Kei berjalan kembali. Ian ingin mengikutinya tapi akhirnya tidak jadi.Dia ingin menunggu beberapa saat dulu, agar amarah Kei reda. Kei berlari dan terus berari. Dia sudah masuk kedalam hutan yang rimbun. Dia menghentikan larinya dan mengatur nafasnya. Dia duduk di batang kayu yang sudah mati. Tiba-tiba Kei mendengar suara. Kei mencoba mendengarkan suara itu. Suara itu sangat cepat. Tiba-tiba ada yang loncat tepat depannya. Manusia serigala. Kei berdiri terkejut.
"Siapa kalian?! mau apa?!" tanya Kei.
Manusia serigala itu hanya diam dan menggeram pada Kei. Tak lama muncul beberapa manusia serigala lainnya. Jumlah mereka kini lebih banyak. Kei mulai tampak takut dan gugup. Kakinya mulai gemetaran. Dia tidak tahu ada apa sebenarnya. Serigala-serigala itu kemudia melolong keras, sangat keras.
Sementara itu...
"Aku rasa kamu memang tidak tepat untuk tugas ini adikku." sahut Fred pada Cayden.
"Apa maksudmu? aku masih bisa melakukannya." kata Cayden dengan cemberut di wajahnya.
"Sudah beberapa minggu kamu melakukannya tapi lihatlah, hasilnya tidak ada. Kei masih belum berubah menjadi monster." sahut Fred yang telah duduk di atas batu besar.
"Tapi itu butuh waktu. Kei sungguh mahir menahan emosinya. Terlebih ada Ian brengsek itu."
"Aku rasa itu tidak benar. Kei masih seperti dulu. Lihat saja tadi saat aku menyinggung kakaknya. Dia seketika marah. Aku rasa masalahnya bukan pada Kei, tapi ketidakmampuanmu."
Cayden mendengus kesal pada kakaknya. Terdengar lolongan yang begitu keras membuat Fred langsung berdiri dari duduknya.
"Kita mendapatkannya." katanya pada kedua temannya."Kita akan berpesta hari ini."
Fred dan kedua temannya berlari masuk hutan meninggalkan Cayden sendiri. Cayden yang bingung akhirnya mengikuti Fred masuk ke dalam hutan. Fred terus berlari dengan secepat yang dia bisa. Meskipun kecepatannya di atas manusia normal, Fred merasa itu belum cukup cepat. Fred berubah menjadi serigala beserta teman-temannya dan menuju ke tempat lolongan itu. Sesaat Fred telah sampai dan mendapati kelima temannya bersama Kei yang masih berdiri diam dengan tubuh manusianya dan tampak ketakutan. Fred berjalan pelan mendekati Kei. Kei mencoba memberanikan diri dan mulai berdiri.
"Mau apa kamu Fred?" tanyanya. Dia mengetahui itu adalah Fred. Fred menggeram dengan kasar. Fred mengalihkan pandangannya pada temannya dan mengisyaratkan temannya untuk memulai pesta mereka. Temannya melolong dan mulai mendatangi Kei. Kei berjalan mundur perlahan. Dia mulai takut sekarang, sangat takut. Tiba-tiba teman Fred langsung mendorong Kei menggunakan kepalanya dengan keras. Kei terhempas keras mengenai pohon. Kei berusaha bangkit dan memegang pinggangnya yang sakit.
"Ayo Kei, berubahlah." sahut Fred. Kini Fred telah berubah menjadi manusia. Fred tertawa keras. "Lagi." sahutnya
Serigala itu berlari dan mendorong tubuh Kei lagi. Kei terhempas bersamaan pohon yang di tabraknya tadi. Pohon itu sudah patah dan terhempas bersama Kei. Kei meringis kesakitan. Dia tahu dia tidak akan pernah bisa melawan mereka terlebih dengan tubuh manusianya. Tapi dia tidak ingin melawan Fred atau siapapun. Dia tidak ingin monster yang ada dirinya itu bangkit. Ya, setidaknya itulah panggilan makhluk itu. Monster. Monster itu akan keluar jika Kei hilang kendali atas tubuh serigalanya. Saat itu terjadi, Kei akan membasmi semuanya. Baik manusia serigala maupun manusia seperti kejadian waktu itu.
Flashback
"Kei.... Kei bangunlah." suara panggilan membuat Kei terbangun dari tidurnya. Kei mengusap matanya dan mendapati kakaknya Dylan, duduk disampingnya dengan wajah pucat.
"Ada apa?" tanya Kei.
"Cepat pakai bajumu." Dylan menyerahkan pakaian kepada Kei. Kei tidak pernah mengenakan bajunya saat dia tidur. Hanya celana pendek saja dan tentu dia tidak kedinginan karena dia serigala.
"Tapi untuk apa? Aku ngantuk, mau tidur saja." Kei mulai merebahkan badannya lagi.
"Kei, aku mohon turuti aku. Kamu adik yang penurut kan?"
"Apa-apaan itu? memangnya aku ini anak kecil masih di tanya seperti itu?" protes Kei. Dylan hanya tersenyum.
"Maaf, maaf. Tapi pakailah baju ini dan cepat, tidak ada waktu lagi." kata Dylan.
"Ada apa sih?" tanya Kei yang mulai khawatir.
"Nanti aku ceritakan, pakai saja bajumu dulu."
Kei dengan segera lompat dari tempat tidurnya dan mulai mengenakan pakaian yang di berikan kakaknya.
"Ini." Dylan menyerahkan tas punggung padanya. Kei menjadi tambah bingung. "Ian, masuk sini."
Ian yang sedari tadi berdiri di luar kamar, masuk dan sedikit membungkuk pada Kei yang saat itu masih menjadi pangeran Lykort.
"Kita sudah sepakat Ian, pergilah." kata Dylan.
"Tapi..." Ian tampak ragu.
"Kamu sudah berjanji." kata Dylan lagi dengan pandangan memohon. Ian menghela nafas dan mengangguk.
"Kak, ada apa sih?" tanya Kei yang masih bingung.
"Kei kamu harus secepatnya pergi dari sini. Bersembunyilah dulu, kakak mohon Kei. Ian akan membawamu."
"Tapi kenapa? kenapa Kei harus bersembunyi? dan suara apa itu?" Kei mendengar suara dentuman dan teriakan dari arah bawah.
Dylan menghela nafas. "Kita diserang Kei."
"Apa?! sama siapa?"
"Itu tidak penting Kei, yang terpenting kamu harus pergi. Cepatlah." Dylan mendorong pelan tubuh Kei. Kei merasa enggan untuk pergi.
"Bagimana denganmu? ayah dan ibu? Aira?" tanyanya.
"Kami akan menyusulmu." kata Dylan. Tapi entah kenapa dia meragukan itu.
"Oh ayolah Kei, aku mohon." Dylan terlihat putus asa melihat adiknya yang masih terdiam. Dia sudah tidak punya waktu banyak. Teriakan dan dentuman itu semakin mendekat. Dia memang akan menyusul Kei jika saatnya tepat. Dia ingin menolong keluarganya yang lain terlebih dahulu dan juga sebenarnya yang diincar oleh penyerang itu adalah Kei, hanya Kei. Itu kenapa dia harus membuat Kei pergi lebih dulu. Kei akhirnya mengangguk setuju meskipun dia masih ragu dan bingung. Kei berjalan keluar kamarnya.
"Jagalah dia dengan baik, Ian." pinta Dylan.
"Setelah itu aku akan menjemputmu." kata Ian dan pergi meninggalkan Dylan sendiri di dalam kamar.
Kei dan Ian keluar kastil dan langsung berlari menjauhi kastil. Mereka sempat dikejar kawanan serigala tapi mereka bisa menghindari mereka dan selamat. Mereka berhenti di sebuah gua. Goa itu adalah goa penemuannya bersama kakaknya. Hanya dia dan kakaknya yang tahu soal goa itu. Ian menyalakan api dan duduk sambil waspada. Dia melihat ke sekitar mereka.
"Itu tadi paman Ordovic kan? paman Ordovic yang menyerang kita, kan?" tanya Kei. Ian hanya diam membisu. "Jawab aku Ian!! Aku mengenali serigala yang kita temui tadi. Itu adalah beta paman."
"Dan untung saja dia tidak melihatmu tadi." tambah Ian.
"Ada apa ini sebenarnya Ian? aku mohon katakan padaku!" pinta Kei.
Ian menghela nafas. "Pamanmu ingin mengambil tahta ayahmu. Dia ingin menjadi alpha."
"Apa?!" pekik Kei.
"Pelankan suaramu Kei." bisik Ian.
"Paman menyerang adik kandungnya demi tahta?"
"Iya, dan demi mendapatkan kamu."
"Aku? ada apa denganku?" tanya Kei bingung.
"Bukan aku yang berhak mengatakannya Kei, biar nanti setelah keadaan membaik dan kau pulang, ayahmu yang akan memberitahukan."
Kei semakin bingung. "Tidak, aku mohon Ian, beritahukan padaku."
Ian masih diam membisu. Kei tahu bujukannya tidak akan mempan.
"Ian Morris, aku pangeran Kei Lyroso Laros dari kerajaan Lykort, memerintahkan kamu untuk memberitahukannya padaku."
Kei menggunakan gelar pangerannya untuk membuat Ian bicara karena dia tahu Ian tidak akan memberitahukannya. Ian menghelas nafas. Dia meresa tidak ingin memberitahukan tapi Kei mengatakan itu adalah perintah. Ian merubah posisinya yang semula membelakangi Kei sekarang sudah berubah sujud menghadap Kei.
"Karena anda..." Ian sudah merubah bahasanya menjadi formal karena Kei menggunakan gelar pangerannya. "Karena anda mempunyai darah serigala Kakek anda."
"Darah serigala kakek?" tanya Kei.
"Hanya anda satu-satunya yang mempunyai darah serigala kakek anda dan darah serigala kakek anda adalah darah yang langka. Darah serigala seperti darah kakek anda sudah lama tidak ada yang memiliki. Sudah ratusan tahun. Lalu turun ke kakek anda lalu ke anda."
"Memangnya darah apa ini?" tanya Kei.
"Darah alpha sejati. Yang artinya anda akan menjadi alpha dari segala alpha meskipun anda berada di ujung dunia sekalipun."
Kei terperanjat. Aku? alpha? tanyanya dalam hati. Tiba-tiba terdengar lolongan memilukan. Ian menoleh. Dia tahu itu suara Dylan.
"Yang mulia, saya akan pergi menjemput pangeran Dylan. Tunggu disini yang mulia."
"Tidak, saya ikut." kata Kei langsung berdiri.
"Tidak bisa yang mulia, berbahaya." kata Ian mencegah Kei.
"Aku ingin tahu apa yang terjadi pada keluargaku."
"Saya tahu, tapi apa yang mereka lakukan adalah untuk menyelamatkan anda karena paman anda... ingin membunuh anda."
"Apa?!"
"Oleh karena itu, jangan membuat usaha semua orang yang ingin menyelamatkan anda menjadi sia-sia yang mulia, tunggulah disini. Saya akan segera kembali dengan membawa keluarga anda."
Kei akhirnya mengangguk. "Pergilah." Ian mengangguk patuh dan pergi meninggalkan Ian.
Sudah beberapa lama dia menunggu, tapi Ian tak kunjung kembali, membuatnya gusar. Dia takut terjadi apa-apa karena sedarai tadi dia mendengar lolongan. Hati Kei begitu gundah yang akhirnya membuatnya pergi dan menyusul Ian. Kei merubah dirinya menjadi serigala agar lebih cepat berlari.
Tak lama Kei sampai di halaman belakang kastil itu. Disana dipenuhi oleh manusia serigala. Kei merubah bentuknya menjadi manusia kembali dan berjalan pelan mendekat. Dia bisa mendengar suara pamannya berbicara. Kei sudah mendekat sekarang dan dengan jelas dia melihat ayahnya dan juga ibunya yang memeluk Aira yang masih berumur empat tahun, sementara Kei berumur sepuluh tahun. Dylan juga disana beserta Ian dan Cavril Morris, ayah Ian, beta yang juga pengawal setia dan kepercayaan ayahnya. Kei melihat ayahnya terluka parah. Kepalanya berdarah, kakinya juga. Ayah Kei memegangi kaki kirinya. Dylan juga tidak jauh berbeda, begitu juga dengan Ian dan Cavril. Hanya ibunya yang masih baik-baik saja karena ibunya mengkhawatirkan Aira yang masih kecil.
"Fred lakukanlah." perintah ayahnya Fred. Fred menyeringai dan berdiri dengan bangga.
"Cepatlah Dylan, jangan membuatku menunggu." sahut Fred.
"Tidak, jangan Ordovic, aku mohon. Biar aku saja yang bertarung." kata ayah Kei.
"Yang mulia, jangan. Biar saya saja." sahut Cavril.
"Cepatlah bangun anak manja!!" bentak Fred pada Dylan. Dylan mulai berdiri tapi Ian dengan cepat berdiri juga.
"Saya akan menggantikannya." kata Ian.
"Berani sekali!!!" Ordovick marah. Dia menyuruh anak buahnya memukuli Ian.
"Tidak, jangan! saya akan bertarung." sahut Dylan.
"Dylan..." panggil ayahnya pelan.
"Tidak apa-apa ayah, aku bisa. Aku anak ayah yang paling kuat, ingat?" sahut Dylan menenangkan ayahnya. "Aku pasti akan menang."
"Sombong sekali. Mulai."
Dylan dan Fred berubah menjadi serigala. Mereka bertarung habis-habisan. Saling menggigit dan mencakar dan juga menghempas. Kei melihat kakaknya kewalahan karena kakak sudah lelah bertarung tadi sementara Kei melihat Fred masih segar bugar. Dylan tersungkur lemas masih dengan bentuk serigalanya.
"Habiskan dia." perintah ayahnya.
"Tidak, jangan... aku mohon." pinta ayah Kei. "Kami akan pergi dari sini dan aku akan mengakuimu jadi alpha, aku mohon."
Ordovic tertawa puas. "Satu lagi, dimana anak laki-lakimu yang satunya? dimana Kei?"
Ayah Kei terdiam. Dia tidak menjawabnya. Dia juga sebenarnya tidak tahu Kei berada di mana. Karena goa yang di tempati Kei tadi itu hanya Kei, Dylan dan ian yang tahu. Ayahnya tidak.
"Aku sudah bosan menunggu kakakku. Cepatlah." kata Ordovic.
"Aku tidak tahu dimana dia, sungguh." sahutnya akhirnya.
"Jangan menipuku."
"Aku tidak menipumu! aku akan memberitahukannya jika aku tahu tapi aku tidak tahu. Aku mohon, jangan bunuh Dylan." bujuk ayah Kei. Kei tersentak kaget. Ayah akan memberitahukannya jika ayahnya tahu. Itu yang terngiang terus di telinganya.
"Jadikan aku alpha." kata Ordovic. Ayah Kei memejamkan matanya dan dengan perlahan dan kesakitan di kakinya, dia berdiri. Kini Kei melihat jelas kaki ayahnya yang patah. Ayah Kei kemudian bersujud.
"Aku Oston Ludwig Laros, dengan ini mengakui Ordovic Cluston Laros sebagai raja dan alphaku." kata ayah Kei kemudian menunduk.
"Kamu juga Cavril." perintah Ordovic. Cavril merubah posisinya dan menghadap Ordovic.
"Saya Cavril Hedrik Morris, dengan ini mengakui Ordovic Cluston Laros sebagai rajaku."
"Bagaimana dengan alpha?" tanya Ordovic. Dia tidak mendengar kata-kata alpha.
"Saya tidak bisa yang mulia. Saya telah melakukan perjanjian serigala pada tuan Oston. Dia tetap alpha saya. Dan juga, seorang beta, suka tidak suka, mau tidak mau, harus setia pada alpha mereka."
"Perjanjian? menarik." Ordovic tersenyum. "Sudah menemukannya?"
"Belum yang mulia." kata salah satu bawahannya.
"Sepertinya aku tidak bisa membunuh garis keturunan langsung kakek tua brengsek itu. Tapi kakakku, mata dibayar dengan mata, nyawa di bayar dengan nyawa." Ordovic tersenyum sini. " Lakukan anakku."
"Tidak!! TIDAAAAAKKKKK...!!!" teriak ayah Kei histeris.
Fred yang masih menjadi serigala mulai mengigit Dylan yang masih terbaring lemah. Sesekali Dylan melawan tapi apa daya, dia sudah sangat lemah. Fred mendorong keras tubuh Dylan dan di dorongnya lagi. Kali ini dia sudah tersungkur di hadapan ayahnya yang sudah di pergang oleh beberapa anak buah Ordovic. Fred merasa belum cukup dan ingin menggigit Dylan lagi. Tapi tiba-tiba Kei berteriak dan mendatangi kakaknya yang sudah sangat lemah.
"Dylan... tidak Dylan..." panggil Kei. Dylan berubah menjadi manusia kembali.
"Bod-doh... k-ken-apa k-k-kamu kem-bali." kata Dylan terbata.
"Dylan..."
"Wah, wah... lihatlah siapa yang datang..." sahut Ordovic.
"Dylan... tidak!! Dylan...!!" tangisan Kei semakin keras mendapati kakaknya telah mati. Ayah dan ibunya ikut menangis.
"Sayang sekali." sahut Ordovic.
"Apa kau bilang?!" tanya Kei. Kei sudah berdiri menantang Ordovic.
"Kei ayah mohon..." ayahnya mencoba mencegah Kei.
"Tidak ayah, Kei ingin mati." sahut Kei dan langsung berubah menjadi serigala. Bulu serigala Kei putih dan ada sedikit warna abu-abu di tubuh dan kepalanya.
Ordovic tertawa. "Lihatlah dia, anak ingusan ingin melawanku."
Ordovic berubah menjadi serigala juga. Mereka berdua berjalan membantuk lingkaran. Mereka saling mengamati. Kei tahu dia hanya berumur sepuluh tahun tapi dia tidak perduli. Yang ada dipikirannya adalah membunuh pembunuh yang telah membunuh kakaknya.
"Kei, berhentilah." bujuk ayahnya. Ordovic adalah serigala yang kuat. Jauh lebih kuat dari Kei, membuat itu menjadi pertarungan bunuh diri.
"Kei sayang, dengarkan ayahmu." kali ini ibunya yang berbicara.
Tapi Kei tidak mendengar. Dia sudah menggeram keras pada Ordovic. Tak lama Kei menerjang Ordovic. Tentu Ordovic menghindar dengan cepat dan balas menyerang Kei. Tubuh Kei terhempas keras ke tanah. Kei mencoba berdiri kembali dan langsung menyerang Ordovic kembali. Tapi Ordovic lebih kuat. Dia bisa menghindar dan terus kembali menyerang sampai akhirnya Kei kelelahan. Tubuhnya tersungkur di tanah.
"Akhirnya, ini saatnya. Akan aku hancurkan pemilik darah serigalamu ayahku tersayang. Tidak akan aku biarkan ada raja lain selain diriku. Aku adalah alpha dari semua alpha." Ordovic berkata di pikirannya. Kei mendengar perkataan itu.
"Langkahi dulu mayatku."
"Dengan senang hati Kei."
Ordovic melompat tinggi dan sekarang berada di atas Kei. Kei mencoba melepaskan diri tapi tidak bisa karena dia baru berusia sepuluh tahun sementara orang itu berusia empat puluh lima tahun dan juga lebih kuat darinya. Ordovic menunjukkan giginya dan langsung mengigit Kei. Kei menggeram ke sakitan. Ordovic merobek kulit di pundak Kei lalu melepaskannya tapi dengan segera membanting Kei dan terus membantingnya. Sampai akhirnya Kei sudah tidak berdaya lagi.
"Matilah kau keturunan terkutuk."
Ordovic ingin memberikan serangan terkahirnya sekaligus membunuh Kei. Kei terkena serangan itu dan tak bergerak lagi. Ayahnya terus memberontak ingin membantu tapi dia tidak bisa karena di tahan oleh beberapa orang. Ordovic kembali menjadi manusia. Dia sudah bertelanjang dada.
"Satu lagi sudah mati, kakakku. Keturunan ayah kita sudah tidak ada lagi." sahut Ordovic.
"Kau-- SIALAN KAU ORDOVIC!! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!" pekik ayah Kei marah.
"Tidak, tepatnya aku akan membunuhmu dan keluargamu kakakku tersayang."
Terdengar erangangan dari serigala Kei. Ordovic menoleh mendapati Kei bergerak perlahan.
"Kei... Anakku." panggil ayah Kei.
Kei bergerak perlahan untuk berdiri. Kei memandang Ordovic dengan tajam saat dia sudah berdiri tegak dengan tubuh serigalanya. Ordovic terkejut melihat perubahan bola matanya. Warna bola mata Kei yang semula hitam pekat kini berubah putih dan ada hitamnya sedikit di tengah. Tak lama bulu Kei berubah menjadi abu-abu pekat dan tubuhnya membesar. Bahkan Kei sekarang bisa berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Tampilannya mulai seperti manusia. Ordovic pucat. Dia pernah lihat perubahan itu sebelumnya. Kei menggeram dengan sangat keras lalu melolong marah. Kei menatap semua orang di dekatnya.
"Serang dia." sahut Ordovic pada anak buahnya.
Seluruh anak buah Ordovic maju tanpa rasa takut. Tapi Kei bisa dengan mudah mengalahkan seluruh anak buah Ordovic. Wajah Ordovic tampak pucat. Dia terlihat ketakutan. Dia tahu dia tidak akan bisa melawan Kei sekarang. Kei mendatangi Ordovic dan melemparnya jauh. Tubuh Ordovic melayang lalu dia merubah dirinya menjadi serigala sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Ordovic menggeram dan mulai menyerang Kei tapi dengan mudah Kei menepis serangan itu dan langsung membalas serangan Ordovic. Tubuh Ordovic terhempas kasar ke pohon lalu terbaring lemah di tanah.
Semua orang terkejut dengan pemandangan itu. Kei melolong keras lalu mulai menyerang sekitarnya. Semua orang yang didekatnya diserang brutal oleh Kei. Beberapa telah tewas.
"Kei..." panggil ayahnya lirih. Dia tahu pasti anaknya tidak akan bisa mengendalikan sisi gelap Kei itu seperti kakeknya dulu.
Cavril berdiri dan mencoba menahan Kei, tapi percuma, Kei tidak mengenali Cavril lagi. Bahkan Cavril sudah terhempas di tanah.
"Kei...!!! Cukup.." panggil Ian. Ian yang masih lemas akibat pukulan yang didapatnya dari anak buah Ordovic. Kei tidak menggubrisnya. Dia masih menyerang sekitarnya.
"Kei... Ayah mohon... Sadarlah anakku!!" panggil ayahnya.
Kei menoleh dan memandangi ayahnya. Dia diam sejenak lalu berjalan ke arah ayahnya yang masih duduk menahan sakit dikakinya. Kei sudah berada dihadapan ayahnya. Mata mereka saling menatap.
"Kei..." panggil ayahnya. Ayahnya mengira Kei mulai mengenalinya sampai Kei melempar tubuh sang ayah jauh. Ayahnya tergeletak dan tidak bergerak lagi. Ibu Kei berteriak sambil memeluk Aira yang sudah menangis dengan erat. Kei menuju ke ibunya dan sudah mengangkat tangannya.
"Kei...!!!" panggil Ian. Kei mengenghentikan aksinya dan menoleh. "Lawan aku saja."
"Tidak nak, dia bukan tandinganmu." kata Cavril yang telah berdiri lemah.
"Ian harus mencoba ayah. Ian akan membuat Kei menjauh."
"Baiklah, hati-hati anakku, dia sangat berbahaya." pesan Cavril. Ian mengangguk.
Ian meraung keras. Ian sudah mengubah dirinya menjadi serigala dan mulai berlari didepan Kei. Ian melolong keras mencoba mengalihkan perhatian Kei dan itu berhasil. Kei mengejar Ian secara membabi buta. Ian masuk kehutan dan Kei masih mengikutinya. Tapi begitu sampai di tengah hutan langkah Ian terhenti. Dia mencium bau manusia disana.
'Gawat!! Mereka bisa celaka.'
Ian melolong kembali mencoba membuat Kei mendengar lolongan itu. Tapi terlambat, Kei telah mencium bau manusia. Kei tidak menuju ke lolongan Ian. Dia merubah arahnya menuju ke sekumpulan manusia yang sedang berkemah. Kei menggeram. Dia sudah semakin dekat dengan sekumpulan manusia itu. Kei melolong keras.
"Apa itu? Apa ada serigala disini?" tanya salah satu orang.
"Aku tidak tahu. Tapi suaranya terdengar sangat dekat. Aku takut Drew." kata salah satu perempuan di antara mereka. Perempuan itu mengeratkan pegangannya pada lengan lelaki di sebelahnya.
"Ayo kita masuk ke tenda." kata lelaki itu.
"I-ii-itu apa?" tanya satu orang disana sambil menunjuk ke seluk belukar didepannya.
Semua orang menoleh ke arah yang di tuju. Tak lama semak belukar yang tinggi itu tampak bergerak kasar. Semua orang di sana sontak berdiri kaget. Mereka mundur perlahan. Kei keluar dari semak belukar itu dan menggeram keras. Matanya penuh dengan rasa lapar untuk memakan semua orang yang ada disana. Orang-orang itu terbelalak kaget. Mereka tidak menyangka apa yang mereka lihat. Tiba-tiba Kei menyerang salah satu dari mereka secara brutal. Terdengar teriakan dari beberapa orang disana. Kei memakan sebagian tubuh orang itu dan mulai mengalihkan pandangannya pada yang lain. Kei bersiap menyerang lagi. Tapi Ian yang mendengar jeritan orang-orang itu datang dan menghadapi Kei. Ian melolong keras, meminta Kei untuk berhenti.
'Kei, berhentilah aku mohon. Kendalikan dirimu!!!'
Ian mencoba membujuk Kei. Tapi Kei tidak perduli karena Kei telah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Monster itu yang mengendalikan Kei sepenuhnya. Kei melompat tinggi untuk menyerang orang-orang itu. Tapi dengan cepat Ian menepis serang Kei. Kei tampak marah dan melawan Ian. Orang-orang itu berlari keluar hutan. Kei yang melihatnya langsung berlari mengejar mereka setelah menghempas keras tubuh Ian. Ian merintih kesakitan. Tapi dia harus menghentikan Kei. Kei sudah berada di hadapan orang yang melarikan diri darinya dan memakan salah satu orang itu lagi. Ian menghempas tubuh Kei dan menggigitnya brutal. Kei melolong kesakitan. Kei menghempas Ian. Ian sudah sangat lemah sekarang tapi itu tidak menghentikannya untuk menghentikan Kei. Dengan sisa tenaganya Ian menerjang Kei. Kini Ian sudah berada dia atas tubuh Kei.
'Kei, sadarlah!!'
Kei tidak juga sadar. Justru semakin marah. Ian kembali menggigit tubuh Kei. Kei mengerang kesakitan lalu menggapai leher serigala Ian dan mencekiknya. Kei melempar tubuh serigala Ian dan mengenai pohon dengan kasar lalu terjatuh ke tanah. Ian tidak bisa menggerakkan tubuhnya kembali. Dia sangat lemah. Kei kembali berdiri dan mengejar mangsanya. Kei membunuh dan memakan satu persatu orang-orang itu dan segera keluar hutan. Kei melihat lampu dan rumah-rumah. Kei melolong dan segera berlari ke rumah-rumah itu. Tapi baru berlari sebentar ada orang yang menghalangi jalannya.
"Kei!! Sadarlah nak. Ini ayah..." ayah Kei sudah berada di hadapan Kei. Kei menggeram marah. Dia menerjang ayahnya. Dia sudah berada di atas ayahnya yang masih dalam wujud manusia. Kei melolong keras dan bersiap untuk menggigit ayahnya tapi dengan cepat Cavril menusuk pedang berukuran panjang dan berwarna perak ke pinggang Kei. Kei mengerang kesakitan lalu seketika tubuhnya roboh menimpa ayahnya yang masih dibawahnya. Kei kemudian berubah menjadi manusia kembali dan masih pingsan.
"Kei, anakku..." ucap lirih ayah Kei sambil mengelus kepala anaknya yang terbujur kaku.
"Yang mulia.." Cavril menunduk ikut berduka.
"Aku telah kehilangan kedua anakku malam ini, Cavril." ayah Kei menangis. Cavril menepuk punda ayah Kei. Tak lama terdengar suara rintihan Kei. Ayah Kei dan Cavril terkejut. Seharusnya Kei mati setelah terkena pedang itu. Tapi Kei masih hidup.
"Kei..." ayahnya panggil. Kei tidak menjawab, hanya mengerang. "Ayo Cavril kita bawa dia pergi."
flashback end
****
...Tadariez...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments