.
Felix menjalankan mobil memasuki halaman rumah kakek. Setelah mobil terparkir sempurna, Bram bergegas turun lalu mempersilakan Rania turun. Bahkan Bram sengaja mengulurkan tangannya pada Rania.
Cih, selain sombong dan suka mengagetkan orang, dia juga jago berakting.
Rania keluar dari mobil tanpa berniat menerima uluran tangan Bram membuat wajah pria itu kesal dan hendak memarahinya. Tapi sayang, belum sempat Bram memarahinya, Nyonya Anggita datang menyambut mereka berdua.
"Kalian sudah datang?" ucap Anggita sambil berjalan mendekat pada anak dan menantunya.
"Iya, Mah" sahut Rania.
"Ayo masuk," Anggita menggandeng tangan Rania dan membawa masuk ke dalam rumah.
Mendapat perlakuan istimewa dari mama mertuanya membuat Rania memasang ekspresi sombong pada Bram. Bahkah gadis itu menoleh sebentar ke belakang lalu menjulurkan lidahnya pada Bram, weekkk.
Bram menatap penuh arti melihat sikap Rania, entah apa yang pria itu pikirkan, yang pasti tatapannya berbeda dari biasanya.
"Sabar, Tuan, " ucap Felix membuat Bram tersadar dan langsung melangkah mengikuti Rania dan mamanya.
.
.
Di ruang makan, semua keluar besar telah duduk rapi mengelilingi meja makan panjang yang sudah dipenuhi berbagai macam makan diatasnya.
Malam ini, semua anak, cucu dan cicit Kakek Nugroho berkumpul. Disana ada Fatma dan suaminya beserta kedua anaknya Radit dan Niko. Fatma sendiri adalah anak pertama Kakek Nugroho. Dan disana juga ada kedua orang tua Felix, Ayah Felix adalah anak ketiga atau anak bungsung dari Kakek Nugroho.
Bukan hanya itu, adik kandung Kakek Nugroho beserta semua keluarganya juga ikut hadir disana. Suasana tampak ramai, meja makan untuk para cucu dan keponakan yang masih kecil sengaja dipisah agar tidak mengganggu para orang tua makan.
"Akhirnya tamu kehormatan ini datang juga." ucap Fatma dengan nada mengejek.
Anggita tampak tidak peduli pada omongan kakak iparnya, ia tetap tersenyum dan memperkenalkan Rania pada Ayah mertuanya dan semua keluarga yang hadir disitu.
"Kakek," ucap Rania setelah sang mama mertua memperkenalkannya. Gadis itu tersenyum manis sambil membungkuk memberi hormat. Tak lupa menyalami dan mencium punggung tangan kakek.
Wajah Kakek Nugroho tampak berbahagia berkenal dengan cucu mantunya, bahkan kakek tua itu menepuk pelan kepala Rania saat Rania mencium punggung tangannya.
"Kakek senang, Bram pintar memilih istri," ucap Kakek. "Ayo duduk, kita makan bersama," Kakek mempersilakan Rania duduk.
"Baik, Kek. Tapi sebelumnya biarkan saya melayani Kakek terlebih dahulu," Ucapan Rania itu tepat sasaran membuat kakek tua semakin jatuh cinta padanya.
Dengan wajah keriputnya, Kakek Nugroho tersenyum bahagia menyambut setiap nasi dan lauk yang Rania tuangkan kedalam piringnya. Bukan hanya pada kakek, Rania juga melakukan hal yang sama pada kedua orang tua Bram, menuangkan nasi dan lauk ke piring mereka masing-masing. Tak lupa Rania melayani suaminya tersombong.
Sebagian besar keluarga yang hadis di sana terlihat tidak menyukai apa yang dilakukan Rania, terutama Fatma dan keluarga kecilnya.
"Bagus Bram, kamu pintar memilih istri. Radit, Niko! Kalian berdua harus mencontoh Bram dalam memilih pasangan hidup," ucap Kakek Nugroho.
"Apanya yang mau dicontoh Pah? Bukannya istri Bram hanyalah seorang gadis kampung! Radit dan Niko harus cari pasangan yang selevel dengan mereka." sela Fatma.
"Dengar Fatma, kekayaan dan pendidikan tinggi tidak menjamin akhlak seseorang,"
"Kata siapa Pah? Wanita berpendidikan tinggi sudah pasti punya etitut yang baik. Apalagi dari keluarga berada," Fatma tidak terima jika Bram terlihat lebih tinggi dari anak-anaknya.
Bagi Fatma, Kedua anaknya lah yang pantas dipuji dan berhak menduduki tahta tertinggi dalam keluarga mereka karena dirinya adalah anak pertama dari keluarga Nugroho.
Kakek menggeleng pelan mendengar jawaban anak perempuan tertua nya, inilah salah satu alasannya kenapa kakek tidak mempercayakan perusahaan pada anak-anak Fatma. Selain sombong, putri pertamanya itu terlalu maruk ingin memiliki semua harta keluar, padahal Fatma sudah mendapat bagiannya setiap bulan dan suaminya juga berasal dari keluarga berada.
Anggita yang duduk tepat di samping Rania menggenggam tangan menantu sambil memberi kode agar Rania tidak terpengaruh dengan ucapan Fatma.
"Istri Kak Bram boleh saja sempurnah, Kek. Tapi apakah hubungan mereka bahagia? Kak Bram kan punya penyakit impoten, upppsss" ucap Niko. Anak bungsung Fatma itu berpura-pura menutup mulut seolah tidak sengaja.
"Niko! Jaga ucapanmu di depan Kakek, mungkin untuk sekarang Bram belum bisa jadi suami seutuhnya tapi semoga saja adik ipar bisa membantu menyembuhkan penyakitnya." timpa Radit.
"Papah lihatkan siapa yang lebih bijak disini, padahalnya posisinya sudah direbut, tapi Dia masih mendoakan yang terbaik untuk orang itu," Fatma kembali mengambil kesempatan untuk menjatuhkan Bram.
"Sudah cukup! Sekarang waktunya kita makan," ucap kakek. Semua pun menurut dan mulia makan bersama.
Seperti begitulah situasi dalam keluarga besar Nugroho, Semuanya menantang keras Bram diangkat jadi pewaris perusahaan. Yang berbicara tadi baru Fatma, belum keluarga yang lainnya. Biasanya mereka akan lanjut mencibir setelah kakek pergi beristirahat.
Hanya keluarga Felixlah satu-satunya orang yang mendukung penuh Bram menjadi penerus Cahaya Nugroho Group.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
C2nunik987
Felix msh sepupu Bram juga ....ayo Felix sembuhkan Bram dktkan mrk berdua Rania terbaiks buat Bram
2025-02-12
0
luiya tuzahra
aku paling benci org modelan kaya bu fatma yg merendahkan sseorg hnya dr pendidikan,skolah akademis tinggi tdk mnjamin sseorg beratitut baik.tpi pendidikan tinggi jg penting.
2024-02-17
2
luiya tuzahra
berarti felix jg cucunya dong?kok dia malah jdi asistennya bram ? gak ikut rebutan kaya niko radit
2024-02-17
0