Mark Chamberlin.

Tania masuk ke dalam kelas dan sudah ada dua sahabatnya disana, Casey dan Ann.

"Ooooo.... Lihat siapa yang tidak datang terlambat hari ini." goda Casey. Tania hanya memasang wajah malu-malunya lalu duduk di kursinya.

"Tumben cepat." tanya Casey yang sekarang sudah berdiri di sebelah Tania.

"Gara-gara kak Andy usil." kata Tania. Dia tersenyum kecil karena teringat kejadian tadi pagi.

"Kak andy? Memangnya kak Andy kenapa?" tanya Casey lagi.

"Dia tahu kalau aku bangun tidur, aku pasti selalu melihat jam dinding di kamarku. Dia mempercepat jam dinding kamarku jadi 30 menit lebih cepat. Bayangkan saja bagaimana aku terburu-buru bangun. Padahal masih jam tujuh pagi." keluh Tania.

Casey dan Anne tertawa. "Waahh kak Andy memang hebat. Seharusnya setiap hari saja seperti itu."

Tania kembali cemberut. Tak lama kelas menjadi tambah riuh. Di kelas-kelas bersebelahan dengan kelas Tania juga riuh. Dari riuh semua gadis-gadis, muncul Ian dan Kei. Ian datang dengan seperti biasa, wajah penuh senyum dan ramah. Kebalikan dengan Kei yang datar dan dingin.

Kei melirik Tania sejenak sebelum akhirnya duduk di kursinya. Tania bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Kei. Tania justru tersenyum pada Ian.

"Hai, selamat pagi." sapa Ian ramah.

"Pagi." kata Casey dan Tania bersamaan. Hanya Anne yang tidak menjawab.

Ian berhenti di sebelah meja Anne kemudian menundukkan tubuhnya sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Anne yang sedang duduk di bangkunya. Ian tersenyum dengan senyuman killernya.

"Pagi, Anne." sapa Ian luar biasa lembut. Jarak wajah mereka sangat dekat. Anne yang terkejut mulai salah tingkah.

"Eh? Se-selamat pagi, Ian." kata Anne gugup. Wajahnya sudah memerah dan kepalanya di tundukkan. Ian yang melihat Anne salah tingkah dan malu, tersenyum manis lalu mengelus kepala Anne lembut. Tubuh Anne membeku seketika.

"Lucunya..." kata Ian dan langsung pergi ke kursinya.

Tania dan Casey yang melihat kejadian itu tersenyum simpul penuh arti. Mereka tidak pernah melihat Anne segugup itu. Anne tidak pernah begitu tertarik pada laki-laki. Dia hanya tertarik pada buku dan sains plus matematika. Kali ini mereka melihat sisi lain Anne.

"Ian, aku mendukungmu. Semangat ya..!" ucap Tania.

"Aku juga." kata Casey.

Ian hanya mengacungkan kedua jempolnya dan tertawa geli.

****

Tania POV

Bell istirahat sudah berbunyi. Akhirnya.... tubuhku sudah pegal dan otakku mulai keriting karena yang kulihat dari tadi hanya rumus matematika yang memusingkan. Aku meregangkan otot-ototku.

"Tania, tolong bantu ibu bawa buku-buku itu ke kantor guru." kata guru matematika, Sussan Harper. Aku menoleh dan langsung berdiri.

"Iya bu." kataku lemas. Bu Harper langsung pergi meninggalkan kelas. Aku melihat tumpukan buku di atas meja guru. Ughh pasti berat.

"Casey, aku ke kantor guru dulu ya. Tunggu aku di kantin dan jangan kemana-kemana." sahutku.

"Oke." jawab Casey. "Apa kamu bisa bawa semua buku itu? Mau aku bantu?"

"Tidak usah, aku yakin tidak terlalu berat. Lagipula ada yang bilang jika kita melakukan perintah guru berarti kita mau mencari perhatian guru." sahutku dengan menekankan kata mencari. "Jadi lebih baik kamu tidak usah bantu. Nanti kamu juga di bilang mencari perhatian guru."

Aku melirik Kei dengan ujung mataku. Dia hanya diam tidak bereaksi apapun.

"Siapa yang bilang seperti itu?" Casey tampak bingung.

"Beruang kutub." sahutku cuek dan pergi mengambil buku lalu menuju ruang guru. Casey yang tahu siapa itu beruang kutub hanya mengangguk dan melirik Kei sejenak.

Ruang guru tidak terlalu jauh dari kelasku tapi kali ini aku merasa ruang guru sangatlah jauh. Mungkin karena kali ini karena aku membawa setumpuk buku yang tinggi. Aku mencoba melihat lurus ke depan dengan susah payah karena buku-buku itu menutupi wajahku. Jadi Aku hanya bisa melihat jalan sesekali. Tiba- tiba tumpukan buku itu bergetar. Aku merasakan ada yang mengambil sebagian buku yang ku bawa. Aku melihat ke samping dan sudah ada Mark disana. Dia mengambil setengah dari tumpukan buku itu dan tersenyum lalu pergi meninggalkanku yang masih bengong dengan mulut terbuka lebar tanpa aku sadari.

"Apa kamu masih mau berdiri disana?" tanya Mark yang melihatku masih berdiri mematung.

"Ah iya." sahutku dan berlari kecil menyusulnya.

Aku tidak berkata sepatah katapun menuju ke ruang guru. Aku merasa canggung, sangat canggung. Aku jarang berbicara pada Mark dan bahkan sebelum kejadian di kantin, aku tidak pernah berbicara sama sekali dengan Mark. Yang aku ketahui, Mark cowok paling tampan disekolah. Semua anak perempuan menyukainya, Casey juga begitu. Tapi aku tidak begitu perduli padanya. Bagiku, cukuplah dengan para Gadis yang menyukainya, aku tidak perlu menyukainya juga. Aku memasuki ruang guru bersama Mark dan meletakkan tumpukan buku itu di meja bu Harper.

"Mark sedang apa disini?" tanya ibu Harper melihat Mark berada di mejanya dan meletakkan sebagian buku. "Apa kamu membantu Tania mengantarkan buku itu?"

"Iya bu." kata Mark.

"Kamu baik sekali." kata ibu Harper sambil tersenyum manis. Oh astaga guru itu. Denganku selalu saja sinisnya luar biasa tapi begitu dengan Mark, bu Harper menjadi manis seperti anak anjing. Tapi maklum saja. Ibu Harper seorang janda. Suaminya telah meninggal lima tahun yang lalu akibat kecelakaan. Mungkin saja bu Harper butuh belaian. Sabar Tania, ini ujian buatmu. Maklumi gurumu itu.

"Saya permisi dulu bu." sahutku akhirnya. Aku tidak ingin melihat lebih jauh kegenitan ibu Harper.

"Baiklah, terima kasih." katanya padaku dengan nada sedikit ketus.

"Saya juga permisi, bu." kata Mark.

"Iya, terima kasih ya sayang." kata bu Harper dengan manis. Sayang? ya ampun guru satu ini. Tania menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tunggu dulu." kata bu Harper mengentikan langkahku dan juga Mark. "Kalian tidak sedang pacaran kan?" tanyanya. What?

"Ti-tidak bu, tentu saja tidak." kataku cepat sambil tersenyum canggung. Bu Harper masih memicingkan matanya melihatku.

"Saya tidak pacaran dengan Tania bu, tapi saya menyukainya." kata Mark membuatku terkejut setengah mati. Kenapa lagi dengan anak itu? "Kalau Tania mau, saya mau berpacaran dengan Tania." Mark tersenyum manis padaku.

Whaaaaat? apaan sih? kenapa jadi begini?

"Jadi... bagaimana denganmu Tania? apa kamu mau jadi pacarnya Mark?" tanya ibu Sims yang sudah ikut bergabung.

Tiga orang dihadapanku menatapku dengan berbagai ekpresi. Ibu Harper dengan ekspresi tidak sukanya, dengan kejadian ini aku yakin dengan sangat, ibu itu akan membenciku. Ibu Sims menatapku dengan menaikkan turunkan kedua alisnya untuk menggodaku dan terakhir Mark yang hanya menatapku dengan senyumannya yang menawan itu. Ahhh sebentar lagi aku akan luluh karena senyuman itu.

"Ah ibu...hahahaha..." aku tertawa canggung seketika. "Mark hanya bermain-main saja bu, hanya menggodaku." kataku.

"Aku tidak main-main." sahut Mark seketika dan membuat tawa canggungku hilang. "Apa kamu mau?"

"Ahh Mark! berhenti bercanda. Tidak lucu." sahutku. Ya, itu tidak lucu. Tapi sebagian hatiku berharap apa yang di katakan Mark itu benar. Tidak Tania, jangan gila. Mark itu cowok yang di sukai Casey. Aku menggelengkan kepalaku. Mark ingin berbicara lagi tapi ibu Harper memotongnya.

"Sebaiknya tidak Tania. Lebih baik kamu belajar karena nilai matematikamu memprihatinkan. Bahkan anak SD saja matematikanya lebih baik dari kamu." kata bu Harper membuatku kesal. Kenapa aku harus di samakan dengan anak Sd?

"Saya permisi dulu bu." kataku dan segera keluar dari ruang guru. Aku tidak ingin berlama-lama disana.

"Tania."

Aku menoleh dan melihat Mark yang sudah ada di belakangku. Dia mendekatiku dan lagi-lagi tersenyum manis padaku. Aku melihat matanya yang biru terang dan rambut coklat kehitamannya. Oh God.

"Kamu mau memikirkannya kan?" tanyanya. Ahhh sial kenapa dia masih membicarakan itu.

"Aku sudah katakan--"

"Mark...." panggil seseorang. Lani datang dengan senyuman manja lalu mengalungkan tangannya ke lengan Mark. Mark menghela nafas kasar dan membuang wajahnya.

"Ternyata kamu disini... aku mencarimu kemana-mana." kata Lani. Jika ada Mark, cowok tampan seantero sekolah, tentu ada Lani, cewek tercantik seantero sekolah. Lani terkenal dengan posesifnya pada Mark. Well, aku tidak tahu hubungan mereka apa, tapi yang jelas, Lani selalu ada dimana Mark berada dan semua cewek-cewek yang dekat dengan Mark akan di basminya.

"Sedang apa kamu bersama dia disini?" tanya Lani dengan tatapan tidak suka padaku. Ah iya, kenapa juga aku masih disini.

"Bukan urusanmu Lani." kata Mark. Aku lihat Mark berusaha melepaskan tangan Lani dari lengannya berkali-kali. Ihh posesif sekali. Aku bergidik melihatnya.

"Apa yang kamu lihat?!" tanya Lani ketus.

"Tidak ada." kataku santai.

"Pergi sana!" usirnya. Seenaknya aja, pikirku.

"Dengan senang hati."

"Tunggu Tania..." Mark memegang tanganku. Aku terkejut dibuatnya.

"Jadi kamu di sini?" kata seseorang di belakangku. Aku menoleh dan melihat Kei yang berdiri di belakangku. Dia melihatku dan Mark secara bergantian kemudian melihat tanganku yang di pegang oleh Mark.

"Pak Simon memanggilmu, cepat pergi. Dia ada di kelas dua." sahutnya lalu membalikkan badannya. Tapi belum jauh melangkah dia berbalik lagi. "Apa kamu masih mau berdiam disana?"

"Ahh iya..." sahutku lalu melepaskan tangan Mark dan berlari kecil mengejar Kei. Selamat, batinku. Meskipun aku membencinya tapi kali ini aku berterima kasih padanya melepaskan aku dari situasi canggung itu.

*****

Hari ini aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku pergi ke hutan Cliftwood. Kadang-kadang aku suka ke hutan ini. Ini hutan yang berada di belakang sekolah. Aku menyusuri jalan setapak di hutan itu. Pohon-pohon tinggi yang rimbun dan udara yang segar. Aku terus berjalan hingga akhirnya aku sampai di ujung hutan itu. Aku bisa melihat bukit-bukit yang tinggi dan jurang. Aku berada di dekat dasar jurang itu. Ada beberapa bebatuan yang besar di sana dan ada padang rumput yang luas dan sangat indah disebelahnya. Aku berdiri di bawah pohon besar. Disebelah pohon itu ada batu yang tingginya melebihiku dan lumayan besar. Aku mendekati batu itu. Ada beberapa tulisan terukir di batu itu. Hanya satu tulisan yang menyita perhatianku.

Arthur Reynold love Amanda Kendrick

Kedua orang tuaku. Jika aku merindukan mereka aku akan ke sini dan memandangi tulisan itu. Aku duduk dan bersandar di batu. Kata kakakku, ini adalah tempat favorit ibu dan ayah. Mereka sering kesini melihat pemandangan alam disini. Bahkan saat aku masih berada di perut ibu, mereka masih ke sini. Aku begitu merindukan mereka meskipun aku tidak memiliki ingatan saat bersama mereka. Mereka meninggal saat aku berumur satu tahun. Jadi aku belum sempat mengenal mereka dengan baik. Hanya dari cerita kakakku dan album foto.

Bukk!!

Aku terkejut. Aku mendengar ada sesuatu yang jatuh. Aku berdiri dan mencoba mencari tahu apa itu. Aku menyusuri padang rumput itu. Ada sesuatu yang bergerak di bebatuan. Aku mencoba mendekat. Tiba-tiba aku terperangah kaget. Aku menutup mulutku dengan tanganku. Aku melihat anjing yang cukup besar, tidak, sangat besar di sana. Aku tidak yakin itu anjing atau serigala. Yang jelas dia jatuh dari atas jurang itu!

*****

...tadariez...

Episodes
1 Bab 1 : Mantan Pangeran
2 Just info
3 Bab 2 : Tania Reynolds
4 Bab 3 : Tragedi Yang Lalu
5 Monster Itu lagi
6 Murid baru
7 Beruang kutub vs gorila
8 Berita mengejutkan
9 Mark Chamberlin.
10 I'm not a Rogue
11 Batu besar
12 Luka yang terlalu cepat sembuh
13 Latihan dadakan
14 Tumpangan Serigala
15 Bahkan alpha tua bangka pun tahu!
16 Blessed my eyes!
17 Awakward Moment
18 Hybrid
19 Para penyihir
20 Latihan
21 Ciuman Kening Pertama
22 Bian si usil
23 Penyerangan
24 Still Worried
25 Dia mirip kakakku yang telah mati
26 Penyerangan
27 Fred dan Cayden
28 Penculikan
29 Pengorbanan
30 One fine day
31 Introducing Zachary Payne
32 Zach si serigala baru
33 Dia adalah Alpha
34 Kamu Manusia Serigala!
35 Aku Akan Mengajaknya.
36 Orichant
37 Penyihir dan penjaga supranatural
38 Kedatangan Kei
39 Pesta Valentine yang Kacau
40 Dia bukan Mate-ku!
41 Livia dan Lily
42 Beta Keturunan Murni
43 Apa kamu sebenarnya?
44 Sang Pengkhianat
45 Aku Harus Menyelamatkannya
46 Kedatangan Bian
47 Penyelamatan
48 Pack Moon Bykort
49 Penyelamatan
50 Kepindahan
51 Mate kedua?
52 Ketahuan
53 Aku adalah rajamu, alphamu
54 Kutukan Banshee?
55 Kotak pandora
56 Para Vampir
57 Aku bukan mate-nya
58 Ryan dan Nathan
59 Gadis baru
60 Racun Kristal
61 Keluarga Cigeira
62 Sumpah Setia
63 Goodbye Nathan
64 Pemakaman Nathan
65 Serigala Gila
66 Kamu Pantas Menjadi Beta
67 West Virginia
68 Disprea
69 Mengikuti Kei
70 Aku adalah malaikat mautmu
71 Layath
72 Mengurung Zigor
73 Kastil Darkness
74 Hybrid
75 Pergi sendirian
76 Menculik Tania
77 Mencari Terlalu Jauh
78 Menyelamatkan Tania
79 Menyerang Bykort
80 Penyerangan ke Bykort
81 Wolfsbane
82 Pengambilalihan Lycan
83 Pertarungan Terakhir
84 Extra Bab
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 : Mantan Pangeran
2
Just info
3
Bab 2 : Tania Reynolds
4
Bab 3 : Tragedi Yang Lalu
5
Monster Itu lagi
6
Murid baru
7
Beruang kutub vs gorila
8
Berita mengejutkan
9
Mark Chamberlin.
10
I'm not a Rogue
11
Batu besar
12
Luka yang terlalu cepat sembuh
13
Latihan dadakan
14
Tumpangan Serigala
15
Bahkan alpha tua bangka pun tahu!
16
Blessed my eyes!
17
Awakward Moment
18
Hybrid
19
Para penyihir
20
Latihan
21
Ciuman Kening Pertama
22
Bian si usil
23
Penyerangan
24
Still Worried
25
Dia mirip kakakku yang telah mati
26
Penyerangan
27
Fred dan Cayden
28
Penculikan
29
Pengorbanan
30
One fine day
31
Introducing Zachary Payne
32
Zach si serigala baru
33
Dia adalah Alpha
34
Kamu Manusia Serigala!
35
Aku Akan Mengajaknya.
36
Orichant
37
Penyihir dan penjaga supranatural
38
Kedatangan Kei
39
Pesta Valentine yang Kacau
40
Dia bukan Mate-ku!
41
Livia dan Lily
42
Beta Keturunan Murni
43
Apa kamu sebenarnya?
44
Sang Pengkhianat
45
Aku Harus Menyelamatkannya
46
Kedatangan Bian
47
Penyelamatan
48
Pack Moon Bykort
49
Penyelamatan
50
Kepindahan
51
Mate kedua?
52
Ketahuan
53
Aku adalah rajamu, alphamu
54
Kutukan Banshee?
55
Kotak pandora
56
Para Vampir
57
Aku bukan mate-nya
58
Ryan dan Nathan
59
Gadis baru
60
Racun Kristal
61
Keluarga Cigeira
62
Sumpah Setia
63
Goodbye Nathan
64
Pemakaman Nathan
65
Serigala Gila
66
Kamu Pantas Menjadi Beta
67
West Virginia
68
Disprea
69
Mengikuti Kei
70
Aku adalah malaikat mautmu
71
Layath
72
Mengurung Zigor
73
Kastil Darkness
74
Hybrid
75
Pergi sendirian
76
Menculik Tania
77
Mencari Terlalu Jauh
78
Menyelamatkan Tania
79
Menyerang Bykort
80
Penyerangan ke Bykort
81
Wolfsbane
82
Pengambilalihan Lycan
83
Pertarungan Terakhir
84
Extra Bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!