Kei POV
Aku merasa bosan. Aku harus pergi dari kelas itu. Gadis itu. Uhmm siapa namanya? Rania? narnia? Ah aku tidak perduli siapa dia. Yang jelas dia sangat mengganggu. Terserah aku ingin menyambut tangan temannya atau tidak, kenapa dia harus protes seperti itu? Gadis seperti itu hanya akan membuat kepalaku sakit. Aku harus menjauhi gadis aneh itu. Aku hanya berharap hari pertamaku disini akan menjadi hari yang tenang. Tapi semua harapanku sirna begitu saja.
Aku berjalan melewati keramaian anak-anak yang bersekolah disini. Aku menggosok telingaku. Mereka sangat berisik. Aku hanya lewat di depan mereka, kenapa mereka begitu histeris? Seperti tidak pernah melihat laki-laki seperti ku saja.
Aku terus melangkahkan kakiku tanpa menghiraukan teriakan dan bisikan para gadis itu. Tak terasa aku sampai di belakang sekolah. Aku takjub melihat pemandangan di hadapanku. Pohon-pohon tinggi menjulang. Aku merindukan Lykort. Lykort mirip seperti sekolah ini. Dikelilingi oleh hutan. Tapi mengingat Lykort membuat hatiku sakit kembali.
"Apa kamu menikmati pemandangan ini?" tanya seseorang. Aku menoleh. Ada seseorang yang kuduga guru berdiri tidak jauh dariku. Rupanya aku begitu menikmati pemandangan itu sampai-sampai tidak mendengar guru itu datang.
Aku membalik badanku menghadap guru itu. Guru itu mendekatiku dan tersenyum.
"Kei Lyroso Laros, senang sekali akhirnya bisa bertemu." kata guru itu. Aku mengerutkan keningku. "Namaku Simon Murphy, aku guru bahasa inggris."
Guru yang bernama Simon itu mengulurkan tangannya. Awalnya aku ragu tapi akhirnya aku menyambut tangannya.
"Bagaimana hari pertamamu di sekolah, pangeran?" tanyanya.
Deg!!
Aku segera melepaskan tanganku dan mundur selangkah. Bagaimana dia tahu? Apa dia orang suruhan Ordovic? Pikiranku penuh dengan pertanyaan.
"Jangan takut, aku bukan orang suruhan Ordovic jika itu yang ada dipikiranmu. Bahkan aku bukan anggota pack Moon Lykort." jelas Simon.
Aku kembali terkejut. Dia tahu tentang pack Moon Lykort, apa mungkin dia dari pack musuh?
"Siapa sebenarnya kamu?" aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku sudah beritahukan padamu. Aku Simon Murphy, guru bahasa inggris. Jika kamu bertanya packku, aku berasal dari pack Moon Roykolt. Kamu tenang saja. Pack Moon Roykolt bukanlah musuhmu. Kami sekutumu tentu saja. Kami mendukungmu. Karena ibumu berasal dari pack Moon Roykolt. Apa ibumu pernah bercerita?" katanya panjang lebar. Aku tentu menggeleng. Aku pernah mendengar tentang pack Moon Roykolt bahkan kami sekarang tinggal dan berlindung di pack itu. Pack itu tidak sebesar Lykort, hanya setengah saja tapi aku tidak tahu ibu berasal dari pack itu. Ayah hanya bercerita, ayah dan ibu bertemu dengan ibu saat ayah melakukan perjalanan ke luar negeri.
"Kei...!!!" panggil seseorang dibelakangku. Aku menoleh dan mendapati Ian berlari kecil menghampiriku.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana. Ternyata kau disini. Oh pak Murphy, anda disini." kata Ian. Aku mengerutkan keningku lagi. Ian mengenal guru ini?
"Apa kamu mengenal pak Muprhy?" tanyaku heran.
"Iya, ayahku yang mengenalkanku pada pak Murphy. Dia teman lama ayahku."
"Apa aku bisa berbicara padamu Ian?" tanya pak Murphy pada Ian. Ian mengangguk pasti.
"Nona Tania Reynold?" pak Murphy memanggil seseorang. Aku mendengar orang itu berlari mendekati kami. Aku berdiri tanpa menoleh. Aku hanya tidak perduli.
"Iya pak?" kata seseorang yang baru di panggil pak Murphy. Dari suaranya aku tahu itu seorang gadis. Aku menoleh ke arah suara. Gadis yang menyebalkan itu!! Gadis itu menoleh ke arahku. Aku melihat bola matanya yang coklat. Dia terkejut melihatku dan langsung membuang wajahnya begitu pula denganku.
"Tania, aku minta kamu menemani Kei untuk mengenal sekolah ini." kata pak Murphy.
Tunggu, apa? Kenapa jadi aku harus berkeliling sekolah? Itu sangat merepotkan. Kenapa juga aku harus mengenal sekolah ini bersama gadis itu?
"Tidak perlu pak. Saya baik-baik saja." kataku. Aku tidak mau bersama gadis menyebalkan itu. Setelah bernafas lega menjauh dari Cayden, aku harus menghadapi gadis ini. Aku benar-benar sial!
"Pergilah Kei. Sementara aku berbicara pada Ian. Kamu juga harus cepat beradaptasi." sahut guru itu. Ughhhh merepotkan!!
Ian dan guru itu pergi meninggalkanku dan gadis yang tidak berbicara sama sekali itu. Aku melihatnya sejenak lalu mengalihkan pandanganku. Sial!
****
Tania POV
Aku berlari mencari kedua sahabatku, Anne dan Casey. Aku baru saja mengantar buku pak Cleanwater yang tertinggal di kelas ke ruang guru. Mereka bilang akan menungguku di kantin. Aku sudah menyusul ke kantin tapi aku tidak menemukan ke dua orang itu. Aku justru mengalami hal aneh dalam hidupku. Mark berbicara padaku! Hal yang aneh kan? Aku tidak pernah berbicara bahkan bertegur sapa dengannya.
Flashback kantin
Aku mencari Anne dan Casey di tempat duduk yang biasa kami duduki tapi mereka tidak ada. Aku berlari kecil menyusuri kantin dari ujung ke ujung. Mereka tetap tidak dapat ku temukan. Aku mendengus kesal. Bukannya tadi janji akan menungguku di kantin, kemana mereka?!
Aku mengeluarkan ponselku dari saku rok sekolahku. Aku mengetik sesuatu di ponsel.
Kalian dimana? Aku sudah di kantin tapi kalian tidak ada. Balas. ASAP.
Aku memencet tombol send dan menunggu balasan dari mereka.
"Apa kamu akan berdiri di situ terus?" tegur seseorang di belakangku. Aku menoleh dan sudah ada Mark sana.
"Oh maaf." kataku seketika dan langsung menyingkir. Eh tunggu dulu. Aku sedang tidak berdiri di tengah jalan. Justru aku berdiri di dekat dinding dan didepanku masih ada ruang yang sangat luas untuk berjalan. Kenapa dia menyuruhku menyingkir?
"Disana masih ada jalan luas jika kamu mau berjalan. Kenapa menyuruhku menyingkir?" tanyaku bingung.
"Aku tidak menyuruhmu menyingkir." jawabnya dengan ekspresi datar. "Aku hanya bertanya apa kamu akan berdiri disitu terus?"
Aku mengerutkan kening. Maksud dari orang ini apa? Aku tidak mengerti.
"Kamu Tania kan?" tanyanya. Aku sedikit terkejut dia tahu namaku. Aku langsung mengangguk. "Kamu tahu siapa aku?"
Tentu aku mengangguk lagi. Siapa yang tidak mengenalnya. Bahkan satu sekolah mengenalnya. Mark Chamberlin, cowok tampan seantero sekolah. Mungkin ketampanan Mark akan tersaingi dengan ketampanan Kei, anak baru itu. Tunggu dulu, kenapa aku jadi bicarakan anak menyebalkan itu? Aku memukul kepalaku ringan. Aku merasakan ponselku bergetar. Aku membuka ponselku.
Aku dan Anne ada di belakang sekolah. Susul kami kemari.
Itu balasan sms yang kuterima dari Casey. Aku melihat Mark masih saja memandangku. Cowok yang aneh, pikirku.
"Aku pergi dulu." kataku dan langsung meninggalkan Mark. Dia memang sangat tampan tapi aku tidak perduli. Lagipula mana ada yang mau dengan cewek toboy seperti aku? Apalagi dengan ketampanan mereka yang bak dewa yunani itu.
Flashback end
Aku sudah mencari kebelakang sekolah tapi tetap tidak menemukan mereka. Ugghhh aku sudah lelah berlari. Aku berhenti sejenak dan mengusap keringatku.
"Nona Tania Reynold." panggil seseorang. Aku dengan segera menoleh. Kudapati pak Murphy bersama dua murid yang tidak aku kenal. Aku berlari kecil mendatangi pak Murphy. Ah sial! Apalagi sekarang salahku? Pak Murphy selalu saja menemukan salahku.
"Iya pak?" tanyaku. Aku menoleh pada dua murid disampingku. Ternyata Ian dan cowok sombong itu, Kei. Arghh kenapa aku bertemu dengannya? Mata kami bertemu. Aku langsung mengalihkan pandanganku.
"Tania, aku minta kamu menemani Kei untuk mengenal sekolah ini." kata pak Murphy.
Wait, what? Aku harus bersama si Kei menyebalkan itu? Oh tidak, tidak, tidak.
"Tidak perlu pak. Saya baik-baik saja." kata Kei. Aku bernafas lega. Untung saja pemikirannya sama denganku, jika tidak aku bisa terkena tekanan darah tinggi jika bersama Kei.
"Pergilah Kei. Sementara aku berbicara pada Ian. Kamu juga harus cepat beradaptasi." kata pak Murphy. What???
Pak Murphy pergi bersama Ian meninggalkan ku dengan cowok super menyebalkan tapi sangat tampan ini. Lihatlah aku, bahkan aku masih sempat-sempatnya memuji ketampanan dia. Arrgghh kenapa denganku? Hari ini aku benar-benar sial!
****
Tania dan Kei masih terdiam di tempat masing-masing. Mereka berdua masih terjebak dengan pemikiran mereka sendiri.
"Aku tidak perlu di temani berkeliling." sahut Kei yakin.
"Tapi aku akan dihukum pak Murphy nanti" kata Tania. Pak Murphy paling tidak suka murid yang tidak menurut. Dia akan mengurangi poin atau menghukum. Tania sangat benci dihukum. Karena pak Murphy akan menghukum sampai dua minggu lamanya bahkan hanya karena masalah kecil.
"Kamu termasuk murid yang bodoh ya?" tanya Kei.
Tania terkejut. Apa-apaan dia? tiba-tiba berkata aku bodoh?
"Biasanya murid yang bodoh akan melakukan apapun perintah guru meskipun itu suatu yang konyol hanya demi mencari perhatian. Jika guru memerintahkan kamu membuka bajumu apa kamu akan melakukannya?" kata Kei dingin. Dia menatap tajam Tania sejenak lalu pergi meninggalkannya.
Tania menggeretakkan giginya. Dia sangat marah.
"Hei anak baru!!!" teriak Tania. Kei mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik. Tania berjalan cepat ke arah Kei dan memukul dada Kei sekuat tenaga. Kei meringis kesakitan.
"Dasar beruang kutub!! seenaknya saja bicara. Apa?! Aku bodoh? Aku menuruti guru demi mencari perhatian?! Dasar. Beruang. Kutub. Gila!!" kalimat terakhir Tania ucapakan sambil memukuli Kei.
"Hei cukup!!!" pekik Kei.
"APA?!" Tania berteriak. Tania menatap marah laki-laki yang sudah meringis kesakitan akibat pukulannya. Kei hanya menatap Tania dengan tatapan tidak percaya. Badan sekecil dan sekurus Tania bisa memukul dengan sangat menyakitkan.
"Kalau mau bicara dipikir dulu! Kamu merasa sangat tampan lalu kamu berhak melakukan dan mengatakan sesukamu begitu?! Dasar beruang kutub gilaaaa....!!!!!!" teriak Tania dengan histeris membuat Kei terkejut. Dia menatap tak percaya.
Tania beranjak pergi meninggalkan Kei yang masih bengong melihat kelakuan Tania. Dia mengelus dada dan lengannya yang sakit akibat pukulan Tania.
"Aku manusia serigala. Lebih kuat dari manusia biasa. Tapi dia, manusia biasa dan aku rasa kekuatannya lebih dari manusia serigala. Dia itu gorila! Arghh sakit..." Kei menggelengkan kepalanya.
"Tapi apa aku berlebihan ya tadi?" entah kenapa Kei merasa bersalah. Biasanya dia tidak perduli pada gadis yang dikasarinya atau dia cueki, tapi kali ini dia khawatir pada Tania.
"Masa bodoh, untuk apa aku khawatir dengan si gadis gorila tidak jelas itu."
Kei mendengus kesal lalu pergi sambil masih mengelus tubunya yang sakit.
******
"Ada apa denganmu tadi?" tanya Anne sepulang sekolah. Tania, Casey dan Anne berkumpul di rumah Anne. Anne melihat Tania yang cemberut terus menerus dari selesai jam istirahat sampai pulang sekolah. Baru saat mereka tiba di rumah Anne, Tania mulai tidak cemberut lagi.
"Kenapa denganku?"
"Kami terus-menerus cemberut dan kesal."
"Semua gara-gara anak baru itu."
"Siapa? Ian? Kei?" Casey yang bertanya kali ini.
"Si beruang kutub." jawab Tania, membuat kedua temannya saling menatap.
"Siapa lagi itu?"
"Kei."
"Aahhh..." Casey menganggukkan kepalanya.
"Memangnya ada apa dengannya?" tanya Anne.
"Dia terlalu sombong dan menyebalkan. Lihat saja dia tadi tidak menyambut uluran tangan Casey dan seenaknya saja dia mengataiku bodoh."
"Kei? Mengataimu bodoh? Kapan dia mengataimu seperti itu."
"Di sekolah. Sudahlah aku tidak ingin membahas tentangnya, membuatku tambah kesal saja." Tania cemberut kembali.
"Kata Ian, Kei memang dingin sama semua orang." kata Casey. "Dia bercerita mereka sudah berteman sejak kecil."
"Tapi mereka berdua pindah bersama juga? Bukankah itu aneh? Apa mereka ada hubungan darah? Sepupu mungkin?" tanya Anne.
"Aku rasa tidak. Ian berkata mereka berteman sedari kecil yang berarti mereka tidak punya hubungan darah."
"Kamu benar Anne. Mereka memang aneh." Tania ikut berkomentar.
"Entahlah. Mungkin mereka memiliki masalah yang sama. Untuk apa memikirkan hal itu. Yang lebih utama, ada tambahan anak laki-laki super tampan untuk asupan vitamin mataku." kata Casey sambil memakan cemilannya.
"Terus kalau ternyata mereka pembunuh bayaran bagaimana? Mereka berpura-pura menjadi anak SMA untuk mencari mangsa."
"Astaga Tania, imaginasimu benar-benar gila. Kenapa tidak menulis novel sekalian." Anne menggelengkan kepalanya.
"Pembunuh bayaran yang tampan dan seksi. Uggghhh love itu." Casey mendukung imaginasi Tania.
"Astaga kalian berdua. Sudah-sudah hentikan imaginasi kalian dan makan saja cemilan itu. Semakin lama semakin aneh saja."
Casey dan Tania tertawa melihat reaksi Anne.
"Tapi aku rasa ada yang aneh pada Ian." Casey mulai lagi dengan dugaan-dugaannya.
"Apa lagi yang aneh?" tanya Tania. "Menurutku si beruang kutub yang aneh. Ian tampak normal bagiku."
"Tidak, dia aneh. Dia lebih cenderung pada... Anne. Aku rasa dia tertarik padamu Anne."
"Hush! Kamu gila. Yang benar saja."
"Benar Anne. Aku memperhatikannya selalu menatapmu dengan intens. Aku yakin dia menyukaimu."
"Whooaahhh Anne punya fans sekarang." goda Tania.
"Berhentilah menggodaku atau kalian aku usir dari sini dan jangan harap meminta bantuanku soal tugas."
"Kejam banget. Kan ini hanya dugaan." protes Casey.
"Dugaan tidak masuk akal. Dia, si Ian, sudah gila jika menyukaiku. Lihat saja penampilanku. Semua orang tahu aku kutu buku, pintar, tidak cantik dan bukan orang yang keren seperti kalian. Jadi jangan menduga yang aneh-aneh!"
"Kamu itu cantik Anne astaga. Siapa yang berani bilang Anne tidak cantik? Akan aku mutilasi mereka."
"Akan aku bantu memutilasi mereka Tan. Semangat!!"
"Semangat!!"
Tania dan Casey mengacungkan kepalan tangannya ke atas. Anne menggelengkan kepalanya.
"Mereka sudah gila."
*******
...Tadariez...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments