Setelah Edrik membawa ember yang sudah dicuci bersih bersama dengan air, dan helm perangnya terselamatkan. Dia membantu Daniela membersihkan makanan, dengan air sementara Daniela membuat sup dari tungku yang ditemukannya di dapur.
Edrik mencucinya dengan bersih.
Daniela menatap kagum tangan cekatan Edrik. "Ternyata anda tahu kebersihan ya?"
"Aku terlahir sebagai bangsawan, tentu saja mengutamakan kebersihan. Aku suka melihat semuanya bersih, hanya saja aku terlalu malas melakukannya sendiri."
Daniela tertawa.
Edrik meletakan piring di ember berisikan air, sesuai permintaan Daniela.
"Terima kasih sudah menyalakan lilin di sepanjang jalan," ucap Daniela. Berkat itu, dia tidak ketakutan lagi.
Edrik menepuk perutnya dengan bahagia, sudah lama tidak makan makanan seenak ini. "Sekarang, kamu cerita. Ada hubungan apa adikku dengan adikmu?"
Daniela memeluk lutut sambil menatap api perapian. "Pangeran mahkota mencintai Ella, saya diputuskan beberapa hari lalu demi dia."
Edrik terkejut.
"Tidak apa, saya tidak bisa memaksakan perasaan orang lain." Daniela tertawa lebar. "Saya hanya bisa berdoa."
Edrik tidak percaya. "Adikku sangat menyukai kamu, saat aku di istana- dia selalu menceritakan kamu."
"Benarkah? Saya tidak tahu." Daniela menatap tidak percaya Edrik.
"Aku akan menegurnya jika sudah di istana."
"Tidak, tidak perlu." Daniela memaksakan diri untuk tertawa lalu tiba-tiba air mata mengalir. "Aduh, kenapa tiba-tiba keluar sih?"
Edrik menarik kepala Daniela untuk bersandar di dadanya. "Tidak perlu cemas, kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik. Aku akan mencarikannya untuk kamu!"
Daniela tertawa pelan lalu mulai menangis.
Edrik menepuk ringan kepala Daniela. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa."
Tidak lama Daniela jatuh tertidur.
Edrik menutup mulutnya dengan punggung tangan dan wajah memerah. "Gawat! Aku memang lemah!"
-------------
Pagi hari, Daniela terbangun dengan mantel besar di tubuhnya. Dia mencari sosok Edrik yang tidak ada.
Daniela berjalan ke tangga dan melihat Edrik membersihkan perabotan rumah yang mulai menua. Rasanya aneh melihat sosoknya melakukan pekerjaan yang dikerjakan pelayan.
Bahkan dia tidak terlihat canggung, apakah kehidupan di istana sangat keras?. Tanya Daniela di dalam hati.
Edrik yang sedang memunggungi Daniela, menyapanya. "Pagi, apakah kamu nyenyak tidur?"
"Ya, pangeran. Terima kasih." Daniela tertawa canggung.
"Tidak masalah, barang-barang ini mau dikemanakan?"
"Apakah anda tahu nilai semua barang-barang itu?"
"Ya, aku punya toko barang antik."
Daniela baru mengetahuinya. "Oh ya?"
"Aku selalu melakukan perjalanan ke berbagai tempat, untuk mengurangi kebosanan- aku membawa beberapa barang dan permaisuri menyuruhku membuka toko lalu menjual barang-barang antik."
"Toko barang antik bukankah barang-barang yang sudah lama?" tanya Daniela tidak mengerti.
"Di tempatku tidak hanya barang-barang lama tapi juga barang unik. Para bangsawan, pedagang dan orang kaya senang berkunjung ke tempat itu."
"Hm, kalau begitu bisakah anda memisahkan barang yang berguna dan tidak selama saya pergi ke kuil?"
Edrik balik badan dan mendongak. "Kuil? Untuk apa kamu ke sana?"
"Saya ingin berdoa kepada dewa dan melaporkan beberapa hal selama di dunia ini."
"Tidak kusangka kamu orang yang sangat religius."
Daniela tertawa canggung. "Hahahaha-"
Edrik tidak tahu niat sesungguhnya Daniela ke kuil.
Setelah puas menangis semalam di dada Edrik yang bidang, entah bagaimana Daniela ingin meluapkan emosi kepada dewa.
Setibanya di kuil dan membawa cat yang sudah disimpan di dalam keranjang, disembunyikan diantara camilan dan buku.
Daniela bergegas menuju kuil utama tempat patung dewa kehidupan dan para pengikutnya berdiri.
Daniela melihat wajah sombong patung yang dikenalnya. "Ah, kita bertemu lagi, dewa. Untung saja penjaga kuil mengizinkan aku masuk sebelum yang lainnya datang."
Daniela tersenyum lebar. "Aku bahkan tidak peduli dengan hukuman menanti, sekarang aku kesal dan butuh pelampiasan."
Daniela mencoret-coret patung dewa kehidupan.
"Memangnya kenapa bunuh diri? Seharusnya dewa menegur orang-orang yang menyakitiku! Bukannya malah aku yang dihukum!"
"Apakah dewa buta?"
"Dewa, aku tidak akan pernah memaafkan tindakan semena-mena ini!"
Daniela menuliskan kata bodoh di patung dewa bagian baju lalu membuat kumis dan membuat gigi tajam di bibirnya.
Daniela mengusap keringat di dahi dengan puas. Dewa dan para pengikutnya sudah mendapatkan hadiah tidak ternilai dari lady Aelthred.
Plok! Plok! Plok!
"Karya seni yang indah, lady."
Daniela terkejut lalu balik badan. Tadinya dia sudah bersiap akan mendapat hukuman dari kuil, tapi tidak disangka akan bertemu dengan pendeta agung. "Kenapa anda yang muncul?"
"Hm? Apakah saya tidak boleh muncul di tempat ini?"
Daniela memijat keningnya dengan bingung. "Tidak, tidak. Ini pasti kesalahan, bukankah pendeta agung sedang berdoa di kuil lain?"
"Saya ingin berdoa di kuil utama, tapi tidak disangka menemukan keadaan yang menarik. Lady, silahkan dilanjut. Saya amati dari sini."
Daniela tidak tahu kenapa dirinya bisa segila ini, yang dia tahu hanyalah meluapkan emosi semalam. "Tidak pendeta, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Katanya sambil berlutut di bawah kaki pendeta agung.
Pendeta agung memiliki hubungan yang baik dengan permaisuri, Daniela sadar perilakunya akan bocor keluar tapi dia tidak ingin permaisuri melindunginya terus-terusan.
"Tolong jangan sampai permaisuri tahu hal ini."
"Sepertinya sulit, karena saya butuh orang untuk membersihkannya. Lady tidak mau membersihkan bukan?"
Daniela menolaknya.
"Lady, saya tidak tahu ada dendam apa, lady dengan dewa kehidupan. Tapi tidakkah tindakan anda sudah membuat marah dewa?"
Daniela tidak bisa mengatakan bahwa dewa kehidupan sudah marah kepadanya. "Dewa kehidupan tidak adil."
Pendeta agung menjentikkan jari. Pintu kuil dikunci lalu jendela yang masih ditutup, dihalangi sihir supaya tidak ada yang mencuri dengar atau mengintip. "Ada apa? Lady bisa bicara kepada saya, tapi sebelumnya- saya harus duduk."
Daniela bangkit dan melihat pendeta agung duduk di kursi jemaat. Dia terkejut melihat wajah pendeta agung yang tampan dan terlihat masih muda.
"Jadi, lady bisa cerita."
Daniela tersadar dari lamunan lalu mulai bicara. "Saya benci dengan dewa kehidupan yang membuat hidup saya sengsara, pendeta agung."
"Lady terlahir sebagai bangsawan, bukankah harus bersyukur karena hidup nyaman?"
"Hidup saya tidak pernah nyaman jika keluarga ayah kandung saya menderita."
"Dendam dilarang Dewa."
"Menyakiti orang lain juga dilarang dewa," balas Daniela.
Pendeta agung menatap lurus Daniela. "Lady-"
"Pendeta pasti sudah mendengar gosip tentang saya."
Pendeta agung tersenyum maklum. "Lady, terlepas dari alasan apa pun- saya tidak bisa menahan mulut orang lain mengenai masalah ini, lebih bijak saya menghukum anda."
"Tidak masalah, saya sudah siap."
Pendeta agung menghela napas panjang. "Permaisuri sangat mengharapkan lady untuk bisa selalu disampingnya, tolong jangan mencoreng nama baik beliau."
"Saya mengerti."
"Hapus coretan di patung, saya yang akan mengawasi anda."
Gawat!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments