Pagi hari, Jia Li membuka matanya dengan perlahan, menggerakkan tubuhnya yang sangat sakit dan lelah. Jia Li belum sepenuhnya sadar dengan apa yang di alami tadi malam bersama dengan suami hantunya.
Perlahan ia menggerakkan tubuhnya. Namun ada sesuatu aneh yang di rasakan nya. Rasa sakit di bagian inti nya.
"Uh, kenapa sakit sekali?" gumamnya mencoba bangun.
Namun saat tangan itu menumpu tubuhnya, ia menyentuh tubuh seseorang. Jia Li menoleh, di lihatnya suaminya masih terlelap di sampingnya. Melihat suaminya yang masih memejamkan mata, Jia Li terkejut. Ia mendelik dengan apa yang di lihatnya, suaminya tidak mengenakan pakaiannya.
Ia menatap tubuhnya dan ternyata sama, ia juga tidak memakai pakaian, hanya selimut yang menutupi tubuhnya. Jia Li diam, memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ingatan tentang malam panas dengan suaminya berputar di otaknya.
Mengingat semuanya, Jia Li menelan ludah dengan kasar dan dengan napas memburu. Ia sangat marah dengan suaminya karena telah memaksanya melakukan hal itu.
Bugh,
Jia Li memukul tubuh suaminya.
Xiao Zhan yang merasakan pukulan itu perlahan membuka mata. Saat sepenuhnya bangun, pertama yang di lihatnya adalah wajah cantik istrinya. Namun tidak senyuman yang ia dapat, melainkan wajah garang istrinya yang ia dapatkan.
"Apa yang terjadi?" batin Xiao Zhan belum sadar bahwa Jia Li marah karena perbuatannya.
"Ada apa sayang?" tanya tanpa merasa bersalah.
"Dasar mesum, badjingan!" Marahnya memukul tubuh itu dengan kuat. Xiao Zhan hanya diam, sedikit menghalau pukulan itu dengan tangannya.
Jia Li tidak ingin berkelahi. Karena jika sampai ia berkelahi dan mengeluarkan kekuatan, sudah di pastikan Ayah dan Kakaknya akan tahu apa yang terjadi. Yah, walaupun marah, Jia Li masih dapat berpikir dengan benar.
"Kenapa kamu marah sayang?"
"Berhenti memanggil ku sayang! Aku marah pada mu," Pukulnya dengan terus-menerus.
"Kenapa marah? Memang apa yang ku lakukan?" tanyanya belum sadar dengan apa yang di lakukan nya tadi malam.
"Dasar hantu mesum! Kau mengambil sesuatu yang berharga milik ku. Dan berani nya kau memaksa ku!" kesalnya benar-benar ingin mencabik-cabik pria tampan di depannya.
Mendengar itu Xiao Zhan langsung sadar apa yang di maksudkan istrinya. Ia tersenyum dan malah menarik pinggang istrinya, menyentuh dagu itu dengan senyum manisnya. Senyum yang bisa membuat siapapun akan terpesona dengan pria hantu itu.
"Mau apa?" tatap Jia Li dengan tajam.
"Mengulang kembali tadi malam," jawabnya tanpa memikirkan Jia Li akan semakin marah dengannya.
Jia Li menatap tidak percaya. Apa-apaan maksud nya? Mengulang kembali? Tidak, tidak! Dia tidak mau. "Aku tidak mau. Dan jangan macam-macam!"
"Kenapa? Bukankah itu nikmat sayang? Bahkan tadi malam kamu mende-sah di bawah ku," ucapnya tanpa rasa malu.
"Aku tidak sudi. Jika kamu berani mela___" Belum selesai Jia Li menyelesaikan kata-katanya, tubuhnya sudah di serang oleh Xiao Zhan. Dan akhirnya, Jia Li kembali di paksa oleh suami hantu nya yang saat ini memiliki raga seperti tadi malam, menikmati pagi indah penuh dengan desa-han.
.
.
Jia Li yang sudah mandi dan berpakaian rapi, terus menggerutu kesal dengan suami hantunya itu. Ia sungguh di buat tidak berdaya dengan pria setan itu, Tidak bisa menolak ataupun melawan. Sungguh nasib sial, pikirnya.
"Dasar hantu cabul, sungguh dia gila sekali sampai membuat pinggang ku sakit," kesalnya merasakan pinggangnya yang mau patah karena di gempur tanpa berhenti sampai hantu sialan itu puas.
Jia Li pergi ke meja makan. Disana seperti biasanya, ayah dan kakaknya menunggu kedatangannya untuk sarapan bersama.
"Makanlah," Yang Li menyerahkan piring berisi makanan kepada Jia Li, menaruhnya di depannya.
"Terimakasih, kak," jawabnya dengan memberikan senyum manisnya.
Yang Li balas tersenyum, sambil mengelus rambut adiknya. Namun tak sengaja ia melihat sesuatu di leher adiknya, sebuah tanda merah yang sangat ia kenali.
"Tanda itu? Tidak mungkin. Pasti aku salah melihat," batinnya berpikir, mungkin apa yang di lihatnya salah. Tidak mungkin itu sebuah tanda kecupan.
Namun ia kembali memastikan, melihat ke arah adiknya dengan kening berkerut. Memastikan apakah ia salah atau tidak. Namun menurutnya itu tidak salah. Itu benar-benar tanda kecupan.
Jenderal Chang Li yang melihat Yang Li langsung bertanya, "Ada apa? Apa ada yang salah dengan adik mu? Ayah lihat kamu terus menatap adik mu?"
Jia Li yang mendengar langsung menoleh, menatap kakaknya. "Ada apa kak?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja kamu hari ini nampak berbeda. Terlihat lebih cantik dari biasanya," jawabnya dengan tersenyum. Jia Li yang mendengar terkekeh. Sedangkan Jenderal Chang Li tidak percaya begitu saja, menurutnya sangat aneh karena tidak seperti biasanya putranya seperti itu.
Setelah sarapan pagi selesai. Jia Li pergi ke pasar untuk jalan-jalan, dengan di temani dayang pribadinya. Melihat-lihat sesuatu yang mungkin saja membuatnya tertarik. Sedangkan Yang Li langsung memerintahkan bawahannya untuk menyelidiki, kemana adiknya beberapa hari ini. Dan dengan siapa dia bersama. Namun saat mendengar laporan bahwa Jia Li tidak pernah pergi kemanapun selain kelas musik, ia begitu frustasi. Apalagi saat mengingat tanda merah di leher adiknya.
"Jika dia tidak bersama dengan pria manapun di luar sana, lalu tanda itu dari mana?" gumamnya berpikir. "Tidak mungkinkan Jia Li bersama seseorang saat di kediaman ini?" pikirnya keras. Jika Jia Li membawa pria ke kediaman Li sudah di pastikan para penjaga akan mengatahui. Tapi ini tidak seorang pun mengetahui hal itu. Jika ada seorang penyusup pasti bawahan nya akan langsung melaporkan.
Sungguh Yang Li benar-benar pusing memikirkan nya.
Yang Li yang saat ini ada di tempat para prajurit kekaisaran berlatih, bengong memikirkan tentang adiknya. Jenderal Chang yang melihat langsung menghampiri dan duduk di samping putranya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Ayah lihat kamu seperti memikirkan sesuatu hal?" tanyanya ingin tahu.
"Ya, aku sedang memikirkan sesuatu ayah."
"Apa? Katakan. Siapa tahu ayah bisa membantu," jawabnya sambil menatap wajah putranya yang tampan.
"Ini tentang Jia."
Jenderal Chang Li yang mendengar mengerutkan kening, berpikir ada apa dengan putrinya.
"Memang ada apa dengan Jia?" tanyanya dengan rasa penasaran tinggi.
Yang Li pun menceritakan tentang apa yang di lihatnya dileher adiknya, tentang tanda merah hasil dari kecupan seorang pria. Jenderal Chang Li yang mendengar penjelasan itu terkejut, sungguh benar-benar tidak dapat di percaya.
"Ayah, aku sudah menyelidikinya. Dan Jia tidak pernah bersama dengan pria manapun. Tapi aku ragu jika Jia tidak melakukan hal itu, karena adanya tanda itu . Jadi bagaimana kalau kita carikan calon untuk Jia saja?"
"Baiklah, mungkin itu ide yang bagus," jawabnya mengangguk, menyetujui usul putranya.
.
.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments