"KEMANA SAJA KAMU?!"
"Co- count."
"Kamu ke kuil lagi untuk melakukan hal yang tidak penting? Apakah kamu tahu lelucon yang beredar di luar sana?!"
"Count, sakit. Tolong jangan melakukan ini."
Daniela naik ke atas pohon kokoh, berhasil menyelinap di bawah kereta milik count Ava dengan penuh perjuangan.
Bangsawan kaya memiliki kereta yang di bawah ada rongga untuk penyimpanan tambahan, minusnya kereta ini hanya bisa digunakan di kota.
Daniela lega ketika melihat kereta yang dibawa countess adalah kereta khusus di kota.
Ketika mencapai dahan pohon, hal pertama kali yang dilihatnya adalah punggung telanjang count.
Daniela hampir menjerit lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Gila! Gila!
Count memperkosa countess di kamarnya dengan jendela dan pintu ruangan terbuka lebar.
Daniela bisa melihat kaki countess yang dilebarkan secara paksa oleh count.
Erangan menyakitkan dan permintaan tolong bercampur menjadi satu, sementara count semakin intens menyerang countess.
Daniela teringat dengan alat perekam dan mulai merekam tindakan tidak senonoh itu.
"Teriaklah countess, biarkan semua orang tahu bahwa kita saling mencintai!" Count membalik tubuh countess secara kasar dan mulai bermain dari belakang.
Mulut Daniela menganga lebar. Astaga!
______________
Begitu tiba di rumah, wajah Daniela memerah.
Edrik yang melihat itu, segera menyentuh keningnya. "Tidak panas."
Daniela menepis tangan Edrik. "Enyah!"
"Hei, aku pangeran pertama dan jangan bertindak tidak sopan ya!" tergur Edrik.
Daniela bertanya pada Edrik. "Pangeran pertama tahu tentang hukum perkosa?"
"Tentu saja tahu."
"Apakah hukum itu ada?"
"Apa hukuman yang diterima pelaku pemerkosa?"
"Paling berat diusir dari kekaisaran Helcia."
"Hanya itu?"
"Ya."
Daniela mendecak kesal. "Sial!"
"Ada apa?"
"Bagaimana jika yang memperkosanya adalah suami?"
Edrik terkejut lalu menertawakan kebodohan Daniela. "Apakah di dunia ini ada istri yang diperkosa suaminya? Penjara pasti penuh."
"Aku serius, pangeran pertama."
Edrik melihat sikap serius Daniela di matanya. "Apakah sang istri mengadu kepadamu?"
Daniela menggeleng.
"Berarti hanya gosip."
Daniela mengerutkan kening. "Tidak, aku lihat dengan mata sendiri. Count Ava perkosa countess."
"Apa?"
"Aku melihat sendiri." Tekan Daniela.
Edrik menjadi cemas. "Kamu masuk ke rumah count Ava tanpa izin lalu mengintip kamar mereka?"
Daniela mengangguk canggung.
"Astaga!" Edrik memijat keningnya. "Apakah ini salah satu tugas kuil? Mengintip suami istri sedang berhubungan?"
Daniela menepuk dadanya dengan bangga. "Tidak, aku yang berinisiatif mengintipnya. Supaya kita bisa menghasilkan uang, lihat! Aku mendapat rekamannya juga."
Edrik semakin salah paham dan berteriak marah. "Apa yang kamu lakukan dengan alat perekam itu? Kamu ingin menjual video mereka ke pasar gelap untuk menghasilkan uang?!"
Daniela semakin bingung dengan kemarahan Edrik. "Bicara apa sih? Aku merekam untuk jaga-jaga melindungi countess. Ya kali aku sengaja mengintip lalu menjualnya di pasar gelap!"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan rekaman itu? Mengancam count?"
"Memangnya boleh?"
"DANIELA AELTHRED!" teriak Edrik yang semakin sakit kepala menghadapi Daniela.
Daniela menutup kedua telinga dengan tangannya.
Keesokan harinya, reaksi pendeta agung tidak jauh berbeda dengan Daniela begitu ditunjukkan rekaman count yang menyiksa countess.
Dengan wajah tersenyum, pendeta agung mencecar Daniela.
"Apakah lady sudah minta izin ke count untuk masuk ke rumahnya?"
"Yang benar saja, tidak mungkin count memberikan izin apalagi mengintip kamarnya."
"Bagaimana lady bisa menyusul rumah count tanpa kehilangan jejak dan ketahuan?"
"Saya sembunyi di bagian bawah kereta, ruang penyimpanan. Tenang saja, tidak ada yang melihat karena tubuh saya masih kecil."
"Berapa usia lady?"
"Hmm- lima belas tahun?"
"Apakah lady mengintip count dan countess Ava untuk kebutuhan pribadi?"
Kali ini Daniela bingung menjawabnya. Kebutuhan pribadi bisa juga, karena dirinya memang membutuhkan rekaman ini untuk menekan count dan menyelamatkan countess tapi jika jawab tidak juga jawaban tepat karena dirinya memang tidak butuh menyimpan rekaman ini jika dipikirkan lagi, toh ada bukti yang jauh lebih bagus yaitu memar di tubuh countess.
"Lady?"
"Ah, pendeta agung."
"Jadi?"
Daniela menggaruk kepalanya dengan canggung, tidak tahu harus memberikan jawaban apa.
"Lady sendiri tidak tahu jawabannya?"
"Saya sudah mengatakannya waktu itu bukan? Saya mendengar gosip aneh mengenai countess Ava, terbukti tadi saya melihat luka memar di tangannya. Pendeta agung, apakah kita tidak bisa menyelamatkan countess?" tanya Daniela dan menelan kalimat terakhir di dalam hati. Lalu mendapat uang dari countess.
"Kita tidak bisa ikut campur jika countess tidak bicara langsung, jika kita tiba-tiba datang- mereka bisa menuntut kuil."
"Kebanyakan para wanita yang menjadi kekerasan suaminya itu memang tidak bisa lepas dengan mudah, orang dengan mudahnya menilai korban buta total, tapi mereka tidak tahu apa yang dihadapi si istri." Daniela bicara sendiri dan mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Lady, di kekaisaran tidak ada yang namanya hukum perkosa untuk suami. Jika ada, akan menjadi tertawaan banyak orang. Hidup dan mati wanita yang sudah menikah, ada di tangan suaminya."
Daniela menjadi kecewa. "Padahal ada kekerasan rumah tangga di depan mata dan kita harus menutup mata begitu saja?"
"Lady, kuil tidak bisa ikut campur masalah personal kecuali dia minta tolong kepada kuil. Mungkin ada alasan sendiri bagi countess, untuk tetap bertahan."
Daniela menghela napas. "Pantas saja permaisuri bertahan sampai sekarang."
"Permaisuri?"
"Ya, padahal permaisuri adalah pemilik asli kekaisaran. Beliau mampu bertahan demi pangeran pertama, ternyata ada hukum tidak tertulis yang membuat wanita tidak bisa melakukan apa pun meski sudah dipojokkan."
"Lady, ingin mengubah peraturan?"
"Mengubah peraturan?"
"Ya, lady bisa mengajukan peraturan baru atau mengubah peraturan ke pengadilan dengan menunjukkan bukti rekaman itu. Tentu saja countess harus hadir."
Daniela mulai memikirkannya. "Benar juga, jika kita membuat atau mengubah peraturan baru ke pengadilan dan berhasil. Tidak menutup kemungkinan countess bisa cerai dari count dengan mendapatkan banyak harta."
"Apa?" Pendeta agung merasa pendengarannya salah. Tidak mungkin Daniela menolong countess dengan tujuan lain bukan?
Daniela berdiri dan mengambil barang-barang di sekitar kakinya. "Terima kasih, pendeta agung. Sudah memberikan saran yang berguna, saya akan melaksanakannya."
"Tu- tunggu!"
Pendeta tinggi Rohan yang baru masuk ke dalam kuil besar, bertanya. "Gabriel, pendeta tinggi Rahul memberikan buku catatan ini. Sepertinya lady itu kabur duluan, para pendeta muda saat ini sedang istirahat. Apakah boleh membiarkan mereka istirahat satu hari penuh?"
Pendeta agung menghela napas. "Yah, baru kali ini ada anak muda yang tidak menghormati pendeta agung sepertiku."
Rohan tertawa. "Lady Aelthred berani mencoret patung dewa kehidupan dan tanpa malu menerima hukuman dari kuil, aku rasa dia belum menemukan rasa takut."
Pendeta agung menghela napas sekali lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Linda M
saya jadi ngakak baca ya kok
2022-11-15
1
AK_Wiedhiyaa16
Kamu lebih gila karena menguntit mereka☺
2022-11-05
0