BAB15. Sikap Aneh.

"Kita pulang sekarang!" ajak Bram setelah mereka selesai makan.

"Tapikan belum ada yang pulang," sahut Rania dengan nada pelan sambil menarik pergelangan tangannya yang dipegang oleh Bram.

"Biarkan saja, kakek sudah istirahat mau ngapain lagi disini. Ayo cepetan," Bram sedikit memaksa.

"Kamu kenapa sih? Mama sama Papa aja belum pulang, aku nggak enak pulang duluan," tolak Rania.

"Pulang saja, Sayang. Mama sama Papa juga bentar lagi pulang ko," sela Anggita.

"Tuh dengarkan, ayo pulang" timpa Bram kembali menarik tangan Rania.

"Iya bentar," ucap Rania sedikit melotot pada Bram lalu berpamitan pada kedua mertuanya. Tak lupa berpamitan juga pada orang tua Felix yang baru saja ia ajak kenalan tadi.

Mau apa sih nih orang, tadi waktu berangkat sendiri kenapa pas pulang kek bocah gini. Rania membatin sambil berjalan mengikuti langkah Bram yang lebih dulu keluar.

.

.

"Pah,"  panggil Anggita. Pandangan wanita lima puluh tiga tahun itu tidak terlepas dari putra dan menantunya.

"Hmmm,"

"Ada yang aneh gak sih sama Bram?"

"Aneh gimana?" Pras yang sejak tadi sibuk mengotak ngatik ponselnya pun langsung menoleh pada sang istri.

"Papa nggak lihat dari dia terus menatap Rania?" Anggita tampak bersemangat mengatakan semua itu pada suaminya.

"Ah yang benar saja, Mah. Bukanya dia belum terima Rania?" Pras terlihat tidak percaya dengan cerita istrinya.

"Benaran, Pah. Tadi aja dia paksa-paksa Rania pulang loh, sampe tarik-tarik tangan Rania gitu,"

Pras mengerutkan dahinya mencerna kata-kata sang istri.

"Jangan-jangan?" ucap Pras tiba-tiba.

"Jangan-jangan apa, Pah?" tanya Anggita penasaran.

"Jangan-jangan dia mulai minum lagi? Ah tapi gak mungkin deh Mah, tadi dia duduk disamping papa tapi papa gak cium bau apa-apa," Pras menyangkali ucapanya sendiri.

"Astaga jangan sampe anak ikut lagi,"

"Trus kita harus gimna, Mah?" tanya Pras.

Anggita terdiam sejenak memikirkan apa yang harus mereka lakukan. Bagaimana jika Bram benar-benar kembali seperti dulu lagi. Namun, beberapa menit kemudian ia tersenyum senang.

"Kita gak perlu ngapa-ngapain, Pah. Kita cukup berdoa saja, siapa tau dengan begitu mereka bisa," Anggita menyatukan kedua tangannya dengan wajah sumringah. Pras pun mengangguk setuju dengan expresi tak kala senang.

Pasangan suami istri itu cekikikan bersama membayangkan apa yang akan dilakukan oleh anak dan menantunya. Meski merasa senang dengan apa yang mereka pikirkan,  Pras tetap mengirimkan pesan singkat pada Felix untuk memastika Bram tidak melakukan kekerasan pada Rania.

"Jangan senang dulu kau Anggita, jangan harap anakmu bisa menguasai harta papaku" batin Fatma. Ia menatap tidak suka pada Anggita dan Pras yang sedang asik tertawa bersama. Fatma berpikir, Pras dan Anggita tertawa bahagia karena sebentar lagi akan mendapatkan harta warisan.

"Kita pulang sekarang, Pah. Panas disini," Fatma sengaja membunyikan kursinya saat berdiri membuat Anggita, Pras dan yang lainnya langsung menoleh ke arahnya.

"Astaga, Mbak Fatma ini kenapa to," ucap  Mama Felix sambil mengelus dadanya karena kaget.

"Biarin aja, Yu. Mungkin Mbak Fatma tidak sengaja," Anggita menepuk pelan punda Mama Felix. 

Karena acara makan malamnya telah selesai dan kakek juga sudah beristirahat, semua keluar pun pulang ke rumah masing-masih. Termasuk orang tua Bram dan Felix.

.

.

Tepat seperti dugaan Anggita, kelakuan Bram benar-benar aneh saat mereka dalam perjalanan pulang. Bram memeluk erat pinggang Rania sambil menyandarkan kepala pada bahu Rania. Bukan hanya itu, Bram juga sesekali mencium dan menghirup bau tubuh Rania.

Rania yang merasa risih dengan perlakuan Bram berusaha lepas. Namun Bram memeluknya sangat kuat.

Tepat seperti dugaan Anggita, kelakuan Bram benar-benar aneh saat mereka dalam perjalanan pulang. Bram memeluk erat pinggang Rania sambil menyandarkan kepala pada bahu Rania. Bukan hanya itu, Bram juga sesekali mencium dan menghirup bau tubuh Rania.

Rania yang merasa risih dengan perlakuan Bram berusaha lepas. Namun Bram memeluknya sangat kuat.

"Kenapa? Apa kau tidak suka dekat-dekat dengan suamimu?" Tanya Bram dengan kedua mata tertutup dan masih dalam posisi yang sama.

"Lepasin, kepala kamu berat aku susah bernapas," Rania terus menggerakan tubuhnya.

"Tenanglah, bukannya ini yang kamu inginkan," 

"Iiihhh kata siapa, aku nggak mau, cepat lepasin,"

"Oh ya, lalu kenapa kamu menggodaku waktu di kantor," 

"Goda dimana? Jangan ngaco deh," sahut Rania berpura-pura.

"Kamu pikir aku tidak apa kamu yang lakukan sebelum masuk ke ruangku," 

Blesssss

Pipi Rania memerah menahan malu, bagaimana Bram bisa tahu semuanya? Tidak ingin rahasianya terbongkar didepan Felix yang sementara menyetir, Rania memilih diam membiarkan Bram terus memeluknya hingga sampai ke rumah.

.

.

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

Bram mabokk biarin biar Rania hamil dan dia sadar Rania yg bikin Mr p nya berdiri penuh harga diri

2025-02-12

0

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

udah ngga sabar itu...🤣🤣🤣

2025-01-04

0

Hariyanti Katu

Hariyanti Katu

😂😂

2024-09-04

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!