Di dalam sebuah kamar hotel mewah, sepasang kekasih terlihat sangat bahagia.
"Apa kau menyukainya sayang?" tanya sang pria.
"Ya sayang! Aku sangat menyukainya, semua ini sangat indah," sahut sang kekasih. Wanita itu berlari kecil menuju ranjang lalu mengambil taburan kelopak mawar merah diatas ranjang dan membuangnya ke udara. Wanita itu tertawa bahagia sambil berputar-putar dibawa kelopak bunga mawar yang ia hambur tadi.
Sang pria mendekat dan menarik pinggang sang kekasih ke dekapannya.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang." ucap si pria sambil membelai lembut wajah sang kekasih.
Jarinya bergerak mengikuti rahang tirus sang kekasih, menyentuh dan merasakan wajah cantik yang sangat ia rindukan, hingga gerakan jarinya terhenti pada bibir ranum sang kekasih.
Sang pria mengusap sebentar bibir yang sejak tadi menggodanya lalu mulai melu matnya.
Entah siapa yang mulai melucuti baju lebih dulu, yang pasti saat ini tubuh mereka berdua telah polos tanpa sehelai benang pun. Bahkan mereka telah berada diatas ranjang dan melakukan penyatuan .
Sang pria tampak menikmati, merasakan setiap hentakan pinggul yang ia gerakan.
"Sayang, ini sungguh nikmat. Aahhh" ucap si pria ditengah gelora gairahnya yang semakin memuncak.
Merasa belum puas dengan posisinya di atas, si pria berniat ingin mengganti gaya agar bisa merasakan goyangan sang kekasih. Si pria langsung mengubah posisi tanpa berniat melepas penyatuan mereka. Namun, karena terlalu bersemangat untuk mencoba posisi baru, si pria tidak berhati-hati akhirnya mereka berdua terguling dan jatuh ke lantai.
"Auuuwwww" ringis Bram. Pria itu terjatuh ke lantai dengan posisi terkurap, jidat dan hidung mancungnya mencium lantai, bagian badannya terlilit bed cover seperti kepompong.
"What the f*ck," umpat Bram. Pria berusaha keluar dari lilitan bed cover dengan raut emosi.
Bram duduk bersandar di ranjang setelah berhasil melepas diri bed cover, pria itu melempar bed cover tersebut dengan rasa kesal. Bram mengusap wajahnya kasar ketika mengingat mimpinya barusannya.
Ya, adegan diatas hanya mimpi. Mimpi seorang Bramantyo Nugroho. Satu hal yang membuat Bram tidak habis pikir, mengapa wajah Rania yang muncul dalam mimpinya? Bukankah Erina lah wanita yang sedang ia rindukan?
Bram bangkit berdiri, ia memperhatikan jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul lima tiga puluh pagi hari. Bram bergegas ke kamar mandi, ia menyalakan air kran di wastafel lalu membasuh mukanya.
Bram memperhatikan wajahnya di cermin, pria itu kembali mengingat mimpinya semalam.
"Sial," Lagi-lagi Bram mengumpat. Mimpinya terasa begitu nyata, bahkan rasa nikmatnya masih tersetrum sampai sekarang.
Bram keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka dan menyikat giginya. Pria itu turun ke lantai bawah untuk bersantai sejenak sebelum bersiap berangkat kerja.
Derap langkah kakinya terdengar jelas ketika ia berjalan menuruni anak tangga. sesampainya di lantai bawah, Bram langsung menuju kitchen untuk menyeduh secangkir kopi. Meski memiliki banyak chef yang ia pekerjakan, Bram selalu memilih membuat kopi sendiri. Menurutnya, kopi yang diseduh sendiri terasa lebih nikmat.
Jangan ditanya dimana chefnya, karena chefnya masih di dalam kamar. Chef akan ke dapur ketika Bram meminta dibuatkan makanan.
Selesai menyeduh kopi, Bram bergegas menuju tempat duduk, tempat biasa yang selalu ia duduki ketika menunggu chefnya masak. Diatas meja sudah tersimpan sebuah koran disana.
Ketika hendak meyeruput kopinya, sorot mata Bram tidak sengaja melihat Rania yang sementara berjalan menuju kitchen yang satunya lagi, atau lebih tepatnya disebut dapur khusus para pelayan.
Hati Bram sedikit terguncang, mengapa semuanya seperti kebetulan? Dan apa ini, mengapa gadis itu berpakaian seperti itu di pagi hari? Bukan, bukan pakaian, tetapi Rania mengenakan sebuah handuk kimono yang lumayan pendek dan rambutnya terbungkus dengan handuk kecil. Sepertinya gadis itu baru saja selesai mandi.
Bram terus memperhatikan Rania, tanpa melewatkan sedetik apa yang dilakukan wanita itu. Tegukan demi tegukan air yang diminum oleh Rania dapat dirasakan oleh Bram, semua itu terlihat jelas dari ekspresi Bram yang ikut menelan saliva ketika melihat tenggorokan Rania naik turun.
Lama memperhatikan Rania, adegan dalam mimpinya kembali terulang di kepalanya. Udara sejuk di pagi hari ini seakan tidak berguna dikala perasaannya mulia memanas.
Bram merasa gerah, aliran darahnya mengalir begitu cepat, Mr.p dibawa sana mulai meronta menginginkan adegan yang ia mimpikan semalam.
"****," Bram merasa semua ini tidak masuk akal.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
C2nunik987
mimpi ma Rania 🤣🤣🤣
2025-02-12
0
Emy 107
wkwkwk ternuata mimpi
2025-01-01
0
Hariyanti Katu
dr rambut turun k kimono😂😂
2024-09-04
0