Bram tahu jelas resiko dari obat yang ia konsumsi, tetapi Bram mengabaikan semua itu. Yang paling penting adalah, ia bisa tidur tenang dan pekerjaanya bisa terselesaikan dengan baik untuk membungkam mulut keluarga besarnya. Dengan begitu, Bram bisa merasa puas dan bangga.
.
.
Keesokan harinya. Bram bangun pagi-pagi sekali dan langsung bersiap ke kantor. Bram tidak ingin melihat Rania, ia merasa malu, emosi dan juga kecewa terhadap sikap Rania.
"Ada apa, kenapa kamu minta obat itu lagi?" tanya seorang pria pada Bram yang sementara berdiri di dekat kaca sambil menatap ke arah luar.
"Kamu tau'kan efek obat itu seperti apa?" timpanya.
Pria tersebut adalah dokter pribadi sekaligus sahabat Bram yang bernama Haris Hendarto. Haris dan Bram bersahabat sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Meski berbeda fakultas saat kuliah dulu, mereka selalu menghabiskan waktu bersama setelah selesai jam kuliah dan tentunya selalu ada Felix diantara mereka. Dulu sebelum Ayah Haris meninggal, Ayah Harislah lah yang menjadi dokter pribadi keluar Nugroho. Karena Ayah Bram sudah sangat mempercayai Ayah Haris sehingga ia meminta Haris menggantikan posisi Ayahnya sebagai dokter pribadi keluarga Nugroho.
Bram menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan. "Apa aku punya pilihan untuk tidak mengkonsumsinya?" Bram balik bertanya sambil berjalan ke arah sofa. "Duduklah," Bram mempersilakan Haris duduk dan ia pun ikut duduk.
"Banyak pilihan tapi Lo sendiri yang memilih menyusahkan diri," sahut Haris.
Bram terdiam sejenak mendengar perkataan Haris. "Berikan barangnya, masih banyak yang harus aku kerjakan!" ucap Bram. Pria itu berdiri lalu menadahkan tangan pada Haris.
Karena tidak ada pilihan lain Haris pun mengeluarkan obat tersebut lalu memberikan pada Bram dengan berat hati. Percuma juga ia berdebat, Bram tidak akan mendengarkannya.
Bram Bram, kenapa Lo keras kepala bangat, Bro.
Setelah memberi obat pada Bram, Haris pun berpamitan pulang.
"Ris, Ko disini?" tanya Felix saat berpapasan dengan Haris di depan pintu ruangan Bram.
"Hmmm, Bos Lu tuh kumat lagi" sahut Haris.
Felix terdiam, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bram.
"Gua lanjut ya," Haris menepuk bahu Felix lalu melanjutkan langkahnya.
Felix mengangguk dengan wajah bingung karena pikiran terfokus pada Bram.
Kenapa Bram, apa dia lagi berantem sama Rania? Batin Felix. Ia pun bergegas masuk ke ruangan Bram.
"Obat itu lagi?" tanya Felix membuat Bram yang sementara kerja pun menoleh ke arahnya. "Mau sampe kapan Lo tergantung sama obat itu?" timpanya.
"Urus aja hidup Lo, nggak usah ikut campur urusan gua," sahut Bram sinis.
Felix tersenyum kecut mendengar ucap Bram.
"Gua pikir selama ini hubungan kita begitu dekat, ternyata gua salah, Lo tuh egois, nggak peka dan nggak punya perasaan," Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Felix.
"Lo udah tau dari dulu gua kek gitu terus kenapa Lo masih bertahan disamping gua?" Lagi-lagi Bram berucap tanpa berpikir.
"Gua nggak nyangka Lo punya pikiran sepicik itu, Bram," Sungguh perkataan Bram sangat melukai perasaan Felix saat ini. "Oke, mulai hari ini gua nggak bakal ikut campur lagi urusan Lo," Felix meletakan beberapa berkas yang ia bawa ke atas meja Bram lalu berjalan keluar begitu saja.
"Jangan anggap sikap tertutupmu itu sudah sangat benar, kamu tidak tahu seberapa menderita orang-orang disampingmu melihat sikapmu seperti itu," ucap Felix sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Selepas kepergian Felix, Bram membuang semua berkas kerja diatas meja, ia menarik rambut frustasi. Penolakan Rania padanya benar-benar membuat ia terluka dan tidak mengontrol emosinya.
Bram mengambil obat yang Haris berikan tadi lalu melemparnya ke lantai dengan sangat kasar membuat obat-obat itu berhamburan di lantai.
Bram dan Felix tumbuh bersama, berada dalam pengawasan yang sama, dididik dengan cara yang sama, bahkan mereka berdua disekolahkan di tempat yang sama sejak TK. Ayah Bram sengaja menyatukan Felix dan Bram agar mereka saling memahami satu sama lain, selalu kompak dan berjuang bersama untuk membesarkan usaha keluarga Nugroho.
Sebenarnya Ayah Bram juga menawarkan hal sama pada Radit. Namun, Fatma dan suaminya menolak. Mereka ingin Radit berada jauh di atas sehingga mereka menyekolahkan Radit di luar negri.
.
.
Teman-teman jangan pada ngambul ya, aku tidak up karena lagi sakit. Lambungku kambuh🤧 yng punya sakit lambung pasti tau gimna rasanya, jngankan ngetik lihat cahaya lampu aja nggak bisa.🙈🙈 Aku tidak pindah lapak ya guys, aku tetap disni.🙏🙏❤️🖤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
C2nunik987
dgrin itu kata kata Felix satu satunya sepupu yg msh perduli padamu jgn egois trsss Bram obatmu ia istrinu itu
2025-02-12
0
Nendah Wenda
obatmu Rania Bram belum nyadar
2024-02-06
2
Mukmini Salasiyanti
smg lekas sembuh ya thor
2024-01-22
0