornya untuk minta bantuan ke duke Vilvred.
Evelyn menatap kepala pelayan dengan marah. "Jika aku menjadi countess, aku akan membuat kamu keluar dari tempat ini."
Kepala pelayan tidak takut dengan ancaman Evelyn. "Lakukan jika anda berhasil menjadi countess."
Evelyn menatap punggung kepala pelayan yang sudah berjalan menjauh dengan marah. "Kepala pelayan sialan!"
Di istana, kaisar bangkit dari singgasana setelah mendengar laporan dari salah satu anak buahnya. "Apa kamu bilang? Para ksatria bawahan pangeran pertama kerja sama dengan kuil?"
"Ya, banyak saksi mata yang melihat ksatria pangeran pertama melindungi countess menuju kuil. Yang Mulia, bukankah hal ini terlalu berlebihan? Ikut campur rumah tangga orang lain."
Ratu tertawa kecil di balik kipasnya. "Jangan-jangan selama ini pangeran pertama tidak hilang? Dia hanya bersembunyi di dalam kuil."
"Dia berhasil membangun hubungan dengan pihak kuil?" Kaisar menatap ratu dengan tatapan tidak percaya. "Bagaimana bisa?"
"Permaisuri pasti membuat rencana ini, Yang Mulia." Kata ratu dengan percaya diri, berusaha menyembunyikan kedengkiannya.
"Tidak, pasti-" kaisar menjadi bingung.
"Yang Mulia, pendeta tinggi Rahul ingin bertemu dengan anda."
"Pendeta tinggi? Suruh dia masuk!" Perintah kaisar yang tidak sabar.
Pendeta tinggi Rahul masuk dengan santai dan memberikan hormat sekedarnya. "Salam, kaisar Helcia."
Kaisar kesal melihat sikap hormat ala kadar pendeta. "Meskipun aku tahu, pendeta tidak diizinkan menghormati hal lain selain dewa Helcia. Tetap saja aku tidak suka melihatnya."
Pendeta tinggi Rahul tertawa kecil. "Dewa sudah memberikan rahmat untuk kaisar, membuktikan kedudukan anda jauh lebih tinggi dari para pendeta."
Semua orang di dalam ruangan tahu apa yang dimaksud pendeta tinggi Rahul untuk menyindir kaisar yang ingin kedudukannya melebihi dewa.
"Hah! Aku tidak berani menentang dewa. Apa yang kalian inginkan?" tanya kaisar.
"Sebelum ada salah paham antara kuil dan kekaisaran, pendeta agung mengutus saya untuk menjelaskan pada anda terkait countess Ava dan anak-anaknya."
"Hoo- alasan apa yang ingin kalian jelaskan? Aku ingin mendengarnya."
Pendeta tinggi Rahul mulai menjelaskan. "Anda tahu lady Daniela sangat dekat dengan permaisuri, saat ini lady bekerja di kuil dan tanpa sengaja melihat bekas luka di tangan countess Ava."
"Bekas luka?" tanya kaisar tidak mengerti.
"Ya, countess Ava dipukul count. Lady Daniela ingin menyelamatkan countess, meminta tolong kepada kuil dan pihak permaisuri, tentu saja countess juga ikut melapor."
"Lalu apa hubungannya dengan para ksatria pangeran pertama yang kalian pakai?"
"Yang Mulia!" Ratu memegang tangan kaisar. "Permaisuri."
Kaisar tersadar lalu mengangguk mengerti. "Ah, begitu ya. Permaisuri minta bantuan para ksatria pangeran pertama yang sudah tiba di kekaisaran. Aku mengerti sekarang."
Pendeta tinggi Rahul tersenyum dan mengejek kaisar di dalam hati. Dengan kapasitas otak seperti itu, anda ingin disamakan dengan dewa? Bermimpilah!
"Baiklah, jika kejadiannya seperti itu. Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi hahahaha." Tawa kaisar.
"Terima kasih atas pengertiannya, Yang Mulia. Semoga dewa memberkati kemuliaan kekaisaran Helcia."
"Tentu saja, tentu saja." Kaisar mengangguk puas.
Pendeta tinggi Rahul pamit undur diri dan pergi ke tempat permaisuri untuk pura-pura melapor sesuai arahan pendeta agung.
'Permaisuri, tidak akan mau menemui siapa pun kecuali lady Daniela dalam bentuk surat. Karena itu, pura-pura melapor ke permaisuri.'
'Tapi, selama ini kita menyelamatkan countess hanya memakai nama permaisuri. Apakah tidak apa-apa?'
'Permaisuri tidak akan keberatan namanya dipinjam untuk hal yang baik, aku yang akan menjaminnya.'
Begitu tiba di istana permaisuri, salah satu pelayan setia permaisuri menerima kedatangan pendeta tinggi dan meminta maaf karena permaisuri tidak ingin menemui siapa pun.
Pendeta tinggi pendengarannya sangat tajam, dia tahu dirinya diikuti salah satu antek kaisar atau ratu. "Tidak apa, saya hanya ingin melapor bahwa countess sudah diselamatkan. Permaisuri tidak perlu khawatir lagi."
Pelayan setia permaisuri bingung dengan kalimat pendeta tinggi tapi berpura-pura lega. "Saya- saya akan menyampaikannya ke permaisuri."
Pendeta tinggi memberikan kode ke pelayan setia permaisuri. "Mungkin permaisuri lupa karena beberapa hari ini sedang berdoa untuk pangeran pertama, tapi pendeta sebelumnya datang dan menyerahkan surat ke permaisuri untuk melapor."
Untungnya beberapa bulan sekali, pendeta tinggi rutin mengunjungi permaisuri untuk memeriksa kesehatannya.
"Oh, ah. Saya paham. Terima kasih." Angguk pelayan setia lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar permaisuri sebelum ada yang datang untuk menghalanginya.
Pendeta tinggi dan dua pendeta muda yang menemaninya, pergi meninggalkan istana permaisuri.
Setelah mereka menjauh, dua pendeta muda berkomentar dengan nada cemas.
"Wah, baru kali ini aku masuk istana. Rasanya menyesakan, kasihan permaisuri."
"Ya, diawasi sangat ketat oleh kaisar dan ratu. Untung saja lady maju melindungi permaisuri dan- ups!"
Pendeta tinggi Rahul tiba-tiba menutup mulut salah satu pendeta muda. "Hati-hati, dinding pun bisa menjadi telinga."
Pendeta muda mengangguk ngeri bersamaan.
Di dalam kamar permaisuri, sedang tidur lelap di pangkuan seseorang. Pelayan itu terkejut lalu memberanikan diri untuk melapor. "Saya tadi sempat bingung dengan penjelasan pendeta tinggi tadi, tapi mereka sudah datang dan melapor."
Permaisuri terbangun dan membuka matanya. "Hm? Ada apa?"
"Istirahatlah, kamu pasti lelah."
"Kamu tidak akan pergi kemana-mana 'kan?"
Pria itu mengambil jubahnya dan segera membuka portal. "Aku harus segera kembali."
"Kapan kamu kembali?"
"Kalau aku ada waktu, tidak perlu khawatir."
Permaisuri turun dari tempat tidur, para pelayan cepat-cepat menutupi tubuh telanjangnya. "Jangan berbohong!"
"Tidak akan! Aku usahakan kembali secepatnya. Jaga dirimu, permaisuri Helcia."
Permaisuri memperhatikan kekasihnya berjalan melewati portal dengan kesal.
"Yang Mulia, apakah anda ingin mandi sekarang? Sepertinya anda tidak bisa keluar beberapa hari ke depan."
Permaisuri mengangguk setuju begitu melihat banyak tanda merah di seluruh tubuhnya. "Aku ingin istirahat, bagaimana keadaan putraku? Dia baik-baik saja?"
"Tidak ada masalah, pangeran pertama baik-baik saja."
"Syukurlah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Jue
Panggeran pertama saja yang bodoh mengalah demi persaudaraan dan tidak mahu merebut takhta.
2024-07-17
0
AK_Wiedhiyaa16
Pria tersebut kekasih permaisuri??
Kira2 siapa pria tersebut??
Pendeta Agung atau bahkan si dewa??
2022-11-05
0
AK_Wiedhiyaa16
Padahal kan seharusnya posisi Permaisuri lebih tinggi daripada Ratu, apalagi Permaisuri merupakan keturunan langsung dari keluarga kekaisaran & hrsnya yg jdi putra mahkota ya anak dari Permaisuri..
Kaisar & Ratu sbnrnya ga punya hak apapun, dasar tak tahu diri
2022-11-05
0