BAB2. Kitchen set.

Keesokan harinya, Rania bangun pagi-pagi sekali. Setelah menyikat gigi dan mencuci mukanya agar terlihat lebih segar, Rania pun berjalan keluar kamar.

"Dimana Elisa" ucap Rania. Mata gadis itu seketika berbinar saat tidak sengaja melihat kitchen set yang sangat indah, bersih dan rapi.

Rania mendekat, ia terkagum-kagum melihat tatanan dapur yang begitu rapi. Memiliki hobi memasak dan suka mencoba menu-menu baru yang ia temukan, Rania berharap suatu saat nanti bisa memiliki dapur impian seperti yang ia lihat saat ini.

"Stop, Nona!" ucap Elisa menghentikan pergerakan tangan Rania yang hendak menyentuh kulkas.

"Ada apa, Elisa?" tanya Rania dengan ekspresi bingung.

"Maaf, Nona. Ini kitchen set pribadi Tuan Bram, tidak boleh sembarangan orang masuk kesini, apalagi menyentuh barang-barangnya." jelas Elisa.

Rania mengerutkan dahi mendengar ucapan Elisa. "Elisa, aku hanya ingin memasak, bukan mau menghancurkannya."

"Saya paham, Nona. Tapi setiap ruangan pribadi Tuna Bram di rumah ini, harus steril termasuk dapur ini,"

Rania terdiam tidak paham maksud dari ucapan Elisa. steril apa yang dimaksud? 

Seiring dengan lamunan Rania, suasana dapur itu tiba-tiba saja mencekam ketika sosok pria yang menjadi bahan utama perbincangan mereka hadir disana.

"Elisa!" panggil Bram.

"Ya, Tuan" Hanya dengan satu panggilan, Elisa sudan paham apa maksud Tuannya.

"Nona Rania, silakan tinggalkan dapur ini. Jika Anda ingin makan sesuatu, Anda bisa pergi ke dapur sebelah sana." jelas Elisa. Wanita itu mempersilahkan Rania pergi dengan sopan.

Mendengar perkataan Elisa, Rania menjadi kesal. Gadis itu melirik tajam pada Bram dan segera meninggalkan tempat itu.

"Bersihkan dapur ini, jangan sampai tersisa satu kuman pun disini," ucap Bram lalu melangkah keluar rumah. Dibelakangnya, diikuti oleh empat orang pengawal pribadi yang berpakaian serba hitam, lengkap dengan kaca mata hitam.

Rania yang mendengar jelas ucapan Bram pun, membuka mulut tak percaya. Apa maksud ucapan pria itu? Apa dia pikir aku ini berkuman? Rania semakin kesal dan ingin sekali menonjok wajah Bram.

Setelah memastikan Bram pergi, Rania kembali mencari Elisa.

"Elisa, cepat katakan apa maksud ucapan Tuan sombong itu?" tanya Rania.

Elisa tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Rania.

"Nona, hati-hati dengan ucapan Anda. Taun ka ...." ucap Elisa terhenti karena disela oleh Rania.

"Tuan Anda memiliki pendengaran yang tajam hingga seribu meter'kan?" Rania mengulang kata-kata yang pernah diucap Elisa.

Lagi-lagi Elisa tersenyum mendengar ucapan Rania. "Nona, Tuan Bram paling benci dengan orang yang jarang mandi. Lain kali, sebelum keluar kamar, sebaiknya Anda mandi terlebih dahu, Nona,"

"What? Dari mana Tuan Anda tau saya belum mandi?"tanya Rania. Gadis itu merasa tidak percaya karena ia keluar kamar pun tidak menggunakan baju tidur.

"Tuan Bram pecinta kebersihan, Nona. Sedikit saja keringat menempel di tubuh Anda, Tuan Bram akan langsung mencium baunya"

"Astaga, terserah. Terserah  Anda dan Tuan Anda. Kepalaku pusing, aku lapar, aku mau makan," Rania memegang kepalanya frustasi. Baru sehari saja tinggal di rumah mewah itu, kepalanya sudah sangat pusing dengan tingkah Bram.

"Baik, Nona. Mari ikut saya," ucap Elisa dan Rania pun mengikutinya dari belakang.

Tak jauh dari kitchen set pribadi Bram, ada sebuah kitchen set lagi disana, lengkap dengan dua orang koki yang stand by disana.

"Silahkan, Nona. Anda bisa memesan menu-menu yang tersedia disini,," ucap Elisa sambil mempersilakan Rania duduk.

"Ah, iya Elisa. Makasih ya," Rania terlihat bingung. Gadis itu memperhatikan sekitarnya, kitchen set itu tak kalah mewah dari milik Bram.

Ini rumah tinggal, apa rumah makan sih? Tempat masak aja sendiri-sendiri gini.

"Nona Rania, silahkan dilihat, ini menu breakfast kita pagi ini," ucap salah satu chef sambil menunjukan menu pada Rania.

"Oh" Rania tampak masih bingung. Gadis itu mulai memperhatikan menu makanan. 

"Harus milih dari sini aja ya?" tanya Rania setelah melihat daftar menu makanan. Sepertinya daftar menu itu tidak ada yang cocok dengan perutnya.

"Ya, Nona. Semua menu harian sudah terdaftar dan kami hanya melayani sesuai isi menu" jelas chef

Rania menghela napas panjang, bahkan makanan pun diatur. "Buatkan aku teh hangat saja sama roti tawar," 

"Rotinya perlu dibakar atau tidak?" tanya Chef.

"Tidak perlu, "sahut Rania cepat. 

Setelah pesanannya datang, Rania memakan rotinya dengan wajah kesal. Dalam hatinya, Rania terus mencaci Bram, melihat sikap sombong pria itu, Rania yakin, Bram lah orang yang menerapkan semua peraturan itu.

"Minta lagi rotinya," ucap Rania ketus. Perutnya yang terbiasa makan nasi di pagi hari, mana bisa kenyang hanya dengan dua potong roti.

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

Rania 😂😂🫰

2025-02-12

0

Hariyanti Katu

Hariyanti Katu

😄

2024-09-04

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

sabar Rania....

2024-02-17

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!