"Kei, cepat turun! Kamu akan terlambat nanti!!"
Sudah ketiga kalinya ibu Kei memanggil. Tapi belum ada tanda-tanda Kei untuk turun dan sarapan bersama.
"Biar saya panggil Luna." tawar Ian.
Ian beranjak dari kursi dapur dan berjalan dengan gontai ke arah kamar Kei. Baru sampai di pintu dapur, Kei sudah datang. Kei melewati Ian yang berdiri di pintu dapur. Ian yang diam sejenak lalu mengikuti Kei ke meja makan.
"Sudah tiga kali ibu memanggilmu Kei. Kenapa lama sekali??"
Kei tidak menjawab ibunya tapi langsung mengambil makanan di atas meja. Ibunya hanya mendengus kasar.
"Apa kamu siap ke sekolah barumu, Kei?" tanya ayah Kei.
Kei terdiam sejenak lalu segera menyuap makanan ke mulutnya tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
"Bagaimana denganmu Ian?" ayah Kei beralih ke Ian yang sedang makan.
"Saya siap alpha." sahut Ian.
"Aku minta maaf Ian, aku harus membuatmu menjadi anak sekolahan lagi. Aku tahu umurmu sudah dua puluh lima tahun dan seharusnya kamu mencari matemu. Tapi aku justru menyuruhmu sekolah. Aku minta maaf juga padamu Cavril." kata ayah Ian.
"Tidak perlu minta maaf alpha, itu sudah tugas Ian untuk menjaga Kei." kata Cavril.
"Saya juga tidak masalah alpha." kata Ian.
"Untung saja Ian mempunyai wajah yang tampan dan tampak muda dari usianya." puji ibu Kei.
"Itu benar." ayah Kei menyetujuinya.
Semua orang tertawa kecuali Kei dan Aira.
"Apa aku harus benar-benar sekolah? Aku tidak ingin sekolah disana." sahut Kei.
"Aku juga! Aku tidak mau sekolah!!" Aira cemberut. Dia kesal ibunya memaksanya sekolah.
"Sayang, jangan seperti itu. Kan Aira sudah janji pada ibu dan bukannya Aira bilang ingin segera punya teman? Jika ingin segera punya teman, kamu harus sekolah. Kamu mengerti?" bujuk ibunya.
Aira mengangguk. "Tapi aku suka sama teman lamaku." kata Aira sedih.
"Ibu mengerti, tapi kita sudah pindah kesini. Jadi kamu harus bisa mencari teman yang baru. Ibu tahu kamu pasti bisa."
Aira mengangguk lagi. "Baiklah. Aku mau." sahutnya akhirnya.
"Kei, kamu harus sekolah. Kamu baru enam belas tahun. Kamu harus menamatkan sekolahmu. Ibu tahu ini sulit tapi ibu yakin kamu bisa bertahan. Ibu mohon turuti permintaan ibu." bujuk ibunya.
Kei menghela nafas dan akhirnya mengangguk.
****
Tania sudah duduk manis di kelasnya. Dia hari ini turun sekolah lebih pagi dari biasanya. Tania sibuk menulis dibukunya. Dia lupa lagi mengerjakan tugasnya dan dia merutuki dirinya karena itu.
Teman sekelas Tania mulai berdatangan dan mereka terkejut melihat Tania sudah datang. Biasanya Tania datang ke sekolah saat bel berbunyi bahkan dia sering terlambat. Tapi melihat Tania sudah duduk manis dimejanya pagi-pagi merupakan keajaiban. Casey dan Anne masuk kedalam kelas dan mendapati temannya sudah datang. Casey terperangah kaget dengan mulut terbuka.
"Wah tumben kamu sudah datang Tan." tegur Anne dan menggantung tasnya di kursi. Tania hanya tersenyum manis pada Anne.
"Whoa... Sepertinya es di antartika sudah mencair. Tidak, tidak, bukan. Tapi Matahari terbit dari barat. Kamu benar-benar Tania?" ujar Casey. Casey mencubit pipi Tania.
"Awww... Sakit! Iya ini aku." Tania cemberut sambil mengelus pipinya yang merah.
"Es di antartika tidak mencair Casey, kalau mencair dunia akan tenggelam dan matahari-"
"Duh Ann, aku juga tahu itu. Kamu ini." potong Casey yang mendengar temannya yang terlalu pintar. "Yang jadi masalah, kenapa Tania si tukang telat ini sudah datang?"
"Apa aku tidak boleh datang lebih pagi?" Tania kembali cemberut.
"Boleh, boleh, tapi benar-benar ajaib. Lihat saja satu kelas sudah keheranan. Ya kan Anne?"
Anne hanya mengangguk setuju. Tak lama bell masuk berbunyi. Semua kembali menuju tempat duduknya masing-masing dan membuka tas mereka. Ibu Sims masuk ke kelas bersama dua orang murid baru. Seketika satu kelas menjadi heboh, terutama para gadis. Karena murid baru itu keduanya adalah laki-laki yang sangat tampan menggoda. Para gadis menatap mereka dengan pandangan lapar. Beberapa di antara mereka mulai merapikan diri, mencoba menarik perhatian. Hanya Tania dan Anne yang tidak begitu memperhatikan murid baru itu.
"Okey Class, sebelum ibu mengabsen kalian, ibu ada pengumuman."
Para gadis menjadi lebih riuh dari yang tadi.
"Okey, enough. Ibu tidak akan mulai jika kalian tidak tenang." kata ibu Sims. Seketika ruang kelas menjadi tenang.
"Bagus." ibu Sims tersenyum. "Pengumuman pertama, ibu mendapat pesan dari pak Cleanwater guru sejarah kalian. Hari ini akan dia adakan pop quiz jadi-"
Belum selesai ibu Sims berbicara, kelas menjadi riuh kembali. Kali ini semua suara kekesalan dan kekecewaan.
"Ehemm!!" ibu Sims berdehem untuk mendiamkan anak-anak muridnya. Semua kembali terdiam.
"Ibu tahu kalian sangat tidak suka pada pop quiz. Itu bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi pak Cleanwater sudah dengan baik hati memberitahukan pada kalian lebih dulu. Jadi terima saja." sahut ibu Sims. Beberapa anak masih mengeluh.
"Okey, pengumuman ke dua. Kalian mendapat teman sekelas yang baru. Ayo perkenalkan diri kalian." pinta ibu Sims. Kelas menjadi hening seketika. Lebih hening dari sebelum
nya
"Hai, nama saya Ian Royce Morris." kata Ian. Ian tidak lupa senyum dengan ramah membuat para gadis terpana dan semakin menggila.
"Hai, saya Kei." kata Kei datar dan dingin. Dia terlihat tidak menyukai perkenalan itu.
"Baiklah... Kei dan Ian. Kalian duduk di sebelah kanan dan kiri Tania. Tania angkat tanganmu." pinta ibu Sims. Tania dengan segera mengangkat tangannya.
"Ih beruntungnya Tania..."
"Aku juga mau duduk disamping mereka."
"Astaga, mereka tampan sekali."
Itu yang dikatakan teman satu kelas Tania, menatapnya iri. Tapi Tania tidak begitu perduli pada temannya maupun kedua cowok tampan yang sedang berjalan untuk duduk di sebelah kanan dan kirinya. Di sekolahnya disediakan satu meja kecil untuk satu orang. Ian duduk di sebelah kanan Tania sementara Kei duduk di sebelah kiri Tania.
"Hai." sapa Ian saat dia sudah duduk di kursinya. Tania hanya tersenyum tipis.
"Ibu akan mulai mengabsen kalian. Hellen Mccartney!" Ibu Sims mulai mengabsen seluruh muridnya.
****
Ian POV
Aku masuk kedalam kelas bersama Kei. Aku awalnya sangat risih karena harus menjadi anak sekolah lagi di usia dua puluh lima tahun. Tapi aku tidak bisa menolak jika yang memintaku adalah alphaku. Lagipula Kei memang harus dijaga dari jarak dekat. Kali ini aku tidak boleh melepaskan pandanganku dari Kei. Aku sudah bersumpah untuk mengutamakan keselamatan Kei dan menjaganya dengan nyawaku.
Suara riuh terdengar. Mereka menyukai aku dan Kei. Siapa yang tidak? Meskipun usiaku dua puluh lima tahun, tampangku masih seperti berumur delapan belas tahun dan tentu saja aku bangga akan hal itu.
Tapi tunggu dulu. Bau apa ini? Aku mencium bau yang menggiurkan. Bau yang aku tunggu. Bau lavender dan kayu manis yang lembut. Itu adalah bau mateku! Astaga, apa mateku di dalam kelas ini. Aku melupakan mencari mateku demi alphaku tentu dan aku tidak menyesal karena itu. Tapi sekarang mateku disini! Bahkan tanpa ku cari. Ohh moon goddess, terima kasih.
Aku mencari-cari orang yang memiliki bau ini. Mataku terpana pada seorang gadis yang duduk di bangku ketiga dari depan. Gadis itu mengenakan kaca mata dan rambutnya yang coklat terang di ikatnya ke atas. Manis sekali.
Aku melihat Kei yang masih dengan wajahnya yang datar dan dingin. Tiba-tiba aku menjadi teringat sumpahku. Ah sial! Aku belum bisa mendekati mateku! Tapi jika aku berbicara pada ayah tentang hal ini, apa ayah akan menyuruhku mendekati atau menjauhi mateku ya? Terserahlah! Yang penting aku menikmati bau ini.
Aku melihat tepat ke matanya. Dia tampak terkejut saat mata kami bertemu. Aku mencoba tersenyum manis padanya dan dia tampak lebih terkejut dari sebelumnya. Oh manisnya mateku.
"Okey, pengumuman ke dua. Kalian mendapat teman sekelas yang baru. Ayo perkenalkan diri kalian." kata guru perempuan itu.
"Hai, nama saya Ian Royce Morris." kataku sambil masih menatap mateku.
Semua gadis menjadi riuh. Hanya mate ku dan gadis di belakangnya yang diam. Apa dia tidak menyukaiku? Aku termasuk laki-laki yang tampan tapi dia sepertinya tidak begitu memperhatikanku.
Guru perempuan itu menyuruhku dan Kei duduk di samping gadis yang duduk di belakang mateku. Aku kecewa tidak bisa duduk bersama mateku tapi aku cukup senang. Setidaknya jarakku dan dia tidak jauh.
Aku berjalan melewatinya dan ughh betapa harumnya memabukkanku. Aku tidak pernah seperti ini. Ini semua gara-gara mateku yang cantik. Sabar ya mate, kau akan segera ku klaim.
****
Anne POV
Ibu Sims masuk ke kelas bersama dua murid baru laki-laki. Aku melihat sekilas dan memuji betapa tampannya kedua murid baru itu dan tampaknya semua gadis di kelasku setuju. Tapi aku tidak begitu perduli setelahnya. Aku tidak tertarik.
Tapi, kenapa salah satu dari laki-lai itu melihatku dengan tatapan seperti itu? Ada apa dengan wajahku?
Deg!
Dia tersenyum... padaku!!! Astaga apa aku salah lihat? Apa ada masalah dengan mataku? Tidak, tidak, aku tidak salah lihat. Dia memang tersenyum!! Oh tuhan betapa tampannya... Tidak! Tunggu dulu. Kenapa aku jadi terpesona padanya? Tidak, tidak, tidak boleh. Tahan Anne, jangan berlebihan. Aku mencoba untuk mengalihkan pandanganku tapi dia tetap menatapku.
"Hai, nama saya Ian Royce Morris." katanya.
Jadi namanya Ian. Oh ya ampun dia tersenyum lagi. Kenapa dengan jantungku? Kenapa berdetak cepat sekali? Aku biasa hanya tertarik pada buku dan rumus matematika. Tapi kali ini aku merasa tertarik padanya. Oh tidak Anne, berhenti disana. Apa aku sudah gila?
Ian berjalan melewatiku. Sebelum melewatiku dia tersenyum, lagi!! Astaga ini sudah ke tiga kalinya dia tersenyum. Oh hatiku, aku mohon jangan tertarik pada lelaki tampan itu...
****
Pelajaran sejarah berjalan membosankan seperti biasa. Bahkan Tania sudah mulai mengantuk. Setelah pop Quiz yang membuat Tania gugup setengah mati, sekarang Tania kebosanan setengah mati. Pak Cleanwater hanya menyuruh mereka mencatat yang ditulisnya dipapan tulis. Tania menggerutu jika harus mencatat. Kan sudah ada buku, kenapa harus mencatat lagi, menyusahkan sekali! gerutu Tania.
Bell istirahat berbunyi. Akhirnya!! sahut Tania.
Tania merentangkan tangannya ke atas dan menguap dengan lebar. Ian yang melihat itu tertawa. Tania yang sadar sedang ditertawakan menoleh.
"Aku bisa masuk kedalam jika terlalu lebar." canda Ian. Tania langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ian tambah tertawa geli.
"Hai, aku Ian." kata Ian sambil mengulurkan tangannya.
"Tania." Tania menyambut uluran tangan Ian.
"Hai, aku Casey. " sahut Casey yang tiba-tiba sudah berada di samping Tania. Tania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa cepatnya Casey.
"Aku Ian." kata Ian lagi.
"Hai, aku Casey." kali ini Casey mengulurkan tangannya pada Kei. Tapi Kei tidak perduli. Dia masih diam dan tidak menyambut tangan Casey. Kei hanya menatap tangan itu itu dingin kemudian memasangkan headsetnya di telinga. Casey tampak kecewa.
"Sudah jangan dihiraukan, dia memang seperti itu. Aku minta maaf atas namanya." sahut Ian.
"Kenapa harus kamu yang minta maaf? Harusnya yang salah yang minta maaf." sahut Tania sambil memandang Kei sebal. Kei hanya memalingkan wajahnya, membuat Tania tambah kesal.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Casey. Ian mengangguk.
"Iya, kami pindah dari sekolah yang sama."
Tania dan Casey ber oh ria. Kei tiba-tiba berdiri dan beranjak keluar kelas.
"Eh Kei, mau kemana?" tanya Ian. Tapi Kei tidak menjawab. Ian langsung berdiri juga.
"Aku menyusul Kei dulu ya." sahut Ian pada Tania dan Casey.
"Okey." kata Tania dan Casey bareng.
Ian beranjak pergi. Saat dia melewati meja Anne, tiba-tiba dia berhenti.
"Nama kamu siapa?" tanya Ian pada Anne. Anne yang terkejut langsung salah tingkah.
"Eh? Oh? Anne." sahutnya.
"Anne." ulang Ian.
"Nama yang cantik"
Ian tersenyum pada Anne dan pergi menyusul Kei.
****
Tadariez
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments