Daniela tidak ingin berdebat lagi. "Anda bisa mengambil kamar sesuka hati, saya belum cek seluruh tempat. Istirahatlah."
Edrik meraih ujung lengan gaun Daniela.
Daniela bisa mendengar suara perut Edrik tanpa malu. "Anda-"
Edrik tidak menutup rasa malunya. "Aku lapar, kamu yang membuat ide ini."
Daniela bingung. Sebelum terlahir kembali, dia jarang berinteraksi dengan Edrik sama sekali. Bahkan ketika Edrik memilih Ella menjadi ratunya. Sekarang dia bisa melihat sisi lain Edrik yang dulunya menakutkan.
"Tempat ini tidak ada makanan, apakah kamu tidak menyediakan makanan untuk pangeran sepertiku?"
Daniela menghela napas panjang. "Hanya di saat sekarang, anda menekan saya sebagai pangeran. Saya tidak punya makanan instan yang bisa dimakan!"
"Makanan instan?" tanya Edrik tidak mengerti. "Apakah itu nama menu baru? Bertahun-tahun aku tidak pulang, ternyata Helcia sudah membuat menu baru hahahaha."
Daniela semakin kesal dengan perkataan Edrik. "Saya akan membuat makanan, anda jangan kemana-mana!"
"Tadi aku lihat dapur tidak ada apa-apa, kamu menyimpan makanan dariku? Hei! Jangan kabur!" Edrik mengikuti Daniela yang sudah berlari menjauh. "Kamu berencana menyekapku tanpa makanan?"
"BERISIK!"
Daniela balik badan dan menatap tajam Edrik, sisa kemarahan di masa lalu ternyata masih ada di benaknya. Edrik yang terlihat menyeramkan di matanya dulu berubah menjadi pria menyebalkan!
'Aku tahu kamu tidak pernah jatuh cinta padaku.'
Kedua mata Daniela mengerjap bingung.
'Kamu hanya tidak ingin kehilangan posisi sebagai permaisuri, bukan?'
Edrik bingung ketika melihat Daniela terdiam. "Hei, kamu tidak apa-apa?"
Daniela mengalihkan tatapannya. "Saya akan membuat makanan, anda tunggu saja di sini."
Edrik mengerutkan kening. "Apakah kamu bisa menyalakan kompor?"
Langkah Daniela terhenti. Benar, dia tidak pernah menyentuh kompor di kehidupan sekarang ataupun masa lalu, hanya di zaman modern saja dirinya sempat mandiri karena aturan wanita harus bisa memasak.
Mau tidak mau, Daniela menyeret Edrik.
Setibanya di dapur, Daniela menghela napas panjang begitu melihat ruangan yang suram dan tumbuh tanaman dimana-mana.
"Apakah kamu tidak melakukan persiapan sebelum menempati tempat ini?"
Daniela mengambil sebuah keranjang di lemari. "Duke Vilvred selalu mengawasi tempat ini, khawatir aku menempatinya."
"Lho? Ini kan rumah kamu."
"Tahun depan rencananya akan direnovasi untuk ditempati Ella, supaya tidak repot ke istana saat bertemu pangeran mahkota."
"Hah? Bertemu adikku? Bukan kamu? Buat apa dia bertemu adikku?"
Daniela berjalan melewati Edrik. "Wah, sepertinya anda tidak mengikuti gosip terbaru."
Edrik berjalan mengikuti Daniela. "Gosip apa? Apa yang terjadi selama aku tidak ada di tempat,"
Daniela mencari ruang tempat perapian. "Nanti kita bicarakan, saya lapar."
Edrik diam mengikuti Daniela yang membuka semua pintu yang dilewati. "Kamu cari apa?" tanyanya.
"Di mana ruang perapian?" Daniela bertanya dengan bingung.
Edrik yang sudah mengelilingi kediaman Aelthred, menarik tangannya hingga ke ruang perapian.
Begitu pintu dibuka Edrik, Daniela menatap takjub ruang kosong yang hanya tersisa kursi goyang di dekat perapian.
Edrik menepuk dadanya. "Aku sudah membersihkan tempat ini."
Daniela melirik sekilas Edrik lalu melihat baju besi yang tergeletak sembarangan. "Sepertinya kita membutuhkan meja besok, anda harus membantu saya, pangeran pertama."
"Selama aku diberikan makan dan tempat istirahat, aku tidak akan mengeluh."
Daniela mengangguk puas lalu duduk di depan perapian dan mengeluarkan semua isi keranjang.
Edrik melihat berbagai macam daging dan sayur mentah setelah duduk di samping Daniela. "Apa ini? Apakah kita hewan?"
"Saya memang sengaja meminta bahan masakan, daripada makanan jadi. Seperti yang saya bilang, tempat ini diawasi duke. Pedang." Daniela mengulurkan tangan untuk meminta sesuatu ke Edrik.
"Apa?"
"Berikan saya pedang anda."
Edrik tidak menyerahkan pedangnya. "Tidak. Jika perlu sesuatu, aku bisa membantu."
Daniela menyerahkan daging sapi mentah ke Edrik. "Potong ini kotak kecil-kecil, anda bisa?"
Edrik melihat pedang panjangnya lalu daging sapi. "Kamu gila? Bagaimana bisa memotong kecil daging itu dengan pedang sebesar ini?"
Daniela memutar bola mata. "Apakah anda punya pisau?"
Edrik mengeluarkan pisau dari pinggangnya lalu diserahkan ke Daniela.
Daniela menatap jijik pisau di tangannya. "Anda sudah mandi hari ini?"
Edrik menjawab dengan santai sambil tertawa lebar. "Tidak, belum. Memangnya penting?"
Daniela yang memegang pisau, menatap horor Edrik. Si pangeran monster gila perang ternyata sesuai dengan citranya yang jorok.
Edrik mengerutkan kening dengan pucat. "Tolong, turunkan pisau dulu sebelum bicara. Jangan salahkan aku karena tempat ini tidak ada air."
Daniela menatap marah Edrik. "Tempat ini ada sumur, anda yang terlalu malas saja. Sekarang bantu saya mengambil air di sumur."
"Hah? Pakai apa?"
"Apakah helm perang itu tidak bisa digunakan?" tunjuk Daniela dengan pisau di tangan.
"Tunggu dulu! Helm itu sangat penting di medan perang, bagaimana bisa digunakan untuk mengambil air?!"
"Anda ingin makan, malam ini atau tidak?!"
"Baik, baik." Edric bergegas mengambil helm perang.
Daniela teringat sesuatu. "Kalau bisa, anda coba cari ember atau sesuatu yang bisa digunakan untuk menampung air. Helm perang tidak cukup."
Edric memutar bola mata.
--------------
Istana permaisuri.
"Permaisuri."
Permaisuri mengangkat kepala. "Ya?"
"Pendeta agung mendengar anda mengurung diri karena berita pangeran pertama menghilang, jadi beliau mengirim pendeta muda untuk membawa surat."
"Letakkan di meja, bilang aku tidak akan membalasnya sampai emosiku stabil."
"Baik, Yang Mulia." Pelayan istana meletakan surat di atas meja lalu keluar dari kamar permaisuri.
Dayang senior istana permaisuri, Sofia. Bertanya dengan nada heran. "Yang Mulia, kenapa anda tidak membalas surat pendeta agung?"
"Tidak, biarkan saja semua berasumsi aku sedang berdoa untuk keselamatan pangeran pertama. Bagaimana reaksi kaisar dan ratu?"
Sofia menghela napas ironi. "Seperti yang diberitahu lady Aelthred, berlomba mendekati pengikut anda."
"Pengikutku tidak bodoh, mereka pasti paham apa yang aku lakukan. Ngomong-ngomong aneh sekali mendengar Daniela sebagai lady Aelthred, bukankah seharusnya anak itu dipanggil duke?"
"Permaisuri, jangan membuat bangsawan lain marah. Tidak ada pemimpin wanita di kekaisaran Helcia."
"Aku rasa anak itu akan menjadi yang pertama." Permaisuri menjawab dengan tenang. "Jika dia menikah dengan putraku, masa depan Helcia pasti akan aman dan aku tidak perlu mempermasalahkan pewaris lagi."
"Permaisuri, tolong jangan berharap lebih." Nasehat Sofia.
"Sofia, berapa lama kamu bersamaku?"
"Sudah lama Yang Mulia, kita teman sejak kecil."
"Harusnya kamu paham bagaimana perasaanku sekarang, jika aku bisa menggantikan posisi putraku di medan perang- aku akan melakukannya."
"Yang Mulia-"
"Aku sudah belajar sebisaku untuk menjadi pewaris tapi pada kenyataannya harus mengikuti perintah tetua, memungut menantu."
"Saya ingat itu."
"Karena itulah aku berharap Daniela bisa membantu putraku mengambil tahta miliknya, tidak harus pergi ke medan perang lagi."
"Bagaimana jika lady itu gagal?"
Permaisuri menghela napas panjang. "Tidak, aku bisa melihat tekad di mata Daniela. Dia bersungguh-sungguh mendukung kami berdua."
Sofia menjadi bingung. Bagaimana bisa lady kecil yang tidak punya kemampuan apa pun mendukung permaisuri dan pangeran pertama?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Maria Hedwig Roning
thnks thor
2024-02-05
0