Para penyihir

"Apa kamu yakin dia tidak akan ingat?" tanya Kei. Bian memutar bola matanya jengah.

"Iya." kata Bian tanpa menatap Kei. Lalu tiba-tiba Bian menghentikan langkahnya. "Apa kamu tidak lelah bertanya terus? Ini sudah kelima kalinya kamu bertanya!"

"Maaf, hanya meyakinkan." kata Kei sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bian hanya mendengus kecil lalu berjalan kembali.

"Apa kamu tidak pulang anak kecil? Ini sudah malam." kata Bian lagi. Memang sedari tadi Kei terus mengekorinya, membuatnya kesal.

"Aku bukan anak kecil." sahut Kei sedikit kesal. Bian tersenyum geli.

"Iya, iya kamu bukan anak kecil. Tapi ini sudah malam serigala manis. Pulanglah, nanti orang tuamu mencari." kata Bian lalu mengacak rambut Kei gemas.

"Aakhhh jangan mengacak rambutku! Memangnya kita ini kenal dekat apa? Main sentuh saja!" omel Kei. Bian tertawa.

"Maaf, maaf. Wah kamu ternyata galak juga. Kamu mirip dengan adikku." kata Bian. "Ya sudah, aku pergi. Hati-hati dijalan ya adik manis."

Bian mencubit pipi Kei gemas. Saat Kei ingin ngomel lagi, Bian langsung menghilang seketika. Kei sontak kaget dan bengong sejadi-jadinya.

"Whoa kenapa dia bisa menghilang seperti itu?! Dia itu penyihir apa hantu sih?! Jangan- jangan....hiyyyy!!"

Kei berlari secepatnya menuju rumah. Di kepalanya sudah diisi bermacam- macam jenis hantu, membuatnya berlari semakin cepat. Serigala besar takut hantu? Oh Kei kamu imut... Hehehe

****

George terus bolak balik di depan pintu. Ayah Kei hanya duduk diam di sofa dengan tangan mengepal karena gugup. Alpha Sebastian juga sama diamnya. Tidak ada yang bersuara.

"Uhm... Apa kalian yakin dia datang? Maksud saya yang terpilih?" tanya ibu Kei memecah kesunyian.

"Tentu, dia sudah berjanji akan datang dan membantu." kata Damian tenang lalu tersenyum.

Mereka kembali terdiam. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. George yang dari tadi berjalan bolak balik tersentak kaget. Sebastian memberikan isyarat untuk membuka pintu. George dengan cepat membuka pintu yang ada di belakangnya.

"Selamat malam." sapa seorang gadis yang sudah berdiri di hadapan George.

"Selamat malam, yang terpilih." sapa George sedikit membungkukkan badannya hormat. "Silahkan masuk."

Bian masuk ke dalam rumah. Semua orang berdiri lalu membungkukkan sedikit badan mereka, hormat.

"Aaahh tidak perlu seperti itu. Hahaha." sahut Bian tertawa kikuk. Bagaimana tidak, Semua yang ada diruang tamu itu jauh lebih tua darinya tapi mereka membungkuk hormat padanya.

"Silahkan duduk." kata Sebastian.

"Terima kasih alpha."

Bian duduk di salah satu sisi sofa yang panjang. Semua orang ikut duduk. Bian terasa kikuk sekali.

"Bagaimana perjalananmu Bian? Apa ada masalah?" tanya Damian.

"Tidak ada Damian, semua baik-baik saja." jawab Bian.

"Jadi kamu yang terpilih? Wah kamu masih sangat muda." puji ibu Kei.

"Terima kasih." ucap Bian.

"Bian, apa kabar?" tanya Sebastian.

"Baik, alpha. Senang bisa berjumpa kembali."

"Saya juga tentu. Terima kasih sudah mau datang dan membantu."

"Tentu, jangan sungkan. Pack kalian sudah membantuku sepertinya ini sudah saatnya aku balas budi."

"Aahh tidak perlu seperti itu." Sebastian tertawa.

"Lagipula ini menyangkut orang banyak. Jadi tanpa dimintapun saya akan membantu."

"Tentu saja. Perkenalkan ini Oston Ludwig Laros, ayah dari Kei, anak yang pernah kami ceritakan." kata Sebastian sambil menunjuk ke ayah Kei.

"Selamat malam tuan, senang berkenalan sengan anda." kata Bian sopan. Bian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan disambut ramah oleh ayah Kei.

"Selamat malam juga yang terpilih, terima kasih sudah datang." kata ayah Kei.

"Saya ibu Kei." ibu Kei ikut-ikutan mengulurkan tangannya. Bian menyambut tangan ibu Kei.

"Panggil saya Bian, nyonya."

"Aah jangan panggil nyonya. Panggil mom saja. Kamu cantik sekali." puji ibu Kei.

"Terima kasih."

Pandang ibu Kei tidak lepas dari Bian membuat Bian jadi merasa aneh. Melihat itu ayah Kei berdehem. Ibu Kei menoleh. Mereka saling bertatapan. Mata ayah Kei seperti mengatakan ada apa denganmu. Ibu Kei balas menatap dengan tatapan apa? Aku hanya memuji. Bian yang melihat itu tersenyum geli.

"Baiklah mari kita bicarakan rencananya. Aku dan Damian sudah sepakat tentang Kei. Kami akan membuka portal menuju salah satu pack milik teman saya dan Kei akan berada disana sampai hari ulang tahunnya berakhir." jelas Sebastian.

"Kenapa menggunakan portal? Dimana packnya?" tanya Bian.

"Karena packnya sangat jauh, di pack Moon Sykort." jawab Sebastian. Bian mengangguk.

"Tapi apa anda bisa menyerahkan masalah ini dulu pada saya? Jika memang rencana saya tidak berhasil, saya akan mengikuti rencana anda semua." kata Bian.

"Rencana apa Bian?" tanya Damian.

"Saya akan memberikan Kei sebuah benda. Saya ambil benda itu dari kuil moon goddes. Saya berikan mantra kuno didalamnya untuk menahan monster itu. Jika itu berhasil maka monster itu tidak akan keluar tapi jika itu tidak berhasil kita akan menggunakan cara anda semua."

"Tapi... Apa itu tidak terlalu beresiko?" kata ayah Kei.

"Saya tahu tapi kita harus mencoba untuk menghindari masalah. Meskipun di pack Moon Sykort punya tempat yang aman tapi jika di biarkan, anak anda akan tambah sulit mengendalikannya, terlebih dia masih berumur tujuh belas tahun. Emosinya masih sangat labil. Dia harus belajar mengendalikan monster itu. Dengan benda yang aku berikan, monster itu akan terkunci dan hanya akan muncul saat benda itu terlepas dari tangan. Jadi bisa membantu untuk belajar mengendalikan." jelas Bian. Semua terdiam, tampak berpikir.

"Baiklah kita akan coba. Bagaimana Oston?" tanya Sebastian.

"Saya setuju. Setidaknya kita harus mencoba segala cara untuk menahan monster itu." kata ayah Kei.

"Itu benar." guman Sebastian.

Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Munculah Kei dan Ian dan langsung masuk, bergabung dengan semua orang. Kei tahu semua orang berkumpul untuk membicarakan tentangnya.

"Selamat malam semua." sapa Kei dan Ian bersama.

"Kei, kamu sudah pulang? Bersama Ian?" tanya Sebastian.

"Sudah alpha. Tadi bertemu Ian didepan rumah."  jawab Kei jujur. Sebastian mengangguk.

"Mereka... Siapa?" tanya Ian.

"Ah... Perkenalkan, ini adalah tuan Damin Breggier dan Augys Harris, mereka adalah penyihir." kata Sebastian.

"Waaahh saya baru pertama kali bertemu dengan penyihir!! Senang bertemu dengan anda!" pekik Ian senang. Kei yang akan mengulurkan tangannya diserobot oleh Ian. Kei mendengus kesal. Damian dan Augys yang tertawa geli melihat antusias Ian. Bian terkikik geli.

"Saya Ian tuan." kata Ian masih dengan antusiasnya.

'Mulai lagi dia jadi orang aneh. Padahal baru beberapa hari berubah menjadi Ian yang dulu. Sekarang malah jadi Ian yang aneh lagi.' Kei menggelengkan kepalanya.

"Saya Kei tuan, senang bertemu dengan anda." kata Kei menyalami kedua penyihir itu.

"Aahh jadi ini jagoan kita?" puji Damian. Kei mengerutkan kening.

'Jagoan? Kenapa aku merasa seperti anak kecil di panggil seperti itu?' batin Kei. Kei hanya membalas tersenyum tipis.

"Betul. Dia Kei." kata Sebastian. "Dan ini adalah Bian, yang terpilih."

Kei mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan yang duduk manis di antara Cavril dan ayah Kei. Perempuan itu hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Kei terbelalak kaget.

"Kamu!!" pekik Kei sambil menunjuk Bian.

"Kalian... Saling mengenal?" tanya Sebastian bingung.

"Sedang apa kamu disini?!" tanya Kei pada Bian tanpa memperdulikan pertanyaan Sebastian.

"Kei! Itu tidak sopan." omel ibunya. Kei terdiam dan menatap ke semua orang di ruangan itu yang telah menatap heran padanya.

"Kami sudah bertemu tadi alpha. Benarkan serigala manis?" kata Bian.

"Sudah ku bilang jangan memanggilku seperti itu." kata Kei dingin.

"Kei!" tegur ibunya lagi. Kei hanya mendengus kesal. "Maafkan Kei ya Bian. Dia memang seperti itu, kekanak-kanakkan."

"Siapa yang kekanak-kanakkan." gumam Kei pelan dan sudah pasti didengar oleh ibunya. Ibu Kei menatap Kei tajam.

"Tidak apa-apa nyo- err mom err nyonya." kata Bian yang bingung memanggil ibu Kei. Semua orang tersenyum geli kecuali Kei yang masih cemberut.

"Bagus jika kalian sudah bertemu." kata Sebastian.

"Kalau begitu... Bisa saya berbicara berdua dengan Kei?" pinta Bian. Kei mengerutkan keningnya.

'Mau apa penyihir aneh itu berbicara denganku?' gumam Kei.

"Oh tentu, tentu bisa." sahut ibu Kei dengan senang. "Dikamar Kei saja. Ayo Kei, tunjukkan pada Bian dimana kamarmu."

Bian berdiri tapi Kei masih diam saja ditempatnya. Dia enggan untuk berbicara pada Bian. Kei paling tidak suka berbicara pada orang asing jika tidak terpaksa.

"Kei! Apa kamu tidak mendengar ibu?" kata ibunya gemas melihat Kei yang cuek.

"Apa tidak bisa besok saja bu, Kei lelah." kata Kei malas. Ibu Kei mendatangi ke lalu menarik telinga Kei.

"Aa.. Aaa.. Akhhh sakit!!" pekik Kei.

"Kamu ini suka sekali membantah ibu. Cepat tunjukkan kamarmu!" perintah ibunya.

"Iya, iya, iya. Tapi lepas dulu telinga Kei. Sakit...." rintih Kei. Ibu Kei melepaskan tangannya dari telinga Kei. Kei menggosok telinganya yang merah. Semua orang tersenyum geli.

"Maaf ya, saya harus menunjukkan sifat asli saya, habisnya anak ini memang suka seeanak dengkulnya." kata ibu Kei. Bian tersenyum geli. 'Wah ibu Kei cool' gumam Bian dalam hati.

"Sana pergi!" usir ibunya.

"Iya, iya." kata Kei masih menggosok telinganya pelan.

'Huh! Menyebalkan! Seenaknya saja tarik telinga. Sakit dan malu akhirnya. Ibu ini benar-benar tidak melihat situasi dan kondisi, main asal tarik saja!'

"Saya permisi dulu." pamit Kei lalu mulai berjalan menuju kamarnya.

"Kei, tunggu dulu." kata ibunya menghentikan langkah Kei.

"Ada apa lagi bu?" sahut Kei malas.

"Baju siapa itu yang kamu pakai?" tanya ibu Kei sambil menatap Kei curiga. Kei terperanjat.

"Uhmm baju Kei lah bu." kata Kei berbohong.

"Kenapa ibu tidak penah melihatnya?" ibu Kei semakin curiga.

"Itu uhm... Baju lama. Udah lama Kei simpan di dalam lemari. Kei baru memakainya sebagai baju ganti saat latihan tadi." kata Kei.

"Benarkah?" ibu Kei masih menatap Kei dari atas sampai bawah. "Lalu kenapa kamu sudah pulang latihan? Bukannya kamu seharusnya masih berlatih?"

Deg!

'Gawat....!!!' Kei mulai gugup.

"Sudahlah sayang, nanti saja bertanyanya. Bian ingin berbicara pada Kei. Kasiahan sudah menunggu dari tadi." kata ayah Kei.

"Ah iya sampai lupa. Ya sudah sana." kata ibu Kei. Kei menghela nafas lega. Bian hanya tersenyum geli.

****

Kei POV

Aku berjalan ke lantai dua, dimana kamarku berada. Aku membuka kamarku dan melihat kebelakang. Penyihir aneh itu masih ada. Huh! Kenapa sih harus mengajak berbicara? Tapi... Sepertinya dia belum mengatakan yang terjadi tadi.

Aku melemparkan tasku di kasur. Aku lalu duduk di kursi di depan meja belajar. Aku melihat penyihir itu sedang asik melihat-lihat kamarku. Dari usianya, dia terlihat lebih tua dariku. Tapi aku tidak yakin karena dia terlihat masih muda. Tak lama dia menatapku. Kenapa dia melihatku seperti itu?

"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanyaku. Aku merasa risih dengan tatapannya.

"Kamu tidak seperti orang yang punya makhluk itu di dalam tubuhmu. Kamu terlalu manis." katanya lalu duduk di pinggir kasurku. Seenaknya saja bilang aku manis.

"Mau bicara apa padaku?" tanyaku dingin. Aku memasang wajah sedatar mungkin.

"Apa kamu siap dengan ulang tahunmu?" tanyanya.

"Apa urusanmu dengan ulang tahunku?" tanyaku dingin.

"Bukannya kamu akan menjadi makhluk... Apa itu namanya..." kulihat dia sedang mengingat sesuatu.

"Panggil saja monster." sahutku malas.

"Baiklah, monster. Apa kamu tidak takut?"

"Apa kamu hanya ingin menanyakan hal itu padaku?" tanyaku balik.

"Hei! Aku yang bertanya duluan. Kenapa kamu bertanya balik?" katanya menatapku tidak percaya. Aku memutar bola mataku jengah.

"Tentu saja aku gugup. Kamu juga pasti gugup jika jadi aku. Jadi kenapa harus bertanya lagi?!" kataku kesal.

"Whoaa kamu galak sekali. Pantas saja ada monster dalam dirimu. Kamunya saja mirip monster." dia tertawa geli.

"Terserah." jawabku malas.

"Ihh jadi tidak manis lagi." sahutnya.

"Aku memang tidak manis." jawabku.

"Ehh tidak, tidak, tidak. Masih manis kok." katanya lagi. Aku memutar bola mataku jengah lalu mendengus kesal. Oh moon goddes... Lepaskan aku dari perempuan di depanku ini.

"Maaf, maaf. Kamu mirip sekali dengan adikku. Jangan marah ya adik manis." sahutnya. Kenapa masih memanggilku manis sih.

Aku melihat dia menatap langit-langit kamarku. Dia tidak berbicara lagi. Hanya diam.

"Tadi itu... Pacar kamu?" tanyanya membuatku sedikit gugup.

"Ahh... Bu-bukan." jawabku. Dia tertawa kecil.

"Iya juga tidak apa-apa. Dia cantik, kamu tampan. Cocok kok." pujinya. Aku tersenyum tipis. Tentu saja.

"Tapi aku serius tentang ulang tahunmu. Apa kamu siap? Aku jadi kasihan padamu. Biasanya ulang tahun ke tujuh belas diadakan dengan pesta besar-besaran karena menyambut usia yang beranjak dewasa. Tapi kamu malah harus mengahadapi monster itu." katanya menatapku sedih. Aku tersenyum tipis. Memang benar. Seharusnya aku mengadakan pesta, bukannya malah bersembunyi.

Penyihir itu menghadapkan tubuhnya ke depanku. Sekarang kami saling berhadapan. Aku memperhatikannya. Dia cantik. Aku lalu menggeleng cepat. Tidak Kei, kamu punya Tania. Ingat itu!

"Kamu kenapa?" tanyanya. Aku rasa dia heran melihat tingkahku.

"Uhmm tidak apa-apa." jawabku cepat.

"Aku membawa sesuatu untuk kamu." katanya lalu berdiri dan mendekatiku. Aku terkejut tapi entah kenapa kakiku terasa terpaku di lantai. Aku tidak menghindar. Dia sedikit membungkukkan padanya. Dia lalu mengalungkan sebuah kalung padaku. Aku melihat kalung itu Kalung itu berwarna perak dan bertali rantai berwarna perak juga. Kalung itu mempunyai lambang goddes, yaitu bulat di tengah dan di samping kanan dan kirinya ada bentuk seperti bulan sabit. Jadi seperti bulan purnama di apit dua bulan sabit.

Aku melihat ke penyihir itu. Dia masih membungkukkan tubuhnya di dekatku, membuat jarak antara wajahnya dan juga wajahku sangat dekat. Aku menatapnya tapi pandangan penyihir itu ke kalung yang aku kenakan. Penyihir itu mengambil mata kalungku lalu dia tiba-tiba membaca sesuatu yang kuduga sebagai mantra lalu dia meniup kalungku. Tak lama kalungku bersinar. Aku terkejut. Dia menatapku lalu tersenyum. Dia... Cantik.

"Kalung itu akan menjagamu." kata penyihir itu setelah duduk kembali di tempatnya. "Jangan pernah membukanya."

"Ini kalung apa?" tanyaku bingung.

"Aku meminjam itu dari Moon goddes."

"Apa? Maksudnya?"

"Aku meminjamnya dari kuil moon goddes lalu aku berikan mantra kuno.  Aku yakin akan berhasil tapi masih harus melihatnya dulu." katanya. Matanya melihat kalung yang kukenakan lagi.

"Bukannya kuil itu terlarang?" tanyaku. Kuil moon goddes merupakan kuil yang terlarang yang tidak boleh di masuki oleh sembarang orang. Letaknya ada di tengan hutan. Bahkan jarang yang tahu dimana kuil itu berada. Karena itu kuil yang tidak boleh di masuki oleh sembarang orang, kuil moon goddes di sembunyikan.

"Apa kamu lupa siapa aku? Aku kan bukan sembarang orang." katanya santai. Aku menyipitan mataku.

"Memang siapa kamu?" tanyaku. Dia menatapku tidak percaya.

"Kamu ini. Masa iya kamu sudah lupa?"

Aku mendengarnya berdecak kesal. Aku tersenyum geli. Sebenarnya aku sudah tahu siapa itu yang terpilih. Aku hanya belum pernah bertemu.

"Ingat ya adik kecil, jangan dilepaskan apapun yang terjadi. Bahkan saat mandi sekalipun."

"Kenapa kamu masih panggil aku adik kecil sih. Menyebalkan sekali." kataku kesal. Bagaimana tidak, aku seperti anak kecil saja di panggil seperti itu. Aku kan sudah hampir berumur tujuh belas tahun. Tujuh belas! Menyebalkan!

"Kan kamu lebih muda dariku. Tidak mungkin kan kamu ku panggil kakak manis. Kamu juga bukan pacarku yang harus ku panggil sayang manisku." dia tertawa geli. Tapi.. Benar juga. Tapi tetap saja risih!

"Kei, Kei, Kei. Panggil saja Kei." kataku.

"Tidak ah, kamu terlalu manis di panggil seperti itu." katanya.

"Aku tidak manis." protesku tapi dia semakin geli tertawa.

"Aku pergi dulu. Daaagghhh adik manis." katanya lalu cekikikan berlari keluar kamarku. Aku hanya mendengus kesal.

****

Tadariez

Episodes
1 Bab 1 : Mantan Pangeran
2 Just info
3 Bab 2 : Tania Reynolds
4 Bab 3 : Tragedi Yang Lalu
5 Monster Itu lagi
6 Murid baru
7 Beruang kutub vs gorila
8 Berita mengejutkan
9 Mark Chamberlin.
10 I'm not a Rogue
11 Batu besar
12 Luka yang terlalu cepat sembuh
13 Latihan dadakan
14 Tumpangan Serigala
15 Bahkan alpha tua bangka pun tahu!
16 Blessed my eyes!
17 Awakward Moment
18 Hybrid
19 Para penyihir
20 Latihan
21 Ciuman Kening Pertama
22 Bian si usil
23 Penyerangan
24 Still Worried
25 Dia mirip kakakku yang telah mati
26 Penyerangan
27 Fred dan Cayden
28 Penculikan
29 Pengorbanan
30 One fine day
31 Introducing Zachary Payne
32 Zach si serigala baru
33 Dia adalah Alpha
34 Kamu Manusia Serigala!
35 Aku Akan Mengajaknya.
36 Orichant
37 Penyihir dan penjaga supranatural
38 Kedatangan Kei
39 Pesta Valentine yang Kacau
40 Dia bukan Mate-ku!
41 Livia dan Lily
42 Beta Keturunan Murni
43 Apa kamu sebenarnya?
44 Sang Pengkhianat
45 Aku Harus Menyelamatkannya
46 Kedatangan Bian
47 Penyelamatan
48 Pack Moon Bykort
49 Penyelamatan
50 Kepindahan
51 Mate kedua?
52 Ketahuan
53 Aku adalah rajamu, alphamu
54 Kutukan Banshee?
55 Kotak pandora
56 Para Vampir
57 Aku bukan mate-nya
58 Ryan dan Nathan
59 Gadis baru
60 Racun Kristal
61 Keluarga Cigeira
62 Sumpah Setia
63 Goodbye Nathan
64 Pemakaman Nathan
65 Serigala Gila
66 Kamu Pantas Menjadi Beta
67 West Virginia
68 Disprea
69 Mengikuti Kei
70 Aku adalah malaikat mautmu
71 Layath
72 Mengurung Zigor
73 Kastil Darkness
74 Hybrid
75 Pergi sendirian
76 Menculik Tania
77 Mencari Terlalu Jauh
78 Menyelamatkan Tania
79 Menyerang Bykort
80 Penyerangan ke Bykort
81 Wolfsbane
82 Pengambilalihan Lycan
83 Pertarungan Terakhir
84 Extra Bab
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 : Mantan Pangeran
2
Just info
3
Bab 2 : Tania Reynolds
4
Bab 3 : Tragedi Yang Lalu
5
Monster Itu lagi
6
Murid baru
7
Beruang kutub vs gorila
8
Berita mengejutkan
9
Mark Chamberlin.
10
I'm not a Rogue
11
Batu besar
12
Luka yang terlalu cepat sembuh
13
Latihan dadakan
14
Tumpangan Serigala
15
Bahkan alpha tua bangka pun tahu!
16
Blessed my eyes!
17
Awakward Moment
18
Hybrid
19
Para penyihir
20
Latihan
21
Ciuman Kening Pertama
22
Bian si usil
23
Penyerangan
24
Still Worried
25
Dia mirip kakakku yang telah mati
26
Penyerangan
27
Fred dan Cayden
28
Penculikan
29
Pengorbanan
30
One fine day
31
Introducing Zachary Payne
32
Zach si serigala baru
33
Dia adalah Alpha
34
Kamu Manusia Serigala!
35
Aku Akan Mengajaknya.
36
Orichant
37
Penyihir dan penjaga supranatural
38
Kedatangan Kei
39
Pesta Valentine yang Kacau
40
Dia bukan Mate-ku!
41
Livia dan Lily
42
Beta Keturunan Murni
43
Apa kamu sebenarnya?
44
Sang Pengkhianat
45
Aku Harus Menyelamatkannya
46
Kedatangan Bian
47
Penyelamatan
48
Pack Moon Bykort
49
Penyelamatan
50
Kepindahan
51
Mate kedua?
52
Ketahuan
53
Aku adalah rajamu, alphamu
54
Kutukan Banshee?
55
Kotak pandora
56
Para Vampir
57
Aku bukan mate-nya
58
Ryan dan Nathan
59
Gadis baru
60
Racun Kristal
61
Keluarga Cigeira
62
Sumpah Setia
63
Goodbye Nathan
64
Pemakaman Nathan
65
Serigala Gila
66
Kamu Pantas Menjadi Beta
67
West Virginia
68
Disprea
69
Mengikuti Kei
70
Aku adalah malaikat mautmu
71
Layath
72
Mengurung Zigor
73
Kastil Darkness
74
Hybrid
75
Pergi sendirian
76
Menculik Tania
77
Mencari Terlalu Jauh
78
Menyelamatkan Tania
79
Menyerang Bykort
80
Penyerangan ke Bykort
81
Wolfsbane
82
Pengambilalihan Lycan
83
Pertarungan Terakhir
84
Extra Bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!