Kei berjalan pelan menuju kelas. Hari ini dia akan memastikan Tania tidak mengingat apapun kejadian malam itu. Kei bahkan tidak bercerita pada Ian tentang kejadian malam itu. Hanya dia dan Bian yang tahu. Dia jadi bersyukur Bian tidak memberi tahukan siapapun.
Kei masuk kedalam kelas dan melihat Ian yang sudah duduk manis di sebelah Anne. Kei tidak berangkat sekolah dengan Ian hari ini. Dia membiarkan Ian menjemput Anne. Awalnya Ian menolak tapi setelah di bujuk, akhirnya Ian setuju. Kei merasa kasihan dan bersalah pada Ian yang masih belum dapat kepastian dari Anne. Kei sebenarnya bingung kenapa Anne bersikap acuh pada Ian. Meskipun Dia sering melihat Anne tampak merona dan malu-malu tapi ada saatnya Anne seperti memasang dinding tinggi untuk memisahkan Anne dari Ian. Kei berpendapat mungkin Anne pernah di sakiti oleh laki-laki atau memang dia masih tidak percaya pada Ian.
Kei mencari-cari sosok Tania tapi Tania belum datang. Kei dengan santainya berjalan ke tempat duduknya. Baru saja dia duduk, Tania datang dengan senyuman di wajahnya. Tania menyapa semua orang. Saat matanya dan Kei bertemu, Tania langsung tertunduk malu. Kei yang melihat itu, tersenyum simpul.
"Tania, kamu kemana saja kemarin? Aku telpon tapi tidak di angkat." Casey angkat bicara.
"Kemarin? Kapan?" Tania bingung.
"Sekitar jam lima lewat." kata Casey. Kei menoleh. Itu saat Tania dia serang oleh serigala Hybrid itu. Kei tampak gugup menunggu jawaban Tania.
"Ah.. Itu. Aku tidur." jawab Tania santai.
"Tidur? Wahh tumben sekali kamu tidur secepat itu." sahut Casey. Tania hanya terkekeh.
"Aku juga tidak tahu. Bahkan aku masih mengenakan seragamku."
"Sampai pagi?"
"Mm.. Sampai pagi. Hebatkan?" Tania tertawa geli. Casey hanya menggelengkan kepalanya.
'Jadi... Dia memang tidak ingat.' ucap Kei dalam hati.
Tak lama masuk seorang gadis di temani ke dua temannya. Ketiga gadis itu tampak malu-malu lalu mendekati Kei. Kei yang sudah mengetahui apa yang akan terjadi langsung memasang wajah dinginnya.
"Uhmm... Kak.." kata gadis itu ragu. Dia tampak sangat gugup di tambah Kei menatap gadis itu tajam. "Ini buat kakak."
Gadis itu memberikan sebuah bingkisan pada Kei. Kei menatap bingkisan yang terbalut rapi itu sejenak lalu menatap gadis itu.
"Apa itu?" tanya Kei datar.
"Buat kakak." kata gadis itu. Gadis itu merupakan adik kelas Kei.
"Bawa pergi. Aku tidak mau." sahut Kei lalu membuang wajahnya ke arah lain.
"Tapi ini hanya kue kak, buatan sendiri. Kakak bisa berbagi dengan teman kakak. Jadi-"
"Kamu ini cerewet sekali sih." potong Kei kesal. Gadis itu menunduk. "Aku bilang bawa pergi, aku tidak mau."
Gadis itu semakin menundukkan wajahnya. Ian melihat itu langsung menggelengkan kepalanya.
'Kumat lagi tuh anak dinginnya.' gumam Ian.
Tania juga memandang Kei. Dia merasa kesal pada Kei yang seenaknya. Tania jadi merasa kasihan pada gadis itu.
"Apa kamu tidak bisa mengambilnya saja?" kata Tania angkat bicara. Kei menoleh.
"Tidak." jawab Kei singkat, padat dan jelas. Tania mengepalkan tangannya.
"Kasihan dia. Terima saja." kata Tania kesal.
Kei menatap Tania tajam lalu dengan segera menghela nafas agar dia tidak marah pada Tania. Kei tiba-tiba berdiri dan mendatangi Tania.
"Hari ini bukan ulang tahunku Tania dan juga bukan hari yang spesial. Dia juga bukan pacarku. Jadi aku tidak mau menerimanya karena aku tidak suka. Terserah jika dia melakukan itu pada semua laki-laki yang di sukainya atau dia ngefans. Aku tidak perduli tapi tidak padaku. Aku tidak suka. Jadi aku harap kamu mengerti dan jangan merubah keputusanku." kata Kei berusaha selembut mungkin lalu mengacak pelan rambut Tania dan beranjak pergi.
Tania terkejut dengan sikap Kei yang begitu lembut padanya. Bahkan Kei sempat mengacak pelan rambutnya. Hal itu membuat detak jantung Tania tidak karuan. Dia bahkan masih bengong ria di tempatnya. Ian tersenyum simpul. Sementara Casey dan Anne juga ikutan bengong.
****
Tania POV
Aku duduk di kanting dengan masih mengerjapkan mataku berulang kali, masih mencerna dengan apa yang di katakan Kei dan juga sikapnya padaku. Aku tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu. Aku menghela nafas. Sudah sekian kali aku menghela nafas.
"Tania, kamu kenapa sih?" tanya Casey. Dia menatapku khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa." kataku dengan pelan lalu menghela nafas lagi.
"Ini sudah yang ke tujuh kalinya kamu menghela nafas. Ada apa sih? Apa ada masalah di rumah?" tanya Casey lagi. Aku tersenyum lalu menggeleng. Aku tahu dia mengkhawatirkanku. Aku hanya takut pada diriku yang sepertinya..... Ahh aku bahkan sulit untuk mengatakannya.
Aku melihat Anne duduk di sebelah Ian. Ian membelai lembut rambut Anne. Anne hanya tersenyum manis. Aahhh Anne beruntungnya kamu.
Di kantin hanya ada aku, Casey, Ian dan Anne. Aku tidak tahu kemana Kei. Semenjak kejadian di kelas tadi, Kei menghilang entah kemana. Bahkan dia tidak masuk kelas. Dia bolos.
Tiba-tiba ada yang duduk di sebelahku. Aku menoleh dan mendapati Kei disana.
"Kei, dari mana saja kamu? Kenapa tidak masuk kelas tadi?" tanya Ian.
"Tidur, di UKS." jawabnya cuek. Astaga cowok satu ini. Enak sekali dia tidur.
"Tania." panggil seseorang di belakangku. Aku berbalik dan melihat Mark sudah berada di depanku.
"Oh hai Mark." sahutku canggung.
"Apa kita bisa berbicara?" tanya Mark. Aku terperangah tapi dengan cepat aku tepis.
"Bisa. Mau berbicara apa?" sahutku.
"Berdua saja. Empat mata." kata Mark membuatku terkejut. Kenapa dia mau berbicara empat mata saja denganku? Apa ada sesuatu yang sebegitu pentingnya?
"Tania." panggil Mark membuyarkan lamunanku.
"Eh? Oh? Iya... Ayo.." ajakku. Aku berdiri tapi ada tangan yang menarikku hingga aku terduduk kembali. Aku menoleh dan melihat Kei yang memegang tanganku.
"Kalau mau berbicara, disini saja." kata Kei. Aku sedikit terkejut dengan itu.
"Tidak ada urusannya denganmu." kata Mark terlihat tidak suka.
"Tentu saja urusanku." kata Kei tidak mau kalah. Kenapa dengan anak ini?
"Kalau begitu disini saja ya Mark?" pintaku pada Mark. Tania juga merasa tidak enak pada Casey. Dia tahu Casey menyukai Mark dan sedari tadi Casey hanya diam saja. Mark menghela nafas lalu mengangguk.
"Baiklah." katanya akhirnya. Aku menghela nafas lega. "Aku di undang ke pesta ulang tahun Sarah. Apa kamu mau pergi denganku?"
Aku terkejut. Aku terdiam tidak tahu harus berkata apa. Aku menoleh kebelakang melihat Casey. Casey hanya tersenyum tipis padaku. Aku harus bagaimana ini?
"Tania, kamu mau kan?" pinta Mark. Mark menggenggam tanganku. Aku sontak kaget. Tapi tiba-tiba Kei memukul tangan Mark kasar. Mark meringis kesakitan.
"Apa-apaan kamu?!"
"Jangan pegang-pegang."
Aku menoleh pada Kei. Ada apa dengan anak ini?
"Bisa kan Tania?" pinta Mark lagi.
"Tidak bisa, dia akan pergi denganku." kata Kei tiba-tiba. Apa? Kapan aku mengatakan itu?
"Apa itu benar Tania? Kamu pergi bersamanya?"
"Uhmm Mark, aku..."
"Itu benar." kata Kei memotong kata-kataku.
"Aku tidak bertanya padamu." kulihat Mark sudah bertambah kesal.
"Aku hanya membantunya menjawab."
"Sebenarnya apa masalahmu?"
"Masalahku adalah aku tidak suka kamu mendekati Tania." kata Kei. Aku menatap Kei tidak percaya.
"Apa urusannya denganmu?"
"Tentu itu urusanku. Karena dia adalah milikku." kata Kei. What?! Apa-apaan orang ini?! Sejak kapan aku jadi miliknya? Dia benar-benar sudah gila! Aku mengira tadi dia hanya membantuku dari situasi canggung tapi kenapa tiba-tiba aku jadi miliknya? Kei memegang pinggangku dan menggeser tubuhku agar mendekat padanya. Dia menggeser tubuhku dengan mudahnya. Sekarang tubuhku menempel padanya.
"Apa itu benar Tania? Kamu berkencan dengannya?" tanya Mark dengan tatapan kaget. Lalu dia melihat tangan Kei dipinggangku.
"Itu..." aku bahkan tidak sanggup melanjutkan kata-kataku.
"Aku yakin kamu hanya berkata omong kosong. Tidak mungkin Tania berkencan denganmu."
"Apa aku harus menciumnya didepanmu biar kamu percaya?" tantang Kei. Astaga! Astaga, astaga, astaga cowok ini. Dia semakin menggila.
"Apa kamu berani?" tantang Mark. Tidak, ini harus di hentikan. Ini sudah sangat gila.
"Mark." panggilku. "Aku tidak bisa pergi denganmu karena aku sudah berjanji pada Kei untuk pergi bersamanya. Hanya pergi ke pesta bukan berkencan dengannya. Tapi aku berkencan atau tidak, itu bukan bukan urusanmu dan aku tidak perlu memberitahukan padamu." tegasku.
Aku memang berbohong soal pergi dengan Kei. Aku terpaksa. Aku tidak ingin merasa canggung nantinya. Lagipula ini sudah kelewat batas. Aku tidak mau persahabatanku yang jauh lebih lama dari pada aku mengenal Mark sampai rusak gara-gara itu.
"Baiklah kalau begitu. Aku mengerti." Mark tersenyum senang setelah tahu aku tidak berkencan dengan Kei. "Sampai jumpa di pesta."
Aku mengangguk. Mark pergi dengan menatap tajam Kei begitu juga dengan Kei.
"Dan kamu Kei. Seenaknya saja berkata aku adalah milikmu. Aku bukan milikmu. Jangan berkata sembarangan." sahutku lalu melepaskan tangan Kei dari pinggangku dan menggeser tubuhku menjauh dari Kei.
"Terserahlah. Aku kan hanya ingin membantumu." kata Kei lalu membalikkan badannya.
"Whoa Kei, kamu hebat. Aku bahkan tidak mengira kamu berpura-pura tadi." puji Casey. Aku hanya memutar bola mataku jengah.
"Hai ladies..." sapa seseorang. Aku menoleh dan sudah ada Jason yang duduk disebelah Kei dan beberapa anggota wolfs duduk bersama kami.
"Hai Jason." sapa Casey.
"Hai cantik." balas Jason sambil mengedipkan matanya sebelah pada Casey. "Kei apa kamu latihan hari ini? Kemarin kamu tidak datang untuk latihan, membuat kami khawatir. Tapi akhirnya beta memberitahukan bahwa kamu akan bertemu yang terpilih."
"Beta berkata seperti itu?"
"Iya."
Beta? Apa itu?
"Jadi kamu harus latihan hari ini."
"Tentu, aku akan latihan hari ini." kata Kei. Latihan?
"Aku dengar kamu sudah bertemu dengan yang terpilih? Bagaimana rupanya? Aku dengar juga dia perempuan. Apa dia cantik?"
"Dia cantik." kata Kei.
"Benarkah? Ian, apa kamu bertemu dengannya juga?"
"Tentu. Dia sangat cantik." jawab Ian. Dasar anak laki-laki.
"Dari atas sampai bawah cantik juga?" tanya Jason. Tuh kan.
"Dia luar biasa can- aarrgghh....!!!" pekik Ian tiba-tiba. Aku terkejut dan menoleh. Anne sudah mencubit perut Ian berkali-kali. Aku tersenyum geli terlebih pada Ian yang harus minta maaf berkali-kali pada Anne. Kasihan Ian.
"Jadi latihan apa hari ini?" tanya Kei. Aku menoleh ke Kei lagi. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Kemungkinan fisik dan bertarung." jawab Jason. "Para ladies juga boleh ikut."
"Ikut kemana?" tanyaku.
"Ikut melihat kami para laki-laki latihan."
"Latihan apa?" tanya Casey.
"Nanti kamu akan tahu sendiri. Sepulang sekolah ya... Aku mau kekelas dulu. Daaghh Casey.."
"Daaagghh Jason." kata Casey penuh semangat. Dasar anak itu.
****
Tania, Kei, Ian, Anne, Casey, Jason dan Moles berjalan di hutan menuju ke tempat latihan. Awalnya Ian ingin mengantarkan Anne pulang tapi Anne bersikeras untuk ikut Casey dan Tania. Akhirnya mau tidak mau Ian juga ikut.
"Sudah sampai." kata Jason.
"Wow aku tidak tahu jika di dalam hutan ada yang seperti ini." kata Casey mengagumi.
"Luar biasa kan? Tidak semua orang bisa kemari. Kalian beruntung hari ini." sahut Jason.
Di tempat latihan tidak banyak pohon dan semak berlukar, justru luas. Jason meletakkan tasnya ditanah lalu membuka terpal untuk mereka duduki.
"Kita tunggu Jack dan yang lain." sahut Jason. Kei dan Ian mengangguk.
Tak lama Jack dan yang lainnya datang.
"Waahh kalian sudah datang dan siapa dia?" tanya Mike dan nenunjuk para gadis.
"Kenalin, yang pakai kaca mata dan manis itu, Anne, kekasihnya Ian. Dan yang cantik berambut pirang, Casey, yang soon to be my girlfriend. Dan yang terakhir, nona manis itu adalah Tania, kekasih Kei." jelas Jason.
"Hei, hei, hei! Dia bukan kekasihku." protes Kei.
"Sudah jangan protes. Di iyakan saja." kata Jason seenaknya. Kei melirik Tania. Tania sudah tertunduk malu.
"Hai semua, namaku Jake, ini Mike dan Kian." sapa Jake dan tersenyum ramah.
"Hai..." sapa Kian dan Mike bersamaan.
"Ayo kita latihan. Kita pemanasan dulu." kata Jake lalu melepaskan kausnya diikuti dengan Mike dan Kian. Mata para gadis terbelalak kaget. Tak lama Jason dan Moles dan diikuti oleh Kei dan Ian.
'Ya ampun, apa yang mereka lakukan? Apa mereka latihan selalu seperti itu? Bertelanjang dada?' batin Tania.
Para lelaki mulai pemanasan. Push up, sit up, berlari kecil dan pemanasan lainya. Setelah pemanasan mereka mulai bertarung. Beberapa memukul samsak, beberapa bertarung satu sama lain.
Yup jadi disinilah Tania, Casey dan Anne. Melihat teman mereka berlatih dan juga beberapa orang lainnya. Semuanya laki-laki, semuanya bertelanjang dada, semuanya berkeringat dan semuanya sexy. Bahkan Casey enggan mengalihkan pandangannya dari tubuh-tubuh abs itu.
Setelah lama melihat pemandangan yang bikin ngiler itu, mereka akhirnya beristirahat. Casey sibuk mengurusi Jason dan Anne sibuk mengurusi Ian. Hanya Tania yang terdiam sendiri. Tania melihat Kei yang masih berlatih.
"Tania." panggil Kei. Tania menoleh. "Kemarilah."
Tania mengerutkan keningnya. 'Untuk apa dia memanggilku?' batin Tania.
"Ayolah kemari."
Tania bangkit dari duduknya dan mendatangi Kei.
"Ada apa?" tanya Tania.
"Apa kamu pernah belajar bela diri sebelumnya?" tanya Kei. Tania mengangguk. Tania pernah ikut karate di sd dan smp. "Kalau begitu ayo kita belajar menggunakan alat."
Tania terkejut. Kei mengambil batang kayu yang lumayan panjang yang tadi di pakainya untuk berlatih lalu di serahkannya pada Tania.
"Pegang kayu itu dengan benar." kata Kei. Tania menurut tanpa berbicara sepatah kata. "Buka lebar kakimu dan jadikan kuda-kudamu."
Tania tampak canggung sekali. Dia memang mengerti apa yang di ucapkan Kei tapi entah kenapa dia merasa canggung.
"Bagus, sekarang ayunkan dengan kuat, seakan kamu mencoba untuk memukul monster didepanmu."
"Atau serigala besar Tania." tambah Mike. Kei menatap tajam Mike. Mike dan Kian sudah tertawa geli. Tania hanya bengong tidak tahu apa yang mereka maksud.
Tania mengayunkan kayu yang di pegangnya. Tapi pukulannya selalu mengerikan. Bahkan Kei hampir saja kena pukulan itu.
"Katanya kamu pernah ikut bela diri kenapa kamu mengayunkan tongkat itu seperti itu?" kata Kei.
"Karena aku sudah lama tidak berlatih." jawab Tania.
"Baiklah kalau begitu. Kembali pada posisi kuda-kudamu tadi."
Tania menurut.
"Bukan begitu cara pegang kayunya." Kei mendekat dan sekarang sudah berada di belakang Tania. Tania terkejut dan membeku ditempatnya. Kei menjauhkan tangan kanan Tania agak ke atas dan tangan kiri Tania agak kebawah. Karena sedari tadi tangan kanan dan kiri Tania menempel satu sama lain.
"Ayunkan seperti ini." Kei mengajari Tania masih dalam posisi di belakang Kei. Kei mengayunkan tongat itu pelan dan Tania juga mengikutinya.
Tubuh berkeringat Kei menempel pada Tania membuatnya sulit bernafas. Detak jantunnya tidak karuan. Bahkan nafas Kei terasa di telinga Tania. 'Oh tuhan, cobaan apa lagi ini'
"Apa kamu mengerti?" tanya Kei. Tania hanya mengangguk meskipun dia tidak terlalu mengerti. Pikirannya teralihkan. "Kalau begitu coba lagi."
Kei membelai pelan kepala Tania membuat Tania salah tingkah. Tania menggigit bibir bawahnya. Kei melepaskan dirinya dan menjauh dari Tania.
'Ya ampun... Mudahan aku bisa bertahan hingga latihan ini berakhir.'
Tania menghela nafas panjang.
****
Tadariez
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments