Tania berjalan menyusuri hutan. Untuk kesekian kalinya dia akan bertemu dengan serigala itu. Entah kenapa dia merasa nyaman bila didekat serigala itu. Ingin rasanya dia bawa pulang tapi itu tidak mungkin karena ukuran serigala itu sangat besar. Tidak akan muat untuk melewati pintunya saja. Memikirkan itu membuat Tania tersenyum sendiri.
Tidak jauh dari Tania, Kei, sedang berjalan menuju pelatihannya. Kali ini dia melewati hutan belakang sekolah. Kei berhenti melangkah. Matanya menangkap sesuatu. Dia menyipitkan matanya.
'Tania?! Itu Tania! Sedang apa dia disini? Ini seharusnya bukan waktu untuk bertemu.'
Kei tahu biasanya sepulang sekolah Tania akan pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum akhirnya dia keluar lagi untuk bertemu dengannya.
Kei mengikuti Tania perlahan agar Tania tidak melihatnya. Dia ingin dekat dengan Tania sedekat mungkin. Sebentar lagi Kei berumur tujuh belas tahun dan itu akan menentukan nasibnya. Monster itu akan keluar dan dia tidak ingin melukai Tania.
Perlakuannya kemarin dan hari inu luar biasa menyenangkan. Kemarin dia membantu Tania melempar bola basket dan bahkan dia meminta Tania menjaga bajunya. Hari ini dia bertemu Tania di perpustakaan.
Flashback on
Tania berjalan menuju perpustakaan. Kei melihat itu dan mengikutinya. Tapi dengan jarak yang agak jauh jadi tidak ada yang tahu jika dia mengikuti Tania sejak tadi.
Tania masuk kedalam perpustakaan dan tentu saja Kei juga ikut. Sekarang jarak Tania dan Kei dipisahkan oleh satu rak buku. Kei bisa melihat Tania dari sela-sela buku yang tersusun rapi di rak. Kei tersenyum melihat betapa Tania begitu fokus pada apa yang di bacanya sampai-sampai dia tidak melihat Kei.
Tiba-tiba perpustakaan tampak ramai. Beberapa kali Kei mendengar penjaga perpustakaan, nyonya Daniels, menyuruh beberapa murid untuk diam. Kei mencoba melihat ada apa. Tapi saat dia muncul dari balik rak buku, semakin riuh saja perpustakaan. Nyonya Daniels yang mengetahui penyebab riuhnya perpustakaan hanya melihat Kei dengan tatapan tajam dan melipat kedua tangannya didepan, sesekali memperbaiki kaca matanya yang melorot. Kei yang merasa di tatap dengan tidak suka oleh nyonya Daniels hanya mengalihkan wajahnya lalu berjalan menuju Tania berada.
"Huh sial! Kenapa para gadis ini tidak bisa meninggalkanku sendiri? Dan semakin parah saja semenjak pertandingan basket kemarin! Gara-gara Jason gila itu.' umpat Kei.
"Sepertinya kamu semakin terkenal saja." kata Tania yang saat ini sudah menatap Kei. Kei terkejut lalu cepat-cepat mengubah keterkejutan wajahnya menjadi wajah datarnya.
"Bukan urusanmu." sahut Kei. Kei berpura-pura mencari buku padahal dia ingin sekali berada di dekat Tania saat ini tapi dia tidak ingin gegabah dengan membuat perubahan besar. Nanti Tania akan menganggapnya pevert. Seperti kata Ian, pelan-pelan saja.
"Benar juga." kata Tania lalu beralih lagi ke buku yang dipegangnya.
Sudah sekitar lima menit Kei dan Tania berdiri dalam diam. Tania larut dalam buku yang di bacanya sementara Kei larut dalam pikirannya bagaimana mendekati Tania. Maklum saja, Kei belum pernah mendekati perempuan sebelumnya. Ingin bertanya pada Ian tapi harga dirinya jauh lebih utama dari itu. Alhasil dia bingung sendiri. Padahal banyak perempuan tergila-gila pada Kei. Termasuk penulisnya.
Kei melihat Tania yang sekarang melompat-lompat kecil. Dia melihat apa yang sedang ingin diraih oleh Tania. Sebuah buku berwarna biru malam. Kei ingin membantu tapi dia ragu. Tania terus melompat dan tidak sengaja mendarat di posisi yang salah dan membuatnya oleng, hampir jatuh. Kei yang melihat itu dengan cepat memegang pinggang Tania. Tangan kirinya memegang pinggangnya dan tangan kanannya memegang tangan kanan Tania. Tania terkejut. Dia menoleh dan mendapati Kei telah menangkapnya.
Mereka dalam posisi seperti itu selama beberapa detik dan hanya saling pandang. Lalu akhirnya Kei sadar dan melepaskan tangannya setelah membantu Tania berdiri tegap.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Kei.
"Eh? Oh? I- iya." jawab Tania gugup.
"Lain kali jika ingin mengambil sesuatu yang tidak sampai..." Kei mengambil buku yang Tania inginkan. Sebuah buku tebal berwarna biru malam dan menyerahkannya pada Tania. ".... Mintalah tolong pada orang yang sampai."
Tania menatap wajah Kei. Tidak ada wajah datar dan dinginnya Kei sehingga membuat Tania terpesona pada wajah itu. Bahkan buku yang di pegang Kei masih tidak di ambilnya membuat Kei menggoyangkan buku itu agar Tania menerimanya. Tania yang tersadar lalu salah tingkah dan cepat-cepat mengambil buku yang ada ditangan Kei.
"Te-terima kasih." sahut Tania masih gugup. Kei yang melihat Tania slah tingkah dan gugup tersenyum geli.
'Dia... Tersenyum!" kata Tania dalam hati.
"Sampai jumpa lagi." kata Kei lalu mengacak gemas rambut Tania. Tania masih bengong tidak percaya. Dia bahkan tidak sadar Kei mengucapkan kata sampai jumpa lagi. Dia begitu terpesona melihat senyuman Kei.
Flashback end
****
Kei POV
Aku begitu gemas melihatnya salah tingkah. Dia begitu manis. Aku benar-benar menyukainya. Hanya berharap bahwa dia adalah mateku. Tapi aku tidak bisa memilih sesuatu yang sudah di takdirkan untukku kan?
Aku masih mengikutinya. Tapi entah kenapa perasaanku mulai tidak enak. Tiba-tiba aku mendengar beberapa langkah kaki dari kejauhan. Seperti langkah kaki hewan yang cukup banyak. Aku memperkirakan ada enam atau tujuh. Apa itu kawanan Jake?
Aku melihat ke arah Tania lagi. Tapi Tania menghilang dari pandanganku. Sial!
Aku mempercepat jalanku untuk mencari Tania. Aku takut jika Rogue yang datang. Aku takut Tania terluka. Aku menghentikan langkahku saat aku melihat Tania dari kejauhan. Dia baik-baik saja! Thank godness..
Tapi aku mendengar geraman. Geraman itu semakin dekat. Aku melihat Tania terkejut. Sepertinya dia mendengar geraman itu juga.
"Mr. Wolf, is that you?" tanya Tania. Kalian pasti tidak tahu. Tania memanggilku mr. Wolf. Terdengar klise kan? Tapi itu lebih baik. Awalnya dia ingin memanggilku dengan whitey, dogiey. Huh! panggilan apa itu?
Aku tidak bisa menyahut karena aku belum dalam bentuk serigalaku. Aku masih dalam wujud manusia. Tapi geraman itu semakin keras. Lalu muncul serigala, ralat, beberapa serigala. Ada yang bulunya hitam bercampur putih, hitam, coklat. Kuhitung serigala itu berjumlah tujuh.
Astaga! Serigala dari mana ini? Aku tidak pernah melihat serigala ini sebelumnya. Apa mereka rogue? Tunggu dulu. Matanya! Mata mereka berwarna coklat. Mereka Hybrid! Astaga Tania!!
Kulihat Tania berjalan mundur. Dia tampak sangat ketakutan. Aku tidak habis pikir kenapa ada serigala Hybrid disini. Serigala hybrid juga seharusnya berwujud vampir bukan serigala. Ini bukan bulan purnama. Hanya bulan purnama serigala hybrid berubah, tapi sekarang mereka justu berubah menjadi serigala bukannya vampir. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus melindungi Tania.
"Tania!!" panggilku. Tania menoleh dan terkejut melihatku.
"K-kei... Tolong..." sahutnya. Aku berdiri di depan Tania. Aku mengulurkan tanganku, membantunya berdiri. Tania dengan segera menyambut tanganku lalu bersembunyi di belakangku.
Aku melihat ke bola mata serigala-serigala itu. Coklat. Ya, mereka hybrid. Mau apa mereka?
"Tania, jangan lepas tanganku apapun yang terjadi. Kamu mengerti?" tanyaku. Aku melihat dari pundakku dia mengangguk. Aku mengambil tangan Tania dan menggenggam erat.
Lalu aku berlari dengan memegang erat tangan Tania. Aku tidak bisa berlari dengan kekuatan werewolfku. Aku menggandeng Tania sekarang. Aku takut Tania terjatuh. Aku bisa mendengar langkah kaki hybrid itu. Aku tahu mereka menyusul kami dan benar saja. Salah satu dari hybrid itu sudah berdiri didepanku. Aku menyembunyikan Tania di belakangku.
"Sekarang bagaimana?" tanya Tania.
Aku tidak menjawab. Aku jelas kalah jumlah. Apa yang harus ku lakukan?
'Ian! Ian apa kamu mendengarku?' aku mindlink Ian.
Tidak ada jawaban. Sial! Kenapa saat sekarang.
"Tania, kamu percayakan sama aku?" tanyaku padanya Tania. Tidak ada jawaban. Serigala hybrid itu mulai bersiap menyerang.
"Aku percaya Kei." kata Tania. Aku tersenyum lalu membalikkan badanku.
"Kalau begitu, apapun yang terjadi tetap bersamaku. Jangan takut padaku." kataku sambil menatapnya lekat. Tania mengangguk.
"Bagus." aku mencium keningnya. Kulihat dia terkejut. Aku mendorong sedikit tubuhnya agar menjauh.
Aku membuka bajuku lalu berubah menjadi serigala. Aku menggeram keras. Aku melihat Tania. Tania sudah terduduk di tanah sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Dia sangat terkejut.
"Ka-kamu... Kamu..." Tania menunjuk ke arahku. Ya, dia mengenaliku. Aku maju untuk menyentuh tangannya yang terulur untuk menunjukku. Aku membelai diriku sendiri pada tangan itu.
'Jangan takut padaku Tania, aku mohon.'
Aku lihat ekpresinya berubah saat tangannya menyentuh kepalaku. Ku dengar geraman lagi. Kali ini lebih kuat. Aku menggeram kasar. Serigala hybrid yang berdiri di depanku melompat ke arahku. Aku menerjangnya dengan gigitan dan cakaranku. Tak lama serigala hybrid lainnya menyerangku juga. Tidak adil!
Aku tetap bertahan dan berusaha melawan mereka. Tiba-tiba aku mendengar Tania berteriak. Aku menoleh. Salah satu serigala Hybrid sudah berada di atas Tania dan ingin mengigitnya. Aku melempar serigala di depanku dengan kuat lalu beralih menyerang serigala yang mendekati Tania. Aku menghempas serigala itu dan menggeram kuat.
'Siapa kalian? Dan mau apa?!' Tanyaku dengan mindlink.
Tapi mereka tidak menjawab sama sekali. Itu aneh. Karena aku pernah bertemu dengan serigala hybrid sebelumnya, teman dari kakakku Dylan dan dia bisa mindlink denganku. Tapi mereka hanya diam.
'Aku bilang siapa kalian?! Jika kalian berani menyentuh gadis ini, kalian akan mati di tanganku!' Ancamku.
Tapi sepertinya mereka tidak perduli. Mereka tetap menggeram dan mencoba menyerang. Sial!
Mereka menyerang lagi, kali ini mereka menyerang secara bersamaan membuatku kewalahan. Mereka menggigitku dan mencakarku. Sakit sekali sehingga aku tidak memperhatikan Tania lagi. Tubuhku berdarah. Aku serigala yang kuat, itu kata orang tapi tetap saja aku kalah jumlah. Aku tertatih mencoba untuk berdiri.
"Aaaaakkkhhhh....!!!!!"
Aku menoleh dan melihat Tania telah digigit kakinya dan diseret menjauh dariku. Aku ingin menolongnya tapi aku di serang kembali oleh serigala yang lain. Mereka menghempasku jauh. Sekarang posisiku jauh dari Tania. Aku ingin menolongnya.
Kulihat Tania berdiri dan mencoba berlari tapi serigala itu mencakar kasar punggung Tania. Oh tidak, Tania!!!
Aku menggeram kasar. Aku marah sekarang, sangat marah. Aku tidak perduli aku berubah menjadi monster itu. Ku dengar tulangku berbunyi seakan patah. Ya, aku mulai berubah menjadi monster itu.
****
My POV
Dalam hitungan detik, Kei sudah merubah dirinya menjadi monster itu. Bukan Kei lagi yang mengendalikan tapi monster itu. Kei sudah tidak sadar lagi.
Serigala-serigala hybrid itu mulai menyerang Kei. Tapi mereka kalah kuat. Mereka jatuh satu persatu. Kei menggigit dan bahkan merobek tubuh serigala itu. Memutus tangan dan kaki serigala itu dari tubuhnya, mencabik-cabik mereka.
Salah satu serigala itu kabur. Monster itu melihatnya. Dia ingin mengejar tapi dia mendengar sebuah rintihan. Monster itu melihat ke arah suara rintihan itu. Dia mendatanginya. Monster itu berteriak keras saat sudah berada di samping Tania. Tapi monster itu tiba-tiba terdiam. Nafasnya yang memburu mulai tenang kembali. Dia memperhatikan Tania lekat dan tak lama monster itu berjongkok disisi Tania yang terbaring lemah. Monster itu membelai pipi Tania pelan.
Lalu tak lama monster itu berteriak kembali. Dia merasa sakit pada sekujur tubuhnya. Setelah beberapa lama monster itu semakin berubah dan berubah, menjadi Kei.
Kei terkejut. Dia melihat ke dua tangannya.
"Astaga, ini benar-benar aku? Aku berubah kembali menjadi diriku. Bagaimana bisa?!"
Tidak ada yang bisa merubah Kei dari menjadi monster ke wujud manusia kembali. Kecuali jika Kei di tusuk oleh pedang perak yang telah di lapisi wolfsbane dan sihir itu. Tapi kali ini Kei berubah dengan sendirinya dan tanpa tusukan. Ini semua berkat Tania. Kei menatap Tania.
"Ini semua berkatmu Tania, kamu yang merubahku!" sahut Kei. "Tania.. Bangunlah aku mohon. Bangunlah sayang."
Kei menggoyang pelan tubuhnya. Sepertinya Tania kehilangan banyak darah.
"Aku harus membawanya pulang." kata Kei. Saat Kei akan menggendongnya, terdengar geraman lagi. Rupanya serigala yang melarikan diri tadi kembali lagi.
Nafas Kei kembali memburu. Dia bersiap berubah lagi menjadi serigala. Tapi tiba-tiba serigala hybrid itu menggeram kesakitan. Kei bingung. Kei belum berbuat apapun untuk menyakiti serigala itu tapi justru serigala itu sekarang kesakitan. Tubuh serigala itu semakin lama semakin lemah lalu akhirnya terbaring lemas di tanah. Kei menyipitkan matanya mencoba melihat dengan jelas serigala itu.
'Apa dia mati?" tanyanya dalam hati.
"Dia tidak mati. Jika itu yang ada di dalam pikiranmu." sahut suara seseorang di belakang Kei. Kei terkejut dan menoleh. Dia melihat seorang perempuan mengenakan celana kulit berwarna coklat dan baju berlengan panjang berwarna hitam, berjalan ke arahnya.
"Ka-kamu siapa?" tanya Kei saat perempuan itu berdiri di sampingnya.
"Panggil aku Bian. Aku yang terpilih." kata perempuan bernama Bian itu.
"Yang terpilih? Apa itu?" tanya Kei lagi.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus menolong temanmu itu." kata Bian langsung menghampiri Tania yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.
"Oh tidak, Tania!!" Kei tersadar. "Aku akan membawanya pulang." sahut Kei.
"Tidak, jangan. Dia akan mati." kata Bian.
"Dia juga akan mati jika dia dibiarkan disini!" kata Kei setengah berteriak.
"Tenanglah." kata Bian lalu memeriksa nadi Tania. "Lemah sekali. Tapi dia masih hidup."
"Kalau begitu ayo kita pergi." ajak Kei.
"Tidak bisa, dia akan mati!" tolak Bian.
"Jadi aku harus bagaimana?!" teriak Kei frustasi.
"Tenanglah!!" pekik Bian.
"Bagaimana aku bisa tenang dengan situasi seperti ini?!" pekik Kei.
"Karena itu kumohon tenanglah! Kamu mengganggu konsentrasiku!" kata Bian kesal.
"Apa maksudmu?"
"Aku bisa membantu temanmu ini, tapi kamu harus tenang." Bian mendengus kesal.
Bian merentangkan kedua tangannya lalu menutup matanya.
"Minte, trup si suflet vino la mine
Venitî la lumina pe care o aduc
Care măva ajuta săfie la fel ca originalu. "
Bian membaca mantra. Tidak lama semua darah Tania masuk kedalam tubuhnya. Lukanya pun menutup dengan sendirinya. Bian membuka matanya begitu juga dengan Tania yang tersadar. Tania langsung duduk dan menatap Bian lalu Kei.
"Tania!" sahut Kei langsung memeluk Tania. Kei mencium kening Tania lalu melepaskan pelukannya.
"Tadi... Itu..." Tania terbata.
"Sudah, jangan dipikirkan." kata Kei.
"Tidak." Tania menggeleng kuat. "Kamu.. Kamu Mr. Wolf!!" pekik Tania.
"Tania.."
Tania semakin menjauh. Dia ketakutan.
"Tania, ini tetap aku, Kei." sahut Kei menenangkan.
"Siapa kamu sebenarnya?! Tidak! Apa kamu sebenarnya?!" tanya Tania panik.
"Aku adalah... Manusia serigala." kata Kei akhirnya.
"Tidak, itu hanya mitos." elak Tania.
"Tidak Tania, aku memang manusia serigala." ucap Kei.
Tania terdiam. Dia mencoba untuk memproses kata-kata Kei.
"Sepertinya dia terlalu syok. Aku takut terjadi apa-apa." sahut Bian yang sedari tadi memperhatikan.
"Jadi aku harus bagaimana? Dia telah melihatku berubah." kata Kei lirih.
"Hanya satu cara." jawab Bian. Kei menoleh.
Tak lama Bian memunculkan sebuah lilin di tangannya.
"Kamu... Penyihir." kata Kei.
"Sudah ku bilangkan, aku yang terpilih." kata Bian lalu mendekat pada Tania.
"Jangan mendekat!" hardik Tania.
"Tenang saja. Siapa namamu tadi? Tania, iya. Tania namamu kan? Aku bukan manusia serigala seperti dia." Bian menunjuk Kei.
"Kamu... Bukan?"
"Bukan, tenang saja." kata Bian.
"Lalu kamu mau apa?" tanya Tania lagi.
"Sepertinya kamu terlalu syok dengan semua ini jadi aku rasa kamu belum bisa menerima kenyataan seutuhnya bahwa manusia serigala itu nyata dan temanmu adalah salah satunya. Aku tidak mau itu berpengaruh pada otak dan mentalmu. Jadi aku akan membuatmu tenang." jelas Bian. Tania mengerutkan keningnya.
"Flamin Minchier." kata Bian dan tak lama lilin yang di bawa oleh Bian menyala. Tania terkejut.
"Bagaimana... Bagaimana..."
"Aku adalah seorang pesulap, tidak usah takut." kata Bian seenaknya.
"Focul şi văntul devin una
Memorie pe care vreau să o leagă
Arde şi zbura cu vântul
Şterge fără să-şi amintească din nou"
Bian meniup lilinya. Saat lilin itu mati, Tania jatuh tidak sadar seketika.
"Tania?" Kei berlari menghampiri Tania yang tidak sadar. "Kamu apakan dia?!"
"Whoa.. Tenang dulu, jangan marah. Dia hanya tertidur. Nanti saat dia bangun, dia tidak akan mengingat peristiwa apapun yang terjadi tadi. Tentang serigala hybrid itu dan kamu yang seorang manusia serigala. Bukannya kamu seharusnya berterima kasih padaku?" kata Bian.
"Aa.. Aa.. Terima kasih." sahut Kei.
"Ayo bawa dia. Kamu kan manusia serigala, pasti kuat mengangkatnya. Tapi sebelum itu.... Pakailah baju. Meskipun tubuhmu wow, tapi tidak mungkin kamu berkeliaran tanpa baju dan celana seperti itu."
"Ta-tapi aku tidak tahu dimana bajuku?" sahut Kei. Bian memutar bola matanya.
"Astaga, menyusahkan sekali." omel Bian. Bian menutup matanya lalu tak lama muncul baju kaus berwarna hijau dan celana pendek jeans berwarna biru muda di tangannya. Bian menyerahkannya pada Kei.
"I-ini baju siapa? Dan bagaimana kamu bisa memunculkan semua barang itu? Kamu penyihir atau jin?"
"Pakai saja. Kamu cerewet sekali." omel Bian kesal. "Aku akan membakar tubuh mereka."
"Hei! Jangan! Nanti hutan ini ikut terbakar!" cegah Kei.
"Tidak jika dengan apiku."
Bian mengeluarkan api berwarna biru dari kedua tangannya lalu membakar habis tubuh serigala hybrid itu. Tapi api itu tidak membakar yang lain. Hanya serigala hybrid saja.
"Whoa.. Hebat." puji Kei.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Bian.
"Ayo kita pergi. Aku akan membantumu."
Kei mengangkat Tania yang tertidur dengan bridal style dan membawanya keluar hutan bersama penyihir yang baru di temuinya, Bian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments