Tania membuka matanya perlahan. Dia memperhatikan sekitarnya yang gelap. Tidak ada penerangan lampu. Bahkan bulan juga tidak penuh.
'Ah masih malam aku akan tidur lagi.' sahut Tania dalam hati dan merebahkan diri kembali. Saat dia sudah meletakkan kepalanya, dia kaget. Tangannya terasa memegang bulu yang sangat banyak. Sedetik berikutnya Tania tersadar dan langsung duduk.
"Astaga aku lupa kalau aku masih disini!" kata Tania sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Kei yang masih meletakkan kepalanya di atas kakinya, langsung menegakkan kepalanya.
'Ah dia sudah bangun, akhirnya. Aku lelah sekali dia terus menjadikanku bantal.' gumam Kei dipikirannya yang tentu saja tidak di dengar Tania.
"Aaahhhh...!!!" pekik Tania tiba-tiba membuat Kei tersentak kaget. Tania sudah membuka ponselnya dan melihat jam di ponselnya. Sudah jam delapan malam. Bahkan sudah ada misscall yang dia ketahui dari kakaknya sebanyak tiga puluh tujuh kali. Tania menepuk jidatnya.
"Ahh kakakku bisa marah besar!! Kenapa kamu tidak membangunkanku tadi?!" kata Tania setengah berteriak kepada Kei.
'Hei! Kenapa kamu marah padaku? Kamu sendiri yang tidurnya yang terlalu lelap!' protes Kei.
Sebenarnya Kei yang tidak ingin membangunkan Tania. Dia merasa kasihan padanya yang tidur begitu nyenyaknya. Dia jadi tidak tega.
"Aduh bagaimana ini??" Tania mengacak rambutnya yang tadi di rapikannya. "Rumahku jauh lagi."
Tania meletakkan tasnya dipunggungnya lalu membersihkan seragam sekolahnya yang penuh kotoran akibat dari tidur sembarangan.
"A-aku pulang dulu ya? Jika aku tidak dihukum oleh kakakku, kita ketemu lagi disini besok." kata Tania sambil menyalakan senter dari ponselnya dan langsung berlari kecil.
'Eh kenapa dia pergi? Ini sudah malam. Apa dia tahu jalan?' kata Kei lalu dengan segera pergi menyusul Tania yang belum jauh.
Kei berhenti di depan Tania. Tania terkejut dan menghentikan larinya.
"Aku tidak bisa bermain sekarang! Lain kali saja ya? Aku terburu-buru." sahut Tania dan berlari melewati Kei. Tentu saja Kei tidak tinggal diam. Ini sudah malam dan dihutan tidak ada penerangan apapun. Kei takut Tania tersesat atau terluka nanti. Kei berlari dan berhenti tepat di depan Tania.
"Ahh kamu mau apa? Aku bilang aku sedang terburu-buru!" kata Tania kesal.
'Aku tahu kamu terburu-buru, biar cepat naiklah ke punggungku' gumam Kei. Kei merendahkan tubuhnya agar bisa Tania bisa naik ke atasnya. Tania mengerutkkan keningnya.
'Mau apa lagi anjing ini?' tanyanya dalam hati.
'Oh ayolah, katanya kamu terburu-buru. Naiklah. Kenapa gadis ini diam saja dari tadi? Apa dia tidak mengerti maksudku merendahkan tubuhku? Ohh moongoddes!!' pekik Kei yang sudah putus asa. Dia ingin membantu Tania tapi dia tidak tahu bagaimana caranya agar Tania mengerti isyaratnya.
"Kamu.... Mau aku naik ke atas punggungmu?" tanya Tania sambil menunjuk punggung Kei.
'Ya! Ya! Oh moongoddes dia mengerti juga!!' sahut Kei senang.
Kei menggeram pelan memberi tanda pada Tania bahwa pertanyaannya itu benar.
"Tapi aku takut.." kata Tania. Kei mendatangi Tania lalu merendahkan dirinya kembali.
'Tidak apa Tania.' sahut Kei. Tania menghela nafas panjang.
"Baiklah." kata Tania. "Aku akan naik. Mudahan jika denganmu akan lebih cepat. Lagi pula ini sudah malam, aku takut tersesat." kata Tania.
'Hah! Baru sadar dia!'
Tania menyimpan ponselnya ke dalam tas lalu memegang bulu panjang Kei dan naik ke atas tubuh Kei. Kei merendahkan dirinya serendah mungkin agar Tania bisa naik ke punggungnya.
"Maafkan aku, aku pasti berat." kata Tania saat sudah di atas punggung Kei.
'Kamu pasti bercanda. Seandainya kamu bisa mendengarku, aku ingin bertanya apa yang kamu makan selama ini? Kenapa kamu ringan sekali.'
Kei mengangkat tubuhnya. Terdengar pekikan kecil dari Tania yang terkejut Kei mengangkat tubuhnya. Kei sudah berdiri dengan ke empat kakinya.
"Uhmm.. Aku harus pegangan dimana?" tanya Tania polos. Tania tidak tahu dimana dia berpegangan. Kei bukanlah kuda yang sudah di beri perlengkapan saddle dan bridle. "Aku pegang di bulumu saja ya? Maaf jika aku menyakitimu."
'Dia mengkhawatirkanku. Manisnya' sahut Kei. 'Pegangan yang erat Tania, aku tidak mau kamu jatuh.'
Seakan mendengar ucapan Kei, Tania mengeratkan pegangannya pada bulu-bulu Kei. Kei yang merasakan itu lalu segera berlari.
Kei werewolf dan bertubuh besar yang membuat dia bisa berlari lebih cepat, tidak, bahkan sangat cepat. Tania memekik pelan dan menutup matanya erat. Dia takut untuk melihat karena Kei berlari sangat cepat.
Tiba-tiba pegangan tangan Tania melonggar dan tubuh Tania melorot ke samping kanan.
'Oh tidak, aku akan jatuh.' kata Tania dalam hati. Kei berlari sangat cepat dan jika dia jatuh saat ini dia akan...
Tania menggelengkan kepalanya. Dia mencoba untuk menarik tubuhnya ke atas. Tapi sia-sia. Jutru tubuhnya semakin melorot.
'Oh tidak, Tania!!'
Kei tidak mungkin berhenti mendadak. Dia takut jika melakukan itu dia akan menjatuhkan Tania. Kei mengambil insiatif untuk menabrakkan tubuh bagian belakang sebelah kirinya ke pohon.
Bukk!!
Benturan itu membuat tubuh Tania berguncang tapi Tania tidak jatuh. Tubuh Tania masih bergantung di tubuh sebelah kanan Kei, sementara Kei mengerang kesakitan.
'Akhh... Sial!! Sakit sekali' umpat Kei.
Tania dengan segera memperbaiki posisinya. Dia langsung menguatkan pegangannya.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Tania khawatir.
'Seandainya aku bisa bilang aku baik-baik saja. Tapi itu sakit sekali." kata Kei. Kei lalu melolong keras untuk melampiaskan rasa sakitnya.
Tania terkejut mendengar lolongan Kei. Suara lolongannya tidak seperti anjing, berarti dia....
Tania terbelalak kaget. Selama ini dia mengira Kei adalah anjing.
"Kamu... Serigala ya?" tanya Tania polos.
'Hah!! Baru sadar dia. Sudahlah pegangan saja yang kuat.'
Kei berlari lagi tapi kali ini tidak secepat tadi. Tania hampir terjatuh tadi kemungkinan karena dirinya dan itu membuatnya menyesal telah berlari terlalu kuat.
Tak lama mereka sampai di pinggir jalan. Kei masih berlari. Jika ada kendaraan melintas dia bersembunyi ke dalam hutan. Kei memasuki kawasan perumahan. Dia berhenti karena bingung. Dia takut dilihat manusia dan dia juga tidak bisa berubah menjadi manusia karena ada Tania. Akhirnya Kei memilih jalan di belakang rumah-rumah karena lebih gelap.
Kei berjalan perlahan kemudian berhenti.
'Tunggu. Aku kan tidak tahu di mana rumahnya. Bagaimana caraku menanyakannya ya?' Kei bingung.
Tania yang menyadari Kei berhenti sedikit bingung karena rumahnya masih agak jauh.
"Ahh disini bukan rumahku." kata Tania yang telah tersadar. "Di sebelah sana. Terus saja, aku akan mengarahkanmu nanti."
Tania tahu betul Kei mengerti ucapannya. Kei lalu berjalan kembali menuju rumah Tania, mengikuti arahan Tania. Tania menyuruh Kei berhenti tak lama kemudian. Kei menurut lalu merendahkan tubuhnya agar Tania bisa turun.
"Terima kasih ya anj- eh salah." Tania menutup mulut dengan tangannya. "Serigala maksudku. Maaf ya sudah menganggapmu anjing. Habis mirip."
Tania tertawa geli sementara Kei hanya menggeram pelan.
"Aku pulang dulu."
Tania mencium pipi Kei lalu segera masuk ke dalam rumah.
'Dia... Menciumku... Lagi.'
Jantung Kei berdegup sangat kencang. Dia merasa sesak dan sulit bernafas. Perasaan yang di rasakannya semakin membesar. 'Apa aku benar menyukainya?'
****
Di dalam rumah, Andy sudah berjalan bolak balik tidak karuan. Tangannya memegang ponsel dan sesekali memencet nomor yang dituju tapi tidak pernah di angkat membuatnya tambah khawatir dan frustasi.
"Duduklah Andy." bujuk Elena, tunangannya. Tapi Andy tidak menurutinya. "Andy ku mohon duduk dan tenanglah."
"Aku tidak bisa tenang Elena, tidak sampai aku tahu keadaan Tania. " sahut Andy.
Andy panik saat pulang tadi, Tania belum pulang. Biasa Andy akan pulang jam tujuh malam. Tapi saat dia pulang, rumah masih gelap gulita dan saat dia menelpon adiknnya untuk menanyakan keberadaannya, adiknya itu tidak mengangkat. Andy juga sudah mencoba menghubungi Anne dan Casey, tapi tidak ada yang tahu keberadaan Tania. Bagaimana dia tidak panik?
Andy mengusap kasar wajahnya. Dia sudah berpikiran buruk. Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Andy yang sedang berada di dapur bersama Elena langsung berhambur ke ruang tamu. Dilihatnya Tania yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Kak Andy." panggil Tania pelan. Tania melihat wajah Andy yang sudah merah menahan marah.
"Tania!! Dari mana saja kamu?! Apa kamu tidak tahu jam berapa sekarang ini?!" Andy langsung menghujani Tania dengan pertanyaan.
"Aaa... Ta-Tania habis dari hu-hutan kak." jawab Tania jujur.
"Hutan? Untuk apa kamu kesana?! Itu berbahaya Tania!!" kata Andy setengah berteriak. Tania langsung tertunduk.
"Tenanglah sayang, biarkan Tania menjelaskan terlebih dahulu." kata Elena mencoba menenangkan Andy yang sepertinya akan mengamuk. Andy akhirnya menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Jelaskan." kata Andy dingin. Dia menatap Tania yang masih menunduk. Tania menarik nafasnya lalu melihat ke kakaknya yang menunggu jawabannya.
"Tania tadi pergi ke batu besar kak. Tania kangen sama ibu dan ayah jadi Tania pergi kesana." jawab Tania lalu menundukkan kepalanya lagi. Andy menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu tidak bilang kakak? Kan bisa kakak temani." kata Andy. Nada suaranya sudah berubah menjadi lembut kembali.
"Kan kakak kerja, lagipula Tania tidak sendiri kok, tadi ada teman yang menemani." kata Tania jujur. Ya dan temannya itu Kei. Tania tidak menjelaskan secara rinci siapa temannya itu. Dia merasa kakaknya tidak perlu tahu, yang ada nanti kakaknya akan hisateris lagi.
"Teman yang mana? Tadi kakak telpon Casey dan Anne. Mereka semua tidak ada yang tahu kamu kemana." kata Andy bingung.
"Kak, kan teman Tania tidak hanya Casey dan Anne."
"Oh ya? Kok kakak tidak tahu?"
"Nanti Tania kenalin ya." kata Tania cuek. Andy hanya mengerutkan keningnya.
"Lalu kenapa pulang malam?" tanya Andy lagi.
"Ahh itu... Tania ketiduran kak."
"APA?!" pekik Andy. "Tania!!"
"Maaf kak, tadi Tania ngantuk. Tapi tadi ada teman Tania kok. Jadi tidak apa-apa."
Andy langsung mengamati tubuh Tania. Di telitinya tubuh adiknya. Tapi tubuh Tania bersih. Tidak ada luka atau lecet. Hanya roknya saja sedikit kotor.
"Tania baik-baik saja kak." kata Tania saat melihat Andy mengamatinya. Andy menghela nafas kasar.
"Kamu sudah membuat kakak khawatir Tania. Kakak pulang kamu tidak ada dirumah dan tidak mengangkat panggilan dari kakak. Kakak menelpon teman dekatmu, semua bilang tidak bersamamu. Kakak panik dan hampir saja melapor ke polisi."
"Sudah, sudah." Elena menengahi. "Biarkan Tania istirahat, kasihan dia mungkin capek."
Andy memeluk adik perempuan satu-satunya itu. "Naiklah ke atas, bersihkan dirimu lalu istirahat."
Tania mengangguk lalu beranjak pergi.
Dari belakang rumah yang gelap, Kei mencoba mendengarkan percakapan kakak adik itu. Dia ingin pergi tapi di ragu. Dia takut Tania akan disakiti oleh kakaknya tapi ternyata dugaan Kei salah. Kakak Tania begitu menyayangi Tania. Kei bernafas lega tapi sedetik kemudia dia tercekat. Masih ada yang harus dihadapinya lagi. Ayah dan ibunya. 'Ah sial!!' umpat Kei.
****
Kei membuka pintu rumahnya. Tidak ada orang di ruang tamu. Kei beranjak ke ruang keluarga yang jaraknya berdekatan dengan ruang tamu. Kei mendapati ayah dan ibunya beserta adiknya Aira duduk menonton televisi.
"Kei, bagaimana pelatihanmu?" tanya ayahnya yang sudah mendapati anaknya berdiri di dekatnya.
"Uhmm... Baik?" kata Kei tidak meyakinkan.
"Ayah tahu itu sulit, tapi biasakanlah. Ayah yakin nanti kamu akan terbiasa." kata Ayahnya lalu kembali memalingkan wajahnya ke televisi.
"Ibu juga dukung pelatihan itu, jangan malas ya?" sahut ibunya dan tersenyum lembut pada Kei.
Kei melongo dengan sukses. Bukan itu yang seharusnya terjadi. Sepanjang perjalanan dia sudah memikirkan ayahnya yang akan marah padanya dan bahkan pada Ian. Tapi ayahnya justru hanya bertanya bagaimana pelatihannya dan ibunya mendukung pelatihannya. Kei menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kei? Kamu kenapa?" tanya ibunya yang melihat Kei menggelengkan kepalanya sedari tadi.
"Ti-tidak apa-apa." jawab Kei cepat.
"Naiklah ke kamarmu. Kamu pasti lelah." kata ibunya dan dengan segera Kei pergi kekamarnya. Ajaib!!
****
Tok tok tok
"Masuk." Tania yang mendengar ketukan dipintu kamarnya langsung menyuruhnya masuk. Elena, tunangan kakaknya masukbdan membawa nampan berisi sandwich kesukaan Tania berserta segelas susu hangat dan satu buah apel.
"Ini, aku bawakan makanan. Mungkin kamu lapar." Elena menaruh nampannya di meja belajar Tania.
"Terima kasih." sahut Tania senang. Perutnya memang sudah memanggil untuk diisi.
"Apa kamu ingin makan yang lain? Aku bisa menyiapkan." tawar Elena.
"Tidak usah kak, ini saja cukup." Tania mengambil nampan berisikan makanan itu lalu memakannya di atas tempat tidur. Elena memang sangat baik padanya. Sudah seperti kakak sendiri bagi Tania. Makanya Tania setuju saat Andy mengatakan ingin menikahi Elena. Elena cantik dengan mata Hazel dan rambut coklat yang tergerai panjang dan yang terpenting Elena menyukai Tania dam begitu juga Tania.
"Apa kamu benar tadi ke batu itu?" tanya Elena lembut. Elena memang mengetahu tentang batu kedua orang tua Tania. Andy juga pernah mengajak Elena kesana. Tania mengangguk.
"Benar kak, Tania tidak berbohong." kata Tania meyakinkan.
"Teman yang bersamamu.... Laki-laki apa perempuan?" tanya Elena tiba-tiba.
Uhuk.. Uhuk...
Tania tiba-tiba terbatuk.
"Hei, hei kamu kenapa?" tanya Elena panik lalu menyerahkan susu pada Tania. Tania meminum susu itu hingga setengah.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Elena yang tampak khawatir.
"Baik kak."
"Makannya pelan-pelan saja. Aku pulang dulu ya." pamit Elena.
"Oke, apa di antar kak Andy?" tanya Tania. Elena menggeleng.
"Tidak, tadi aku bawa mobil." jawab Elena lalu bangkit dari duduknya. "Habis makan langsung istirahat ya? Selamat malam."
Elena melambaikan tangannya di balas oleh Tania.
"Selamat malam, hati-hati."
Tania mengelus dadanya lega. Dia bingung harus menjawab apa tadi. Karena temannya itu serigala raksasa, bukan manusia.
******'
Tadariez
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments