Bab 2 : Tania Reynolds

Jauh di belahan dunia lain, ada seorang gadis yang sibuk diperpustakaan sekolahnya. Dia mengeluarkan buku dan mencari-cari sesuatu. Jika tidak ditemukannya, dia akan membongkar rak buku yang lain. Dia berusaha sepelan mungkin karena dia tahu dia sedang berada di perpustakaan. Tapi akhirnya kecerobohannya datang. Tangannya menyenggol tumpukan buku yang masih berantakan di sebelahnya. Yap, The reckless Tania. Tidak salah jika teman-temannya memberikan nama panggilan itu padanya.

Brukk!! buku-buku itu jatuh berhamburan dan menimbulkan suara yang cukup keras. Tania langsung mengambil buku-buku itu dengan cepat.

"Nona Tania Reynold." panggil seseorang. Seketika Tania terdiam. Dia menoleh dan mendapati ibu Nancy Daniels sudah berkacak pinggang dan berdiri di dekatnya. Matanya melotot pada Tania dan kaca mata yang di pakainya melorot di ujung hidungnya. Tania menutup matanya dan mengigit bibirnya pelan. Tania berdiri perlahan dan menghadap ibu Daniels, penjaga perpustakaan.

"Sudah beberapa kali kamu menjatuhkan buku-buku itu. Kamu membuat perpustakaan ini menjadi ribut seperti di pasar." sahut ibu Daniels setengah berbisik.

"Sebenarnya baru dua kali bu. Saya hanya---" Tania menghentikan kata-katanya seketika saat melihat ibu Daniels semakin melotot. Bola matanya hampir lepas dari tempatnya. "Maafkan saya." sahut Tania pelan.

"Segera bersihkan semua itu dan ku mohon pergilah." ibu Daniels menghela nafas dengan kasar. Dia pergi meninggalkan Tania dengan buku-buku yang berhamburan. Dengan segera Tania membersihkan buku-buku itu.

Sudah beberapa menit dia merapikan buku-buku itu. Akhirnya buku-buku sudah tersusun rapi di rak, tidak ada lagi buku yang tergeletak di lantai. Tania meletakkan kedua tangannya di pinggang dan mengangguk pasti. Dia tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Tania kemudian beranjak pergi dan menghampiri nyonya Daniels di mejanya. Nyonya Daniels melihatnya dengan wajah masam.

"Sudah saya bersihkan semua bu dan sekali lagi saya minta maaf." sahut Tania dan langsung pergi keluar dari perpustakaan.

Tania berjalan pelan menuju kelas. Dia mengamati beberapa buku yang ada di tangannya.

'Wah banyak juga, apa bisa ya aku menyelesaikan semuanya?'

"Nona Tania Reynold." panggil seseorang di belakangnya. Tania menghentikan langkahnya dan menoleh dan mendapati salah satu gurunya, pak Simon Murphy.

"Iya pak?" tanya Tania.

"Sedang apa kamu disini?" tanya pak Simon.

"Saya dari perpustakaan pak." jawab Tania.

"Perpustakaan? saat jam pelajaran?"

"Apa? apa maksud bapak? ini masih jam istirahat pak. Lihat saja murid-murid lain masih--"

Tania terdiam. Dia memperhatikan sekitarnya. Tidak ada orang disana. Hanya dia murid yang berada di luar kelas. Dia melihat ke gurunya sejenak lalu menundukkan kepalanya.

"Tania, kembali ke kelasmu sekarang." perintah pak Simon.

"Iya pak." sahut Tania seketika lalu membalik tubuhnya dan langsung berjalan menjauhi pak Simon.

"Tania." panggil pak Simon kembali. Tania menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. "Kelas mu disebelah sini." pak Simon menunjuk arah di belakangnya. Tania terkejut dan melihat ke arah yang akan di tujunya tadi lalu berbalik lagi melihat ke arah yang di tunjuk pak Simon. Tania tersenyum malu dan pipinya merona saat dia tahu dia salah arah. Tania langsung berjalan cepat melewati pak Simon dan menuju ke kelas. Pak Simon menggelengkan kepalanya heran melihat kelakuan salah satu muridnya.

Tak berapa lama, Tania sampai di depan kelasnya. Dia membuka pintu dengan perlahan. Semua teman satu kelasnya melihat ke arahnya.

"Nona Tania Reynold." panggil gurunya. Sussan Harper, guru matematika yang sedang mengajar yang memanggilnya. Ini sudah ketiga kalinya namanya dipanggil sangat lengkap oleh gurunya hari ini. Tidak hanya satu guru, melainkan tiga guru sekaligus. Tania masuk kedalam dan berdiri di depan gurunya yang sedang berdiri di depan papan tulis.

"Dari mana saja kamu? pelajaran sudah di mulai dua puluh menit yang lalu." bu Harper melipat tangannya di dadanya sambil menatap Tania tegas.

"Ma-maaf bu, saya tadi dari perpustakaan. Saya tidak tahu jika bel sudah berbunyi." jawab Tania.

"Tania tidur di perpustakaan bu!" celetuk salah seorang teman kelasnya. Semua teman-temannya langsung tertawa. Tania cemberut mendengar kata-kata temannya.

"Sudah, sudah jangan ribut. Kali ini saya maafkan. Duduk."

Tania berjalan ke tempat duduknya. Tania tersenyum pada kedua sahabatnya yang duduk di depan dan belakangnya.

"Tania, kamu dari tadi hanya di perpustakaan?" bisik Casey. Tania menoleh ke belakang dan mengangguk. "Buat apa?"

"Cari dan pinjam buku." kata Tania yang juga berbisik.

"Sebanyak itu?" Casey menunjuk tumpukan buku yang tadi di bawa oleh Tania. Tania mengangguk.

"Makanya, lain kali kalau ada tugas langsung kerjakan." sahut Anne yang duduk di depannya.

Tania cemberut. "Iya, iya." bisiknya akhirnya.

"Eh Anne, apa kamu bisa membantuku mengerjakan tugasku? aku mohon...." pinta Tania yang masih berbisik.

"Dasar, selalu seperti itu." kata Casey.

"Aku tahu, aku juga heran. Kenapa aku dan otakku bisa lupa ya..." Tania memukul kepalanya pelan.

"Sepertinya kamu perlu di periksa sama dokter." sahut Casey.

"Memangnya aku sakit?" protes Tania.

"Mungkin. Dan bisa saja sakitmu merambat menjadi penyakit gila."

"Apa? kau ini..."

"Tania." tegur bu Harper.

Tania yang hendak memukul pelan temannya langsung membalikkan badannya dan tersenyum manis pada gurunya. Bu Harper hanya menghela nafas.

******

"Anne, bantulah aku...please..."

Dari istirahat ke dua sampai pulang sekolah Tania masih saja membujuk Anne untuk membantunya mengerjakan tugas yang sudah di berikan seminggu yang lalu tapi Tania melupakannya dan dia mengutuki dirinya karena itu.

"Anne..." panggil Tania putus asa.

Anne menghentikan langkahnya dan menghela nafas panjang.

"Kemarikan buku itu. Biar aku bawa setengahnya. Kita akan kerumahku." kata Anne akhirnya.

"Anne!! kamu memang yang terbaik...!!!" Tania bersorak gembira.

"Ya ampun kamu ini. Jangan berteriak. Sangat memalukan." Anne langsung berjalan cepat meninggalkan Tania.

"Lalu aku?" tanya Casey. "Apa aku bukan teman yang baik?"

"Kalau Casey teman yang cantik. Ayo kita pergi." Tania mengalungkan tangannya ke lengan Casey dan berjalan menuju rumah Anne.

Tania tidak berhenti-hentinya membola-balik buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Sesekali dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia mencoba untuk mengerti apa yang dia baca. Tapi semakin lama dia baca, dia semakin tidak mengerti. Anne masuk ke kamarnya membawa makanan ringan.

"Apa kamu sudah mendapatkannya?" tanya Anne. Tania menggeleng.

"Sepertinya otakku tidak mau bekerja sama kali ini." jawab Tania lemas.

"Dasar kamu ini. Sini aku bantu cari." sahut Anne akhirnya. Tania langsung senyum sumringah dan semanis mungkin pada Anne. "Ughh jangan senyum seperti itu!! Aku mau muntah, huweekk.." ejek Anne. Tania cemberut mendengarnya.

"Eh kalian." panggil Casey. Tania dan Anne serempak menoleh. "Kalian dengar tidak soal Mark yang katanya berpacaran dengan Lizzie?"

"Benarkah? mereka berpacaran?" tanya Tania terkejut. Casey mengangkat kedua bahunya.

"Entahlah, mungkin. Aku dengar dari anak-anak yang lain. Katanya ada yang melihat mereka berciuman di belakang sekolah." kata Casey.

"Berciuman?" kata Tania dan Anne bersamaan. Casey mengangguk.

"Tidak mungkin." kata Tania. "Aku yakin itu hanya gosip."

"Iya kan? pasti hanya gosip kan? tidak mungkin Mark mau pacaran dengan orang aneh seperti Lizzie." kata Casey.

"Dia bukan orang aneh Casey." kata Anne.

"Dia orang aneh, itu menurutku. Tidak akan aku biarkan Mark jatuh ketangannya. Seenaknya saja. Aku saja yang populer di sekolah dan sudah mengejar-ngejar Mark sedari SMP masih belum bisa berpacaran dengan Mark. Seenaknya saja dia melangkahiku." sahut Casey kesal.

Casey memang salah satu yang paling cantik di sekolah. Rambut pirang yang gelombang dan panjang, kulit putih bersih dan hidung mancung serta bibir tipis seksi membuatnya menjadi salah satu yang tercantik. Semua anak laki-laki di sekolah mereka menyukai Casey. Tapi sedari mereka SMP, Casey memang menyukai Mark Chamberlin, cowok paling tampan di sekolah. Mark pindah ke kota Summerset saat mereka SMP dan semenjak saat itu, Mark menjadi cowok tertampan disana. Tapi Mark susah untuk di dekati. Secantik apapun gadis itu, jika dia tidak menganggap gadis itu menarik, dia tidak akan mendekatinya. Seperti halnya Casey. Casey salah satu gadis tercantik, tapi Mark tidak begitu memperdulikannya karena Mark berpendapat Casey tidaklah menarik. Cantik, tapi tidak menarik.

"Selama ini aku selalu bingung, gadis seperti apa yang disukai Mark. Bahkan Casey yang sangat cantik pun masih tidak cukup." kata Tania.

"Huft... aku sebal mengingat itu." Casey mendengus kesal. Dia jadi teringat saat dia mengungkapkan perasaannya pada Mark dan Mark langsung menolaknya. Casey benar-benar malu dan hampir tidak ingin bersekolah lagi.

"Hei kalian kemari ingin mengerjakan tugas ini atau hanya bergosip?" Anne mulai mengomel. Tania tertawa.

"Maaf... maaf. Ayo kita kerjakan lagi." kata Tania sambil mengambil kembali buku yang tadi dia baca.

****

Kei terperanjat tidak percaya. Mulutnya terbuka lebar. Matanya tidak berkedip bahkan dia tidak bergerak sama sekali. Dia begitu terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Seorang laki-laki tampan, berkulit sedikit kecoklatan, rambut coklat yang sudah dipotong pendek, bertubuh tinggi dan sempurna. Terlebih Kei mengenal orang itu.

"Baiklah, silahkan duduk di tempat kosong yang kamu inginkan tuan Miller." guru Kei mempersilahkan lelaki itu duduk. Laki-laki itu duduk di depan Kei.

"Baik anak-anak, ayo kita lanjutkan lagi." sahut ibu Nancy Brighton.

"Apa yang kamu lakukan?" bisik Kei pada laki-laki yang ada di depannya. Laki-laki itu menoleh.

"Apa maksudmu?" tanyanya dengan berbisik juga.

"Sedang apa kamu disini?" bisik Kei lagi.

"Sekolah." jawab laki-laki itu sambil mengangkat buku yang baru saja di keluarkan dari tasnya.

"Sekolah? Jangan bercanda."

"Kei, aku ingin sekali bercanda tapi aku benar-benar sedang tidak bercanda, bergurau atau apapun yang ada dipikiranmu. Dan jangan kira aku menyukai ini. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku jauh lebih tua dari usia anak SMA kebanyakan!" jelas laki-laki itu.

"Lalu untuk apa kamu disini? Ian, jika kamu lakukan sesu-"

"Kei." panggi ibu Brighton, memotong kata-kata Kei. Kei menoleh dan mendapati ibu Brighton sedang menatapnya tajam dengan tangan terlipat didadanya.

"Aku tahu kamu sangat ingin mengenal Ian Miller, tapi sekarang jam pelajaran. Lakukanlah nanti. Dan aku kan sangat yakin Ian akan senang mempunyai teman baru." kata ibu Brighton. Ian tersenyum.

"Dengan senang hati." sahutnya dengan senyum yang canggung.

*****

Kei berjalan terburu-buru menuju halaman belakang sekolahnya. Dia sedang mencari keberadaan Ian.

"Kei, berjalanlah pelan sedikit." Ruben yang ikut berjalan dengan Kei sedikit kewalahan.

"Aku ingin segera mengetahui alasan orang gila itu bersekolah disini." kata kei tanpa memperlambat jalannya.

"Aku yakin dia punya alasan." sahut Tim. "Atau mungkin ayahmu ingin dia bersekolah disini, untuk menjagamu."

Kei menghentikan langkahnya dan menghadap Tim. "Ayahku? menjagaku? dari apa?"

"Aku tidak tahu tapi yang jelas pasti ada sesuatu." jawan Tim.

"Dan aku harus mengetahui itu." kata Kei lalu melajutkan jalannya.

Tak lama Kei melihat sosok yang dia kenal, Ian Miller bersama beberapa gadis di sekolahnya. Kei mendatanginya.

"Ian." panggil Kei. Ian menoleh dan tersenyum lebar.

"Kei! kejutan... kemarilah, bergabung denganku dan para gadis cantik ini." ajak Ian.

"Kita harus bicara tapi tidak disini."

Kei menarik tangan Ian menjauh dari kerumunan gadis itu. Setelah agak jauh Kei melepaskan tangannya.

"Wah Kei, ini pertama kalinya kamu memegang tanganku. Entah aku harus merasa senang atau tidak. Tapi ini sangat mengejutkan." sahut Ian antusias.

"Aku sungguh tidak perduli apa yang kamu rasakan saat ini." kata Kei dingin.

"Oh.. kasar sekali. Kamu mematahkan hatiku." kata Ian. Dia berusaha membuat wajahnya tampak sedih dan menyentuh dadanya.

"Seriuslah...!!!" pekik Kei.

"Aku serius Kei." kata Ian lagi.

"Terserahlah." Kei menghela nafas. "Sedang apa kamu disini?"

"Uhmm... sekolah?" jawab Ian seenaknya lagi.

"Ian...!!!!" pekik Kei lagi. "Aku mohon seriuslah, sekali saja!!"

"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf." sahut Ian setelah melihat ekpresi putus asa Kei.

"Apa ayah yang mengirimmu kemari?" tanya Kei. Ian mengangguk.

"Iya." jawab Ian singkat.

"Untuk apa?" tanya Kei lagi.

"Menjagamu tentu." jawab Ian lagi. Kei mengerutkan keningnya.

"Tapi untuk apa? aku baik-baik saja."

"Ayahmu bilang kamu mungkin dalam bahaya."

"Bahaya? aku?" Kei bingung.

"Kei, ayahmu tahu tentangmu dengan Cayden. Tentang perkelahianmu. Selama ini ayahmu diam saja karena dia tidak ingin mencampuri urusanmu, karena dia menghormatimu. Tapi melihat dirimu yang terpancing emosi waktu itu, ayahmu tidak bisa tinggal diam lagi." jelas Ian.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri." kata Kei dingin.

"Ayahmu tahu itu, meskipun aku tidak. Dia hanya ingin melindungimu." kata Ian.

"Melindungiku? untuk apa? agar dia tidak malu mempunyai anak yang ternyata ada monster didalam dirinya?"

"Bukan seperti itu Kei." Ian mencoba menenangkan kei yang mulai kesal.

"Aku tidak butuh perlindungan dan menjauhlah dariku." kata Kei dan langsung pergi meninggalkan Ian.

"Hei...!! kamu yang mendatangi aku tadi." sahut Ian setengah berteriak. "Tunggu aku."

*****

Kei berjalan cepat menuju rumahnya. Ian berusaha mengejarnya. Kei merasa muak di ikuti oleh Ian terus menerus. Ian menempel terus padanya semenjak dia masuk ke sekolah. Sudah seminggu Ian masuk sekolah dan sudah seminggu juga Ian menempel padanya. Kei merasa sangat risih dan terganggu. Bahkan satu sekolah membicarakan itu. Di hari pertama Ian masuk, dia sudah menjadi anak populer karena ketampanannya. Tapi Ian berbeda dengan Kei. Ian sangat ramah. Dia membalas semua sapaan anak perempuan yang menegurnya, menerima semua hadiah yang diberikan padanya, bahkan Ian dengan senang hati berbicara pada gadis-gadis itu. Tapi yang membuat Kei muak, Ian melakukan semua itu dengan tetap menempel padanya. Tim dan Ruben tidak pernah melakukan semua hal itu. Bukan karena mereka tidak sepopuler Ian tapi karena mereka memikirkan perasaan Kei. Terlebih Ian sangat menyukai kepopulerannya, membuat Kei sangat muak.

"Kei, kau akan terjatuh jika berjalan terlalu cepat." ucap Ian yang masih mencoba mengejar Kei yang berjalan sangat cepat didepannya.

"Bukan urusanmu." sahut Kei dingin.

"Tentu saja urusanku, aku pengawalmu. Bagaimana aku bisa menghadapi ayahmu nanti jika aku tidak bisa menjagamu dengan baik?" kata Ian.

"Kalau begitu jangan jadi pengawalku." ucap Kei lagi.

"Seandainya aku bisa." gumam Ian pelan, berusaha agar Kei tidak mendengarnya.

"Aku mendengarmu." sahut Kei.

"Ah.. aku lupa kalau kita serigala. Kita mempunyai telinga dan hidung yang tajam." kata Ian. "Tunggu aku."

Ian berlari kecil mengejar Kei. Kei menjauh kembali saat Ian mendekat. Tiba-tiba muncul serigala besar didepan mereka. Serigala itu menggeram keras pada Kei dan Ian. Kei hanya mendengus kesal pada serigala itu. Dia tahu serigala itu akan membuatnya semakin kesal.

"Cayden...!!! sungguh sangat tidak mengejutkan." sapa Ian.

Serigala itu perlahan berubah menjadi seseorang yang mereka kenal, Cayden.

"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan lovey dovey. Sang mantan pangeran dengan pengawalnya. Kalian benar-benar pasangan yang sempurna." ejek Cayden

"Cayden, aku bertanya-tanya selama ini, dimana kamu berada. Dan disinilah dia. Aku benar-benar merindukanmu." kata Ian dengan wajah yang manis.

"Kau sungguh menjijikkan, kau tahu itu." kata Cayden.

"Dan kau hanya pecundang dan anak manja." balas Ian.

"Kau--"

"Kalian benar-benar cocok." sahut Kei sambil berlalu.

"Kei, bagaimana jika kita menyelesaikan yang waktu itu?" Cayden mengalungkan tangan kanannya di pundak Kei. Kei melepasnya dengan kasar.

"Jangan ganggu aku Cayden." sahut Kei dengan wajah masam. Dia sudah begitu muak berhadapan dengan Cayden.

"Mungkin... tapi kita harus menyelesaikan pertarungan itu dulu." kata Cayden.

"Bagaimana jika denganku? bukannya waktu itu juga kamu belum menyelesaikan pertarungan denganku?" sahut Ian.

"Jangan ikut campur." kata Cayden yang tampak kesal.

"Oh... Cayden, apa kamu takut?" ejek Ian.

"Kau-- Kamu benar-benar tidak punya sopan santun. Aku pangeran disini, tapi kamu masih memperlakukan aku dengan seenaknya!!" suara Cayden meninggi.

"Oopss.. maafkan saya yang mulia."sahut Ian dengan menundukkan badannya sedikit, tanda hormat. "Kamu tidak berpikir aku akan hormat begitu kan? Itu sangat buang-buang waktu."

"Kau--"

"Ayolah Cayden... ayo kita bertarung. Aku ingin lihat apa anak manja seperti kamu bisa mengalahkanku." tantang Ian.

"Aku bukan anak manja." sahut Cayden.

"Ohh... maafkan aku. Bukan anak manja, tapi sangat manja. Ya, seharusnya begitu, maafkan aku."

Cayden sudah tidak bisa menahan amarah lagi. Wajahnya memerah. Gerahamnnya gemeretak. Dia memandang Ian tajam. Dia begitu muak padanya. Ian tidak pernah menghormatinya seperti orang lain, padahal dia adalah pangeran Lykort.

"Apa kamu marah? bagus kalau begitu." Ian melempar tas sekolahnya. "Ini akan sangat menyenangkan." gumamnya.

"Cukup." kata Kei yang sedari tadi diam. "Ayo kita pulang Ian."

Kei berjalan lagi.

"Sepertinya ada perkelahian disini." sahut sebuah suara seseorang yang baru saja datang. "Atau hanya perkumpulan serigala tidak berguna."

Semua orang menoleh dan mendapati Fred, kakak laki-laki Cayden. Dia mengenakan celana jeans biru terang dan kemeja biru malam. Fred datang bersama kedua temannya.

"Ian, apakah itu kamu yang menggunakan seragam SMA?" tanya Fred. "Aku tidak tahu jika kamu masih enam belas tahun."

Ian hanya terdiam memandangi Fred dingin.

"Oh... jangan memandangiku seperti itu." kata Fred setelah melihat tatapan tajam Ian. "Hai Kei."

Kei juga tidak menjawab.

"Aku rasa semua orang disini bisu." sahut Fred tampak kesal karena tidak ada yang menjawab. "Bagaimana kabar ayahmu Kei? tampaknya dia sudah membaik. Aku melihatnya beberapa hari lalu."

Kei masih tidak menjawab. Dia hanya membuang wajahnya.

"Hei... aku sedang berbicara denganmu, Kei. Jika seorang pangeran bertanya, kamu seharusnya menjawab." kata Fred dengan suara dingin dan tatapan tajam ke Kei.

"Jangan ganggu dia Fred." sahut Ian akhirnya.

"Jangan ikut campur Ian, aku sedang berbicara pada Kei." kata Fred.

"Jika kau berbicara padanya berarti kau berurusan denganku." kata Ian. Fred tertawa.

"Apa kamu tidak terlalu berlebihan Ian? dia bukan anak kecil lagi. Kamu tidak perlu menjaganya seperti itu. Bahkan kamu rela menggunakan seragam konyol itu. Kamu benar-benar menyedihkan." ejek Fred.

"Tidak, kau yang menyedihkan. Bahkan dengan umurmu sekarang, kamu masih punya waktu untuk mengurusi urusan anak enam belas tahun. Kamu selalu berkata, dewasalah Ian. Aku rasa kau yang harus dewasa Fred." Ian mengejek balik. "Apa kamu yakin kamu itu kakaknya Cayden? dengan mencampuri urusan Cayden membuatmu terlihat pengawal bagiku dari pada pangeran yang selalu kamu banggakan itu."

Fred tersenyum sinis.

"Berani sekali. Berani sekali serigala dari kelas rendahan sepertimu menilaiku!"

"Aku mungkin memang serigala kelas rendah, aku bukan bangsawan seperti kalian. Tapi setidaknya aku tidak mempunyai sikap rendahan sepertimu. Jauh lebih rendah daripada statusku."

"Kau--"

"Cukup! hentikan." ucap Kei yang sedari tadi diam. "Ayahku baik-baik saja Fred, jangan khawatir dan Ian, dia akan aku peringatkan untuk lebih sopan lagi.

"Tunggu, kenapa jadi aku? harusnya dia Kei!!" protes Ian.

"Cukup Ian, ayo kita pergi." ajak Kei.

"Ya, pergilah. Sebelum aku membuatmu mati seperti Dylan." kata Fred.

Kei terdiam. Dia merasa sangat marah sekarang. Dia paling tidak suka jika ada yang mengungkit Dylan, kakaknya.

"Jangan mengungkit kakakku." kata Kei dingin.

"Tunggu, apa kau marah padaku? aku hanya mengatakan yang sebenarnya, bahwa kakakmu telah mati. Seharusnya kau sudah menerima hal itu." kata Fred.

"Dan apa kamu sudah puas membunuhnya? Cih! kalian keluarga curang." kata Kei dingin.

Fred tertawa. "Apa kamu ingin mati seperti kakakmu? aku akan dengan senang hati melakukannya."

Kei maju selangkah dan menatap Fred dengan tajam. Bola mata hijaunya sudah berubah menjadi hitam pekat.

"Oh... lihatlah. Apa kamu yakin bisa mengalahkanku anak kecil?" tanya Fred.

"Aku bisa." Ian menjawab. Dia maju dan sudah berada di depan Kei.

"Jangan ikut campur Ian, aku bisa sendiri." sahut Kei.

"Tidak Kei, kamu tidak bisa." jawab Ian.

"Bisakah kamu berhenti memperlakukan aku seperti itu? menjauhlah dariku!!"

"Tidak! aku tidak akan menjauh darimu." tegas Ian.

"Ouwhh... romantis sekali." ucap Fred sambil bertepuk tangan. "Aku sungguh tersentuh." Fred menyentuh dadanya dan membuat wajah yang lembut. Seluruh temannya tertawa.

Kei menatap tajam Fred dan Ian bergantian lalu pergi meninggalkan mereka.

"Kei...!!!" panggil Ian.

"Lihat betapa pengecutnya dia kak." kata Cayden pada kakaknya. Fred hanya menatap Kei dalam diam. Tidak ada tawa dibibirnya.

"Jika kamu... tidak, jika kalian berdua berani mengganggu atau menyakiti Kei, aku bersumpah akan membunuh kalian berdua." ancam Ian.

"Lalu aku harus takut pada serigala rendahan seperti kamu? dasar tidak punya sopan santun. Aku ini pangeran... bukan, aku ini putra mahkota. Seluruh Lycanthrope akan menjadi milikku, terutama Lykort dan kamu tentu." ucap Fred.

Ian tertawa keras. "Aku tidak takut Fred, kamu tahu itu. Aku tidak perduli siapa kamu atau apapun yang kamu lakukan. Tapi jika kalian menggores Kei sedikit saja, aku akan membunuh kalian. Dan kamu, bahkan sangat tahu Fred, bahwa aku lebih kuat dari kamu. Apa perlu aku ingatkan kembali?"

"Lancang!! jika Alpha tahu, ayahku tahu, kau akan--"

"Aku tidak perduli." potong Ian cepat. "Dia ayahmu dan alpha di Lykort. Tapi tidak denganku dan ayahku. Dia bukanlah alphaku. Alphaku adalah Oston Hector Laros, bukan ayahmu. Jadi ingat kata-kataku Fred, dan kamu tahu, aku tidak sedang bermain-main." ancam Ian.

Fred dan Cayden terdiam. Mereka tahu apa yang di katakan Ian adalah benar, semuanya. Bahwa Ian jauh lebih kuat dari mereka dan itu membuat Fred menjadi kesal. Ian meninggalkan mereka semua dan berlari mengejar Kei. Ian berlari secepat dia bisa.

"Kei...!!" panggilnya. Ian masih terus berlari sampai dia menemukan Kei berjalan pelan di depannya. Ian menyentuh pundak Kei.

"Kei..."

"Lepaskan!!" Kei menghempas kasar tangan Ian dari pundaknya dan langsung mempercepat langkahnya.

"Tunggu aku, ayo kita pulang bersama."

"Tidak!! tinggalkan aku sendiri!!" teriak Kei. Ian tahu Kei sangat marah sekarang. Membuat Ian tidak tahu harus berbuat apa. Ian masih mengikuti Kei.

"Bisakah kamu berhenti melakukan itu padaku?" Kei berhenti dan menatap Ian.

"Melakukan apa? aku hanya membantumu dan itu sudah menjadi tugasku Kei." jawab Ian.

"Berhenti membuat aku tampak seperti anak kecil, tampak lemah!"

"Tapi aku tidak-"

"Aku benar-benar membencimu." sahut Kei akhirnya. Dia tahu itu tidak benar, dia hanya ingin Ian pergi darinya. Kei beranjak pergi.

"Oke, baiklah. Silahkan benci aku sepuasmu Kei." kata Ian membuat Kei menghentikan langkahnya. "Kamu boleh membenciku tapi jangan menyuruhku pergi darimu karena kamu tahu betul aku tidak bisa meskipun aku mau. Kamu tahu perintah ayahmu mutlak untukku Kei, karena dia adalah alphaku, bukan raja Ordovic karena aku dan ayahmu telah melakukan perjanjian serigala Kei. Dan asal kamu tahu, tidak hanya kamu yang kehilangan Dylan. Aku juga, Dylan adalah sahabat baikku."

Kei hanya terdiam mendengar kata-kata Ian. Itu benar. Dylan adalah sahabat Ian sedari kecil. Mereka sering berlatih bertempur bersama, pergi sekolah, hingga kadang melakukan kekacauan bersama. Ian sangat terpukul dengan kepergian Dylan. Ian adalah pengawal yang sangat berbakat dan kuat, seperti ayahnya. Raja Ordovic bahkan ingin membuat Ian menjadi pengawalnya, tapi tentu saja Ian menolak karena sudah melakukan perjanjian dengan ayahnya Kei, serta dia juga tidak ingin berada disisi raja yang tamak dan kejam.

"Pergilah, jangan ikuti aku." kata Kei akhirnya. "Untuk sekali ini saja, jangan ikuti aku. Aku ingin sendiri."

****

...Tadariez...

Episodes
1 Bab 1 : Mantan Pangeran
2 Just info
3 Bab 2 : Tania Reynolds
4 Bab 3 : Tragedi Yang Lalu
5 Monster Itu lagi
6 Murid baru
7 Beruang kutub vs gorila
8 Berita mengejutkan
9 Mark Chamberlin.
10 I'm not a Rogue
11 Batu besar
12 Luka yang terlalu cepat sembuh
13 Latihan dadakan
14 Tumpangan Serigala
15 Bahkan alpha tua bangka pun tahu!
16 Blessed my eyes!
17 Awakward Moment
18 Hybrid
19 Para penyihir
20 Latihan
21 Ciuman Kening Pertama
22 Bian si usil
23 Penyerangan
24 Still Worried
25 Dia mirip kakakku yang telah mati
26 Penyerangan
27 Fred dan Cayden
28 Penculikan
29 Pengorbanan
30 One fine day
31 Introducing Zachary Payne
32 Zach si serigala baru
33 Dia adalah Alpha
34 Kamu Manusia Serigala!
35 Aku Akan Mengajaknya.
36 Orichant
37 Penyihir dan penjaga supranatural
38 Kedatangan Kei
39 Pesta Valentine yang Kacau
40 Dia bukan Mate-ku!
41 Livia dan Lily
42 Beta Keturunan Murni
43 Apa kamu sebenarnya?
44 Sang Pengkhianat
45 Aku Harus Menyelamatkannya
46 Kedatangan Bian
47 Penyelamatan
48 Pack Moon Bykort
49 Penyelamatan
50 Kepindahan
51 Mate kedua?
52 Ketahuan
53 Aku adalah rajamu, alphamu
54 Kutukan Banshee?
55 Kotak pandora
56 Para Vampir
57 Aku bukan mate-nya
58 Ryan dan Nathan
59 Gadis baru
60 Racun Kristal
61 Keluarga Cigeira
62 Sumpah Setia
63 Goodbye Nathan
64 Pemakaman Nathan
65 Serigala Gila
66 Kamu Pantas Menjadi Beta
67 West Virginia
68 Disprea
69 Mengikuti Kei
70 Aku adalah malaikat mautmu
71 Layath
72 Mengurung Zigor
73 Kastil Darkness
74 Hybrid
75 Pergi sendirian
76 Menculik Tania
77 Mencari Terlalu Jauh
78 Menyelamatkan Tania
79 Menyerang Bykort
80 Penyerangan ke Bykort
81 Wolfsbane
82 Pengambilalihan Lycan
83 Pertarungan Terakhir
84 Extra Bab
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 : Mantan Pangeran
2
Just info
3
Bab 2 : Tania Reynolds
4
Bab 3 : Tragedi Yang Lalu
5
Monster Itu lagi
6
Murid baru
7
Beruang kutub vs gorila
8
Berita mengejutkan
9
Mark Chamberlin.
10
I'm not a Rogue
11
Batu besar
12
Luka yang terlalu cepat sembuh
13
Latihan dadakan
14
Tumpangan Serigala
15
Bahkan alpha tua bangka pun tahu!
16
Blessed my eyes!
17
Awakward Moment
18
Hybrid
19
Para penyihir
20
Latihan
21
Ciuman Kening Pertama
22
Bian si usil
23
Penyerangan
24
Still Worried
25
Dia mirip kakakku yang telah mati
26
Penyerangan
27
Fred dan Cayden
28
Penculikan
29
Pengorbanan
30
One fine day
31
Introducing Zachary Payne
32
Zach si serigala baru
33
Dia adalah Alpha
34
Kamu Manusia Serigala!
35
Aku Akan Mengajaknya.
36
Orichant
37
Penyihir dan penjaga supranatural
38
Kedatangan Kei
39
Pesta Valentine yang Kacau
40
Dia bukan Mate-ku!
41
Livia dan Lily
42
Beta Keturunan Murni
43
Apa kamu sebenarnya?
44
Sang Pengkhianat
45
Aku Harus Menyelamatkannya
46
Kedatangan Bian
47
Penyelamatan
48
Pack Moon Bykort
49
Penyelamatan
50
Kepindahan
51
Mate kedua?
52
Ketahuan
53
Aku adalah rajamu, alphamu
54
Kutukan Banshee?
55
Kotak pandora
56
Para Vampir
57
Aku bukan mate-nya
58
Ryan dan Nathan
59
Gadis baru
60
Racun Kristal
61
Keluarga Cigeira
62
Sumpah Setia
63
Goodbye Nathan
64
Pemakaman Nathan
65
Serigala Gila
66
Kamu Pantas Menjadi Beta
67
West Virginia
68
Disprea
69
Mengikuti Kei
70
Aku adalah malaikat mautmu
71
Layath
72
Mengurung Zigor
73
Kastil Darkness
74
Hybrid
75
Pergi sendirian
76
Menculik Tania
77
Mencari Terlalu Jauh
78
Menyelamatkan Tania
79
Menyerang Bykort
80
Penyerangan ke Bykort
81
Wolfsbane
82
Pengambilalihan Lycan
83
Pertarungan Terakhir
84
Extra Bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!