Countess Ava kembali ke kuil dan berdoa dengan khusuk. Daniela mengawasi dari jauh.
Daniela mendekati Countess Ava dengan seragam kuilnya ketika countess hendak keluar dari kuil. "Countess."
Countess Ava berhenti dan menoleh. "Lady Aelthred?"
Daniela tersenyum canggung. "Bolehkah saya bicara dengan anda?"
Countess Ava bersikap defensif. "Apa yang anda inginkan?"
Daniela paham dengan sikap countess Ava, lalu berbisik di telinganya. "Saya tahu apa yang terjadi selama ini di rumah anda, apakah anda tidak ingin ditolong?"
Kedua tangan countess Ava gemetar. "Menolong saya? Apa yang anda inginkan? Tidak ada yang salah dengan posisi saya."
"Karena itu, bisakah kita bicara berdua?"
"Baik, sebentar saja."
Daniela mengangguk setuju.
_______
Di kafe dekat kuil, Daniela dan countess duduk berhadapan dan memesan menu sederhana.
"Biar saya yang traktir." Kata Daniela sambil menambahkan di dalam hati. Untuk investasi.
"Apa yang anda inginkan?"
"Saya tahu count selalu menyiksa anda, bisakah saya membantu anda?"
Kedua tangan countess gemetar di atas pangkuannya. "Anda bicara apa? Hubungan kami baik-baik saja dan tidak ada masalah, tolong jangan berasumsi aneh."
"Saya tahu memang sulit untuk mengatasi kekerasan rumah tangga, semua menganggap hal biasa. Bahkan keluarga pun tidak peduli, yang bisa menyelamatkan kita hanya diri kita sendiri. Countess, tidakkah anda berpikir untuk lepas dari count?"
Countess Ava menggeleng pelan. "Saya punya anak."
"Ah, begitu." Daniela mengangguk mengerti. "Meskipun memiliki anak, jika ada kompensasi, tidak akan ada masalah. Countess, saya yakin count juga tidak peduli pada anak-anak anda."
Countess Ava menjawab dengan nada gemetar. "Karena anak-anak saya semuanya perempuan, dia punya anak haram kesayangan. Anak itu laki-laki."
"Wah, begitu ya." Daniela menggeleng sedih. "Sebenarnya tujuan saya membujuk countess, untuk membantu saya merancang undang-undang tentang kekerasan dalam rumah tangga. Saya ingin melindungi permaisuri."
"Permaisuri? Apakah terjadi sesuatu pada permaisuri?" tanya Countess Ava sambil menyentuh dadanya dengan tegang.
"Anda tahu, nasib pangeran pertama dan permaisuri sangat mirip dengan anda. Saya ingin mengumpulkan banyak kasus mengenai kekerasan rumah tangga, hal ini bisa menjadikan contoh untuk para pria menjaga istrinya dengan baik." Daniela minta maaf pada permaisuri di dalam hati karena menjual namanya.
Countess Ava terlihat ragu.
"Saya tidak memaksa anda tapi dengan dukungan pangeran pertama, anda tidak akan rugi. Meskipun harus dengan satu syarat."
"Syarat?"
"Anda tidak keberatan jika saya mengajukan satu syarat?"
"Tergantung syarat apa yang lady inginkan."
Daniela menghela napas. "Jika saya berhasil membuat lady memenangkan kasus perceraian dengan mendapat lima puluh persen atau lebih dari harta count, termasuk dengan tunjangan anak-anak sampai dewasa dan kompensasi karena membuat anda terluka. Saya ingin dua puluh persen dari apa yang anda dapatkan, dikurangi tunjangan anak-anak, tentunya."
Kedua mata countess Ava terbelalak ngeri. "Bagaimana bisa anda mendapatkan harta sebanyak itu dari count? Selama ini tidak ada yang pernah mendapat uang perceraian, rata-rata para istri hanya bisa membawa gaun dan perhiasan, meninggalkan anak di bawah pengasuhan ayahnya supaya dirawat dengan baik."
Daniela tersenyum lebar. "Saya yakin, seorang ayah yang sudah menikah lagi tidak akan peduli dengan anak-anak lamanya. Kaum pria tidak pernah merasakan namanya melahirkan."
Countess Ava menggigit bibirnya dengan gugup. "Anda yakin saya mendapat perlindungan selama tuntutan?"
"Pangeran pertama akan melindungi anda, selama saya bekerja. Berlindung di kuil jauh lebih aman jika anda ingin menyelamatkan diri, saya sudah bertanya pada pendeta agung dan beliau mau menerima anda." Daniela tersenyum lebar tanpa merasa bersalah. Masa bodoh jika di akhir pendeta agung marah kepadanya, yang penting dia akan mendapat uang banyak dari kompensasi yang diberikan count.
"Saya-"
___________
"Apa? Kamu menjual namaku untuk melindungi countess Ava? Kamu gila?"
"Tidak ada yang lebih gila dari ini, pangeran pertama. Anda tahu count Ava salah satu pria terkaya di kekaisaran, kita tidak bisa melewatkan hal ini begitu saja." Daniela mengangkat kedua bahu dengan santai.
Begitu pulang, Daniela bergegas cerita dan meminta bantuan kepada pangeran pertama.
Edrik memijat keningnya. "Kamu- benar-benar sembrono. Bagaimana jika gagal? Bukankah countess akan mendapatkan masalah lebih parah lagi?"
"Gagal?"
"Apakah kamu tidak memikirkan kemungkinan gagal?"
"Kenapa anda berpikir akan gagal?"
"Kaisar, kaisar pasti tidak akan setuju."
"Anda takut pada kaisar?"
"Tidak, tentu saja. Aku hanya memikirkan nasib ibuku di tangan kaisar."
"Kalau begitu tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, bukti sudah ada banyak dan tidak mungkin gagal. Anda harus lebih percaya diri, pangeran pertama." Daniela menepuk punggung pangeran pertama dengan sekuat tenaga lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Pangeran pertama mengekori Daniela yang hendak ke kamar mandi. "Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada ibuku."
Daniela balik badan dan menatap mata pangeran pertama yang tinggi sambil menunjuk dadanya dengan jari. "Kita tidak tahu masa depan jika tidak mencobanya, saya tidak akan menyerah selama bisa mendapatkan uang dan membantu permaisuri."
"Kamu-"
BRAK!
Daniela menutup pintu tepat di depan wajah pangeran pertama.
Edrik menggedor pintu dengan kesal. "Baik, aku akan membantu. Jika gagal, aku akan menuntut!"
"Tidak masalah." Jawab Daniela dengan santai di balik pintu.
Edrik menjadi kesal dengan jawaban santai Daniela dan pergi menjauh dari pintu kamar mandi yang ditutup.
_______
Countess Ava yang baru pulang, disambut kepala pelayan dan para pelayan lainnya.
"Count?" tanya countess Ava.
"Count sedang di luar, di rumah ada nona Evelyn dan putranya."
Countess Ava yang sedang menaiki tangga, berhenti. Menatap pintu yang terbuka dengan benci.
Kepala pelayan menjadi cemas. "Countess-"
Countess Ava kembali melangkah dan masuk ke dalam rumah, terdengar suara tawa anak laki-laki dan wanita dewasa.
Evelyn yang menyadari kehadiran countess, berdiri. "Kakak, sudah pulang?"
"Siapa yang kamu panggil kakak?" tanya countess dengan acuh lalu berjalan meninggalkan Evelyn.
Evelyn tertawa dengan lembut. "Kakak tidak takut dengan count? Count sudah menyuruhku tinggal di sini bersama putra kami, jadi seharusnya kakak bersikap sopan kepadaku. Pewaris rumah ini adalah putraku, bukan anak-anak kakak."
Countess menghentikan langkahnya lalu teringat dengan perkataan Daniela.
'Di kekaisaran sangat wajar jika seorang pria mencari selingkuhan untuk mendapatkan pewaris, tapi lama kelamaan tren ini disalah gunakan para pria untuk berselingkuh. Salah satu contoh adalah kaisar, jika anda bersedia mendukung saya untuk membuat undang-undang kekerasan rumah tangga yang mengarah ke perselingkuhan. Permaisuri dan pangeran pertama tidak akan melupakan jasa anda.'
'Tapi, tubuhku akan dipertontonkan sebagai bukti?'
'Saya hanya menunjukan bagian luka, bukan seluruh tubuh. Jangan khawatir countess, anda tidak akan rugi. Kuil juga akan mendukung anda.'
Countess Ava tertawa terbahak-bahak dan menatap rendah Evelyn. "Aku terlahir sebagai bangsawan, dan kamu hanya pelacur. Jangan bertindak tidak tahu diri."
"Kamu-"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
AK_Wiedhiyaa16
Lama2 Daniela bisa jadi pengacara di dunia tersebut😁😁
2022-11-05
2