Daniela yang sudah bangun keesokan harinya tersenyum puas. Hari ini nama keluarganya sudah berganti menjadi Aelthred. Secepat itu, andaikan sebelumnya dia bisa berpikir- mungkin tidak akan mengalami kematian.
Permaisuri mengajukannya sendiri tanpa izin duke Vilvred, saat ini Aelthred memang hanya nama tapi nanti ke depannya, dia akan membangun nama keluarganya.
Permaisuri yang duduk di samping tempat tidur, menatap rumit Daniela. "Ceritakan, kenapa tiba-tiba saja kamu berubah pikiran? Padahal sebelum kamu pergi ke danau buatan, kamu selalu berada di sisi pangeran mahkota."
Daniela sudah tahu permaisuri akan bertanya, tapi dia tidak bisa cerita mengenai reinkarnasinya. "Permaisuri, apakah anda percaya jika saat kita hampir mati maka akan mengingat dosa sebelumnya?"
Permaisuri mengangguk, dulu dia pernah di kondisi hampir mati dan kaisar sekarang menyelamatkannya.
"Saat saya di dalam kolam dan hampir mati, saya mengingat dosa yang sudah saya lakukan lalu entah kenapa saya memiliki kekuatan untuk kembali ke atas dan berenang ke tepian."
Daniela di kehidupan pertama tidak bisa berenang, tiba-tiba berenang saat terjatuh di danau pasti menimbulkan banyak pertanyaan. Jadi dia memutuskan hal ini adalah ikut campur dewa, tidak salah juga bukan?
"Lalu saya melihat ayah yang tiba-tiba datang menampar tanpa menanyakan keadaan saya, Ella yang masuk ke ballroom dalam keadaan basah padahal tidak sesuai dengan sopan santun. Itu berarti duke ingin menunjukkan betapa jahatnya saya terhadap putri kesayangan duke."
Permaisuri menjadi kasihan ke Daniela. "Maafkan aku yang tidak bisa melakukan apapun, aku sendiri tidak punya kekuatan untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi, yang bisa aku lakukan hanyalah mengirim pangeran pertama ke medan perang."
Daniela mengangguk mengerti. "Saya akan melindungi anda Yang Mulia, saya akan membuat Aelthred berjaya kembali."
"Lalu, apakah kamu bersungguh-sungguh ingin berpisah dengan pangeran mahkota?"
"Ya." Angguk Daniela. "Karena saya menunjukan dengan jelas sikap saya, lebih baik kami berpisah."
Permaisuri menjadi senang. "Lalu-"
Sebelum permaisuri selesai, Daniela memotong. "Saya tidak akan bertunangan dengan pangeran pertama."
Permaisuri terkejut. "Apa?"
Aku tidak tahu ada masalah apa di masa lalu sampai pangeran pertama melindungi Ella, jadi aku harus bersikap hati-hati dan menjaga jarak.
"Saya lebih senang bersumpah setia pada anda, Yang Mulia." Tegas Daniela.
Permaisuri tersenyum sedih. "Begitu ya, sayang sekali. Di masa depan, aku akan membuat pangeran mahkota merayu kamu."
Daniela teringat dengan pengembalian kekuasaan Aelthred. "Yang Mulia, rakyat pasti tidak akan setuju-"
"Ya, karena itulah tugas kamu. Minggu depan kaisar akan menjadikan kamu sebagai duchess Aelthred jadi bersiaplah." Permaisuri menepuk tangan Daniela. "Kamu juga harus menghadapi duke Vilvred, barang-barang di sana-"
Daniela menggeleng pelan. "Tidak, tidak ada barang-barang di sana. Ibu pun pasti memilih pergi tanpa membawa barang apa pun lalu-"
"Lalu apa? Kamu bisa ceritakan semua keluh kesah kepadaku."
"Yang Mulia, maukah anda percaya kepada saya tentang hal ini?"
"Apa?"
"Setelah saya cerita tadi, sebenarnya saya juga diberitahu mengenai posisi pangeran pertama."
"Posisi?" tanya permaisuri yang tidak mengerti.
"Uhm, tolong jangan biarkan pangeran mahkota menyerang kota di dekat tenda, tempat para tentara beristirahat"
Daniela tidak tahu nama kotanya, karena tidak tertarik di masa lalu dan hanya mengetahui ceritanya sekilas.
"Maksud kamu- kota Skull?"
"Skull?"
"Ya, kota tengkorak. Tidak ada orang yang mau datang ke sana karena penduduknya semua meninggal kena wabah. Aku sempat diberitahu putraku, tentara akan sembunyi di sana karena lawannya sangat percaya demgan takhayul."
"Tidak, jangan percayai itu. Mereka memang suka menggunakan takhayul untuk menekan rakyatnya. Kerajaan mereka tidak percaya, itu hanya penyamaran saja!"
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin, saya sempat melihat pangeran pertama masuk ke dalam jebakan musuh dan diserang lalu tidak ada kabar lalu- lalu-" Daniela menatap sedih permaisuri, hanya bisa mengungkapkannya di dalam hati.
Permaisuri akan jatuh sakit karena sakit dan ratu semakin melebarkan pengaruhnya.
Permaisuri yang melihat kepanikan Daniela, mulai percaya dan menyuruh pelayan pribadi memanggil penyihir untuk komunikasi.
Tidak butuh waktu lama, penyihir datang ke kamar Daniela dan memberikan salam dengan sopan lalu memberikan sebuah batu yang sudah diukir lambang atau huruf tertentu.
Daniela terkejut ketika sebuah cahaya proyeksi muncul dan menampakkan wajah pangeran pertama.
Ah-
Daniela terdiam begitu melihat wajah tampan dan tegas, Edrik.
Permaisuri tersenyum dan menepuk lembut pundak Daniela. "Ceritakan semuanya kepada pangeran pertama, aku bukan pencerita yang baik."
Daniela tahu, ini salah satu upaya permaisuri supaya dirinya bisa akrab dengan pangeran pertama.
"Permaisuri, ada apa? Apakah ada masalah di istana?"
"Tidak, Daniela ingin memberitahu sesuatu kepadamu."
"Daniela? Apakah ini nama yang aku kenal?"
"Ya, kamu mengenal namanya."
Daniela ingin mengatakan sesuatu lalu terdiam, dia takut masa depan berubah tapi juga tidak ingin permaisuri jatuh sakit dan ratu bisa bersikap seenaknya.
"Ada apa? Kenapa lama sekali? Di mana dia?"
"Dia ada di samping ibu." Permaisuri menunjukkan wajah Daniela ke putranya.
Alat komunikasi sangat buram untuk melihat wajah lawan bicara, Edrik tidak bisa melihat dengan jelas wajah Daniela.
Daniela mulai cerita tujuan komunikasi, Edrik mendengar dengan sabar lalu bertanya ketika lawan bicaranya sudah selesai.
"Kamu tahu berita ini dari mana?" tanya Edrik.
Daniela ingin menjawab alasan yang sama ke permaisuri tapi merasa mustahil karena pangeran pertama, orang yang rasional dan tidak terlalu percaya dengan dewa.
"Saya tahu dari mana itu tidak masalah, yang terpenting adalah keselamatan anda. Jika terjadi sesuatu pada anda, permaisuri akan khawatir lalu kaisar dan ratu-"
"Baiklah, anggap aku percaya dan menuruti perintah kamu. Tapi bagaimana jika yang kamu katakan salah? Apakah kamu akan memberikan kompensasi?"
"Saat ini, saya tidak punya apa pun tapi saya akan memberikan tubuh saya!" Daniela mengatakannya dengan tegas dan lantang.
Suasana menjadi hening sesaat.
Daniela bingung melihat reaksi semua orang yang terdiam.
Permaisuri tertawa, Edrik menutup mulutnya dengan marah.
Edrik memarahi Daniela. "Kamu seorang wanita, bagaimana bisa mengatakannya dengan vulgar?!"
Daniela bingung sesaat lalu menutup wajahnya dengan malu. Dia baru saja mengingat kehidupan modernnya, kalimat itu diucapkan juga tidak aneh. "Ma- maksudku- aku-" paniknya.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Jangan ucapkan itu lagi, aku akan bicara dengan para bawahanku."
"Pangeran!"
"Hm?"
Daniela mengepalkan kedua tangannya ke udara. "Semangat!"
Permaisuri tertawa lagi.
Edrik memutus sambungan komunikasi.
Daniela menjadi bingung dengan reaksi oran-orang. "Apakah tidak ada yang memberikan kata semangat ke orang lain?"
Penyihir wanita yang usianya terlihat lebih muda dari Daniela memberikan senyuman. "Lady, biasanya para pria mengepalkan tangan untuk bertarung, sangat aneh melihat wanita mengepalkan tangan ke udara sambil berteriak kata semangat. Mungkin hal ini bisa dijadikan tren baru untuk para kekasih atau istri ke pasangannya saat akan berperang."
Lagi, lagi Daniela merasa malu. Ternyata mengingat dua kehidupan sekaligus ada untung dan ruginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Imoet_ijux
semangat Thor, lanjut ceritanya
2022-10-11
1