Setelah kejadian itu Kei tidak langsung pulang. Dia masih diam di batu besar itu dan masih berwujud serigala. Lukanya akan cepat sembuh dengan sendirinya jika dia masih dalam wujud serigala. Dia tidak ingin pulang dalam keadaan terluka parah.
Hari sudah malam tapi Kei masih saja diam membisu. Dia melihat kakinya yang terluka. Lukanya sudah terlihat membaik dari yang pertama.
'Kei! Kamu dimana?!' tanya seseorang melalu mindlink.
'Aku masih di hutan, di dekat jurang.' jawab Kei.
'Oh akhirnya kamu jawab aku juga Kei. Kenapa kamu menutup mindlinkmu? Kamu membuatku gila! Dasar serigala gila!! Kami semua khawatir. Tunggu aku, aku akan segera kesana!'
Ian memutuskan mindlinknya dan langsung berlari menuju Kei berada dengan menggunakan wujud serigalanya. Tak berapa lama Ian sampai di hutan yang dimaksud Kei. Dia masih tidak melihat Kei dimanapun.
'Aku disebelah sini Ian, di kananmu. Dekat batu besar.' kata Kei yang melihat Ian datang. Ian mendatangi arah suara Kei.
'Disini kamu ternyata. Aku sudah sangat khawatir. Sedang apa kamu disana? Ayo kita pulang.'
Kei menurut dan mulai berdiri. Tapi dia tertatih dan sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya yang terluka. Ian melihat itu menatap Kei bingung. Ian merubah wujudnya menjadi manusia.
"Kamu... Terluka. Apa yang terjadi Kei? Kamu baik-baik saja?" tanya Ian.
'Aku sudah baik-baik saja. Jangan khawatir.' kata Kei melalui Mindlink karena Kei masih berwujud serigala.
Ian mendatangi Kei dan memeriksa lukanya.
"Rubahlah wujudmu, aku membawakanmu baju ganti." sahut Ian dan dengan segera di turuti oleh Kei. Kei merubah wujudnya menjadi manusia. Terlihat jelas luka yang didapat Kei. Di kepalanya terdapat darah kering. Kakinya terluka, tangannya juga terdapat bekas cakaran. Ada beberapa luka kecil dari tubuhnya yang mulai sembuh dengan sendirinya.
"Astaga Kei!! Kamu kenapa sebenarnya Kei? Siapa yang melakukan semua ini?" Ian menghampiri Kei dan kembali memeriksa lukanya.
"Aku sedang jalan-jalan di hutan. Lalu ada sekelompok serigala mendatangiku. Mereka bertanya siapa aku dan apa nama packku. Aku sudah mengatakan semuanya Ian, siapa aku. Tapi mereka tidak percaya padaku dan ingin membawaku ke beta mereka. Aku panik lalu melarikan diri. Sampai akhirnya aku di pinggir jurang dan terjatuh." jelas Kei.
"Kenapa kamu harus melarikan diri? Kamu kan sudah mengenal beta disini, George." kata Ian.
"Aku panik Ian. Aku takut nanti aku berubah menjadi monster itu lagi." kata Kei.
"Asalkan kemarahan kamu tidak besar kamu tidak akan berubah Kei."
"Tapi aku tidak mau mengambil resiko."
"Aku mengerti." kata Ian. "Sekarang pakai bajumu dan kita pulang. Alpha dan luna sudah sangat khawatir."
Kei mengangguk dan memakai pakaian yang di bawa Ian. Mereka berdua kemudian berjalan menembus kegelapan malam dihutan itu. Ian memapah Kei jalan karena kakinya masih sakit. Sesekali terdengar lolongan serigala membuat mereka menghentikan langkah mereka.
Tak lama mereka sampai di rumah. Ayah Kei menyambut mereka dengan kepanikan.
"Astaga Kei, kamu kenapa?!"
Ayah Kei membantu Ian memapah Kei masuk kedalam rumah. Mereka mendudukkan Kei di sofa. Ayah Kei mulai memeriksa luka Kei.
"Kei tidak apa-apa ayah." kata Kei yang melihat ayahnya khawatir.
"Kenapa kamu sampai seperti ini?" tanya ayah Kei. Ayah Kei menatap penuh kebingungan.
"Kei..." Kei menghentikan ucapannya. Dia bingung harus mulai dari mana.
"Apa karena mereka?" sahut George yang sudah ada di ruang tamu itu. Kei menoleh dan mendapati lima laki-laki yang tadi ada di hutan. Semua laki-laki itu tertunduk menyesal.
"Ceritakan apa yang terjadi Kei." kata orang yang duduk di hadapan Kei. Sebastian, alpha dari pack Moon Roykolt sudah ada di sana juga.
"Saya... Saya pergi jalan-jalan di hutan. Saya bertemu... Dengan mereka. Mereka bertanya siapa saya dan dari mana dan saya menjawab apa adanya." kata Kei.
"Apa mereka percaya Kei?" tanya George.
"Ini semua bukan salah mereka, salah saya." kata Kei. Dia tidak ingin mereka di hukum gara-gara dia.
"Certikan terlebih dahulu, setelah itu baru diputuskan." kata ayah Kei. Kei menghela nafas.
"Saya tidak tahu mereka percaya atau tidak tapi mereka berencana membawa saya ke Beta dan alpha." Kei menunjuk hormat Sebastian dan George. "Tapi saya panik dan mencoba melarikan diri dari mereka. Mereka mengejar saya dan tanpa sengaja tebing yang saya injak runtuh dan saya jatuh."
"Kenapa kalian tidak menolong Kei setelah Kei jatuh?" tanya George pada kelima pemuda itu.
"Kami memutari jurang itu untuk turun tapi setelah di bawah kami tidak melihat Kei, beta. Jadi kami kira Kei telah selamat dan pulang." jelas Jake. George mengangguk.
"Untung mereka dan Ian melaporkanmu Kei." kata ayah Kei.
"Ini semua salah Kei ayah." sahut Kei.
"Sudahlah, yang penting kamu selamat Kei dan tidak terjadi apapun sama kamu." sahut Sebastian. "Aku juga tidak akan menghukum mereka. Justru aku ingin memperkenalkan mereka."
George berjalan menuju lima pemuda itu. "Mereka adalah Jake, Kian, Moles, Jason dan Mike." ucap George sesuai dengan urutan berdiri mereka.
"Hai, aku Kei. Aku minta maaf sudah menyusahkan kalian." sahut Kei.
"Tidak masalah. Lain kali bergabunglah bersama kami dan berpatroli." sahut Jake ramah. Kei tersenyum dan mengangguk.
"Dengan senang hati. Ahh dan itu Ian." Kei menunjuk Ian yang sedari berdiri dan terdiam. Ian tersentak kaget namanya tiba-tiba disebut.
"Eh? Oh? Ahhh iya, saya Ian. Salam kenal." kata Ian sambil melambaikan tangannya kaku.
Mereka semua tertawa geli melihat tingkah kaku Ian.
"Apa lukamu sudah membaik?" tanya Sebastian.
"Sepertinya lukanya parah, alpha. Saya melihat ada luka robek di kaki dan kepalanya dan luka cakaran di lengan." kata George yang rupanya sedari tadi memperhatikan luka-luka Kei.
"Benarkah? Biasanya luka seperti itu akan butuh waktu." kata Sebastian. "Oleskan ini. Ini obat dari rempah-rempah. Bagus untuk mempercepat menutup luka."
Cavril mendekati Kei untuk memberikan obat yang di beri oleh Sebasrian. Cavril mengerutkan keningnya heran.
"Ada apa Cavril? Apa lukanya tambah parah?" tanya ayah Kei.
"Tidak, bukan itu. Tapi saya tidak melihat lukanya." jawab Cavril.
"Apa?" tanya ayah Kei bingung lalu mendekat bersama George. Mereka berdua terbelalak kaget melihat kaki Kei yang kembali mulus. Tidak ada bekas luka di sana, hanya bekas darah yang mengering.
"What the...?!" kata George setengah berteriak. George dengan cepat memeriksa kepala dan lengan Kei. Semuanya bersih, tidak ada bekas luka sedikitpun.
"Ini aneh." kata ayah Kei.
"Apa selama ini jika Kei terluka akan secepat ini sembuhnya?" tanya Sebastian. Ayah Kei menggeleng.
"Sama seperti kita semua. Meskipun tidak butuh dokter atau obat apapun untuk menyembuhkan luka tapi butuh waktu untuk luka itu sembuh dengan sendirinya." kata ayah Kei yang juga tampak bingung. "Baru kali ini terjadi."
"Ya sudah, Kei. Masuklah ke kamar mu dan mandi. Kamu harus membersihkan dirimu." kata Sebastian. "Kalian berlima juga, pulanglah. Ini sudah malam."
Kelima pemuda itu membungkukkan badannya lalu pamit pulang. Kei juga pamit menuju kamarnya.
"Hari ini peristiwa yang aneh. Kei tidak berubah menjadi monster dan lukanya pun sembuh dengan sendirinya." sahur George.
"Kei tidak berubah menjadi monster berarti karena dia tidak merasakan amarah pada dirinya. Biasanya dia berubah menjadi monster jika dia sedang marah." jelas ayah Kei. "Tapi kalau luka itu... Aku juga baru mengetahuinya."
Semua terdiam membisu. Di dalam pikiran mereka sudah terisi pertanyaan yang membingungkan.
"Ayah, apa Ian boleh pulang?" tanya Ian. Cavril menoleh.
"Ian, kenapa kamu bisa kehilangan Kei tadi? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Cavril.
Deg!
Ian bingung menjawabnya. Kei hilang itu memang kesalahannya. Semenjak tadi dia memang belum ditanya perihal kenapa Kei bisa hilang dari pandangannya.
"Maafkan Ian ayah." kata Ian akhirnya sambil menunduk.
"Bukan pada ayah tapi pada alpha." kata Cavril tegas. Ian menoleh ayah Kei dan Sebastian lalu berlutut dengan menekukkan satu kakinya.
"Maafkan saya alpha." kata Ian.
"Bangunlah Ian, aku memaafkan kamu." kata ayah Kei.
"Aku juga." sahut Sebastian.
Ian segera berdiri. Kepalanya masih tertunduk.
"Sekarang jelaskan kenapa Kei bisa terlepas dari pandanganmu?" tanya ayah Kei.
"Karena..." Ian tidak melanjutkan kata-katanya. Dia kembali diam.
"Ian, jawab pertanyaan dari alpha." suruh Cavril.
"Karena saya sedang mendekati... Mate-saya." Ian kembali menundukkan kepalanya.
"Mate?" tanya semua orang disana. Bahkan ibu Kei yang baru saja datang dari kamar Aira.
"Kamu bertemu dengan Mate-mu?" tanya ibu Kei. Ian mengangguk.
"Wah kabar menggembirakan, benarkan sayang?" tanya ibu Kei meminta dukungan dari suaminya.
"Tentu saja. Ini kabar bagus. Lagipula memang sudah waktunya kan?" sahut ayah Kei antusias. Ian tersenyum malu.
"Tapi hanya karena dia mendekati mate-nya, dia melakukan kesalahan sebesar ini. Sangat tidak bisa di terima alpha." sahut Cavril. Ian kembali menunduk.
"Ahh Cavril, selalu menjadi perusak suasana." protes ibu Kei. "Apa kamu tidak bisa mendukung anakmu sendiri? Atau memberikan selamat begitu?"
Cavril menghela nafas lalu tersenyum dan menepuk pundak Ian.
"Selamat ya nak, ayah bangga padamu." sahut Cavril.
"Terima kasih ayah."
"Lain kali Kei jangan sampai terlepas dari pandanganmu Ian, kamu tahu akibatnya." kata ayah Kei.
"Baik alpha." sahut Ian.
"Ahh aku jadi menyesal membuatmu menyamar menjadi anak sekolah. Aku jadi mengahalangimu bertemu dengan mate-mu." sahut ayah Kei.
"Tidak apa-apa alpha."
"Memangnya siapa mate-mu? Apa dari pack kami?" tanya Sebastian yang dari tadi hanya diam.
"Ehm... Bukan. Dia... Manusia."
Jawaban Ian membuat semua orang melongo lalu ber oh ria bersama.
"Jarang sekali manusia serigala mempunyai mate seorang manusia." kata George. Semua mengangguk setuju.
"Memang siapa dia?" tanya ibu Kei penasaran.
"Teman sekolah dan satu kelas juga bersama Kei." jawab Ian.
"Benarkah?"
"Iya Luna."
"Apa aku berhentikan saja kamu sekolah, biar kamu bisa mendekati dan klaim mate-mu? Alpha Sebastian bilang dia bersedia memberikan gamma nya untuk menggantikanmu, benarkan Sebastian?" kata ayah Kei.
"Betul, sebenarnya hanya untuk berjaga-jaga saja pada awalnya. Tapi jika seperti ini kejadiannya, Ian akan bisa di gantikan."
"Kalian berdua ini!" pekik ibu Kei. Ayah Kei dan Sebastian kaget lalu menoleh.
"Sudah jelaskan mate-nya itu satu sekolah dengannya dan satu kelas juga. Lalu kenapa kalian ingin mengeluarkan Ian dari sekolah? Bisa-bisa dia jadi jauh dengan mate-nya."
"Sayang, kan Ian bisa klaim dia nanti."
"Alpha tapi kok lelet ya." gumam ibu Kei.
"Apa?" ayah Kei yang tidak mendengar jelas gumaman ibu Kei mulai bingung.
"Sayang, dengar tidak kata Ian tentang mate-nya? Mate-nya itu manusia bukan werewolf. Jadi Ian tidak bisa langsung klaim karena yang ada nanti Mate-nya lari ketakutan. Karena itu Ian harus mendekati mate-nya perlahan, dengan cara manusia bukan dengan cara werewolf." jelas ibu Kei dengan nada menahan kesal dan gemas pada kedua alpha di depannya. Kedua alpha itu kemudian hanya ber oh ria bersama dan menganggukan kepala mereka. Ibu Kei hanya menghela nafas kasar lalu menepuk jidatnya. George dan Cavril hanya tersenyum geli.
"Maaf ya Ian, mereka sudah tua bangka. Jadi mereka tidak tahu perkembangan anak muda jaman sekarang." kata ibu Kei disambut tawa oleh Ian.
"Siapa yang kamu panggil tua bangka?" protes ayah Kei.
"Jadi, apa sudah dekat dengan mate-mu?" tanya ibu Kei pada Ian dan tidak menghiraukan pertanyaan suaminya.
"Ehm... Masih belum ada perkembangan luna." jawab Ian malu.
"Kalau ada pertanyaan soal perempuan jangan malu tanya ya?" kata ibu Kei menawarkan diri menjadi tempat curhat.
"Iya luna." jawab Ian.
"Ahhh jadi tidak sabar melihat mate-nya Kei." kata ibu Kei antusias.
Tiba-tiba para pria kecuali Ian tercekat. Ibu Kei belum tahu perihal mate-nya Kei yang harus mati di tangan Kei. Mereka saling pandang dalam diam tanpa berniat memberitahukan apapun pada ibu Kei. Mereka tidak ingin merusak khayalan ibu Kei tentang mate-nya Kei.
****
Kei masuk ke perkarangan sekolah. Dia berjalan santai menuju kelasnya. Kaki, kepala dan lengannya yang kemarin luka sudah sembuh total. Dia heran dengan itu tapi kemudian dia tidak perduli. Yang penting dia sudah sehat kembali. Yang dia bingung adalah sejak semalam dia terus memikirkan Tania. Wajah Tania terus berada dipikirannya. Bahkan sekarang dia ingin segera bertemu dengan Tania. Aku sudah gila rupanya, gumam Kei.
"Kei." panggil seseorang dari belakangnya. Kei melihat seorang berlari mendekatinya. Kei mengenalnya. Dia salah satu dari lima orang yang kemarin di temuinya di hutan.
"Hai, Kei." kata Jason saat sudah berada di depan Kei.
"Hai." sapa Kei balik.
"Aku Jason. Kamu ingat aku kan?" tanyanya. Kei mengangguk.
"Tentu. Maafkan aku. Karena aku kalian mendapat masalah." kata Kei.
"Tidak apa-apa Kei, aku dan teman-temanku juga minta maaf karena tidak percaya padamu dan membuatmu celaka."
"Aku baik-baik saja." kata Kei dan melanjutkan jalannya. "Aku tidak tahu kamu sekolah disini."
"Aku kakak kelasmu Kei." sahut Jason tertawa. "Aku tahu kamu terkenal di sekolah ini tapi dengan bodohnya aku melupakanmu waktu di hutan itu."
"Itu sudah berlalu, jangan dibahas lagi." ujar Kei. Semua mata memandang mereka saat mereka berjalan di depan sekumpulan para gadis.
"Wahh kamu memang sangat terkenal Kei. Lihat saja para gadis itu tidak berhenti melihatmu."
"Abaikan saja mereka." kata Kei malas menanggapi tentang para gadis yang tertarik padanya.
"Pasti kamu punya banyak pacar."
"Aku belum pernah punya pacar sebelumnya."
"Hah?!" kata Jason setengah berteriak membuat Kei terkejut. "Kamu pasti berbohong kan? Kamu pasti bercanda?"
"Aku sedang tidak berbohong dan bercanda Jason." ucap Kei.
"Dengan tampang seperti ini belum pernah punya pacar? Oh moon goddes. Kasihan sekali." kata Jason. Kei mengerutkan keningnya.
"Memang ada apa dengan tampangku? Memangnya kenapa dengan belum pernah punya pacar?" tanya Kei bingung. Jason menghentikan langkahnya lalu mengusap mukanya.
"Kata para gadis disekolah ini, wajahmu itu sangat tampan bak dewa yunani."
"Dewa yunani? Siapa lagi itu?" Kei semakin bingung. Jason menepuk jidatnya.
"Maksudnya ketampanan kamu sudah seperti dewa-dewa itu, yang tampannya luar biasa." jelas Jason. Kei hanya menganggukkan kepalanya.
"Lalu?"
"I-iya... Lalu kenapa punya wajah setampan itu belum pernah pacaran. Aku saja yang tampangnya biasa-biasa begini udah dua kali pacaran." kata Jason.
"Memangnya harus?" tanya Kei. Jason mendekati Kei dan mengalungkan tangan kirinya ke leher Kei.
"Begini, aku tahu kita akan punya mate nanti. Tapi tidak ada salahnya jika kita berpacaran sebelum bertemu mate kita. Anggaplah latihan sebelum bertemu mate. Jadi saat bertemu mate nanti, kita sudah profesional." ucap Jason.
"Hah? Profesional? Dalam hal apa?"
"Berpacaran tentu dan juga... Berciuman. Akan malu sekali nanti jika ternyata kita tidak bisa berciuman dengan baik dengan mate. Jadi jika semua sudah profesional tinggal arrghh!!" Jason berpura-pura ingin menggigit Kei. "Klaim." bisik Jason.
"Aaahhh...." kata Kei lalu dia tersenyum geli. Beberapa gadis yang ada disana dan melihat Kei tersenyum langsung melongo tidak percaya. Kei tidak pernah senyum dan selalu berwajah dingin dan datar bahkan pada Ian sekalipun.
"Kalau masih ada yang kurang jelas bisa tanya denganku." kata Jason menepuk dadanya pelan. Jason melepaskan tangannya dari leher Kei dan berjalan menjauh.
"Ingat ya Kei, cari pacar." kata Jason lagi lalu berbalik menuju kelasnya.
Kei tertawa dengan masih menatap Jason pergi. Kei lalu berbalik menuju kelasnya. Tapi kemudian dia kaget. Dia mendapati Ian sudah berdiri di depannya dengan wajah cemberut. Kei mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa?" tanya Kei.
"Keterlaluan kamu Kei, aku cemburu." kata Ian kesal.
"Hah? Maksudnya apa?" Kei semakin bingung.
"Kamu tidak pernah senyum padaku, tapi kamu tersenyum padanya. Tidak adil!" Ian memajukan bibirnya dan melipat tangannya di dadanya.
Kei mendengus kesal. "Terserah kamu saja." Kei kembali berjalan ke kelasnya.
"Kei..." rengek Ian. "Senyumlah padaku..."
"Diamlah." kata Kei datar.
"Kei...." rengek Ian lagi.
"Menjauhlah dariku!" Kei mulai risih dengan suara rengekan Ian.
"Kei...."
"Aarrggg....!!! BERISIK!!!" Kei berlari kecil sambil menutup telinganya di ikuti Ian yang masih merengek minta senyum pada Kei.
tadariez
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments