Kei berjalan cepat di tengah hutan. Dia berhasil menghindar dari Ian lagi. Ian tampak lengah lagi tadi saat dia bersama Anne. Entah kenapa keinginannya bertemu dengan Tania di batu besar itu jauh lebih besar. Bahkan dia tidak tahu kenapa. Padahal sewaktu disekolah dia begitu cuek pada Tania. Well sebenarnya dia berusaha untuk cuek tapi entah kenapa dia merasa hatinya tidak bisa di atur sesuai keinginannya. Jantung tetap berdetak kencang saat bertemu Tania disekolah. Dia terus merutuki dirinya jika dia sampai menyukai Tania. Bahkan sepanjang perjalanan pulang dia terus berdebat dengan hatinya. Apa dia akan bertemu dengan Tania di batu besar itu atau tidak. Dia tidak ingin bertemu dengan Tania yang dia rasa itu hal bodoh tapi hatinya mengalahkan dirinya. Akhirnya ditengah jalan, dia berbelok ke hutan saat Ian lengah dan memutus Mindlink nya. Dia tahu pasti Ian akan ngamuk nantinya.
Kei terus berjalan menembus rimbunnya hutan. Dia berjalan menuju batu itu. Sesekali dia tersenyum lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya. Terus begitu sehingga dia sendiri menyebut dirinya sudah gila.
Terdengar sebuah suara. Kei terdiam di tempatnya. 'Apa lagi ini' tanyanya dalam hati.
Muncul beberapa serigala. Kemudian serigala itu berubah wujud satu persatu.
"Kei, sedang apa kamu disini?" tanya Jake.
"Ahhh... Hehehe sedang jalan-jalan." jawab Kei gugup.
"Oh ya? Lalu di mana Ian?" tanya Jake lagi.
"Ahh itu... Ian sedang sibuk." Kei mulai mencari alasan.
"Ian sibuk? Tanpa mencari pengganti penjagamu?" Jake tampak bingung.
Kei diam. Dia tidak tahu harus memberi alasan apalagi.
"Kamu yakin kamu mau jalan-jalan?" tanya Jason. Jason tersenyum penuh arti. Kei mengangguk. "Atau kamu ingin bertemu dengan gadis yang didekat batu besar itu?"
Deg!
'Dari mana mereka tahu?' tanya Kei dalam hati. Kei terkejut. Wajahnya memerah.
"Ehem.. Hemm... Ehemm..." hanya itu yang bisa di keluarkan Kei dari mulutnya. Dia malu sekaligus gugup.
"Ahh dia tidak menjawab, berarti itu benar." sahut Mike. Mereka samua tertawa geli kecuali Kei yang sudah tertangkap basah.
"Ti-tidak kok. Apa maksud kalian?" Kei mencoba berbohong.
"Kei, kamu boleh berbohong pada yang lain tapi tidak dengan kami. Bukankah kamu sudah berjanji pada gadis itu. Siapa namanya tadi Jason?" tanya Kian.
"Tania Reynolds." jawab Jason sambil tersenyum geli.
'Ah sial!' umpat Kei.
"Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti." kata Kei. Suaranya sudah berubah datar.
"Kami menyaksikan semuanya. Tidak bukan kami, hanya Kian dan Mike saja."
Yup! Mereka memang melihat Kei saat bersama Tania kemarin. Tapi hanya sebentar kemudian dia melaporkan keadan Kei pada beta. Kei menghela nafas kasar. Dia sudah tidak bisa menghindar lagi sekarang.
"Dia hanya teman, tidak lebih." kata Kei.
"Ohh tentu saja kami tahu itu." kata Jason disambut tertawa geli lainnya. "Kamu benar-benar langsung menuruti nasehatku untuk mencari pacar, Kei."
Mereka tertawa lagi. Bahkan Kian sudah bersiul-siul untuk menggoda Kei. Kei sudah teramat malu sekarang.
"Sudah, sudah." tegur Jake. "Biarkan saja. Itu urusan pribadi Kei."
"Tapi ini sungguh menyenangkan!" ucap Kian.
"Berhentilah Kian. Kamu harus mempertimbangkan perasaan Kei. Dan kamu Kei, apa tidak apa-apa sendiri? Bagaimana jika Ian mencarimu?"
"Kalau begitu aku pulang saja." sahut Kei.
"Kenapa pulang? Jangan pulang. Kasihan Tania nanti." bujuk Mike.
"Aku tidak perduli." sahut Kei datar.
"Oh ya? Apa aku perlu bicara pada Tania bahwa serigala- ah tidak, tidak. Tania tidak bilang serigala waktu itu. Anjing, ya anjing. Bahwa anjing yang kemarin tidak akan datang. Ehmm... Apa ya alasannya? Apa aku bilang kamu sudah pergi jauh atau ahh!!! Aku bilang kamu sudah mati saja. Kalau kamu terkena Rabies anjing gila."
Jake memukul Kian. Kian mengerang kesakitan.
"Berhentilah menggodanya." ucap Jake. Dari kelima orang di depan Kei, Jake yang paling dewasa. "Kalau begitu Kei, biar aku berikan penawaran. Bagaimana?"
Kei mengerutkan keningnya. "Penawaran?"
"Iya." Jake mengangguk. Jake berjalan mendekati Kei. "Bagaimana kalau aku bisa membuatmu bertemu dengan pacarmu tanpa harus khawatirkan Ian dan keluargamu?"
"Maksud kamu?"
"Setelah pulang sekolah, kamu berlatih bersamaku selama dua jam lalu kamu bisa bersama Tania setelahnya? Aku tahu gadis itu. Dia sering ke batu besar. Dia ke sana saat sore hari."
"Lalu bagaimana dengan keluargaku?" tanya Kei yang nampak tertarik.
"Aku akan bilang kamu berlatih hingga tiga jam lebih. Jadi selesai berlatih dengan kami, kamu akan bersama gadis itu. Bagaimana? Deal?"
"Tapi... Latihan apa itu?"
"Pertahanan diri Kei. Bertarung atau berlari cepat. Sepertinya kamu jarang berlatih saat di pack Moon Lykort." kata Jake.
"Aku sering berlatih, dulu saat kakakku masih ada. Tapi sekarang-"
"Karena itu." potong Jake. "Karena itu kamu harus berlatih. Mungkin dengan berlatih kamu bisa mengendalikan sesuatu yang ada ditubuhmu itu."
"Monster, panggil dia monster." sahut Kei datar.
"Baiklah, monster. Bagaimana? Kamu setuju?" tanya Jake. Kei tampak berpikir.
"Baiklah. Lagipula aku sudah lama tidak berlatih. Tapi... Apa ayahku dan alpha Sebastian setuju?"
"Tentu saja Kei. Mereka yang meminta kami untuk melatihmu. Hanya saja waktu itu kami tidak mempunyai waktu yang tepat. Tapi gara-gara gadis itu akhirnya kita bisa melakukannya."
"Yup gara-gara Kei berpacaran dengan Tania." seru Jason.
"Sudah aku bilang aku tidak berpacaran denganya." sahut Kei mulai kesal di goda terus.
"Ahh Kei, jangan malu-malu seperti itu. Kita semua mengerti keadaan kamu. Kita semua pernah berpacaran." kata Mike.
"Kalau begitu ayo kita mulai latihan." ajak Jake.
"Sekarang? Aku kira kita akan mulai besok." protes Kei.
"Lebih cepat, lebih baik. Bukannya hari ini kamu butuh alasan untuk menemui kekasihmu itu?" Jake tersenyum dan berjalan melewati Kei sambil menepuk pundaknya.
"Itu benar Kei. Jika kamu tidak ikut kamu akan sulit bertemu dengan Tania, benar kan?" Mike ikut-ikutan. Kei menghela nafas kasar.
"Baiklah, baiklah. Bagaimana dengan Ian? Aku harus memberitahukannya dulu." kata Kei.
"Tidak perlu. Ian sudah mengetahuinya." kata Kian santai.
"Apa? Lalu kenapa dia tidak ikut berlatih?" tanya Kei bingung.
"Ian tidak perlu berlatih untuk saat ini. Lagipula Ian itu lebih kuat dari kami berlima, Kei. Kekuatannya hampir sama dengan George, beta kami. Ian juga masih sibuk mendapatkan mate-nya. Aku rasa memang sulit jika mate kita itu manusia." jelas Jake panjang lebar.
"Apa?! Mate?!" Kei terkejut.
"Kamu belum tahu? Bukannya kamu dekat dengan Ian?" tanya Mike.
"Well, tapi..."
"Ya sudah, sudah. Ayo kita berlatih. Kei letakkan tas mu dan bukalah baju dan sepatumu. Hari ini kita berlatih berlari cepat." kata Jake.
Jake merubah dirinya menjadi serigala bersama yang lain. Kei menghela nafas panjang lalu melepaskan baju dan sepatunya. Kei ikut berubah. Mereka kemudian berlari sekuat tenaga mengelilingi hutan di pack Moon Roykolt.
Mereka berhenti di ujung perbatasan pack. Mereka bertemu beberapa manusia serigala yang berjaga di perbatasan. Jake mengenalkan Kei yang telah berubah menjadi manusia kembali.
Tiba-tiba terdengar lolongan tak jauh dari mereka.
"Ada rogue masuk di perbatasan." kata salah satu penjaga.
"Apa ada manusia di dekat sana?" tanya Jake.
"Aku rasa tidak. Semua manusia sudah pulang satu jam yang lalu." jawab penjaga itu.
Perbatasan itu dekat dengan sungai yang biasa di gunakan manusia biasa untuk memancing. Meskipun tempat memancing itu masih termasuk wilayah pack Moon Roykolt, tapi rogue masih bisa masuk dan menyerang.
"Kei, kamu ikut kami tapi jangan ikut menyerang. Hanya lihat kami dari jauh. Aku tahu apa yang di dalam diri kamu itu muncul saat kamu marah. Jadi sebaiknya jangan ikut bertarung. Jika kamu lihat kami kewalahan, panggil bantuan secepatnya, kamu mengerti?" tegas Jake. Kei mengangguk.
"Mengerti." jawab Kei mantap.
"Ayo kita pergi."
Semua telah berubah kembali menjadi serigala termasuk Kei. Mereka semua menuju ke tempat rogue itu berada.
Kei terkejut dengan pemandangan di depannya. Rogue itu banyak. Ada selusin dari mereka. Dua penjaga telah terluka. Jake dan lainnya langsung menyerang rogue itu. Kei mundur mencari tempat yang aman.
Jake melompat tinggi dan mulai mencakar dan menggigit rogue itu. Kian dan Mike juga bekerja sama menjatuhkan rogue. Mereka bertempur dengan sangat berani. Kei menyaksikan dari belakang. Jake dan yang lain bukan lawan yang bisa diremehkan. Bahkan Jason dan Moles yang masih remaja, begitu berani menyerang para rogue itu. Kei mengagumi mereka. Kei juga ingin seperti mereka. Dia jadi teringat dengan Dylan, kakaknya. Kakaknya selalu mengajarinya bertarung tapi disela-sela bertarung Dylan selalu mengerjai adiknya itu.
Flashback on
"Ayolah Kei bangun." sahut Dylan yang melihat Kei telah tergeletak di tanah.
"Aku sudah lelah kak, bisakah kita berhenti sebentar?" pinta Kei.
"Kita baru berlatih lima menit Kei." sahut Dylan.
"Aku baru delapan tahun kak." protes Kei.
"Lalu? Memangnya kenapa jika kamu masih delapan tahun? Umur bukan masalah Kei."
"Tapi Kei lelah kak." rengek Kei.
"Cepat berdiri Kei atau kakak tidak akan mengajakmu berburu lagi." ancam Dylan.
"Baiklah, baiklah." kata Kei malas.
Dylan tersenyum lalu bersiap lagi. Kei mulai dengan kuda-kudanya untuk menyerang. Kei melayangkan tinjunya pada wajah Dylan. Dylan dengan cepat menghindar. Kei kembali melayangkan kakinya mencoba untuk menendang tapi tidak juga mengenai Dylan, terus begitu hingga akhirnya Kei mulai kelelahan. Melihat adiknya kelelahan Dylan mengalungkan tangannya ke leher Kei. Kei berteriak minta di lepaskan tapi Dylan justru menarik Kei yang mau tidak mau mengikutinya karena tangan kakaknya masih berada di lehernya. Dylan menarik Kei untuk berjalan mengelilingi kastil yang mereka tempati, menjadi bahan tertawa semua orang.
Flashback end
Kei tersadar dari lamunannya dan dilihat semua rough sudah mati. Mereka menang.
'Kamu tidak apa-apa Kei?' tanya Jake melalu pikirannya kerena mereka masih dalam wujud serigala.
'Aku baik. Bagaimana denganmu? ' Kei balik bertanya.
'Aku juga baik. Ayo kita pergi dari sini. Biar penjaga yang membersihkan semuanya.'
Kei beserta Jake dan lainnya segera pergi dari sana dan kembali ke hutan tempat mereka bertemu tadi.
'Latihan hari ini cukup sampai disini Kei, aku hari ini hanya ingin menunjukkan wilayah kami saja. Besok kita akan latihan serius.'
'Baiklah.'
'Kami pergi Kei.' pamit Jake.
'Hati-hati Kei.' pesan Mike.
'Selamat berpacaran!' kali Jason yang berbicara.
'Dasar!! Masalah pacaran saja cepat sekali memberikan komentar dan menggodaku'
Kei berlari cepat masih dengab wujud serigalanya. Dia menuju ke batu besar tempat dia akan menemui Tania.
****
Kei POV
Aku berhenti berlari saat sudah berada di ujung hutan. Aku melihat batu itu dan melihat Tania juga! Dia ada disana! Dia duduk bersandar di batu itu dan sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku. Haha ini kesempatanku untuk menakutinya.
Aku menggeram keras padanya. Kulihat dia terkejut dan menoleh. Aku bisa melihat dari raut wajahnya jika dia ketakutan.
Tapi sedetik kemudian aku merasa ada yang memelukku. Aku terkejut dan kemudian aku melihat Tania memeluk kakiku.
"Aku kira kamu tidak akan datang." sahutnya tanpa melepas pelukkannya. Dia... Tidak takut? Bagaimana bisa? Tinggiku jauh di atas serigala normal pada umumnya dan badanku juga sangar besar dari serigala biasa. Tapi kenapa dia tidak takut?
"Mari sini, aku lihat lukamu." ajaknya. Dia mengenaliku!
"Berbaringlah." katanya dan tanpa berpikir lagi aku menurutinya. Kulihat dia duduk di dekat perutku. Dia beralih menghadap kakiku. Dia mencari lukaku dengan tekun. Dia lalu menatapku bingung.
"Bukannya kemarin kamu luka? Kenapa sekarang tidak ada?" katanya lalu dengan segera mencari lukaku lagi. "Tidak mungkin."
Dia berdiri dan berjalan mendekati kepalaku. Ake menegakkan kepalaku dan menatapnya. Dia memeriksa kepalaku.
"Disini juga tidak ada luka. Aneh sekali." gumanya.
'Tidak aneh jika kamu werewolf.' sahutku. Tapi tentu saja dia tidak bisa mendengar. Dia menatapku bingung.
"Aku yakin kamu serigala yang kemarin. Aku mengenalimu. Tapi.. Aku tidak menemukan lukamu. Lukamu hilang dan tanpa bekas!!" ucapnya dengan setengah berteriak.
"Apa anjing seperti itu jika luka? Aku rasa tidak." kulihat dia tampak berpikir.
'Dia masih saja menganggapku anjing.'
"Anjing Casey pernah luka dan anjing bahkan harus di rawat secara khusus. Apa mungkin karena kamu berbeda ya? Lihat saja tubuhmu yang besar ini."
'Tentu saja aku berbeda. Aku ini werewolf. Bukan anjing.' ucapku. Entah kenapa aku suka menyahut semua kata-katanya padahal dia saja tidak mendengar.
Kulihat dia masih berpikir keras. Dia manis sekali saat berpikir seperti itu dan lihat saja, dia terlihat cantik hari ini. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan indahnya. Cantik sekali.
Astaga, astaga!! Aku sudah gila rupanya!!! Kenapa denganku? Kenapa aku tiba-tiba memujinya? Aku memang sudah tidak waras.
"Ahhh aku menyerah. Sekeras apapun aku berpikir aku tidak tahu jawabannya!" katanya tampak kesal. Dia memajukan bibirnya. Lucu sekali!
"Ehmm... Apa aku boleh berbaring dan menjadikan perutmu sebagai bantalku?" tanyanya. Apa? Seenaknya saja aku dijadikan bantal. Tak lama dia sudah berbaring di sebelahku dan perutku di jadikan bantalnya.
Eh? Kenapa... Kenapa dia jadi berbaring disini?
"Ahhh kamu lembut sekali. Aku sangat menyukai bulu lembutmu." katanya sambil memelukku erat. Untung saja aku berwujud serigala, jika tidak, dia akan melihat wajahku yang memerah.
Aku meletakkan wajah serigalaku di atas kedua kaki depanku. Aku memandang padang rumput didepan. Setelah beberapa, aku tidak mendengar lagi dia berbicara. Biasanya dia tidak bisa diam tapi kali ini hening. Aku mengangkat wajahku dan melihat ke arahnya. Aku lihat dia menutup matanya dan nafasnya pun teratur. Aku tahu dia sedang tidur saat ini. Aku memandanginya terus. Entah kenapa detak jantungku mulai tidak normal lagi. Ada suatu perasaan aneh yang aku rasakan saat ini. Terlebih jika aku berada di dekatnya dan menatap wajahnya. Apa aku memang menyukaimu, Tania si gadis gorila?
****
Tadariez
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments