Pagi hari Countess Ava datang sendiri dengan punggung membungkuk tidak percaya diri dan menggunakan topi berbentuk cartwheel hat berwarna hitam dan jaring menutupi seluruh wajah.
Countess Ava mengenakan gaun serba hitam seolah sedang berduka.
Para bangsawan yang hadir di dalan kuil dan melihat countess Ava berjalan melewati mereka, sontak bergosip.
"Aku dengar count Ava selingkuh dengan seorang penari dan membayar mahal untuk menarikan tarian telanjang."
"Aku juga sudah mendengarnya, penari itu sekarang sudah mengandung anak count."
"Seharusnya countess Ava bisa menyenangkan suami dan tidak perlu melakukan hal konyol seperti itu, sudah biasa para suami selingkuh di luar sana."
"Benar, selama suami kita bisa memberikan uang dan keamanan di masa depan, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Ah, melihat dia memakai pakaian berkabung membuat aku kesal. Memangnya bisa menarik simpati dengan cara begitu?"
Daniela yang sedang membantu pendeta tinggi dengan menulis data bantuan yang diberikan para bangsawan sebelum berdoa, berusaha menabahkan diri.
Mau di kehidupan modern ataupun masa lalu, pemikiran para istri yang merasa sudah banyak mengecap asam garam kehidupan memang terlihat konyol di matanya, padahal kehidupan manusia berbeda.
Daniela tanpa sengaja melirik gaun lengan tangan yang tertarik ke atas ketika menyerahkan sebuah kotak ke dia, ada warna biru di tangannya.
Daniela mengedipkan mata, jadi rumor yang dia dengar di masa lalu memang benar adanya. Count melakukan kekerasan rumah tangga kepada countess dan satu tahun ke depan, countess meninggal karena sakit.
Tidak ada yang peduli dengan kondisi countess, bahkan keluarganya sendiri. Semua menyalahkan countess yang menarik diri dari pergaulan dan berpenampilan tidak menarik sehingga count berani selingkuh.
Countess cepat-cepat menutupi tangannya ketika Daniela menerima kotak itu.
"Terima kasih, countess Ava." Senyum Daniela lalu mencatat dan memberikan arahan countess untuk tanda tangan.
"Tanda tangan?" tanya countess tidak mengerti. "Kenapa harus tanda tangan? Sebelumnya tidak pernah."
"Peraturan baru kuil, countess." Jawab Daniela dengan ramah, sebenarnya dialah yang membuat peraturan baru itu untuk menghindari kecurangan dari kedua belah pihak.
"Bagaimana jika saya menyuruh pelayan untuk mengirim donasi?" tanya countess.
"Kami akan memastikan bahwa pelayan itu adalah suruhan countess, dan pelayan harus tanda tangan. Jika ingin dipercepat, anda bisa memberikan surat kuasa dengan tulisan anda sendiri dan diberikan kuil."
Countess Ava tanda tangan. "Apakah ada kecurangan sebelumnya?"
"Untuk saat ini belum dan jangan sampai, pihak kuil hanya ingin memberikan kenyamanan untuk para bangsawan sehingga jika ada masalah di masa lalu, tidak ada yang mempermasalahkannya."
Sebenarnya ada satu kasus yang membuat kuil tidak bisa berbuat banyak, salah seorang baron memberikan donasi untuk kuil lalu baroness marah karena donasi yang diberikan terlalu berlebihan, dan menuntut kuil untuk mengembalikan sebagian donasi.
Kuil terpaksa menggantinya karena uang donasi sudah dipakai untuk kebutuhan pengungsi dari luar kota tapi para pendeta juga tidak punya jalan keluar terbaik untuk meminimalisir kejadian terulang kembali sementara pendeta agung tidak bisa ikut campur masalah donasi, hanya bisa mendengar masalah dari tangan kanan.
Lebih tepatnya pendeta agung terlalu malas mengurus hal seperti ini.
Daniela yang mendengar itu sontak mengeluarkan pendapat dan langsung disetujui pendeta agung tanpa berpikir dua kali.
"Oh, begitu." Countess Ava menyerahkan pena bulu ke Daniela.
Daniela menatap countess Ava dengan cemas. "Countess, jika ada masalah- ada ruang berdoa dan anda bisa bicara ke pendeta."
Countess Ava tersenyum sedih. "Terima kasih sarannya."
Setelah mengatakan itu, countess pergi meninggalkan Daniela yang duduk di kursinya.
Daniela bertanya ke pendeta tinggi yang duduk di sampingnya, para pendeta muda mengurus para bangsawan yang hendak menuju ke ruang doa. "Pendeta tinggi Rahul."
"Ya?"
"Apakah countess Ava rajin datang ke kuil? Berapa minggu sekali? Untuk berdoa atau hanya donasi?"
"Duke, perkataan anda sangat tidak sopan."
Daniela terkejut, dia baru bertemu Rahul pagi ini dan dipanggil duke? Sementara yang lain memanggil dirinya lady. "Kenapa anda memanggil saya duke?"
"Karena anda pemilik duchy Aelthred, apakah saya salah?"
Daniela menggeleng cepat lalu teringat dengan countess Ava, sekarang meja donasi sudah sepi karena para pengunjung masuk ke ruang doa. "Pendeta tinggi, tolong jawab pertanyaan saya."
"Countess Ava rutin ke kuil setiap hari veneris, saturni, dan solis untuk berdoa lalu melakukan donasi di hari lovis."
Daniela mencoba mengingat nama hari di Helcia, kalau tidak salah di internet ada tentang ini.
Solis untuk hari minggu, lunae atau dibaca lune untuk hari senin, martis untuk hari selasa, mercuri untuk hari rabu, lovis untuk hari kamis, veneris untuk hari jumat, untuk hari sabtu.
Lalu kenapa donasi di hari kamis, sekarang? Kenapa tidak di hari lain?
Pendeta tinggi Rahul teringat sesuatu. "Kalau tidak salah saya sempat mendengar lelucon diantara bangsawan."
"Lelucon?"
"Malam lovis adalah malam baik untuk pasangan suami istri dan merupakan kewajiban untuk istri melakukan hubungan suami-istri. Para bangsawan yang mendengar countess Ava memberikan donasi di hari lovis, mengeluarkan lelucon lucu."
Kenapa selama ini aku tidak tahu mengenai malam lovis? Di dunia ini?! Teriak Daniela di dalam hati.
"Sudah menjadi rahasia umum bahwa count Ava suka selingkuh, countess memberikan donasi kemungkinan sudah melakukan malam lovis dan memberikan donasi untuk mendapatkan berkah supaya count tidak selingkuh." Tawa pendeta tinggi Rahul.
Daniela tercengang.
"Ah, tentu saja anda tidak tahu malam lovis karena hanya pasangan suami istri yang sering ke kuil mengetahuinya."
Pantas saja!
Daniela menepuk kening dengan gemas, di masa lalu dirinya tidak memiliki hubungan baik dengan kuil.
"Karena itu, duke. Jangan terlalu ikut campur rumah tangga orang lain," saran pendeta tinggi Rahul.
Daniela hanya tersenyum lebar, instingnya mengatakan bisa mendapatkan uang banyak dari countess Ava, apalagi count Ava juga kaya raya.
Pendeta tinggi Rahul menatap curiga Daniela. "Duke, jika bertindak macam-macam- saya akan mengadu ke pendeta agung."
"Laporkan saja."
Daniela tidak takut dengan pendeta agung lalu melihat countess Ava tiba-tiba keluar dari ruang doa sebelum selesai.
Daniela bergegas mengikutinya sambil memastikan alat pengintai aman di dalam kantong. "Pendeta tinggi, tiba-tiba saya ada urusan. Saya serahkan semuanya kepada anda." Pamitnya.
Pendeta tinggi Rahul terpana melihat kenekatan Daniela sambil menggelengkan kepala.
Sementara pangeran pertama sedang berdebat dengan Zoe dan Zuu untuk menempatkan tempat tidur di ruang perapian.
"Aku sudah terbiasa tidur di mana pun, jadi tidak." Tolak pangeran pertama.
"Bagaimana jika kita memperbaiki salah satu kamar supaya anda tempati dan tidak perlu berbagi dengan lady?"
Edrik menolak dengan tegas. "Tidak! Untuk memperbaiki satu kamar akan sia-sia karena kita harus perbaiki seluruh pondasi rumah. Kita tidak boleh membuat Vilvred curiga!"
Zoe dan Zuu berteriak di dalam hati. Pangeran pertama, bilang saja anda ingin bersama lady!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Hikam Sairi
modus banget nih pangeran /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Hammer/
2024-05-30
0