Tania POV
Aku benar-benar disuguhkan pemandangan luar biasa. Aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi menonton pertandingan basket dadakan itu. Bagaimana tidak, jika pemainnya harus bertelanjang dada, pertandingan basket jadi tidak menarik lagi. Hanya lengan kokoh, dada bidang dan perut kotak-kotak itu yang menarik. Ya ampun Tania, jangan berpikir macam-macam. Kamu baru enam belas tahun, for god sake!!
Aku melihat Kei memasukkan bola lagi. Mereka mencetak skor lagi. Aku melihat senyum yang tersungging di bibirnya. Astaga tampannya. Aku memang tidak menyukainya dan dia memang menyebalkan tapi aku tetap tidak bisa berbohong pada hatiku bahwa Kei itu memang super duper tampan. Tapi mataku beralih ke dada bidangnya dan perut six packnya. Ya ampun dia baru enam belas tahun tapi lihat tubuh indah itu. Aku tahu untuk membentuk tubuh seperti itu harus berlatih keras dan bertahun-tahun. Tapi Kei masih enam belas tahun. Apa jangan-jangan selama ini di waktu senggangnya dia habiskan di gym? Karena bentuk tubuhnya benar-benar... Wow. Oh mataku, kamu beruntung hari ini.
Aku tersadar lalu melihat Casey yang sudah bersorak tidak karuan. Aku bahkan tidak tahu apa yang disorakinya. Lalu mataku menatap Anne. Anne menatap lurus kedepan. Well, aku tahu benar siapa yang di tatapnya. Ian. Yup, meskipun jika aku tanya Anne selalu mengelak, tapi aku tahu dia menyukai Ian juga. Siapa tidak suka? Tampan luar biasa, ramah dan baik dan sekarang memperlihatkan tubuhnya yang sexy itu. Whoa... Anne pasti gila jika tidak menyukainya.
Tiba-tiba tubuhku terasa bergoyang keras. Casey menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Astaga Tania!!! ASTAGA....!!!" pekiknya di dekat telingaku. Aakhh sakit sekali. Aku menggosok telingaku.
"Tania, aku rela berteriak sampai besok jika pemandangannya seperti ini terus!!" kata Casey setengah berteriak. Ya kamu rela, telingaku tidak Casey!
"Hei apa kamu tidak ingat sama Mark?!" tanyaku setengah berteriak juga. Di sini sudah ribut sekali. Para gadis sudah bersorak gembira. Tentu saja.
"Lupakan dia! Yang ini lebih menarik!"
Aku melongo. Mark adalah cowok yang di sukai Casey semenjak smp dan dia mau membuangnya demi laki-laki bertelanjang dada dihadapannya ini?
"Ternyata Jason hot juga ya!! Aku jadi naksir."
Aku melongo lagi lalu kemudian aku tertawa geli. Dasar labil.
"Wah... Pertandingan yang menarik." kata seseorang di sebelahku. Ibu Sims, wali kelasku sudah duduk disebelahku. Sejak kapan? Kok aku tidak menyadarinya?
"Jangan memandangiku seperti itu nona. Kamu yang terlalu fokus melihat dada bidang dan perut six pack itu sehingga kamu tidak melihatku datang." kata ibu Sims lalu tersenyum geli. Apa iya?
"Sedang apa ibu disini?" tanyaku.
"Jarang sekali kan ada pemandangan seperti ini. Masa kalian egois mau menikmati sendiri." kata ibu Sims. Aku tertawa mendengarnya. Bahkan guru pun tergoda.
Terdengar peluit ditiupkan. Istirahat babak pertama. Tim Jason unggul tiga angka. Beberapa anggota geng wolfs yang tidak main, memberikan botol air minum.
Aku mendengar para gadis masih bersorak. Aku melihat Kei mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang tadi diberikan oleh salah satu anggota wolfs. Mataku menatapnya tanpa berkedip dan aku yakin mulutku sudah terbuka lebar. Dengan cepat aku memalingkan wajahku. Tania, kamukan tidak menyukainya, dia itu menyebalkan! Sadarlah!!
Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menyadariku dan berhenti mengagumi betapa hot nya Kei saat ini. Aku memang berumur enam belas tahun, tapi aku tetap perempuan normal.
"Hai Anne." aku melihat Ian mendatangi Anne. Anne menjadi salah tingkah karenanya. Aku dan Casey biasanya tertawa geli melihat tingkah Anne. Tapi kali ini kami hanya terdiam membisu. Bagaimana tidak, Ian masih tidak memakai baju. Dalam hati tentu aku bersyukur Ian menyukai Anne, karena aku juga kebagian melihat tubuh indah itu dari dekat. Ya ampun Tania.... Sadarlah.
"Bisa tolong jagakan bajuku? Aku masih harus bertanding lagi dan botol ini juga." kata Ian menyerahkan botol dan bajunya.
"Aa.. Aa. I-iya." sahut Anne gugup. Wajahnya sudah memerah. Aku terkekeh geli.
"Apa mereka berkencan?" tanya ibu Sims. Aku menoleh melihat ibu Sims lalu melihat ke Ian yang sedang membelai lembut rambut Anne.
"Ehm... Mungkin?" jawabku seadanya. Yaaahh aku memang tidak tahu. Disisi satu Anne masih mengelak dan masih suka menjauhi Ian tapi disisi lain aku tahu Anne menyukai Ian dan Ian tidak pernah letih untuk mendekati Anne dan kadang mereka terlihat sangat dekat. Jadi aku tidak mengerti sebenarnya hubungan mereka itu apa.
"Oh.. Mereka terlihat serasi." kata ibu Sims. Aku terkekeh begitu juga ibu Sims.
"Tania." seseorang memanggil namaku. Aku menoleh. Lalu tiba-tiba ada yang menaruh baju di pangkuanku. Aku tentu kaget dan mendongakkan kepalaku. Kei!
"Jaga bajuku. Aku akan bermain lagi." katanya. Aku? Yang benar saja. Aku ingin protes tapi kemudian tidak jadi, hanya menelan ludah. Kei berdiri dihadapanku dengan bertelanjang dada dan minum air dari botol yang di bawanya tepat di depanku! Oh my god!!
Aku menatapnya tanpa berkedip. Tentu saja, siapa yang ingin berkedip saat itu. Aku merasa tanganku di remas. Aku melihat Casey yang menatap Kei dengan mulut terbuka lebar. Ternyata bukan aku saja, haha.
"Ini sekalian." sahut Kei sambil menyerahkan botol yang tadi di minumnya. Lalu pergi meninggalkan ku dan jantungku yang berdetak tidak karuan.
"Jadi..." suara ibu Sims memecah lamunanku. "Apa kamu berkencan dengan Kei?"
"Apa?! Ti-tida, tidak, bu. Saya tidak berkencan dengannya." sahutku cepat.
"Apa kamu yakin?" kata ibu itu masih dengan tatapannya yang sengaja menggodaku. "Atau jangan-jangan kamu menolak Mark tempo hari gara-gara kamu sudah berpacaran dengan Kei?"
"Ibu Sims!" pekikku kesal. Aku begitu kesal sehingga aku lupa siapa yang aku ajak bicara.
****
My POV
Hening. Itu yang bisa di rasakan di ruangan itu. Tidak ada yang berbicara bahkan berbisik. Di ruangan itu penuh orang tapi tidak ada satupun yang berbicara dan berbisik. Mereka tampak diam dan menunggu sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Terdengar, ketukan pintu lalu pintu terbuka. Masuk salah satu omega.
"Alpha, yang di tunggu sudah datang." kata omega itu.
"Persilahkan dia masuk." kata Sebastian.
Omega itu keluar lalu tak lama dia kembali masuk dan membawa dua orang bersamanya. Orang itu memakai pakaian serba putih. Pakaiannya lebih seperi long dress perempuan tapi lebih longgar, tidak pas ke badan seperti perempuan. Rambutnya coklat keputih-putihan karena uban. Ada janggut tipis berwarna putih didagunya. Tubuh lelaki itu gemuk dan bentuk wajah yang bulat. Lelaki itu bersama satu orang lagi dengan rambut pirang yang panjangnya melebihi pundaknya sedikit dan mengenakan setelan jas berwarna putih.
