Kei POV
Aku berjalan menuju kantin. Sebenarnya sedang malas sekali ke kantin. Aku hanya ingin mendengarkan musik di kelas. Tapi Ian bilang pak Simon menungguku di kantin, jadi mau tidak mau aku harus ke kantin. Aku terus memikirkan kata-kata ayahku tadi malam.
Flashback
Aku membaca buku sambil mendengarkan musik, kegiatanku di malam hari. Aku merasa haus dan melihat gelasku telah kosong. Aku turun untuk mengambil air minum di dapur. Belum sampai dapur, ayahku memanggil.
"Kei." panggil ayahku. Aku menoleh dan mendatangi ayahku yang berada di ruang tamu. Disana sudah ada Cavril dan George, beta dari Roykolt moon pack.
"Iya?"
"Duduk." kata ayahku. Ada nada perintah disana. Aku dengan malas duduk di sofa single. Sofa itu berbentuk U, satu panjang dan dua sofa single disisinya. Ayahku duduk di sebelahku dan Cavril di sebelah ayahku, dan George duduk di sofa single disebelahnya.
"Apa sekolahmu baik-baik saja?" tanya ayahku. Aku mengerutkan keningku. Aku tahu ayahku sedang berbasa-basi saat ini.
"Tentu." jawabku akhirnya.
"Apa kamu pernah bertemu dengan matemu?" tanya ayahku. Aku terkejut.
"Kenapa ayah tiba-tiba bertanya hal itu?" aku bingung dengan pertanyaan tentang mate tiba-tiba.
Semua terdiam membisu dan saling pandang.
"Ayah... Ada apa sebenarnya?" tanya ku yang semakin bingung.
"Tidak apa-apa Kei, sebentar lagi usia kamu tujuh belas tahun. Aku hanya bertanya." sahut ayahku. Dari raut wajahnya aku tahu ada sesuatu. Aku sangat mengenal ayahku. Dia memang mengatakan tidak apa-apa tapi dari kerutan didahinya aku tahu dia berbohong.
"Aku belum menemukan mate-ku ayah dan aku juga tidak akan mencarinya, tidak dalam waktu dekat." sahutku malas.
Aku melihat ayahku mengangguk diikuti oleh Cavril dan George. Ada pandangan khawatir di sana. Aku ingin bertanya tapi akhirnya aku urungkan niatku karena aku yakin ayah tidak akan menjawabnya jujur. Ibu masuk ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi beberapa kaleng beer.
"Aku ke kamar dulu." pamitku. Aku tidak ingin berlama-lama disana terlebih dengan suasana yang kurang mengenakkan. Aku berdiri dari kursiku dan beranjak pergi.
"Kei." panggil ayah. Aku berhenti melangkah dan menoleh. "Apa di sekolah baik-baik saja? Tidak ada masalahkan?"
Aku mengerutkan keningku mendengar ayah mengulangi pertanyaan yang sudah aku jawab lalu kemudian aku sadar, ayah hanya takut aku berubah menjadi monster lagi. Siapa yang mau hal itu?
"Tidak ada ayah, semua baik-baik saja." jawabku.
"Jika ada sesuatu, kamu bisa memberitahu Simon. Kau tahu kan? Simon Murphy, guru bahasa inggrismu?" kata George.
"Tentu, ayah tidak perlu khawatir." kataku kemudian berlalu.
Flashback end
Aku berjalan menuju kantin yang letaknya paling belakang sekolah sementara kelasku ada dibagian depan sekolah. Aku melewati kantor guru yang kebetulan menjadi salah satu jalan yang searah menuju kantin. Dari kejauhan aku sudah melihat gorila itu disana. Aku mendengus kesal. Melihatnya saja aku sudah kesal. Masih terasa diingatanku rasa sakit saat gorila itu memukuliku. Aku bergidik ngeri. Dia bukan gadis normal. Aku ingin berbalik tapi kemudian aku melihat dia berbicara pada satu orang yang aku tahu bernama Mark? Malky? Ya itulah namanya jika aku tidak salah. Aku tidak tahu dan tidak perduli pada lelaki itu.
"Pasangan yang cocok." gumamku.
Lalu kemudian aku melihat seorang gadis yang menurutku sangat cantik. Jauh lebih cantik dari gorila itu tentunya. Dia mengalungkan tangannya pada si Mark? Marky? Malky? Ahh itulah namanya. Yang aku tahu sekarang ada pemandangan cinta segitiga disini. Menarik. Tapi entah kenapa aku kemudian merasa kasihan pada gorila itu. Dia pasti akan ditolak mentah-mentah. Siapa yang mau memilih gorila jelek jika ada yang lebih cantik? Jika dia sampai memilih gorila, berarti laki-laki itu juga tidak normal. Kei terkekeh sendiri.
Tapi semakin lama aku melihat sepertinya situasinya semakin canggung. Tapi ahh apa perduliku? Aku membalikkan badanku, bersikap tidak perduli. Tapi aku tidak menggerakkan tubuhku untuk menjauh, aku hanya diam saja di tempatku berdiri. Arrgh sial! Kenapa aku jadi tidak tenang. Tidak, tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku melangkahkan kakiku lagi dan terhenti lagi. Damn it!!
Aku berjalan dan tanpa terasa sudah di belakang gorila itu.
"Jadi kau disini?" tanyaku. Wah aku harus sandiwara kali ini.
Aku melihat tangan gorila itu dipegang oleh si Malky atau apapun namanya. Entah kenapa aku jadi kesal melihatnya memegang tangan gorila itu. Dia kan bukan mate-ku dan aku juga tidak menyukainya tapi aku merasa kesal. Konyol kan?
"Pak Simon memanggilmu, cepat pergi. Dia ada di kelas dua." kataku berbohong sambil menjaga raut wajahku yang datar. Aku melihat gorila itu tampak bingung. Aku tidak perduli. Aku langsung membalikkan badanku dan berjalan pergi.
Aku menoleh sedikit dan melihatnya hanya berdiam saja disana. Sial!! Kenapa dia diam saja?! Aku membalikkan tubuhku dan langsung bertanya.
"Apa kamu masih mau berdiam disana?" tanyaku. Oh ayolah jangan buat diriku terlihat bodoh.
"Ah iya." katanya akhirnya. Thank moon goddes, finally...
Alih-alih ke kelas dua, aku membawanya ke kantin dan sudah di pastikan, gorila cerewet itu pasti akan banyak bertanya. Ughh ribut, kupingku sakit. Dia berhenti bertanya saat melihat pak Murphy sedang duduk bersama kedua temannya disalah satu bangku kantin, tidak lupa dengan Ian karena anak itu benar-benar lengket dengan teman-teman si gorila cerewet itu.
"Bapak memanggil saya?" tanyanya saat sudah duduk di bangku kantin.
"Saya? Tidak ada." jawab pak Murphy bingung.
"Tapi kata beruang... Maksud saya Kei, bapak memanggil saya."
Dan sudah bisa di pastikan semua orang menatap bingung padaku. Tapi aku tetap aku. Aku cuek tidak perduli tentu.
"Bapak tidak memanggil kamu Tania, tapi bapak memanggil Kei." kata pak Murphy dengan jelas meskipun kantin sangat ribut. Aku melihat ke arah gorila itu dan sudah ada kerutan di keningnya menandakan dia bingung. Dia langsung menatapku.
"Ohhh... Berarti aku salah dengar." sahutku santai dan itu membuat gorila itu memajukan bibirnya. Dia lucu kalau sedang cemberut seperti itu, gumamku tapi langsung cepat-cepat aku tepis. Aku sudah gila jika menyukainya. Tidak, tidak, tidak.
****
Jenuh, itu yang aku pikirkan saat ini. Aku mulai bosan dengan semua yang ada disini. Semua tampak sama dengan kegiatan yang sama. Bedanya aku tidak perlu bertemu dan berurusan dengan Cayden yang menjengkelkan itu. Aku melihat Ian berjalan didepan. Dia sepertinya sedang merayu salah satu teman si gorila itu. Apa dia mate-nya ya? Ahhh aku tidak perduli. Biarkan saja Ian bersenang-senang. Jujur dia pantas mendapatkannya setelah apa yang dia lakukan. Bohong jika aku membencinya. Justru aku telah menganggapnya sebagai kakakku. Aku tidak mau dia menolongku karena aku tidak mau dia terluka karenaku.
Aku tidak ingin pulang ke rumah. Apa aku berjalan-jalan saja ya? Aku berbelok dan masuk hutan tanpa Ian sadari. Aku terus berjalan menyusuri hutan itu. Ya, ini seperti di Lykort. Bahkan harum udaranya pun sama. Aku ingin berubah menjadi serigala saat ini, tapi aku tahan. Aku tidak ingin terjadi masalah.
Aku berlari sekuat tenaga dengan wujud manusiaku. Aku berlari tak tentu arah. Aku hanya ingin berlari melepaskan penatku.
Aku menghirup udara yang segar di hutan itu. Tiba-tiba aku menghirup yang lain. Bau serigala. Aku mencari ke segala arah tapi tidak kutemukan. Lalu aku tersentak kaget saat melihat salah satu serigala besar itu bersembunyi di dalam semak belukar.
"Si-siapa kamu?" spontan aku bertanya. Kemudian aku merutuki diriku karena menanyakannya. Karena aku membongkar jati diriku sekarang.
Awalnya serigala itu ingin menjauhiku. Aku tahu dari gerak tubuhnya yang terlihat akan berbalik. Tapi tidak jadi karena mendengar aku berbicara. Jika manusia biasa akan berteriak atau lari. Tapi aku hanya diam dan bertanya siapa kamu, membuatku membongkar identitasku.
Serigala itu melolong. Aku tahu itu lolonganan apa. Dia memanggil teman-temannya. Aku menjadi sangat gugup. Oh Moon Goddes, tidak lagi! Aku tidak ingin menjadi monster itu lagi.
Tak lama serigala-serigala lain berdatangan. Serigala-serigala itu segera mendekatiku dengan tatapan benci. Aku sudah terpojok sekarang karena aku sudah di kelilingi oleh serigala.
"Ka-kalian mau apa?!" tanyaku.
Aku hanya mendengar geraman dan tatapan tidak senang mereka. Kemudian salah satu dari serigala itu merubah wujudnya menjadi manusia. Laki-laki yang tampak seumuran dengan Ian. Dia mendekatiku.
"Siapa kamu? Mau apa kamu kesini? Apa nama packmu?" tanyanya.
"Aku... Aku..."
Sial! Kenapa aku jadi gugup seperti ini. Aku menarik nafas panjang.
"Namaku Kei, aku tinggal di kota ini dan aku tidak mempunyai pack." kataku mantap. Tapi dia menatapku heran.
"Tinggal di kota ini? Aku tidak pernah melihatmu. Jangan berbohong." sahut laki-laki itu. Aku tahu dia tidak akan mempercayaiku.
"Aku tidak berbohong. Aku baru pindah tiga minggu yang lalu. Namaku Kei Lyroso Laros. Aku anak dari Oston Ludwig Laros." kataku mencoba untuk meyakinkan mereka.
"Sepertinya pernah dengar nama itu." gumam satu orang yang berada di sebelah kananku.
"Apa kamu yakin, Jason?" tanya laki-laki didepanku.
"Yaaah.. Aku tidak yakin." sahut yang bernama Jason. Laki-laki dihadapanku menghela nafas kasar.
"Kamu harus yakin Jason. Kita tidak ingin melakukan kesalahan."
"Dia bilang dia tidak punya pack, apa dia rogue?" tanya laki-laki di sebelah kiriku. Jumlah mereka ada lima orang dan semuanya bertubuh besar dan kekar.
"Aku bukan rogue." jawabku dingin. Semua orang memandangiku.
"Aku ingat!!" pekik Jason. "Ada satu keluarga dan pasukan kecilnya. Kalian tahu? Yang dari pack Moon Lykort. Mereka berteman dengan alpha kita." sahut Jason antusias.
"Jadi dia salah satu anggotanya?" tanya laki-laki dihadapanku.
"Itu... Aku tidak yakin." jawab Jason.
"Jake, apa kita sebaiknya bawa dia ke alpha? Jika memang dia salah satu anggota dari teman alpha, alpha pasti mengenalnya." kata salah satu mereka lagi.
Orang dihadapanku yang bernama Jake terdiam. Dia tampak sedang berpikir.
"Tidak." katanya akhirnya. "Jangan alpha. Kita ke beta saja dulu. Kita tidak ingin mengganggu alpha bukan? Jika ternyata dia bukan anggota mereka, alpha akan sangat marah."
"Benar, sebaiknya ke beta terlebih dahulu."
Mereka sedang berdebat kemana mereka akan membawaku. Ini kesmpatanku. Mereka lengah saat ini. Aku tidak ingin di bawa ke manapun oleh mereka. Terlebih jika ayahku tahu. Dia akan marah padaku, terutama pada Ian karena lepas pengawasan padaku. Aku berjalan mundur perlahan, menjauh dari mereka. Saat mereka sudah tidak memperhatikanku, aku berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Aku terus berlari dengan wujud manusiaku. Aku menoleh kebelakang dan aku melihat mereka telah menyadari hilangnya aku. Aku melihat mereka mengejarku dengan wujud manusia mereka. Aku masih bisa lepas dari mereka jika mereka tetap mengejarku dengan wujud manusia.
Harapanku sirna seketika saat aku mendengar geraman yang keras di belakangku. Sial!! Mereka berubah! Aku tidak akan bisa lepas jika seperti ini. Aku harus merubah diriku juga tapi aku akan terus berlari.
Aku dengan seketika merubah diriku menjadi serigala dan terus berlari. Aku berbelok dengan cepat untuk menghidari mereka. Mereka masih terus mengejarku. Mereka semakin dekat.
Aku mengehentikan langkahku seketika. Aku sampai di tebing jurang. Sial! Sial....!!! Aku berbalik dan kelima serigala itu sudah berjejer dibelakangku. Tidak ada jalan keluar lagi. Aku panik.
"Biarkan aku pergi, aku mohon. Aku bukan rogue."
Aku berbicara melalui pikiranku dan aku tahu mereka mendengarku.
"Lalu kenapa kau lari?"
Ya, itulah aku dan pemikiran pendekku.
"Aku hanya tidak ingin ada masalah. Aku mohon. Atau kalian bisa membawaku ke alpha atau beta kalian. Aku tidak akan melawan."
Aku mencoba meyakinkan mereka.
"Tapi kami sudah tidak percaya lagi padamu."
Sial, sial, sial!!! Apa yang harus kulakukan sekarang?!
"Serang dia!"
Oh tidak!! Dan benar saja. Salah satu dari mereka melompat tinggi dan berusaha menggapaiku. Aku menghindar dengan cepat. Dia kembali menyerangku. Dia menacapkan cakarnya ke tubuhku. Aku mengerang kesakitan. Rasanya sakit sekali. Aku berjalan mundur. Dia mencakarku di lenganku. Aku terus mundur hingga ke ujung jurang.
"Aku mohon biarkan aku pergi. Aku tidak ingin hal buruk terjadi di sini."
Ya, aku tidak ingin berubah menjadi monster itu terlebih banyak manusia biasa disini. Jauh lebih banyak dari Lykort.
"Tidak akan!" sahut Jack.
Jack melompat ke arahku mencoba untuk menyerangku. Aku ikut melompat untuk menghindar tapi kakiku mendarat di tempat yang salah. Tebing yang aku pijak runtuh. Aku terjatuh bersama runtuhan tebing itu. Aku terus berguling hingga akhirnya aku sampai di dasar jurang dengan kakiku tertindih batu yang cukup besar. Aku mengerang. Rasanya sakit sekali.
Aku mencoba melepaskan kakiku. Tapi kakiku tersangkut. Arghhh sial! Aku harus bagaimana? Ini sakit sekali!!
Aku harus merubah diriku. Ya, itu cara satu-satunya. Kakiku terjepit dia antara ke dua batu dan dia atasnya ada batu besar yang menghalangi. Jika aku merubah diriku menjadi manusia, kakiku akan bisa lepas.
Tiba-tiba aku mendengar suara. Aku mencium bau manusia! Siapa? Sial! Aku tidak bisa berubah jika ada manusia!!
Lalu muncul sebuah kepala yang sedang melihat ke arahku. Aku mengenal wajah itu. Itu si gadis gorila!!
*****
...tadariez...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments