Bahkan alpha tua bangka pun tahu!

Tania duduk di kelasnya. Kali ini dia datang lebih pagi dari biasanya. Hanya beberapa orang murid yang ada di kelasnya, bahkan Casey dan Anne belum datang. Andy harus berangkat kerja lebih pagi sementara Tania sedang tidak ingin berjalan kaki. Jadi terpaksa dia ikut Andy turun pagi.

Tak berapa lama kelas menjadi ramai. Tania melihat Kei dan Ian masuk kelas. Kei melihat ke Tania sekilas. Dia sudah merasa senang dengan melihat wajah Tania. Tania masih tidak sadar Kei memandanginya. Tania sedang membaca buku novel.

"Tania...!!"

Tania tersentak kaget mendapati panggilan tiba-tiba. Tania mengangkat wajahnya melihat orang yang memanggilnya. Casey sudah masuk dan duduk di tempat duduk Anne.

"Cerita." kata Casey.

"Hah? Cerita apa?" tanya Tania bingung. Casey mendengus kesal.

"Cerita semalam kamu kemana. Kamu tahu tidak, kakakmu menelponku dan Anne. Dari suaranya terdengar panik. Aku saja kaget kamu tidak ada dirumah." kata Casey. Anne meletakkan tasnya di meja lalu berdiri di sebelah Casey. Matanya terlihat melirik Ian. Ian menatap Anne dengan intens lalu tersenyum manis, membuat Anne jadi gelagapan tapi dengan cepat Anne menepisnya.

"Ahh itu.."

"Iya, itu. Sebenarnya kamu dari mana?" tanya Casey.

"Aku dari batu besar. Kamu tahu? Batu yang ada nama orang tuaku." kata Tania.

"Ahh batu itu. Kamu pasti lagi kangen sama orang tuamu." tebak Casey. Tania hanya tersenyum.

"Casey, mau sampai kapan kamu duduk di tempat dudukku?" protes Anne karena dari tadi dia berdiri sementara Casey duduk di kursinya.

"Kalau begitu kamu pindah ke bangku ku saja disana." Casey menunjuk bangkunya. Anne mengendus kesal.

"Tidak mau Casey, aku mau tempat dudukku."

"Kalau kamu tidak mau, bagaimana jika di pangku Ian? Sudah tidak ada bangku kosong lagi. Satu-satunya bangkuku atau di pangkuan Ian." sahut Casey cuek. Wajah Anne langsung merah.

"Sini." ajak Ian dan memukul pelan pahanya. Anne langsung menundukkan kepalanya, malu. Ian tersenyum senang melihat wajah malu Anne. Semburat merah itu tertera jelas di wajahnya. Selama ini Ian dengan bersusah payah membuat Anne menyukainya tapi pertahanan Anne terlalu kuat. Dia hampir putus asa akan di tolak mate-nya tapi hari ini melihat Anne malu padanya membuatnya semangat lagi.

"Casey..." panggil Anne dengan nada memohon.

"Baiklah, baiklah." kata Casey lalu segera berdiri. "Padahal aku sudah memberikanmu kesempatan untuk duduk dengan pacarmu itu." Casey menunjuk Ian sebagai pacar Anne. Ian tersenyum geli sementara Anne gugup.

"Bu-bukan. Ka-kami tidak pacaran." kata Anne gugup.

"Benarkah?" goda Casey. "Bukannya kalian pulang bersama terus. Bahkan aku jadi obat nyamuk sendirian karena si Tania ini menghilang."

"Ka-kamu ini. Jangan begitu. Aku tidak berpacaran padanya." sanggah Anne cepat.

"Pacaran juga tidak apa-apa Anne, aku senang kok." kali ini Ian menyahut. Anne semakin menunduk menahan malu. Melihat itu, Casey dan Tania tersenyum geli. Sementata Kei baru menyadari sesuatu. Ternyata mate Ian adalah... Anne!!

Dasar Kei lelet!!

****

Kei POV

Sudah seminggu ini aku terus bertemu dengan Tania di batu besar. Tania selalu menungguku dan menyambutku dengan senyuman manisnya jika aku datang. Senyuman yang hanya di tujukan untukku, membuat hatiku leleh seketika dan membuatku ingin melihat senyum itu terus.

Disekolah sangat sulit untuk mendekatinya. Dia selalu bersama temannya dan aku tidak mungkin akan membongkar kedokku. Aku juga sangat tampan dan popular di sekolah. Aku tidak mau jadi pembicaraan di sekolah. Kei yang terkenal dingin tiba-tiba menjadi bersahabat. Huh! Tidak akan terjadi. Harga diriku lebih tinggi. Lagipula aku kasihan pada Tania. Aku takut nanti ada yang mencelakainya. Ya, aku mengakui, aku menyukainya. Aku tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya tapi sekarang aku merasakan itu, merasakan bagaimana menyukai seseorang.

Tapi peristiwa dua hari lalu membuatku naik darah. Pasalnya Mark, si cowok kegantengan itu mendekati Tania dan berani sekali dia masuk ke dalam kelas dan menyapa Tania. Di kantin dia juga bersikap seenaknya. Dia langsung duduk di meja tempat aku, Tania dan teman-temannya duduk. Yup! Aku duduk di kantin bersama Tania dan temannya. Ini di karenakan Ian yang mendekati Anne. Oh Ian aku berterima kasih padamu.

Balik lagi pada Mark. Mark langsung mengambil tempat tepat duduk di depan Tania dan dengan sengaja mendorong tubuhku kesamping. Dasar kurang ajar!!

Tapi aku tidak perlu pusingkan itu karena dari raut wajahnya aku tahu Tania tidak menyukai Mark. Apalagi aku dengar Mark adalah incaran temannya, Casey. Hah! Aku masih menang!

Sebelum bertemu dengan Tania seperti biasa berlatih bersama kelima calon gamma itu. Kami berlatih kecepatan dan kekuatan. Kadang kami mengadakan pertandingan berlari. Kadang kami berlatih berkelahi. Sebenarnya aku menikmati latihan itu. Meskipun mereka suka menggodaku tapi mereka sangat baik. Mereka mengajarkan semua padaku. Ian hanya kadang-kadang saja ikut berlatih. Jake benar, Ian itu memang kuat. Dia akan menjadi calon beta di Lykort. George, beta Moon Roykolt saja takjub melihat betapa kuatnya Ian.

Kami sudah bertelanjang dada ditengah hutan. Kami berlatih bela diri lagi. Kali ini aku melawan Jake. Aku pernah melawan Moles, Jason, Mike dan Kian. Sekarang hanya Jake yang belum ku lawan.

Jake tersenyum. "Apa kamu yakin bisa mengalahkanku Kei?"

"Tentu saja." jawabku yakin. Aku telah mengalahkan ke empat temannya. Aku hanya harus mengalahkan Jake. Jake bukan lawan yang mudah tapi aku harus coba.

"Ayo mulai."

Jake melayangkan tinjunya diwajah ku. Aku membaca gerakan itu lalu menghindar cepat. Jake memukul lagi, kali bertubi-tubi, sepertinya Jake telah menjadikanku samsak. Aku lengah dan terkena salah satu pukulannya. Aku hanya menyeringai. 'Wah dia hebat juga.' batinku. Aku merasakan perih diujung bibirku lalu mengusap darah yang keluar sedikit dari bibirku. Aku melayangkan pukulan dengan tangan kananku tapi sepertinya Jake membaca gerakanku. Tanganku sudah di tahan oleh Jake. Tentu saja aku tidak kehilangan akal. Aku membalikkan tubuhku, membelakangi Jake dengan tangan kanan yang masih di tahan Jake lalu aku mencoba memukul Jake dengan tangan kiriku tapi Jake masih bisa menangkap tangan kiriku. Aku dengan segera menendang kaki Jake, tepat di paha bagian belakangnya. Jake sepertinya terkejut lalu aku mendengarmya mengerang kesakitan dengan satu kakinya sudah berada di tanah akibat tendanganku. Aku merasakan pertahanan Jake melemah, dengan cepat aku melepaskan tangan kananku dari Jake lalu meninju wajah Jake.

Jake terduduk di tanah. Aku melihat Jake tersenyum senang dengan jari telunjuknya yang terarah padaku. Dia menggoyangkan jari telunjuknya lalu tertawa kecil.

"Hebat juga." pujinya. Aku senang bisa unggul darinya. "Hei, jangan senang dulu! Aku belum selesai."

"Maju kalau begitu." tantangku.

Aku dan Jake semangat bertanding lagi. Memang sakit terkena pukulan atau tendangan, bahkan kadang berdarah, tapi itu semua untuk menguatkan kami dan untukku, agar aku bisa lebih mengontrol amarahku. Selama berlatih dengan mereka aku selalu bisa mengontrol amarahku. Meskipun mereka mumukul atau menendang, meski itu terasa sakit, aku tidak pernah marah berlebih. Mungkin karena aku menganggap itu hanya latihan saja, aku tidak tahu.

"Wah kalian semangat sekali berlatih." kata seseorang membuatku dan Jake menghentikan latihan kami. Aku menoleh dan mendapati alpha Sebastian bersama dua gamna disebelahnya. Jake yang posisinya di atasku dan sedang mengacungkan tangannya tinggi untuk meninjuku, langsung menurunkan tangannya dan berdiri menghadap Sebastian. Aku juga mengikutinya. Kami semua tunduk menghormati Sebastian.

"Bagaimana latihan kalian?" tanya alpha.

"Ba-baik alpha." jawab Jake.

"Bagus, teruslah berlatih." alpha Sebastian menepuk pundak Jake pelan.

"Bagaimana denganmu Kei?" tanya alpha Sebastian.

"Saya juga baik alpha." kataku.

"Kei sangat pintar beradaptasi dan kekuatannya juga besar. Kami semua dikalahkannya." puji Jake. Aku jadi malu....

"Benarkah? Kalau begitu, bagaimana kamu bertarung denganku Kei?" tanya alpha Sebastian. What? Yang benar saja. Maskipun aku kuat dan mengalahkan para calon gamma ini, tetap saja jika melawan alpha pasti aku kewalahan. Aku yakin wajahku mulai pucat.

"Bagaimana Kei?" tanya alpha sebastian lagi seakan memojokkanku. Dia alpha disini bagaimana caranya aku menolak?

"Hahahah." Aku tertawa canggung. Ingin bersikap biasa saja tapi rasanya aneh. "Tapi saya kan sudah berlatih dari tadi alpha, tenaga saya sudah terkuras. Sementara alpa baru saja datang. Itukan tidak adil."

Aku melihat para calon gamma di sebelahku melongo aku berani berkata seperti itu. Jika mereka saja yang di minta bertarung pasti langsung bersiap. Aku terkekeh geli melihat wajah mereka.

"Kamu ini Kei. Kamu kan masih muda sementara seperti kata ibumu, aku ini sudah tua bangka. Sudah jangan protes terus. Ayo berlatih." kata alpha Sebastian lagi. Alpha sudah membuka baju yang di kenakannya dan kini sudah bertelanjang dada.

'Huh! Seenaknya saja alpha satu ini. Meskipun sudah tua bangka tetap saja alpha, serigala terkuat di pack ini. Mau membodohiku menggunakan tua bangka. Mana bisa aku mengalahkannya.' gumamku dalam hati. Aku sedikit kesal.

Meskipun kesal tapi aku tetap bersiap melawan alpha Sebastian. Meskipun dia pamanku tetap saja dia alpha, mana berani aku menolak.

Aku dan alpha Sebastian akhirnya bertarung. Meskipun hanya berlatih tapi aku melakukannya dengan sungguh-sungguh. Aku mengarahkan segala sisa tenagaku melawan alpha satu ini. Aku lihat pamanku itu tidak main-main. Tinju dan tendanganya sangat sakit. Aku berhasil menghindar beberapa kali dan tentu saja terkena pukulan beberapa kali juga.

Alpha Sebastian tiba-tiba berubah menjadi serigala. Aku terkejut. Serigala alpha Sebastian berwarna hitam dengan mata seperti mata kucing. Cantik sekali. Biasanya mata kami jika berubah serigala berwarna hitam. Sementara serigala alpha Sebastian berwarna kuning keemasan. Aku merasa pernah melihat mata itu, tapi dimana ya. Ibu! Ibu memiliki warna mata itu juga! Ya, aku ingat. Ibu pernah berubah menjadi serigala berwarna putih bercampur abu-abu dengan bola mata yang sama.

"Kei rubahlah dirimu." kata Jake memecah lamunanku. Aku mengangguk dan langsung berubah.

Kami saling berhadapan, aku dan alpha Sebastian. Aku menggeram padanya begitu juga dia.

'Kau siap Kei' kata alpha dipikirannya. Aku tentu saja mendengarnya.

'Tentu.' jawabku pasti.

"Aaaarrrghh"

Alpha menerjangku. Awalnya aku keawalahan tapi akhirnya aku bisa menyeimbangkannya. Aku ikut menerjang. Tubuhku terhempas mengenai pohon, tapi langsung bangkit lagi.

Aku mendengar sorak sorai semua yang melihat kami bertarung. Mereka seperti sedang menonton pertandingan sepak bola. Aku agak terganggu di buatnya, membuatku lengah. Alpha Sebastian menerjangku. Tubuhku oleng dan jatuh di tanah. Alpha langsung berada di atas tubuhku dengan kuku yang panjang, siap untuk mencakarku.

Tapi beberapa detik kemudian, alpha kembali menjadi wujud manusia. Aku juga mengikutinya. Alpha mengulurkan tangannya membantuku berdiri. Aku meraih tangannya dan berdiri.

"Kamu hebat dan kuat sekali Kei, aku hampir kewalahan menghadapimu." pujinya. Aku tersenyum simpul.

"Kita istirahat dulu saja saja. Aku membawa makanan dari rumah untuk kalian. Berikan makanan pada mereka." perintah alpa pada beberapa orang di belakang gamma yang sedari tadi kulihat membawa nampan.

Orang-orang itu memberikan makanan pada Jake dan yang lain, aku dan alpha juga.

"Kei apa kita bisa berbicara sebentar?" tanya alpha.

"Tentu." jawabku. Kira-kira mau berbicara apa ya?

Alpha mengajakku berjalan menjauhi orang-orang.

"Apa sesuatu yang di dalam tubuhmu itu sudah terkendali?" tanya alpha. Sesuatu? Ahhh mungkin yang dimaksud monster itu.

"Panggil saja itu monster alpha." kataku. Memang lebih pantas di panggil monster. "Saya rasa untuk saat ini terkendali."

"Aku juga merasakannya. Aku kira saat kita bertarung tadi kamu akan berubah. Tapi kamu bisa mengontrolnya dengan baik." pujinya. Aku tersenyum. Kami terdiam kembali. Aku tidak harus berkata apa. Aku bahkan tidak dekat dengan ayahku sendiri.

"Lalu... Bagaimana dengan kekasihmu? Apa dia mate-mu?" tanya alpha tiba-tiba membuatku bingung.

"Kekasih? Mate?" tanyaku bingung.

"Tidak usah berpura-pura begitu. Aku sudah tahu semuanya." kata alpha seakan menggodaku. Aku masih menatapnya bingung. "Gadis di batu besar kan? Uhm siapa namanya?"

Deg!!

'Astaga!!! Dari mana dia tahu itu?!'

Aku panik! Tidak, tidak tidak. Sangat panik. Bagaimana alpha Sebastian tahu tentang Tania?!

"Apa kamu masih menemuinya setelah berlatih? Apa dia mate-mu Kei?" tanyanya lagi. Aku jadi pucat dan gugup.

"Ap-apa maksud alpha? Hahaha aku tidak mengerti." kataku berpura-pura. Kulihat alpha menyipitkan matanya. Memandangiku dengan tatapan yang tidak bisa kutebak. Lalu sedetik kemudian dia tertawa, membuatku tambah bingung.

"Kamu ini Kei. Tidak usah berpura-pura padaku. Jujur saja. Apa aku perlu mencari tahu sendiri?" tawarnya membuatku membeku. Waduh gawat ini!!!

"Eh? Uhmm... Ti-tidak, ja-angan." sahutku gugup. Aku sangat gugup.

"Apa?" tanya Alpha Sebastian. Dia mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti ucapanku. Aku menarik nafas panjang. Oh moon goddes tolonglah aku.

"Dia bukan kekasihku alpha." kataku akhirnya. "Dia hanya temanku. Kami hanya bertemu di batu itu saja. Saya bahkan selalu dalam wujud serigala saya dan dia tidak mengetahui siapa saya."

Aku menunduk lemas. Entah dari mana alpha mengetahuinya tapi aku mulai takut jika kedua orang tuaku tahu. Terlebih ibuku. Semenjak dia tahu Ian menemukan mate-nya, dia terus menyuruhku mencari mate-ku. Sungguh menjengkelkan!

"Lalu dia juga bukan mate-mu?"

"Tentu saja bukan." Elakku cepat. "Tapi.. Dari mana alpha tahu tentang Tania?" aku memberanikan diru bertanya.

"Hmm... Jadi namanya Tania? Apa dia cantik?" tanya alpha tiba-tiba dan tidak menghiraukan pertanyaanku.

"Hahahaha." aku tertawa canggung lagi. aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Tentu saja Tania cantik, sangat cantik dengan wajah alaminya. Aku mengakui itu tapi aku tidak bisa mengakui di depan alpha satu ini. Bisa-bisa aku ketahuan menyukai Tania.

Alpha Sebastian tertawa terbahak. Bahkan sambil memegang perutnya.

"Wajahmu lucu sekali jika sedang malu. Bahkan sudah hampir semerah tomat."

'Ahh sial! Apa terlihat sekali ya?'

Aku memegang pipiku. Wah sudah memanas. Aku benar-benar malu. Kenapa aku jadi seperti anak perempuan saja, malu-malu. Huh! aneh sekali aku ini. Bikin malu saja!

"Kamu bisa bercerita apapun padaku Kei, aku dengan senang hati akan mendengarkannya." kata alpha dengan masih terseyum geli.

"Ahh aku mengetahuinya dari..." alpha tidak melanjutkan kata-katanya. Hanya menoleh ke arah lain.

Aku mengikuti arah yang dituju alpha dan mendapati ke lima orang yang berlatih bersamanya tadi.

'Ha! Sudah kuduga! Ternyata memang mereka. Dasar serigala-serigala berbulu beo. tidak bisa menyimpan rahasia.' omelku kesal.

"Jangan menyalahkan mereka Kei." kata Alpha seakan membaca pikiranku. "Mereka tidak memberitahukanku atau siapapun tentang itu. Hanya saja mereka tidak bisa berhenti membicarakannya. Jadi aku tidak sengaja mendengarnya." alpha kembali tertawa.

'Sama saja itu namanya. Kenapa juga mereka membicarakannya terus.'

"Kamu mengingatkanku pada anakku yang paling tua, Hans." kata alpha. Hans adalah sepupuku paling tua. Umurnya mungkin sudah tiga puluhan tahunan. Aku tidak tahu berapa pastinya.

"Hans juga mempunyai cinta pertama seperti kamu."

"Lalu apa yang terjadi?" aku beranikan diri bertanya.

"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah menceritakannya. Dia selalu tertutup jika soal cinta. Mungkin diberpikir aku kurang mengalami cinta." alpha tertawa lagi sementara aku hanya terdiam mendengarkan. "Cinta dalam hidupku hanya lunaku tersayang."

"Apa anda tidak mencari pengganti Luna? Aku dengar meskipun kita para werewolf hanya di ciptakan satu mate tapi jika mate itu mati, akan ada mate ke dua. Apa anda tidak mencarinya?"

Aku mengetahui luna Moon Roykolt, sudah lama meninggal. Dia meninggal setahun setelah melahirkan anak perempuan mereka.

Alpha Sebastian tersenyum. "Aku tidak sanggup menggantikan posisi istriku dengan wanita lain. Aku sudah mencintainya bahkan sebelum aku mengetahui dia adalah mate-ku dan aku takkan menggantikannya."

Aku tersenyum. Pamanku yang satu ini begitu romantis.

"Lalu dimana Hans sekarang? Kenapa saya tidak pernah melihatnya?" tanyaku.

"Karena dia sudah tidak tinggal disini. Dia tinggal di kota besar. Disana dia mengurus perusahaan yang sudah di bangunnya. Aku tidak mengetahui apapun tentang perusahaan itu tapi dia selalu mengirimi kami kabar seminggu sekali dan juga sering mengunjungi kami."

"Ohh.. Apa dia sudah menikah?" tanyaku.

"Belum, bahkan menemukan mate-nya saja belum. Jika ibunya masih hidup, dia akan membawa Hans pulang ke rumah meskipun harus dengan menjewer telinganya. Lalu istriku akan menyuruhnya mencari mate-nya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun." alpha tertawa geli mengingat istrinya.

"Istriku sama seperti ibumu, persis" lanjut alpha lagi. "Karena itu aku akan merahasiakan tentang kekasihmu itu. Bisa-bisa dia akan menyuruh kekasihmu itu ke rumah."

"Alpha, saya sudah bilang dia bukan kekasih." protesku cepat. Tania memang bukan kekasihku.

"Iya, iya baiklah." kata alpha mengalah padaku. "Tapi bukannya seharusnya kamu sudah selesai berlatih? Apa kamu tidak ingin bertemu dengan keka- ah bukan, temanmu itu?"

Aku tersentak. Ah iya aku memang harus bertemu Tania. Tapi mana enak aku pergi sementara masih ada alpha disini?

"Nan-nati saja alpha." jawabku.

"Jangan begitu, kasihan temanmu itu. Aku kan juga pernah muda Kei. Pergi sana atau dia marah dan kamu tidak bisa bertemu dengannya lagi."

Aku tersenyum simpul.

"Baiklah, baiklah. Saya akan pergi. Mana berani melawan perintah alpha. Bisa-bisa di putus lehernya."

Alpha tertawa geli mendengar ucapanku. Lalu menepuk lenganku pelan.

"Biar baju dan tasmu dia bawa oleh Jake dan lainya."

"Tidak usah alpha, nanti saya akan mengambilnya sendiri." jawabku. Aku tidak ingin merepotkan siapapun.

"Baiklah jika itu maumu."

Aplha beranjak pergi dan aku mengikutinya dari belakang. Semua orang berdiri melihat kedatangan alpah. Pamanku yang satu ini sangat di hormati. Aku bangga padanya.

"Kei, apa sudah waktunya?" bisik Jason padaku. Aku hanya menatapnya dingin. "Apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?"

Jason yang bingung melihat tatapanku padanya menoleh dan mendapati alpha sedang memperhatikan kami berdua.

'Huh! Dasar, suka mencari masalah saja. Apa tidak sadar dari tadi alpha melihat?' omelku.

Alpha tertawa geli. "Sudah, sudah. Jangan menggoda Kei terus. Sudah sana pergi Kei. Aku mengijinkanmu untuk bertemu dengan kekasihmu."

Ucapan alpha yang barusan membuatku dan kelima temanku itu melongo. Mereka melongi karena kaget, alpha mengetahui tentangku dan Tania. Sementara aku, tentu karena alpha masih memanggil Tania dengan sebutan kekasih

'Aaarrghh... Kenapa alpha satu ini masih saja menyebut kekasih? Bikin malu saja!'

Kelima orang itu malah tertawa. Mungkin melihat perubahan raut wajahku setelah alpha mengucapkan kata kekasih tadi. Bahkan kedua gamma yang di bawa alpha juga ikut tertawa. Sial!!

Aku tidak bisa lama-lama disini. Bisa-bisa aku kena goda terus dengan lima orang dan satu alpha ini.

Aku merubah diriku menjadi serigala dan langsung berlari menuju Tania berada. Tania... I'm comming.

******

Tadariez

Episodes
1 Bab 1 : Mantan Pangeran
2 Just info
3 Bab 2 : Tania Reynolds
4 Bab 3 : Tragedi Yang Lalu
5 Monster Itu lagi
6 Murid baru
7 Beruang kutub vs gorila
8 Berita mengejutkan
9 Mark Chamberlin.
10 I'm not a Rogue
11 Batu besar
12 Luka yang terlalu cepat sembuh
13 Latihan dadakan
14 Tumpangan Serigala
15 Bahkan alpha tua bangka pun tahu!
16 Blessed my eyes!
17 Awakward Moment
18 Hybrid
19 Para penyihir
20 Latihan
21 Ciuman Kening Pertama
22 Bian si usil
23 Penyerangan
24 Still Worried
25 Dia mirip kakakku yang telah mati
26 Penyerangan
27 Fred dan Cayden
28 Penculikan
29 Pengorbanan
30 One fine day
31 Introducing Zachary Payne
32 Zach si serigala baru
33 Dia adalah Alpha
34 Kamu Manusia Serigala!
35 Aku Akan Mengajaknya.
36 Orichant
37 Penyihir dan penjaga supranatural
38 Kedatangan Kei
39 Pesta Valentine yang Kacau
40 Dia bukan Mate-ku!
41 Livia dan Lily
42 Beta Keturunan Murni
43 Apa kamu sebenarnya?
44 Sang Pengkhianat
45 Aku Harus Menyelamatkannya
46 Kedatangan Bian
47 Penyelamatan
48 Pack Moon Bykort
49 Penyelamatan
50 Kepindahan
51 Mate kedua?
52 Ketahuan
53 Aku adalah rajamu, alphamu
54 Kutukan Banshee?
55 Kotak pandora
56 Para Vampir
57 Aku bukan mate-nya
58 Ryan dan Nathan
59 Gadis baru
60 Racun Kristal
61 Keluarga Cigeira
62 Sumpah Setia
63 Goodbye Nathan
64 Pemakaman Nathan
65 Serigala Gila
66 Kamu Pantas Menjadi Beta
67 West Virginia
68 Disprea
69 Mengikuti Kei
70 Aku adalah malaikat mautmu
71 Layath
72 Mengurung Zigor
73 Kastil Darkness
74 Hybrid
75 Pergi sendirian
76 Menculik Tania
77 Mencari Terlalu Jauh
78 Menyelamatkan Tania
79 Menyerang Bykort
80 Penyerangan ke Bykort
81 Wolfsbane
82 Pengambilalihan Lycan
83 Pertarungan Terakhir
84 Extra Bab
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 : Mantan Pangeran
2
Just info
3
Bab 2 : Tania Reynolds
4
Bab 3 : Tragedi Yang Lalu
5
Monster Itu lagi
6
Murid baru
7
Beruang kutub vs gorila
8
Berita mengejutkan
9
Mark Chamberlin.
10
I'm not a Rogue
11
Batu besar
12
Luka yang terlalu cepat sembuh
13
Latihan dadakan
14
Tumpangan Serigala
15
Bahkan alpha tua bangka pun tahu!
16
Blessed my eyes!
17
Awakward Moment
18
Hybrid
19
Para penyihir
20
Latihan
21
Ciuman Kening Pertama
22
Bian si usil
23
Penyerangan
24
Still Worried
25
Dia mirip kakakku yang telah mati
26
Penyerangan
27
Fred dan Cayden
28
Penculikan
29
Pengorbanan
30
One fine day
31
Introducing Zachary Payne
32
Zach si serigala baru
33
Dia adalah Alpha
34
Kamu Manusia Serigala!
35
Aku Akan Mengajaknya.
36
Orichant
37
Penyihir dan penjaga supranatural
38
Kedatangan Kei
39
Pesta Valentine yang Kacau
40
Dia bukan Mate-ku!
41
Livia dan Lily
42
Beta Keturunan Murni
43
Apa kamu sebenarnya?
44
Sang Pengkhianat
45
Aku Harus Menyelamatkannya
46
Kedatangan Bian
47
Penyelamatan
48
Pack Moon Bykort
49
Penyelamatan
50
Kepindahan
51
Mate kedua?
52
Ketahuan
53
Aku adalah rajamu, alphamu
54
Kutukan Banshee?
55
Kotak pandora
56
Para Vampir
57
Aku bukan mate-nya
58
Ryan dan Nathan
59
Gadis baru
60
Racun Kristal
61
Keluarga Cigeira
62
Sumpah Setia
63
Goodbye Nathan
64
Pemakaman Nathan
65
Serigala Gila
66
Kamu Pantas Menjadi Beta
67
West Virginia
68
Disprea
69
Mengikuti Kei
70
Aku adalah malaikat mautmu
71
Layath
72
Mengurung Zigor
73
Kastil Darkness
74
Hybrid
75
Pergi sendirian
76
Menculik Tania
77
Mencari Terlalu Jauh
78
Menyelamatkan Tania
79
Menyerang Bykort
80
Penyerangan ke Bykort
81
Wolfsbane
82
Pengambilalihan Lycan
83
Pertarungan Terakhir
84
Extra Bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!