"Damian." panggil Sebastian lalu mendatangi laki-laki yang bernama Damian itu lalu memeluknya.
"Sebastian." Damian memeluk Sebastian. "Apa kabar?"
"Baik tentu. Mari aku perkenalkan." kata Sebastian. "Kamu pasti sudah mengenal beta-ku, George."
"Selamat siang George." sapa Damian ramah.
"Selamat siang tuan Damian." kata George.
"Baiklah Damian, ini adalah Oston Ludwig Laros dan betanya Cavril."
"Selamat siang tuan Oston, senang berkenalan dengan anda." Damian mengulurkan tangannya pada Oston dan disambut baik oleh Oston meskipun Oston sempat heran dengan cara berpakaian Damian tapi dengan segera di tepisnya. Damian juga tidak lupa menyalami Cavril.
"Mari silahkan duduk." kata Sebastian. "Dan dia... " Sebastian melihat laki-laki yang di bawa Damian.
"Ahh... Perkenalkan lah dirimu pada tuan-tuan disini." kata Damian pada lelaki yang bersamanya.
"Selamat siang tuan-tuan, alpha. Nama saya Augys. Saya seorang Elder juga tentu." kata Augys.
"Ahh baiklah Augys, senang bertemu denganmu. Saya Sebastian, alpha dari pack Moon Roykolt. Silahkan duduk." katanya, kemudian dia juga ikut duduk. "Mari kita mulai?"
"Damian tentang monster itu, mungkin kamu perlu mengetahui bahwa-"
"Tidak perlu di beri tahu. Aku mengetahui semuanya. Aku mengenal baik ayah dari tuan Oston dan sempat melihat beberapa kali dia berubah menjadi yang kalian bilang monster itu. Dan ayah anda menguasainya dengan baik tuan Oston." kata Damian pada Oston, ayah Kei. "Tapi sepertinya tidak dengan anak anda."
"Seperti itulah tuan Damian-"
"Damian." potong Damian cepat. "Panggil Damian saja, aku lebih nyaman seperti itu."
"Baiklah, Damian. Kami semua mengira monster itu mati bersama ayah saya tapi ternyata itu salah." kata Oston.
"Tidak mati tuan, tidak akan mati. Bahkan sampai keturunan anak anda." kata Damian membuat semua orang terkejut.
"Apa maksud anda? Itu kutukan. Jadi pasti akan hilang." Oston terkejut.
"Itu bukan kutukan tuan, percayalah. Saya penyihir dan saya tahu kutukan karena penyihir yang biasa mengutuk tuan. Tapi bisa saya pastikan itu bukan kutukan." kata Damian pasti. "Ada sebuah buku kuno yang saya pernah baca, saya sudah lupa kapan tapi saya ingat jelas isi buku itu. Buku itu menceritakan sejarah kuno seluruh klan didunia. Werewolf beribu-ribu tahun yang lalu tercipta karena sebuah kutukan. Kutukan yang diturunkan secara turun temurun. Berarti kalian adalah makhluk yang terkutuk."
Semua Diam pada penjelasan Damian. Ada beberapa yang terkejut tapi mereka memilih diam dan tetap mendengarkan.
"Klan tertua di dunia adalah Demon, penyihir dan manusia. Kalian sekarang sudah tahu siapa yang mengutuk dan siapa yang dikutuk. Karena iri mereka mengutuk manusia menjadi werewolf. Awalnya werewolf adalah makhluk yang berubah menjadi serigala hanya pada saat bulan purnama. Tapi semua berubah semenjak ada monster yang kalian bilang itu. Ada sebuah ramalan kuno berkata bahwa akan ada satu orang dari kalangan werewolf yang mengubah nasib mereka dan itu benar. Eros, nenek moyang kalian. Eros terkenal kejam, kuat dan pemarah. Dia selalu marah tanpa sebab. Suatu waktu dia marah dan mengalahkan seluruh pack werewolfnya sendiri lalu-"
"Lalu dia memuju ke pack yang lain untuk menghabisi mereka dan dia berhasil." potong Cavril. "Kami sudah mendengar legenda itu tuan."
"Saya yakin itu tuan Cavril. Tapi yang anda tidak ketahui adalah saat dia menghabisi seluruh packnya, dia berubah menjadi monster itu."
Semua orang saling memandang bingung.
"Tapi Damian, tidak ada sejarah seperti itu. Yang kami tahu seseorang bernama Rahes, leluhur kami, dikutuk menjadi monster itu." kata Sebastian.
"Tidak alpha. Rahes sama seperti anak dari tuan Oston, tidak bisa mengendalikannya. Di buku penyihir kami mengatakan bahwa Rahes sempat di bantu oleh yang terpilih, kalian tahu yang terpilih? Tujuh penyihir terkuat didunia. Saat itu yang terpilih tahu bahwa itu bukan kutukan. Tapi gen werewolf yang dominan ditambah kekuatan yang besar dan itu akan di turunkan secara turun temurun. Rahes adalah keturunan Eros, begitu juga kakek anda dan juga anda dan anak anda. Sebelum kesini saya sudah memastikannya alpha."
"Tapi kenapa sempat berhenti? Sebelum ayah saya tidak ada yang mempunyai monster itu." kata Oston.
"Itu yang saya tidak mengerti tuan. Saya hanya mempunyai dugaan tapi itu hanya dugaan-dugaan yang belum dipastikan kebenarannya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana saat anak itu berumur tujuh belas tahun, anak itu akan berubah menjadi monster itu tanpa harus menyakiti orang lain." kata Damian.
"Untuk itulah kami meminta bantuan pada kalian dan juga yang terpilih. Kemana yang terpilih? Kenapa dia tidak datang?" tanya Sebastian.
"Oh dia akan datang, nanti. Tapi dia pasti datang sebelum anak tuan Oston berumur tujuh belas tahun. Lima hari ya kan?"
"Betuk Damian. Lima hari lagi." kata Oston. "Jika yang terpilih berhasil kami sungguh sangat senang tapi jika tidak, kami ingin meminta bantuan anda untuk membuka portal menuju ke pack teman saya. Disana dia mempunyai tempat khusus yang jauh dari manusia maupun werewolf. Jadi Kei akan aman disana sampai efeknya berakhir." pinta Oston.
"Membuka portal itu membutuhkan sihir yang kuat. Saya akan meminta para Elder tua kemari untuk membantu yang terpilih. Anda tenang saja." kata Damian.
"Terima kasih." Oston tampak lega.
"Lalu di mana pangeran muda itu?" tanya Damian.
"Kei sedang bersekolah sekarang." kata Oston.
"Jadi, yang memimpin di pack Moon Lykort adalah kakak anda?" tanya Augys.
"Iya. Ordovic."
Damian dan Augys mengangguk.
****
Seorang Omega datang terburu-buru di ruang kerja Ordovic.
"Yang mulia, beta Hutch sudah datang." kata seorang omega.
"Suruh dia masuk." sahut Ordovic.
Omega itu keluar ruangan, tak lama masuk Hutch.
"My lord, saya ingin melaporkan. Semua persiapan sudah siap." kata Hutch.
"Benarkah?" Ordovic melepaskan kaca mata bacanya. "Bagus, bawa beberapa dari mereka ke sana. Kita beri kejutan mereka. Jangan semua, hanya beberapa saja. Sisanya untuk hadiah ulang tahun keponakanku tersayang."
"Baik yang mulia."
Hutch keluar ruangan dan meninggalkan Ordovic.
"Apa kau siap?" tanyanya pada seseorang disana.
"Tentu saja. Ayo kita musnahkan mereka." jawab orang itu.
"Aku yakin mereka membawa penyihir nanti." kata Ordovic.
"Dan kamu punya aku seperti yang sudah disepakati bersama." kata laki-laki itu. Mereka berdua tertawa bersama.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments