Tania begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia terkejut karena di depannya sudah ada hewan besar, ralat, sangat besar. Dia belum pernah melihat hewan sebesar itu sebelumnya, bahkan di televisi pun tidak. Tania merasa ketakutan lalu berbalik dan beranjak pergi. Tapi baru beberapa langkah, dia berbalik lagi. Dia mendengar suara rintihan hewan itu. Ya, Kei meringis kesakitan karena kakinya yang terjepit. Dia sebenarnya tidak ingin mengeluarkan suara rintihan sama sekali tapi semakin digerakkan, kakinya semakin sakit. Terlebih dia tidak bisa merubah dirinya menjadi manusia kembali karena ada Tania disana. Dia tidak ingin Tania tahu siapa dia sebenarnya.
Tania berjalan kembali dan mendekati Kei. Kei seketika panik melihat Tania yang dia kira sudah pergi tapi ternyata kembali lagi.
'Sial! Kenapa dia belum pergi juga?!' Umpat Kei dalam hati.
Tania mendengar rintihan Kei. Entah kenapa ada bisikian di hati Tania untuk melihat hewan itu lagi. Tania memperhatikan hewan itu dan melihat kakinya tersangkut di batu.
"Oh kasihan sekali." kata Tania.
Tania berjalan mendekat pada Kei. Kei tentu bertambah panik.
'Kenapa dia tidak takut pada tubuhku yang sebesar ini dan malah mendekat?! Dia sudah gila!'
Tania berjalan semakin dekat. Dia hampir sampai pada kaki Kei yang tersangkut. Kei menggeram keras. Dia ingin Tania pergi dan menjauh darinya.
'Pergilah, ku mohon!"
Tania terkejut tapi tidak mengurungkan niatnya. Kei menggeram semakin keras dan menakutkan.
"Sstt... Sudah, tidak apa-apa. Kamu pasti kesakitan sekali. Aku akan membantumu." ucap Tania.
Tania hanya merasa kasihan pada hewan itu. Dia tahu hewan yang berada di hadapannya sangat kesakitan. Tania sudah berada di kaki Kei yang terjepit.
"Tahan ya? Aku akan mencoba mendorong batu besar ini." kata Tania.
Tania berdiri disamping batu yang menjepit kaki Kei. Dia mencoba mendorong batu itu. Tapi bahkan batu itu tidak bergerak sama sekali. Tania tidak menyerah. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya dan mendorong batu itu. Batu itu bergerak tapi hanya sedikit. Sementara Kei mengerang kesakitan. Semakin batu itu bergerak, semakin dia kesakitan.
"Ini tidak akan berhasil." gumamnya. "Apa aku pergi mencari bantuan saja ya?"
Tania tampak berpikir. Dia berpikir apa yang akan dia lakukan. Dia tahu dia tidak akan bisa mendorong batu itu sendiri. Tania memutuskan untuk mendorong batu yang berada di atas kaki Kei saja. Tania mendorong sekuat tenaga lagi. Batu itu bergerak sedikit demi sedikit dan akhirnya batu itu jatuh ke samping.
"Sudah, tinggal dua lagi." sahut Tania.
Nafas Tania memburu. Dia mengelap keringat yang ada di dahi dan lehernya. Dia sudah kelelahan. Menggeser batu benar-benar menguras tenaganya. Kei memperhatikan Tania sedari tadi. Dia tidak menggeram lagi. Dia hanya bingung kenapa Tania tidak takut pada hewan besar sepertinya. Manusia lain biasanya akan ketakutan dan pergi, bagaimanapun keadaanya. Tapi gadis yang satu ini justru menolongnya dan tidak ada ketakutan dimatanya.
Tania masih terdiam memperhatikan batu yang menjepit kaki Kei.
"Aku harus mencari cara melepaskannya dari batu itu tanpa menyakitinya." gumam Tania. Kei mendengar gumaman Tania.
'Kamu terlalu banyak berpikir. Pergilah ku mohon.'
Tapi Tania tidak mendengar kata-kata Kei. Tania menatap mata Kei.
"Apa kamu bisa membantuku?" tanya Tania pada Kei. "Sepertinya kita bisa menggeser batu itu sedikit agar kakimu bisa lepas tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Bantu aku ya?"
Tania langsung menuju kaki Kei yang terjepit.
"Aku dorong batu ini, kamu coba goyangkan kakimu ya?" kata Tania sedikit berteriak. "Aku tahu akan sakit tapi tahanlah sebentar."
Tania membelai kaki Kei dengan lembut.
"Aku harap kamu mengerti apa yang aku katakan." Tania menarik nafas panjang. "Dalam hitungan ke tiga. Satu, dua, tiga!"
Tania mendorong kuat batu itu. Dia bahkan berteriak seraya mendorong batu itu sekuat tenaganya. Kei tidak tinggal diam. Dia tentu mengerti apa yang di katakan Tania. Dia ikut rencana Tania dan berusaha menggerakkan kakinya. Batu itu bergeser sedikit demi sedikit. Kei yang merasa ada sedikit ruang antar kaki dan batunya langsung menarik kakinya. Berhasil! Pekiknya senang.
Tania tak kalah senang. Dia sudah melompat-lompat kegirangan. Tanpa dia sadari Kei sudah berdiri dan menatapnya. Terbesit kejahilan Kei.
'Heheheh... Akan aku takuti dia. Bersiaplah untuk ketakutan gadis gorila.'
Tiba-tiba Kei menggeram keras. Tania yang mendengar itu langsung menghentikan lompatan kegirangannya. Dia menoleh ke Kei yang sudah menatapnya tajam. Dia baru sadar tinggi Kei bahkan jauh melebihinya. Dia berpikir Kei bisa memakannya dengan sekali suap. Tania mulai gugup dan takut. Jantungnya berdetak sangat cepat.
"Kamu... Tidak akan memakanku kan? Aku sudah membantumu." sahut Tania takut-takut. Tania berjalan mundur perlahan.
'Tidak, tentu saja aku tidak akan memakanmu. Tapi menakutimu seperti ini ternyata menyenangkan!' .
Kei memang hanya menakuti Tania. Dia tidak akan menyakitinya. Dia tidak pernah menyakiti siapapun meskipun dia berwujud serigala. Hanya saat dia menjadi monster itu, dia akan lepas kendali.
Tania sangat ketakutan sekarang. Wajahnya pucat. Nafasnya sesak. 'Oh tidak, aku dalam bahaya sekarang. Mau bagaimanapun dia tetap hewan. Dia tidak akan berterima kasih padaku.' Batin Tania.
Tania terus melangkah mundur tanpa melihat ke belakangnya. Akibatnya kaki Tania tersandung batu. Tania jatuh terduduk. Bokongnya mengenai batu kecil.
"Aduh..." keluh Tania.
Kei yang sedari tadi hanya menggeram ditempatnya, terkejut melihat Tania terjatuh. Dia hanya ingin menakuti Tania. Bukan menyakitinya. Terdengar suara gemuruh dari atas tebing. Kei dan Tania sama-sama menoleh ke atas. Mereka mendapati batu-batu tebing berjatuhan dan akan menimpa Tania. Mata Tania terbelalak. Dia tidak bisa berdiri dan menghindar. Kakinya lemas dan bokongnya masih sakit.
"Tidak! Gorila, awas....!!!"
Kei berlari mendekati Tania. Tania memejamkan matanya. Dia ketakutan dan pasrah saat batu itu akan menimpanya. Terdengar suara batu berjatuhan. Tapi Tania heran, dia tidak merasa satu batu pun mengenainya. Padahal dia sangat yakin jika batu itu akan menimpanya karena Tania duduk tepat di bawah batu itu akan jatuh.
Hening. Tidak ada lagi suara batu berjatuhan. Tania membuka matanya. Dia melihat dirinya baik-baik saja. Dia lalu mendongak ke atas. Di dapatinya hewan yang tadi ditolongnya -Kei- berada di atasnya. Tubuh Kei menutupi tubuh kecil Tania sehingga Kei yang terkena runtuhan batu itu, bukan Tania. Tania terkejut dan langsung berdiri. Kei hanya meringis kesakitan.
"Ka-kamu..." Tania tidak bisa berkata-kata. Dia terlalu terkejut mendapati hewan itu melindunginya.
"Oh tidak... Darah!!"
Darah segar keluar dari kepala serigala Kei. Tania panik.
Oh bagaimana ini?
"Kamu... Baik-baik saja?" tanya Tania.
'Tentu saja tidak. Terkena batu sakit sekali.' kata Kei dan sudah tentu Tania tidak memdengarnya.
"Apa kamu bisa berjalan? ayo ikut aku."
Tania menarik pelan bulu serigala Kei, menuntunnya ke batu tempat biasa Tania duduk. Kei yang mengerti, mengikuti Tania.
'Kau mau membawaku kemana? Kepala dan kakiku terlalu sakit untuk di bawa jalan.'
"Duduklah." kata Tania. Kei menurut dan duduk di dekat batu itu. "Eh tidak. Berbaring saja." kata Tania lagi.
'Arghh sebenarnya kamu ini mau aku duduk atau berbaring? Kaki dan kepalaku sakit tahu!' omel Kei.
"Ah... Maaf, maaf." kata Tania yang mendengar hewan di depannya ini menggeram. Tania menduga hewan didepannya marah karena disuruh-suruh olehnya.
Kei akhirnya tetap menurut meski dia mengomel.
"Boleh aku melihat kakimu?" kata Tania.
'Untuk apa dia mau melihat kakiku? Gorila aneh.'
Tapi entah kenapa Kei tetap menurut. Kei memperlihatkan kedua kakinya. Tania terkejut Kei mengerti ucapannya.
"Wah kamu ternyata benar-benar mengerti ucapanku. Anjing pintar." puji Tania.
'Apa dia bilang? Anjing?! Sudah jelas-jelas serigala begini dibilang anjing. Ini cewek sudah terlalu parah bodohnya. Masa tidak bisa bedakan mana anjing mana serigala.'
Kei menggeram pelan tapi akhirnya tidak diperdulikan lagi. Tania memperhatikan kaki Kei yang terluka.
"Pasti sakit." sahut Tania prihatin.
'Tentu saja sakit.'
Tania mengeluarkan obat yang selalu dibawanya di tas. Obat itu kecil dan hanya untuk luka goresan. Tania selalu membawa obat itu karena Tania selalu ceroboh. Dia sering tidak sengaja melukai dirinya. Tania membersihkan luka dengan tisu basah yang juga selalu di bawanya untuk membersihkan lukanya. Kei menggeram kecil karena merasa perih saat lukanya mengenai tisu basah itu.
"Maaf." sahut Tania.
Tania kembali membersihkan luka itu lalu mengoleskan obat. Tania meniup pelan bekas lukanya. Kei mengamati Tania. Matanya tidak bisa lepas dari Tania.
"Selesai." kata Tania. "Sekarang aku lihat kepalamu."
Tania berdiri untuk melihat kepala Kei. Tania mencari-cari lukanya karena bulu Kei lebat.
"Itu dia." Tania mendapatkan lukanya. "Sepertinya perlu perawatan khusus. Apa kita pergi ke dokter hewan saja?"
Kei menggeram dan mendengus. Dia menggelengkan kepalanya.
"Kamu yakin?" tanya Tania. "Sepertinya parah."
Kei menggeram lebih keras lagi.
"Baiklah, baiklah. Kamu ini pemarah sekali. Tunggu aku ambil obat dan tisu nya dulu."
'Tentu saja aku marah. Kamu mau membawaku ke dokter hewan. Manusia biasa akan terkejut dan lari jika melihat bewan besar seperti aku. Lalu semua akan heboh karena keberadaan manusia serigala akan diketahui.'
Tania kembali membersihkan luka Kei dan memberinya obat lalu meniup-niup lukanya.
"Selesai." kata Tania. Tania memiringkan kepalanya dan menatap Kei. "Mudahan kamu cepat sembuh."
Tania mengelus bulu Kei lalu memeluknya.
'Astaga!! Apa yang dia lakukan? Memangnya aku boneka?'
"Bulumu lembut sekali. Dan hangat..." kata Tania. Tania memeluk Kei lumayan lama. Entah kenapa Kei menikmati pelukan dari Tania. Detak jantungnya tiba-tiba cepat.
'Dia manis. Eh? Kenapa aku jadi memujinya dan kenapa pula dengan jantungku?'
"Aku harus pulang, sebentar lagi malam. Kakakku akan mencariku nanti." kata Tania dan melepaskan pelukannya. "Kamu juga. Pulanglah. Apa kamu punya keluarga?"
'Tentu saja aku punya keluarga.' jawab Kei. Tapi Tania tidak mendengarnya. Tania terdiam menunggu jawaban Kei tapi kemudian dia tertawa.
"Kenapa aku jadi mengharapkan anjing ini menjawab?" kata Tania lalu tertawa kembali.
'Gorila aneh ini masih memanggilku anjing. Aku bukan anjing, aku serigala!! Arrghh seandainya aku bisa melolong. Tapi jika aku melolong, serigala lain akan mengetahui keberadaanku dan mereka akan mengejarku lagi'
"Besok kembalilah kemari. Aku mau melihat lukamu." sahut Tania.
'Untuk apa aku menurutimu?' jawab Kei kesal.
Tania memperbaiki tas punggungnya yang melorot.
"Aku pergi dulu. Terima kasih sudah menolongku." Tania mencium kepala Kei.
Deg!
Kei terkejut dengan ciuman itu. Tubuh serigalanya kaku.
"Sampai jumpa!"
Tania berlari meninggalkan Kei sendiri.
'Gadis itu... '
Kei tidak melanjutkan kata-katanya. Kei hanya memandangi Tania sampai Tania hilang dari pandangannya.
...tadariez...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments