Kei berjalan bersama Ian ke sekolah. Biasa mereka di antar oleh Cavril, ayah Ian, menggunakan mobil. Tapi kali ini mereka berjalan kaki karena Cavril sedang ada pertemuan bersama alpha Sebastian dan ayah Kei pagi-pagi sekali.
Kei dan Ian berjalan dalam diam. Sesekali Kei melirik ke arah Ian. 'Tumben sekali dia diam. Biasanya dia sudah berbicara macam-macam.' batin Kei.
Kei masih mencuri pandang ke arah Ian yang masih diam padahal mereka sudah berjalan lebih dari lima menit. Biasanya baru beberapa detik saja Ian akan berbicara lalu akan susah untuk menghentikannya berbicara. Sepertinya hari berbeda dan itu yang di rasakan Kei.
"Apa kamu bisa berhenti melihatku seperti itu?" tegur Ian saat mengetahui Kei meliriknya terus.
"Ha? Kapan aku menatapmu?" kata Kei tanpa dosa, mencoba berbohong. Ian menghela nafas lalu menatap Kei, seakan dia mengatakan bahwa Kei berbohong.
"Apa?! Aku sungguh tidak menatapmu! Mungkin sedikit?"
Ian tertawa geli. "Kamu ini sudah dewasa rupanya." Ian merangkul pundak Kei.
"Kamu tidak apa-apa kan Ian? Kamu kok aneh hari ini?" tanya Kei tampak khawatir.
"Hmm? Aku aneh? Aneh bagaimana?" tanya Ian lalu melepaskan tangannya dari pundak Kei.
"Kamu biasanya.... Cerewet." sahut Kei. Ian membelalakkan matanya.
"Aku? Cerewet?" Ian kaget. Kei mengangguk. "Ahh sepertinya iya."
Ian tertawa sementara Kei sudah mendengus kesal.
"Apa karena Anne?" tanya Kei lagi.
"Anne? Ahh kamu sudah mendengar tentang itu? Bukan tentang Anne. Aku baik-baik saja dengannya." kata Ian tanpa menatap Kei. Dia hanya menatap lurus kedepan.
"Lalu... Apa kamu sudah mendapatkannya?"
"Tidak, belum. Aku tidak mau terlalu cepat, pelan-pelan saja. Lagipula dia masih enam belas tahun, sama sepertimu. Tidak mungkin aku langsung mengklaimnya. Aku akan menunggu." kata Ian membuat Kei melongo tidak percaya.
"Waahh apa benar ini Ian?" tanya Kei. Ian menoleh dan mengerutkan kening. Kemudian dia tertawa geli.
"Apa kamu masih ingat bagaimana aku saat masih ada Dylan dulu?" tanya Ian. Kei tampak berpikir. "Apa aku Ian yang sama dengan yang dulu?"
Kei tersadar. Ian memang berubah. Ian yang di kenalnya dulu saat masih ada Dylan memang berbeda. Ian yang dulu tampak tenang dan sangat dewasa. Tapi semenjak Ian menjadi penjaga Kei, Ian demi sedikit berubah. Ian yang tenang dan dewasa berubah menjadi Ian yang cerewet dan kekanak-kanakkan. Bahkan Kei pun muak melihatnya.
"Aku berubah karena aku mebcoba memahamimu Kei, aku juga ingin agar bisa dekat denganmu. Pasti aku sangat menyebalkan ya? Lebih menyebalkan dari Dylan dulu yang suka mengerjai kamu." Ian terkekeh. Kei hanya menunduk. Dia berpikir, dia terlalu keras menjauhi Ian. Dulu dia dekat dengan Ian dan Daylan tentu. Saat Dylan usil, Ian lah yang selalu membantunya.
"Aku akan kembali menjadi diriku saat ini. Meskipun tidak akan langsung berubah. Aku sepertinya masih terikat dengan diriku yang cerewet."
"Kamu memang sangat cerewet dan sangat tidak cocok dengan itu. Hah! Membuatku muak saja."
Ian tertawa geli. "Benar itu." katanya menyetujui. Lalu mereka tertawa.
"Lalu bagaimana dengan Anne? Sepertinya dia juga menyukaimu." kata Ian.
"Benarkah?" Ian terkekeh. "Aku rasa begitu. Aku tidak tahu. Dia terus menjauhiku jika aku mendekat. Kamu tahukan jika aku dengan wanita selalu tidak pernah serius. Tapi begitu aku menemukan mate-ku aku jadi tidak tahu harus bagaimana. Aku sudah melakukan yang aku bisa tapi dia masih mempunyai pertahanan diri yang kuat. Tapi itu bagus, jadi dia bisa melindungi dirinya dari laki-laki jahil."
"Tapikan kamu mate-nya?"
"Dia tidak tahu itu Kei, karena dia manusia biasa. Biarkan saja. Aku akan terus mendekatinya pelan-pelan, jangan khawatirkan aku. Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku? Bagaimana apanya?" tanya Kei bingung.
"Dengan Tania kan?"
Deg!
'Ian... Tahu juga? Aaahh sial, sial, sial!!' umpat Kei dalam hati.
Ian tertawa melihat perubahan raut wajah Kei. "Apa dia mate-mu?"
"Jangan bercanda. Aku bahkan belum berumur tujuh belas tahun." kata Kei datar.
"Kurang dari seminggu lagi kan?"
"Iya tapi-" Kei menghela nafas. "Dia bukan mateku."
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu apa kamu menyukainya?" tanya Ian lagi. Kali ini Kei tercekat. Dia bingung mau jawab apa. "Kalau iya juga tidak apa-apa Kei, wajar untuk usiamu."
"Ha! Sudah tampak dewasa rupanya." ejek Kei.
"Hei! Apa kamu lupa? Aku memang sudah dewasa. Umurku sudah dua puluh lima tahun! Hanya karena ayahmu menyuruhku memakai saragam bodoh ini, jangan bilang kamu lupa berapa umurku."
Kei tertawa geli melihat reaksi Ian yang kesal. Kei tahu sebenarnya Ian enggan menyamar menjadi anak sekolah lagi. Tapi itu adalah perintah ayah Kei, yang juga alphanya.
"Bagaimana menurutmu Kei, tentang kamu berulang tahun ke tujuh belas nanti? Apa kamu siap?"
"Aku tidak tahu Ian. Aku... Tidak tahu."
Kei terdiam. Kata-kata ayahnya beberapa hari lalu mengguncang dirinya.
Flashback on
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan di pintu kamar Kei. Tapi Kei tidak mendengar. Dia memakai headphone nya. Ayah Kei masuk ke dalam kamar. Dia menggelengkan kepalanya melihat Kei ada dikamar tapi tidak mendengar suara ketukan pintu. Bahkan saat pintu terbuka dan ayahnya masukpun dia tidak mendengar. Ayah ke memegang pundak Kei. Kei tersentak kaget. Dia melepaskan headphone nya.
"Ayah!! Ayah mengagetkan Kei!" Kei mengelus dadanya. Jantungnya masih berdetak kencang. "Kei tidak mendengar ayah masuk."
"Bagaimana kamu bisa mendengar jika telingamu ditutup benda sebesar itu di tambah volume lagu yang besar. Ayah saja bisa mendengar lagu itu dari jauh."
"Maaf."
"Ada yang ingin ayah bicarakan." ayah Kei duduk di pinggir tempat tidur. Kei membalik kursi nya menghadap ayahnya.
"Ayah tidak apa-apa?" Kei melihat ayahnya yang tampak ragu dan bingung.
"Tidak apa-apa. Ayah hanya tidak tahu bagaimana menyampaikan ini padamu."
"Menyampaikan apa? Katakan saja, Kei harus belajar."
"Saat umur kamu tepat tujuh belas tahun, kamu akan berubah Kei." kata ayahnya akhirnya.
"Berubah? Berubah apa?" Kei bingung.
"Berubah menjadi monster itu."
"Apa? Tidak mungkin ayah, aku selama ini telah berlatih mengendalikan kekuatan dan emosiku."
"Kamu tidak mengerti Kei, bukan itu. Saat umur tujuh belas tahun, monster itu semakin kuat. Kamu bahkan akan berubah tanpa kamu sadari. Itu tidak bisa di cegah Kei."
Kei terdiam membisu. 'Jadi latihanku selama ini sia-sia?'
"Jangan pernah berpikir kamu latihan dengan sia-sia. Kamu sudah benar melakukan itu dan ayah bangga padamu. Tapi perubahan saat umur tujuh belas tahun selalu terjadi pada setiap orang yang mempunyai darah sepertimu. Tapi kamu jangan khawatir. Ayah dan pamanmu akan melakukan sebaik mungkin untuk mencegahnya. Bahkan kami telah meminta bantuan pada penyihir."
"Ayah memberitahukan ini hanya untuk membuatmu tahu dengan keadaan kamu. Tapi ayah tidak mau kamu khawatir. Ayah akan berusaha mencegah semua itu."
"Tapi bagaimana jika ayah gagal? Bagaimana jika itu tidak bisa di cegah?"
"Jangan berpikiran buruk dulu Kei."
"Jawab Kei, ayah!!"
Ayah Kei menghela nafas. "Kamu akan kami bawa ke sebuah tempat yang jauh dari manusia sehingga kamu tidak akan mencelakakan manusia."
"Ada tempat seperti itu?" tanya Kei.
"Ada Kei, pack dari teman ayah mempunyai tempat seperti itu."
Ayah Kei memegang kedua pundak Kei. "Maafkan ayah nak. Tapi ayah berjanji akan melakukan apapun untukmu."
Ayah Kei meninggalkan Kei di dalam kamarnya. Tak terasa sudah ada air mata yang mengalir di pipi Kei. 'Kenapa harus aku? Kenapa harus aku monster itu?'
Flashback end
****
Kei dan Ian memasuki halaman sekolah. Kei masih saja diam tidak berbicara semenjak Ian menanyakan tentang hal monster itu.
"Hai!!" Jason datang menyapa. Ian dan Kei menoleh dan sudah mendapati Jason yang tersenyum lebar.
"Mau apa kamu?" tanya Ian.
"Whoa.. Tenang Ian, aku hanya menyapa. Aku tahu kamu lagi sensitif karena mate-mu. Jangan melampiaskannya padaku." protes Jason. Ian dan Kei tertawa geli.
"Aku tidak melampiaskan padamu. Aku hanya bertanya." kata Ian
"Auramu itu yang membuatku menjadi takut. Ihh jadi begitu ya jika mate menolak kita. Jadi aneh!" sahut Jason.
Pletak!
"Aww sakit." Jason mengelus kepalanya yang di pukul oleh Ian.
"Jangan bicara sembarangan. Sudah aku mau ke kelas dulu." Ian berjalan cepat meninggalkan Kei dan Jason.
"Kenapa dengan dia?" tanya Jason pada Kei sambil menunjuk ke arah Ian yang telah menjauh. Kei hanya mengangkat kedua bahunya lalu ikut berjalan cepat. Jason hanya bisa mengelus kepalanya.
****
Tania POV
Pelajaran olahraga sangat tidak menyenangkan bagiku karena aku tidak bisa duduk bermalas-malasan. Aku harus bergerak terus mengikui kemauan guru olahragaku. Menyebalkan.
Sekarang aku dan teman sekelasku dan juga ada satu kelas lainnya sedang berada di ruang olahraga, tepatnya di lapangan basket, tempat mereka mengadakan pertandingan basket. Aku sudah mengenakan baju olah ragaku. Baju kaus tebal berlengan pendek dan celana training tebal yang panjang. Kami mengelilingi Guru olahraga itu yang sedang berbicara didepan kami, menjelaskan tentang basket. Tak lama masuk salah satu guruku, guru yang terkenal genit dengan anak lelaki tampan, Sussan Harper. Bu Harper berjalan mendatangi pak Jones, guru olahraga. Saat melewati Ian dan Kei, guru itu berhenti.
"Hai Kei dan Ian." kata ibu itu lalu mengedipkan satu matanya.
Huweekkk pengen muntah melihat kelakuan guru itu. Guru itu bereaksi hanya dengan anak-anak super tampan. Mark, Ian dan Kei. Mereka anak-anak super tampan yang tidak pernah lepas dari mata ibu Harper. Aku lihat Ian dan Kei hanya tersenyum kikuk.
"Pak Jones, apa kita bisa berbicara sebentar?" pinta ibu Harper.
"Tentu saja."
Bu Harper dan pak Jones menjauh dari kami. Tak lama semua kembali riuh. Kebanyakan mereka menatap Ian dan Kei. Hanya saat olahraga para gadis bisa menatap Ian dan Kei sepuas mereka. Aku lihat Kei dan Ian hanya biasa-biasa saja. Bahkan tidak terganggu oleh bisikan-bisikan para gadis itu. Ian mulai berjalan dan mendekatiku. Aku tahu dia bukan mendekatiku melainkan Anne. Aku melihat wajah Anne yang mulai gugup. Aku terkekeh dibuatnya.
"Anne, dia datang." bisikku pada Anne yang berdiri di sebelahku.
"Sstt diam saja." kata Anne gugup. Aku dan Casey cekikikan dibuatnya.
"Hai Anne." sapa Ian, tidak lupa dengan senyum manisnya.. Ahh tampannya... Anne beruntung sekali dirimu.
"H-hai." jawab Anne semakin gugup.
"Aku berdiri disini ya?"
Ian langsung berdiri di dekat Anne sementara aku dan Casey menjauh. Aku bahkan tidak bisa berhenti tersenyum.
Bukk!!
Aku menabrak seseorang. Tubuhku sedikit oleng lalu aku merasa kedua lenganku di pegang dari belakang agar aku tidak jatuh. Aku menoleh dan mendapati Kei di belakangku dan memegangiku.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"Eh? Oh..." aku tidak menjawab. Tunggu kenapa aku jadi gugup. Kei menatapku dengan datar. Lalu memalingkan wajahnya dan kembali tidak perduli. Ahh aku lupa dia itu beruang kutub yang dinginnya melebih apapun di dunia ini. Aku kasihan sekali pada Ian karena Ian teman dekatnya.
"Hai Kei." sapa seseorang. Aku menoleh. Si ratu kecantikan! Dia mengenal Kei?
"Hai Lani."
Beruang kutub itu membalas sapaanya?! What the hell?? Whoa ini aneh. Kei tidak akan pernah membalas sapaan siapapun dan sekarang dia Hai pada Lani? Ahh memang enak jadi cantik. Eh apa perduliku? Kenapa aku jadi mengurusi hal itu? Tidak masuk akal.
"Aku kira kamu dan Ian tidak akan masuk sekolah." kata Lani dan dengan santainya mengalungkan tangannya di lengan Kei dan Kei bahkan tidak menepisnya. Whoa hebat sekali si Lani bisa menaklukan beruang kutub.
"Kenapa begitu? Ahh karena pertemuan itu? Aku tidak perlu ikut itu." kata Kei santai. Aku melihat raut wajah Kei yang santai bahkan wajah datarnya hilang.
"Mau kan kamu mengantarku ke toko buki hari minggu nanti Kei, aku tidak punya teman untuk menemaniku." pinta Lani dengan manja. Huh! Manja sekali!
"Teman-temanmu kemana? Dan si cowok itu juga kemana?"
"Temanku ada acara keluarga dan cowok itu... Tidak usah membicarakan Mark. Aku tidak suka padanya." ucap Lani. Aku melihatnya cemberut. Ihh risih sekali melihatnya.
"Yakin kamu tidak suka?" Kei terkekeh. Wait, Kei... Apa tadi? Wah pemandangan menakjubkan. Tampan sekali melihat senyumnya. Hold on Tania, apa-apaan kamu! Aku mengibaskan tanganku di depan wajahku.
"Ian, sedang apa kamu disana?" tanya Lani yang sudah mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan.
"Oh hai Lani. Kamu olah raga juga hari ini?" kata Ian. Dia terseyum pada Lani. Ian... Mengenalnya juga? aku melihat wajah Anne yang tampak kesal. Haha aku tahu kamu menyukainya juga Anne.
Semua gadis sudah merasa sangat iri pada Lani karena Lani dekat dengan semua laki-laki tampan di sekolah ini. Pertama Mark, lalu Kei sekarang Ian. Sedikit iri sih tapi sudahlah. Siapa juga yang akan menyukaiku.
Aku melihat ibu Harper dan pak Jones kembali. Bu Harper pamit tapi saat sampai di tempat Ian berdiri, ibu itu langsung melotot pada Anne.
"Tidak perlu sedekat itu nona Matthew, kamu membuat Ian menjadi tidak nyaman." sahut ibu Harper sambil mendorong pelan tubuh Anne. Ha! Ibu itu seenaknya saja.
Ibu Harper kembali berjalan dan kemudian dia menemukan Lani yang masih mengalungkan tangannya di lengan Kei. Ibu Harper langsung menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Nona Rowen, ini sekolah. Tidak boleh berpegangan seperti itu." kata ibu Harper lalu melepaskan tangan Lani dari Kei.
"Tapi kan bu, Kei adalah sepupu saya." kata Lani. What? Sepupu? Kok aku tidak tahu? Eh kenapa aku harus tahu? Memangnya aku ada hubungan apa dengan Kei.
"Kalian bersepupu?"
"Iya, ayahku adalah kakak dari ibu Kei, jadi kami bersepupukan?" kata Lani masih dengan kecentilannya. Aku memutar bola mataku jengah.
"Betul sekali. Kalau begitu bolehlah. Pantas saja kalian ini benar-benar satu cetakan. Satu cantik satu tampan."
Cetakan? Memangnya kue. Ada-ada saja guru satu ini.
Pak Jones memulai pelajarannya setelah bu Harper pergi. Ughh aku tidak suka basket. Dengan tubuh pendekku mana bisa aku memasukkan bola. Aku sudah mencoba berkali-kali tapi tidak masuk juga. Aakkh aku lelah.
"Bukan seperti itu." kata seseorang. Aku menoleh. Beruang kutub! "Pegang yang betul bolanya."
Beruang kutub eh Kei mengajariku cara memegang bola dengan baik sebelum memasukkan bola. Dia memegang tanganku! Sebenarnya sih karena aku salah terus saat dia mengarahkanku dimana tanganku seharusnya berada. Jadinya dia terpaksa memegang tanganku. Aku melihat Kei. Astaga... Tampan sekali. Rambut hitam berantakannya, bola matanya yang berwarna hijau jamrut yang cantik, hidung yang mancung, bibir penuh dan keringat yang turun dipipinya. Tania!! Kamu gila! Berhenti memperhatikannya!!
"Kamu mau melempar bola itu atau mau terus memperhatikanku?"
Aakkhh ketahuan aku menatapnya. Malu sekali.
"Apa yang kamu tunggu, ayo lempar." perintah Kei. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu mencoba berkonsentrasi. Aku melempar bola itu. Tidak masuk tapi sudah mengenai ring itu! Dari tadi aku melemparnya, sampai ke depan ring saja tidak.
"Makasih ya." kataku. Meski aku tidak menyukainya tapi kau masih tau tata krama.
"Untuk apa?" tanyanya datar.
"Sudah mengajariku untuk memegang bola yang benar." kataku lagi.
"Tapi kan tidak masuk." katanya lagi.
"Iya, tapi setidaknya sudah mengenai ring. Tadi sebelumnya mendekati saja tidak." jawabku jujur. Dia hanya menggangguk.
"Uhm.. Kenapa kamu membantuku?" sungguh aku penasaran.
"Karena aku sudah tidak tahan lagi melihatmu melempar sembarangan terus. Itu menyakiti mataku." katanya lalu berlalu. Ihh dasar beruang kutub. Aku tidak meminta dia melihatku melempar. Menyebalkan sekali!
Setelah pelajaran basket, kami diijinkan untuk olahraga bebas karena jam pelajarannya belum habis. Tak lama masuk beberapa anak yang ku kenal sebagai kakak kelasku. Mereka tergabung dalam geng bernama wolfs. Well ya geng itu sangat di segani. Geng itu sudah ada turun temurun. Dan sekarang generasi barunya. Dipimpin oleh Jason Callahan.
"Kei." panggil Jason. Jason mendekati Kei yang duduk tepat didepanku. Jason mengenal Kei? Benar-benar populer si beruang kutub itu.
"Hai Tania..." kata Jason lalu tersenyum kepadaku. Wait, dia menyapaku? Dari mana dia tahu namaku? Fix, aku bingung.
"Kamu mengenalnya?" bisik Casey. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
"Ayo kita tanding basket Kei. Aku akan berikan satu temanku untuk jadi satu tim denganmu dan Ian. Tanding three on three. Bagaimana?"
"Aku sedang malas."
"Oh ayolah... Bagaimana Ian? Kita bertanding?"
"Dengan senang hati."
Aku melihat Ian berdiri lalu mendatangi Jason dan Kei.
"Ayolah Kei, masa kamu mau kalah dengan serigala cerewet ini." bujuk Ian.
"Enak saja aku di bilang serigala cerewet. Untung saja kamu lebih kuat kalau tidak.."
"Baiklah, aku ikut."
Aku mendengarkan ketiga laki-laki itu berbicara. Dari cara berbicara mereka sepertinya mereka dekat. Sejak kapan? Ahh kenapa aku mau tahu lagi.
"Kita mendekat yuk." ajak Casey dan menarik tanganku dan Anne. Akupun pasrah mengikuti keinginan Casey dan duduk di barisan paling depan.
"Ian, Kei, ada satu peraturan wolf jika sedang bermain basket." ku dengar Jason berbicara.
"Apa itu?" tanya Ian. Tak lama beberapa anggota wolfs bersorak.
"Shirtless! Shirtless! Shirtless!" semua anggota wolfs meneriakkan kata-kata itu. Apa maksudnya?
Kulihat Jason tersenyum penuh kemenangan. "Bagaimana Ian dan Kei, kalian menerima tantanganku?"
"Apa kamu sudah gila?! Aku tidak mau." ucap Kei.
"Oh ayolah Kei, aku juga sudah sering melihatmu tanpa baju." kata Jason membuatku melongo. What?
Jason tiba-tiba membuka bajunya. Semua gadis berteriak histeris. Aku cuma melongo tidak percaya. Tubuh mereka memang wow! Lihat saja tubuh kekar berorot dan six packnya yang indah. Kemudian satu persatu pemain juga membuka bajunya kecuali Ian dan Kei.
Aku lihat Ian tersenyum pada Anne lalu sedetik kemudian Ian membuka bajunya juga, astaga!! Aku disuguhkan pemandangan yang luar biasa.
"Kei...!!" panggil Ian yang sudah ditengah lapangan. Aku melihat Kei yang terlihat tidak suka. Tapi sedetik berikutnya Kei....
Ya ampun!!!
******
Tadariez
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments